al hikam 2
Mujahadahmujahadah didaerah
masing-masing supaya sungguh-sungguh dimasukkan dalam acara yaitu
memohon semoga Mujahadah Kubro yang akan datang itu benar-benar diridloi
Allah wa Rosuulihi saw, membuahkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
kita bersama, bagi keluarga kita, bagi bangsa dan negara kita, dan bagi
umat dan masyarakat jamii’ alamin semoga cepat-cepat lari Fafirruu
Ilalloh wa Rosuulihi SAW !.
Demikian pokok-pokok sambutan dari Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat.
Hadrotul
Mukarrom Romo Yahi dalam amanat terakhirnya mengajak hadirin-hadirot,
memperhatikan dengan sungguh-sungguh pengumuman dari pusat. Seperti
biasa, pengajian diakhiri dengan mujahadah !!!.
KATA PENGANTAR
الَسَّلاَمُ عـَلـَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وبـَرَكاَتـُهُ
ِبـسْمِ الله ِالرََّحْمَـنِ الرَّحـِيْمِ
اْلوَاحِدُ الصَّمَدُ يَهْـدِ لِلرَّشَادِ * الحَمْد ِللهِ اْلَـّذِىْ هُوَ اْلأَحَـــدْ
يَارَبـَّـنَا صَلِّ عَـلَـيْـهِ سَــلِـّمِ * بِخَيْـرْ خَـلْقِكَ شَفِـيْعِ اْلأُمَــمِ
فِى كُلِّ حَالٍ دَائِمًا وَسَعَـتِهِ * وَاْلأَلِ غَرِّقْـنَا بِبَحْـرِ اْلوَحْدَةِ
عَـلَـيْـــــكَ رَبِـّنِى بِإِذْنِ اللهِ * ياأيّــها الغوث ســـــلام الله
مُوْصِلَةِ لِلْحَضْرَةِ اْلعَــلِـيَـّهْ * وَانْظُرْ إِلَيَّ سَـيِـّدِى بِـنَظْرَهْ
Alhamdulillahi
bifadlillahi ta’ala wabi Syafa’ati Rosulillahi SAW wabi Nadzroti
Ghoutsi Hadzaz-Zaman ra, serta restu beliau hadrotul Mukarrom Romo KH.
Abdul Hamid Madjid, kami bisa menghadirkan kembali buku “Pengajian Kitab
Al-Hikam dan Kuliah Wahidiyah Minggu Pagi” yang disampaikan oleh beliau
Hadrotus Syaikhina wa Murobbi Ruuhina Mbah KH. Abdul Madjid Ma’ruf
Mu’alif Sholawat Wahidiyah Qs. Ra. Dihadapan para pembaca sekalian.
Penerbit buku ini terdiri dari tiga edisi, yaitu Edisi I, II, dan III
yang setiap Edisi memuat 10 pengajian.
Dimohon dengan sangat
kepada para pembaca sekalian khusunya para Pengamal Sholawat Wahidiyah
supaya dengan hati yang ikhlas untuk senantiasa mempelajari/membaca buku
ini, semoga maaf hati kita yang buta, oleh Allah SWT segera dibuka
sehingga semakin meningkat rasa pengabdian diri dan kesadaran kita
kepada Allah wa Rusuulihi SAW.
Oleh kesemuanya dalam
mempelajari/membaca buku ini, di mohon untuk senantiasa memperhatikan
dan melaksanakan hal-hal sebagai berikut:
1. Bermujahadah baik sebelum, sesudah atau di tengah-tengahnya membaca
buku ini, adapun bilangannya supaya di sesuaikan dengan situasi dan kondisi.
2. Senantiasa berdepe-depe dihadapan Allah SWT wa Rasuulihi saw wa Ghoutsi
Hadzaz-Zaman ra. Lillah-Billah, lir Rosul-bir Rosul, lil Ghouts-bil Ghouts senantiasa menjiwai dalam membaca buku ini.
3.
Senantiasa muhasabatun nafsi atau koreksi diri terhadap nafsu dan
proyek-proyek nafsu selanjutnya hayati dan amalkan isi atau maksud yang
terkandung dalam pengajian ini.
Mudah-mudahan penerbitan buku ini
benar-benar mendapatkan Ridho dari Alloh SWT wa Rosuulihi saw wa Ghoutsi
Hadzaz-Zaman RA yang sehingga membuahkan barokah, peningkatan yang
sebesar-besarnya dalam segala bidang. Khususnya bidang Perjuangan
Kesadaran Fafirruu Ilolloh wa Rasuulihi saw. Amin-amin yaa Robbal
‘alamin.
وَبِاللهِ التُّوْفِقْ وَالْهِدَايَةْ, وَمِنَ
الرَّسُوْلِ صلى الله عليه وسلم الشّافَعَةْ, وَمِنَ الغْثِ رضى الله عنه
النّظْرَةْ وَالبَرَ اكَةْ وَالْعَفْوَ مِنْكُمْ .
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله ِوَبَرَ كَاتُه
Kedunglo, 18 Mei 2004
28 R. Awal 1425 H.
Jama’ah Perjuangan Wahidiyah
Pusat Penyiar Sholawat WahidiyahMiladiyyah
Mu’allif Sholawat Wahidiyah
LILLAH
BILLLAH LIRROSUL BIRROSUL !. Tapi jika kita merasa LILLAH BILLLAH,
berarti kita belum LILLAH BILLLAH, masih merasa LILLAH BILLLAH.
Ya mudah-mudahan para hadirin-hadirot, pengajian pagi hari ini membawa
manfaat maslahah dan kemajuan yang sebanyak-banyaknya maaf kiranya cukup
sekian pengajian ini dan, mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada
hadirin-hadirot. Sekali lagi mudah-mudahan pengajian pagi hari ini
dikaruniai manfaat yang sebanyak-banyaknya. Sebab akhir-akhir ini para
hadirin-hadirot, banyak sekali atau sebagian besar ilmu tidak
bermanfaat. Sebagian besar, zaman akhir ini ilmunya tidak bermanfaat.
Tahu itu buruk, itu jelek dan ini baik. Tapi yang dikerjakan yang buruk.
Ini berarti ilmunya tidak manfaat. Mari kita doki diri kita sendiri
para hadirin-hadirot. Tahu yang itu buruk yang ini baik tapi yang
dipilih justru yang buruk. Sebagian besar umat manusia begitu para
hadirin-hadirot !. Bahkan kita sendiripun terutama… mari kita aku para
hadirin-hadirot. Mari kita prihatin. Terutama mari kita kaui hal-hal
seperti itu.
Pengajian cukup sekian, mudah-mudahan diberi
manfaat yang sebanyak-banyaknya !. Amin, amin, amin. Waktu dan tempat
dipersilahkan kepada beliau dari pusat.
SAMBUTAN DARI PENYIAR SHOLAWAT WAHIDIYAH PUSAT
Dismpaikan oleh Bapak KH. Zainal Fanani
Pokok-pokok isi sambutan mengenai sekitar akan diselenggarakan
Mujahadah Kubro Wahidiyah dalam rangka memperingati Lahirnya Sholawat
Wahidiyah yang ke 15, yaitu besok pada hari kamis malam jum’at tanggal
19 Muharam 1398 H sampai dengan malam senin Pahing tanggal 23 Muharam
1398 H. Tanggal umum 29 Desember 1977 sampai dengan tanggal 2 Januari
1978 M. Diharapkan dengan sangat perhatian dan bantuan hadirin hadirot
dan umumnya segenap Pengamal Sholawat Wahidiyah, berupa pikiran, tenaga,
moril dan materiil terutama
ibadah,... Lebih-lebih kalau maksiat Lebih larut,... jaauuh berlarut-larut…!.
Para hadirin-hadirot, diantara kita di mana letaknya dan kita mampu.
Tapi kalau orang berkhusnudhon berdasar sifat Tuhan, dalam segala bidang
dia senantiasa alhamdulillah, senantiasa memuja, senantiasa berterima
kasih kepada Alloh SAW. Sedangkan yang berkhusnudhon berdasarkan
perbuatan, ...yaitu tadi,... ketika keadaan jembar atau berlebih dia
alhamdulillah. Dan menggunakan kejembarannya itu untuk kebaikan. Tapi
hanya sebagian Tapi kalau keterlaluan, ... yaitu tadi...“KALLAA”
INNAL-INSAANA LAYATHGHO AN ROAAHUS TAGHNA...”.
Manusia kalau
keadaan kaya. Istilah umum istilah khusus kalau merasa kaya senantiasa
berlacu berlarut larut !. ini sudah maklum!.
Kalau itu tidak
heran ada hadits Rosulullooh SAW yang menerangkan bahwa orang fakir
masuk syurga lebih dahulu dari pada orang-orang kaya 500 tahun lebih
dahulu ini maksud dawuh ini ya soal lahiriyah soal materi tapi yang
dimaksud dengan Fakir yaitu fakir yang sabar dan ridlo.
Ada lagi anu, tafsiran dari hadist ini
أَكْثَرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ اْلفُقَرَآءِ {أوكما قال}
Sebahagian
besar penghuni surga adalah fuqorok orang-orang miskin, melarat,
melarat dari amal, dari ibadah. Coba kita lihat bangsa Indonesia 90%
umat Islam pengakuannya. Tapi yang beramal yang konsekwen hanya berapa
persen!. sekalipun dihukum di neraka terlebih dahulu, tapi akhirnya
dimasukkan surga juga. Lha yang kaya akan amal-amal ibadah bagaimana?.
Mereka jadi raja di akhirat!. lebih-lebih amal batiniyah disamping amal
lahiriyah!.
Nuwun sewu para hadirin-hadirot, jika saudara ungguh-sungguh LILLAH BILLLAH LIRROSUL BIRROSUL pasti jadi raja nanti di akhirat!
AL-HIKAM I HaL 21
ِبسْمِ اللهِ الرَّحمْنَ ِالرَّحِيْمِ
{اِحَالَتُكَ اْلَاعْمَالُ عَلَى وُجُوْدِ الفَرَاغِ مِنْ رُعُوْنَاتِ النَّفْسِ }
(menangguhkan
amal-amal ibadah, menangguhkan berbuat kebaikan, ditangguhkan,
ditunda-tunda kalau sudah menganggur, kalau sudah longgar sekarang masih
repot ini itu, ini adalah sifat-sifat nafsu yang kumprung, yang bodoh,
yang blo'on).
Nafsu yang kumprung, yang bodoh. Atau semua nafsu
itu kumprung, dungu. Saya akan beribadah besok-besok saja kalau sudah,
sudah selesai pekerjaanku ini, kalau sudah... selesai garapan sawah,
kalau sudah... tidak menyusui anak, kalau sudah... tentram rumah tangga
saya, kalau sudah... sehat kembali, kalau sudah pensiun... dan
sebagainya dan sebagainya. Ini semua ajakan nafsu. jangan
diperturutkan!. Jangan dilayani!. Ajakan nafsu pasti menyeret kepada
kebinasaan dan kehancuran!. Menunda-nunda pekerjaan adalah bujukan
nafsu!. Alloh SWT telah memberi peringatan dalam firman-Nya yang bernada
bertanya dalam surat AL-Hadid ayat 16:
اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْ بُهُمْ لِذِكْرِ الله ِوَمَا نَزَلَ مِنَ اْلحَقِّ .....الحديد
(Belum datang waktunya bagi mereka orang-orang yang beriman untuk
menundukkan hati mereka khusyu mengingat kepada Alloh SWT dan kepada
kebenaran-kebenaran yang telah turun kepada mereka ? ... ).
Sesungguhnya malah sudah jauh terlambat!. Ada lagi, itu dawuh hadist Rosululloh SAW :
اِغْتَنِمْ
خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابِكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتِكَ قَبْلَ
سَقَمِكَ وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَغَنَّاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ
وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ. الحديث
(Peliharalah lima macam keadaan
sebelum datangnya lima macam keadaan yang lain, yaitu masa muda, sebelum
datangnya masa tua, dan selagi sehat sebelum atau mumpung tidak sakit,
selagi waktu longgar mumpung belum repot, dan selagi kaya mumpung belum
fakir, dan selagi masih hidup mumpung belum mati).
Jadi dalam
keadaan bagaimanapun juga kita harus terus, terus memanfaatkan segala
keadaan untuk ingat kepada Alloh, untuk mengabdikan diri kepada Alloh,
untuk.... untuk Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW :
فَاذْكُرُوْا الله َقِيَامًا وَقُعُوْدًا وَعَلَى جُنُوْبِكُمْ . النسآء:٥٣
(... ingatlah kepada Alloh di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring).
Jadi
pokoknya dimana kita. berada dan apapun yang kita lakukan, harus
senantiasa dzikir atau ingat kepada Alloh!. “udzurullooha” = dzikirlah
kepada Tuhan!.
Dzikir itu macam-macam pendapat. Imam Nawawi,
semua, semua ibadah itu dzikir. Ubudiyah itu dzikir. LILLAH, semua apa
saja yang didasari LILLAH, itu dzikir. Semua dzikir atau ibadah,
“muqooribatun ilalloh” . Mendekatkan kepada Alloh! makin banyak
ibadahnya, disamping BILLAH otomatis, makin dekat kepada Alloh SWT.
Makin diridloi Alloh SWT Makin diridloi Alloh SWT Makin sempurna
indallohi ta'ala.
فَاِذَا كان المرُِيْدُ مُشْتَغِلًا بِحَالٍ مِنْ
اَحْوَالِ دُنْيَاهُ وَكَانَ ذَلِكَ يَمْنَعُهُ مِنَ اْلاعْمَالِ الَّتِى
يَتَوَصَّلُ بِهَا اِلَى حَضْرَةِ َمْولَاهُ ....كَانَ ذَلِكَ دَلِيْلٌ
عَلَى رُعُوْنَةِ نَفْسِهِ
Seorang murid menghendaki wusul kepada
Alloh SWT. Atau “Saalik” Istilah “Saalik” dan “murid” sama maksudnya.
Tapi ada sedikit perbedaan.
menjagakan kepada selain Alloh, tansah ... banyak kelau diperinci. Sekalipun dia buta huruf !.
Adapun orang umum yang dimaksud orang umum di sini bukan rakyat jelata,
tapi orang yang tidak mengetrapkan seperti orang khusus tadi. Sekalipun
mempunyai keistimewaan, 'allamah ilmunya banyak, ibadahnya giat, tidak
henti-hentinya mujahadah atau sembahyangnya, atau ngebleng terus-terusan
di dalam masjid sekalipun begitu, kalau hatinya tidak mengetrapkan
seperti itu tadi, LILLAH-BILLAH LIRROSUL-BIRROSUL mudahnya orang umum
atau menjadi orang khusus istilah di sini, Kemampuan adalah nikmat yang
harus kita syukuri.
“FAL KHOSSHOH”... Orang khusus,
berhusnudhon husnul yaqiin bahwa Tuhan Maha Pemurah, Maha Pemberi, Maha
Kasih Sayang itu memang sifat Tuhan. Sekalipun aku sekarang menderita,
tapi Tuhan tetap kasih sayang padaku. Alhamdullilah orang khusus.
Sedangkan orang umum, sehabis makan enak Alhamdulillah nanti agak lapar
.... Innaalillah !. Bingung !. mereka hanya berdasar pada perlakuan
Tuhan atas dirinya yang di alami dasarnya kenyataan. Sekalipun sakit
atau melarat dan sebagainya itu sesungguhnya nikmat, atau saking kasih
sayang Tuhan tapi karena dia orang umum istilah di sini pandangannya
saya itu sudah biasa!. Sudah maklum!. Soal materi, menjadi ngresulo,
putus asa begini begitu. Hanya ketika mampu atau keadaan normal, dia ...
Alhamdullilah Itu sudah biasa!. Sudah maklum!.
كَلاَ ,إِنَ اْلاِنْسَانِ لَيَطْغَى ,أَنْ رَآهُ اَسْتَغْنَى {علق}
Manusia!. Ketika mampu, kaya ... berlarut-larut!. Malah kalau dia
merasa kaya, ini lebih berat lagi!. Menggasap haknya Tuhan!. Yang kaya
hanya Tuhan!. Kok dia berani-berani mengaku kaya merasa mampu ?. Larut,
berlarut-larut untuk, untuk nuruti nafsunya. Untuk kepuasan nafsunya!.
Sekalipun ujudnya untuk ibadah untuk perjuangan, tapi itu hanya lahirnya
saja!. sesungguhnya itu ada pamrihnya!. Sedang lahirnya kelihatan
tapi
kalau mau menggali sesunggunya dalam pada itu membawa keuntungan dan
faedah serta manfaat yang besar sekali. Tidak ada yang 100% merugikan,
jadi sesungguhnya yang akan datang, lebih banyak. Lebih banyak pemberian
Tuhan, Berdasarkan perbuatan Tuhan yang telah merupakan fakta dan kita
rasa itu. Terus meningkat bertambah-tambah pemberian-pemberian Tuhan!.
Dan, sekalipun dalam satu bidang terasa merugikan, tapi kalau mau
meninjau secara keseluruhan, sesungguhnya menguntungkan.
Husnudhon atau husnul-yaqin berdasarkan kedua-duanya tersebut, kita
mampu. Sifat Tuhan yang senantiasa kasih sayang, mampu. Berdasarkan
perbuatan Tuhan atas kita yang sudah jelas dalam fakta, kita mampu. Ya
berdasarkan sifat-Nya, ya berdasarkan perbuatan-Nya. Dan kita mampu
untuk itu.
أَنَّ النَّاسَ فِى حُسْنِ الظَّنِ عَلَى قِسْمَيْنِ
خَاصَةٍ وَعَامَةٍ فَالْخَاصَّةُ حُسْنُوا الظَّنِ بِهِ لِمَا هُوَ مِنَ
النُّعْوْتِ السَّنِيَةِ وَالصِّفَاتِ الْعَلِيَةِ.
Di sini
diterangkan, hubungan husnudhon, manusia dibagi dalam dua bagian
“KHOSSOH” orang khusus, dan “AAMMAH” orang umum. Yang dimaksud orang
khusus di sini yaitu orang yang pengetrapkan seperti apa yang diuraikan
di atas. Sekalipun buta huruf umpamanya, asal mengetrapkan seperti yang
dibicarakan dalam pengajian ini, itulah orang khusus. Istilah WAHIDIYAH
senantiasa LILLAH-BILLAH LIRROSUL-BIRROSUL. Tapi ini tidak berarti bahwa
seorang pengamal Wahidiyah lalu merasa lebih-lebih mengaku dirinya
orang khusus atau seorang yang LILLAH BILLAH. Ini terbalik kalau begini
perasaannya keblasuk. Malah sebagai Pengamal Wahidiyah harus justru
merasa dirinya hina. Banyak dosa banyak berbuat dholim, senantiasa
merugikan dan sebagainya seperti yang kita alami ini pokoknya.
Orang khusus di sini yaitu tadi orang yang senantiasa mengabdikan diri
kepada Alloh Ta’ala. Senantiasa sabar ridlo, tawakal tidak
“murid”,
masih berkehendak, dan “saalik” sudah berjalan. Sudah berada ditengan
jalan. Kedua-duanya itu belum bebas dari nafsu secara keseluruhannya.
Tapi sesungguhnya “murid”, karena dia sudah berkehendak, berarti sudah
dapat mengalahkan nafsunya. Sekali pun baru sekian prosennya.
Lebih-lebih “saalik”. sudah berjalan, sedikit atau banyak sudah dapat
menguasai nafsu. Sekalipun belum seratus persen. Tapi soal BILLAH dengan
sendirinya belum menguasai. Selanjutnya Syekh Pensyarakh Al-Hikam yaitu
Syekh Ibnu ‘Ibad mengulas dengan kata selanjutnya :
وَقَدْلَايَجِدُ
مُهْلَةٌ بَلْ يَحْتَطِفُهُ المَوْتُ قَبْلَ ذَلِكَ أَوْيَزْدَادُ
شُغْلُهُ لأَنَ اَشْغَالَ الدُّنْيَا يَتَدَاعَى بَعْضُهَا اِلَى بَعْضٍ
... فَالْوَاجَبَ عَلَيْهِ اَلنُّهُوْضُ اِلَى مَا يُوْصِلُهُ اِلَى
مَوْلَاهُ قَبْلَ الْفَوَاتِ وَلِذَا قِيْلً الْوَقْتُ كَالسَيْفِ إِنَ
اَّمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ
Orang yang menunda-nunda atau
menangguhkan amal ibadahnya, disamping tidak tepat, mungkin sebelum
sampai pada waktu yang ditangguhkan dia sudah kedahuluan pati. Mungkin
tidak kedahuluan pati, tapi semangatnya atau hasratnya menjadi semakin
kendor, ditlikung oleh nafsu, dan mungkin datang acara baru yang lain
lagi. Manusia selalu dikepung oleh bermacam-macam kepentingan ini itu
ini itu. Satu belum selesai sudah datang perkara yang lain. Tiap-tiap
waktu membuat tuntutan sendiri-sendiri. Ingin ini ingin itu, perlu ini
perlu itu dan seterusnya. Maka menunda-nunda waktu untuk melakukan
suatu amal perbuatan adalah suatu penyelewengan!. Dan kalau terus
menerus begitu, terus menuruti bujukan nafsu, akhirnya tidak ada satu
amal perbuatanpun yang dapat dirampungkan dengan sempurna. lbarat
masakan matang tidak mentahpun bukan. Magel istilah jawa.
Maka
yang wajib harus diperhatikan oleh setiap murid atau saalik ialah selalu
menjaga waktu, mengisi segala waktunya segala kesempatannya untuk
melakukan amal-amal ibadahnya kepada Alloh Ta'ala ! Untuk melaksanakan
pengabdian diri kepada Alloh Ta'ala. Dikatakan
diatas tadi.
الْوَقْتُ كَالسَيْفِ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ
(Waktu itu seperti pedang, jika tidak engkau menggunakan pedang itu, tentu akan memotong lehermu).
Kalau
waktu tidak dimanfaatkan untuk “Fafirruu Ilalloh”, dia akan terbunuh
oleh kesempatan itu dan akan diserahkan menjadi tawanan imperialis
nafsunya. Diinjak-injak, diperkosa dan dijerumuskan oleh imperialis
nafsunya ke dalam jurang kehancuran!.
Waktu atau kesempatan
adalah rohmat karunia Tuhan yang harus disyukuri. Maka siapa yang tidak
mensyukuri waktu, yaitu menggunakannya untuk ibadah pengabdian diri
kepada Alloh, satu-satunya jalan yang membahagiakan dirinya, otomatis
waktu yang tidak dimanfaatkan begitu menjadi siksa yang menyengsarakan
dirinya. Kalau tidak menjadi “tsawab” pahala, menjadi “iqob” siksa.
Terserahlah!
Lha! ini para hadirin-hadirot sekalipun soal kecil atau besar, kita
perlu koreksi keadaan diri kita masing-masing! Apakah sudah memanfaatkan
waktu kita untuk “tsawab” ataukah kita biarkan untuk “iqob”, yaitu
menunda-nunda waktu. Padahal sudah diperingatkan dan diperintah oleh
Alloh SWT seperti di atas tadi “udzkurulloha qiyaaman wa qu’uudan wa
'ala junuubikum”…
“Kalau tidak bisa dengan berdiri ya dengan duduk,
kalau tidak bisa duduk ya dengan berbaring. Seketika itu juga. tidak
usah menanti-nanti kalau bisa berdiri dan sebagainya. Kalau bisa, ya,
lahir batin. Tapi kalau terpaksa ya batinnya saja!. Kalau batin tidak
bisa, ya lahimya saja. Daripada sama sekali tidak ada kegiatan
ubudiyah!.
Jadi, dzikir atau ibadah yang sempurna harus
dhohiron wa baatinan. Lahirnya ya ibadah, batinnya juga ibadah!. Tapi
kalau terpaksa tidak dapat lahir batin, yah! batinnya saja. Kalau batin
tidak bisa, yaa! lahirnya, daripada sama sekali tidak. Tidak bisa
hudlur, umpamanya. Yah dipaksa saja sekuat-kuatnya Insya Alloh Tuhan
akan memberikan pertolongan! Asal
seseorang yang karena buruknya
negara dan masyarakat atau menjadi buruk, menjadi bejad, Lha Diantara
kita di mana letaknya mari sekali lagi! AL FAATIHAH…
Diantara
kita mampu “FAMAN SYAA-A FAL YUKMIM, WAMAN SYAA-A FAL YAKFUR”. Mampu
kita akan menguntungkan membuat baik masyarakat, mampu akan merugikan
menghancurkan mampu. Aku kita mempunyai akal yang sehat sungguh-sungguh
manusia, tentu memilih yang menguntungkan: para hadirin-hadirot. Kita
tingkatkan yang sebanyak-banyaknya jauh masih, banyak sekali kemampuan
kita yang belum kita pergunakan.
Kita harus husnudhon yakin,
bahwa Alloh SWT senantiasa sayang, senantiasa memberi jika terpaksa
tidak dapat husnudhon berdasarkan sifat Tuhan harus berdasar perbuatan
perlakuan Tuhan. Tuhan senantiasa bisa memberi kita bisa begini bisa dan
seterusnya. Mari kita sadari ketika kita masih berada dalam kandungan,
tidak bisa apa-apa. Kemudian dilahirkan, dibuat oleh Alloh SWT bisa
bergerak-gerak, bisa menangis, bisa menetek dan seterusnya sampai besar,
menjadi besar, menjadi besar bertambah pula kepandaian dan kecakapan
yang dibuat Tuhan kepada kita. Bertambah besar, bertambah umur
bertambah pula pemberian Tuhan kepada kita. Mari kita sadari pemberian
Tuhan ini. Padahal semua pemberian-pemberian yang evolotif dan
sistimatis dan justru kita butuhkan itu, tanpa ada permintaan dari kita
manusia, para hadirin-hadirot. Mengapa kita manusia tidak mau husnudhon
bahkan husnudhon bahkan-husnul yaqin kepada Tuhan?. Perbuatan Tuhan
terhadap kita sudah fakta dan jelas kita rasakan!. Itulah kasih sayang
Tuhan, kepada kita manusia! Bahkan Alloh SWT menciptakan matahari,
bulan, bintang, bumi, daratan, lautan, pohon-pohonan, gunung, air, angin
dan sebagainya justru dipergunakan kita manusia, para hadirin-hadirot.
Sekalipun seseorang mengalami suatu kesulitan atau kesupekan,
sombong,
merasa baik, takabbur itu contohnya para hadirin-hadirot, Iblis
sebelumnya ibadahnya sebagai kepala para malaikat, 80.000 tahun non stop
... seperti kita maklumi. Tapi karena sombong tidak mau sujud kepada
Nabi Adam Aalaihissalam,....akhirnya dila'nat menjadi Iblis itu para
hadirin-hadirot. Itu lagi kanjeng Nabi Adam 'Alaihissalam sendiri. Suatu
kesalahan atau ma'siat membawa akibat bertobat sampai seratus tahun
menangisnya. Dan, dalam bidang syari'atnya tapi ini, andai kata beliau
tidak berbuat ma'siat melanggar larangan Tuhan di surga, tentu kehidupan
dunia ini tidak ada kita manusia, Ya ma'af para ambiya wal mursalin,
junjungan kita Rosulillahi SAW, juga akibat dari pada ma'siatnya kanjeng
Nabi Adam 'Alihissalam. Begitu para hadirin-hadirot sebagai anak cucu
Nabi Adam, seharusnya kita dapat memanfa'atkan ma'siat kita seperti
halnya Beliau Nabi Adam 'Alaihissalam. !
Kalau tidak bisa, ya,
ma'af....! lbarat anak kambing ya harus bisa suara lembek. Babonnya bisa
mengembek, anaknya juga harus bisa menggembek kalau babonnya suara
lembek, kok anaknya “hung-hung… Anak iblis para hadirin-hadirot. Ataukah
“hung-hung” para hadirin-hadirot mari kita koreksi anak kambing jadi
kambing, anak anjing juga jadi anjing, Ya maaf kita harus prihatin dan
harus ….ngedoki para hadirin-hadirot, ummat dan masyarakat pada umumnya
ya maaf istilah anak kambing, ya seharuanyaya “embek-embek”. Tapi
nyatanya, pada umumnya bukan “embek-embek” tapi kok “hung-hung”, para
hadirin-hadirot “embek-embek” malah tidak bisa. Ummat masyarakat pada
umumaya atau sebagian besar tidak mengikuti Nabi Adam ‘Alaihissalam,
memanfaatkan dosa maksiatnya, melainkan malah seperti Iblis para
hadirin-hadirot. Mari para hadirin-hadirot kita tanggung jawab mari kita
daki. Andai kata saya bersungguh-sungguh, tentu tidak begitu
keadaannya. Mari para hadirin-hadirot, kita prihatin. AL-FAATIHAH…
AL-FAATIHAH...
Ada suatu sabda yang menerangkan, ada seseorang
yang kerena baiknya, negara dan masyarakat menjadi baik. Tapi juga
sebaliknya, ada
sungguh-sungguh berkemauan
lebih-lebih dengan amalan sholawat. Itu lebih mudah. Tapi umumnya ya
ibadah apa saja. Sekalipun belum dapat sempurna, ya semampunya dulu.
Harus kita teruskan.
لاَتَطْلَبُ مِنْهُ اَنْ يُخْرِجَكَ مِنْ
حَالَةٍ لِيَسْتَعْمَلَكَ فِيْمَا سِوَاهَا فَلَوْ اَرَادَكَ
لاَسَتَعْمَلَكَ مِنْ غَيْرِ اِخْرَاجٍ
(Engkau jangan meminta
kepada Alloh supaya dipindah dari suatu keadaan kepada keadaan yang
lain. Sebab kalau Alloh menghendakinya, tentulah merubah keadaanmu tanpa
merubah keadaan yang lama).
Ini kita diperintahkan agar supaya
jangan memohon kepada Tuhan atau usaha supaya keluar dari suatu keadaan
dimana yang kita hadapi. Baik itu keadaan bidang dunia, bidang ekonomi
maupun bidang agama. Bidang dunia misalnya seperti bertani, berdagang
atau buruh dan sebagainya. Bidang agama misalnya bidang ilmu, menuntut
ilmu atau mengajar dan lain-lain. Minta keluar dari keadaan-keadaan
seperti diatas dengan maksud supaya bisa ubudiyah kepada Tuhan. Ini
tidak tepat. Sebab ubudiyah kepada Tuhan dapat dilakukan dalam segala
keadaan. Umpamanya seorang pedagang. Wah kalau saya terus berdagang
begitu tidak bisa ubudiyah kepada Tuhan. Karena itu saya harus memohon
dan usaha pindah kelapangan pekerjaan yang lain, jadi guru, mengajar
ilmu agama, dengan begitu tentu saya bisa lebih tekun ibadah kepada
Tuhan. Dan sebagainya dan sebagainya. Ini tidak benar, tidak boleh
begitu. Berarti tidak ridlo kepada Tuhan! Tidak puas dijadikan Tuhan
menjadi petani atau pedagang, atau pengusaha, atau pengajar dan
sebagainya dan sebagainya, dengan alasan tidak bisa ibadah ini tidak
wajar begitu. Justru adanya seseorang dijadikan pedagang atau petani
atau tukang dan sebagainya itu, justru supaya dimanfaatkan untuk
beribadah kepada Tuhan. justru bertani, berdagang dan sebagainya itu
supaya dilaksanakan dalam rangka ibadah kepada Tuhan. Dalam keadaan
bagaimanapun juga seseorang dapat melaksanakan ibadah.
فَلَةْ
اَرَادَكَ أَىْأَحَبَكَ وَكُنْتَ مِنْ اَهْلِ اْلاِرَادَةِ
لاَسْتَِعْمَلَكَ اسْتِعْمَالاَ مَحْبُوْبًا عِنْدَهَ بِاَنْ يُوَفِّقَكَ
لِلاَفْعَالِ الصَّالِحَةِ وَيُشْغِلُ قَبْلَكَ بِهِ مِنْ غَيْرِ اِخْرَاجٍ
أَىْمَعَ بَقَائِكَ عَلَى حَالَتِكَ الّّتِى اَنْتْ عَلَيْهَا
Dus! kalau Tuhan menghendaki, mengasihi atau meridloi kepada seseorang
sekalipun dalam keadaan bagaimanapun juga, seseorang dapat beribadah
atau ubudiyah. Pokoknya kalau mendapat hidayah Tuhan dapat. Justru
berdagang... untuk Fafirruu... bertani, untuk Fafirruu ... Berusaha ini
dan itu, untuk Fafirruu .... Jadi tidak perlu keluar dari keadaan yang
sedang dialami, dengan alasan untuk bidang ubudiyah, itu tidak perlu.
Soal-soal yang disebutkan diatas tadi kalau tidak bertentangan dengan
agama, dengan syariat. Artinya, selama keadaan dimana dia berada tadi
tidak dilarang oleh syariat, harus sekuat mungkin dan secepat mungkin
usaha pindah kepada keadaan baru yang tidak melanggar syariat. Sebab
kalau tidak lekas-lekas keluar dari keadaan yang dilarang syari'at,
kemungkinan besar lalu menyalahgunakan. Umpamanya, yah! bagaimana lagi
saya memang sudah ditakdir menjadi begini, menjadi orang buruk, kok mau
jadi orang baik-baik. Ini namanya suu-ul adab kepada Tuhan. Menyalah
gunakan dalil “khoirihi wa syarrihi minalloh”. Suu-ul adab
kalau.begini!.
Ada ba’dul qoul mengatakan:
مَنْ تَفَقَهَ
وَلاَتَصَوّفَ فَقَدْ تَفَسَقَ, وَمِنْ تَصَوّفِ وَلاَ تَفَقّهَ فَقَدْ
تَزْنَدَقَ وَمَنْ تَفَقّهَ وَتَصَوّفَ فَقَدْ تَحَقّقَ. أَوْ كَمَا قَالَ
(Barang siapa berilmu fiqih, bersyari'at saja tidak bertashowwuf yang
positif, dia telah fasik atau merusak agamanya. Dan barang siapa yang
bertasawwuf saia, berilmu haqiqot saja, tidak bersyari'at, dia tazanduq
bertentangan dengan syari'at).
belum. Atau sesungguhnya ini
sudah diberi tapi aku tidak sadar bahwa diberi. Melarat ini adalah
pemberian yang baik. Sebab seandainya aku kaya, mungkin malah
berlarut-larut. Ini suatu pertolongan yang baik sekali. aku kok
terus-terusan sakit-sakitan, kok tidak lekas sembuh?. Yah ini pemberian
Tuhan yang baik bagiku. Seandainya aku waras-wiris, aku makin terus
menerus larut berlarut-larut!. Selalu merugikan orang lain! selalu
berbuat apa yang dikecam Alloh SWT, atau mungkin saking belas kasihnya
Tuhan, saya di dunia dalam keadaan melarat compang-camping, agar tidak
kalong, agar jauh lebih baik kelak di akhirat. Husnudhon ataupun husnul
yaqin seperti itu lebih baik. Lebih baik.
Pokoknya para
hadirin-hadirot, segala keadaan baik yang diinginkan, menguntungkan atau
merugikan, supaya semuanya itu dimanfaatkan untuk... “FAFIRRUU ILALLOOH
WA ROSULIHI SAW”.
Jangan sampai berani-berani menyalahgunakan,
bahkan maksiat sekalipun, harus kita manfaatkan untuk “FAFIRRUU
ILALLOOH WA ROSULIHI SAW”. Antara lain diikuti dengan tobat yang
sungguh-sungguh orang yang tidak bersalah kok minta maaf, apa mungkin?.
Adanya minta ampun itu karena, dosa ini setengah dari murahnya Tuhan!
Sekalipun maksiat kita tidak boleh memasuki maksiat, tapi... harus kita
manfaatkan aku mau memasuki maksiat, nanti toh bisa mandi yang bersih,
inilah yang namanya menyalahgunakan.
Syekh Hasan Basyri
mengatakan orang tidak ada yang ibadahnya lebih baik daripada maksiat.
Artinya dari pada akibatnya maksiat. Dalam kitab ini juga, ada
keterangan yang hampir sama maksudnya dengan dawuhnya Syekh Hasan Basyri
tersebut :
مَعْصِيَةٌ أَوْرَثَتْ ذَلاَ وَانْكِسَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًا وَا سْتِكْبَارًا
Maksiat yang menyebabkan dia nelongso, merana, merasa jelek, merasa
dosa berlarut-larut, ini lebih dari pada thoat yang mengakibatkan
toh akhirnya hanyut kedua-duanya. Tidak bisa menyelamatkan anak juga tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Ini para hadiria hadirot !.
Sesunggunya
manusia itu hanya memikirkan dirinya sendiri Kecuali, mereka yang
mendapat taufiq Hidayah pertolongan Alloh SWT. Dalam keadaaa yang sudah
kritis, sudah sangat terjepit, dirinya sendiri yang berusaha mencari
selamat, biar sekalipun mengorbankan anak darah dagingnya sendiri yang
masih kecil seperti cerita di atas. Ini para terutama bagi kaum Ibu
betapa bengisnya manusia hadirin-hadirot, biar bagaimanapun juga, toh
tidak berhasil menyelamatkan diri, tapi terkecuali para hadirin-hadirot,
terkecuali... yaitu mereka yang mau mencari keselamatan dengan lari
mengungsi kepada Alloh SWT. Alloh SWT pasti menolong hamba-NYA yang
sungguh-suagguh mau kembali mengungsi kepada-NYA dengan sepenuh-penuhnya
mengungsi. Malah, para hadirin-hadirot, sesunggunya Alloh SWT
senantiasa memanggil-mauggil hamba-NYA agar mereka menjadi selamat,
tidak celaka, tidak sengsara !!!. Fafirruu Ilallooh !. Fafirruu
Ilallooh !. Fafirruu Ilallooh !.
{اِنْ لَمْ تُحَسِنْ ظَنَكَ بِهِ لِاجْلِ حُسْنِ وَصْفِهِ فَحَسِنْ ظَنَّكَ بِهِ لِوُجُوْدِ مُعَامَلَتِهِ مَعَكَ}
Jika engkau tidak bisa husnudhon atau yang lebih tepat kalau terhadap
Tuhan “Husnul yaqin” jika engkau tidak bisa husnul yaqin kepada Tuhan
berdasar kebaikan sifat-sifat Tuhan, maka berkhusnul yaqinlah kepada-NYA
berdasarkan adanya perlakuan Tuhan terhadap dirimu.
Berdasar
sitat Tuhan, Maha Loman-Pemberi. Aku kok melarat umpamanya, aku kok
sengsara, tapi aku yakin, yakin pasti akan diberi oleh Tuhan. Sebab
Tuhan senantiasa memberi dan menolong hamba-NYA. Tuhan adalah “AR
ROJAQ”, “AL JAWAAD”, “AL WAHHAAB ROUF ROHIM”. Jadi yang baik berdasarkan
sifatnya. Tidak mungkin Maha Loman.kok tidak memberi. Adapun sekarang
tidak diberi, yah, memang
Orang yang bersyari'at saja, berilmu
fiqih saja, tidak bertasyawwuf rusak atau fasik. Artinya, karena hanya
syari'at saja, dia otomatis selalu riyak takabbur, ujub dan sebagainya.
Kelihatannya ibadah lahimya memang aktif giat/mempeng. Tapi karena
hatinya tidak bertasyawwuf, otomatis ujub riyak takabbur. Dan ini
merusak amal-amal ibadahnya.
Jadi kita harus kedua-duanya. Ya
tafaqquh ya tasyawwuf. Ya syari'at ya haqiqot. Istilah Wahidiyah ya
LILLAH ya BILLAH. Hanya LILLAH saja. Pasti timbul ujub riyak takabbur
dan ini merusak amal. Sebaliknya hanya BILLAH saia, lalu tidak ada
pelaksanaan ubudiyah secara syari'at yang tepat LILLAH BILLAH harus
selalu gandeng. Dan tidak usah menunda-nunda waktu nanti-nanti kalau
sudah begini begitu. Tidak usah memilih atau usaha keluar dari keadaan
yang dihadapinya.
Terkecuali, apabila seseorang mendapat
petunjuk atau hidayah dari Tuhan dengan petunjuk yang khusus. Atau
mendapat bimbingan dari orang lain yang harus ditaati, guru mursyid
misalnya (yang kaamil mukaamiil). Itu terkecuali. Otomatis harus
mengikuti petunjuk-petunjuk yang diterimanya!.
مَا اَرَادَتَ
هِمّةُ سَالِكِ اَنْ تَقِفَ عِنْدَ مَا كَشِفَ لهَاَ إِلاّ وَنَادَتْهُ
هَوَاتِفُ الْحَقِيْقَةِ : فَإِنَّ الَّذِي تَطْلُبُهُ اَمَامَكَ, وَلاَ
تَبَرّجَتْ ظَوَاهِرُ الْمُكَوِّنَاتِ إِلاَ وَنَادَتْكَ حَقَآئِقُهَا :
إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرٌ
Seorang saalik, orang
yang sedang Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW kalau terpengaruh oleh
adanya pengalaman-pengalaman yang manis yang lezat yang menyenangkan,
pengalaman-pengalaman rohani atau dzauqon atau mukasyafah yang
menjadikan orang terpengaruh, terpengaruh kepada pengalaman ini, tahu
atau merasa atau lain-lain kok! menjadi terpengaruh, ibarat orang yang
berjalan terpengaruh soal-soal di sekeliling jalan, otomatis menjadi
lambat perjalanan itu, atau sama sekali mandeg. Maka dalam keadaan yang
demikian selalu diingatkan
oleh “hawaatiful haqiqot”. “Hawaatif” suara ghoib dari Tuhan.
سِرْوَجِدّ فِىالسَّيْرِ لاَ تَقِفْ !
“Sayo terus, jangan berhenti”!.
فَإِنَّ الَّذِي تَطْلُبُهُ اَمَامَكَ
“Apa yang kamu tuju berada didepanmu, masih juga”!.
وَهْوَ وُصُوْلَكَ اِلَى الْمَوْلَى وَعَدَمُ رُكُوْنِكَ اِلَىشَئٍ سَوَاهُ
“Yaitu wusulmu kepada Tuhan, dan tidak cenderungnya hatimu kepada sesuatu selain Dia Tuhan “.
Dus! pokoknya jangan sampai kita terpengaruh oleh segala sesuatu
lahiriyah maupun batiniyah!. semua harus kita gunakan untuk Fafirruu
Ilallohi wa Rosuulihi SAW!. Bahkan sekalipun kita sudah berada dalam
tingkat kesadaran, sudah menguasai LILLAH atau BILLAH, jangan sampai
terpengaruh oleh soal-soal yang mempengaruhi, harus terus maju dan
meningkatkan kesadaran!. Terus disempumakan! kalau mandeg / berhenti,
merasa sudah LILLAH BILLAH, sudah mujahadah, sudah merasa tepat, itu
namanya terpengaruh! Tidak boleh!.
وَلاَ تَبَرَّجَتْ ظَوَاهِرُ الْمُكَوِّنَاتِ إِلاَّ وَنَادَتْكَ حَقَآئِقُهَا : إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرٌ
Begitu juga kalau ada pengalaman yang selalu memikat hatinya, seperti
umpamanya dihormati orang lain, soal-soal ekonominya menjadi mudah, apa
yang diusahakan berhasil dengan sukses, atau umpamanya lagi diberi
keistimewaan-keistimewaan khoriqul 'adah, mudah memperoleh alamat-alamat
dan berita-berita sirri, atau macam-macam khoriqul 'adah yang
lain-lain, bisa menghilang, bisa berjalan di atas air, bisa lap!. sampai
jagad sana tahu keadaan hati atau kehendak
repot mlarat
begitu juga Dus, orang tidak bisa bebas sama sekali. Sekalipun raja
malah presiden atau raja atau pejabat tinggi yang bagaimanapun makin
banyak persoalan-persoalannya yang tidak bisa diatasi. Sebahagian bisa
diatasi, timbul yang lain. Diselesaikan tumbuh sepuluh diatasi yang
sepuluh tumbuh seratus, diatasi seratus tumbub seribu, dan seterusnya.
Selalu timbul persoalan-persoalan yang makin banyak, makin banyak makin
tidak bisa mengatasi. Begitu kok mau dimintai tolong untuk mengatasi
persoalan kita oleh karena itu hanya Alloh saja yang mampu mengatasi
segala persoalan. Mari para hadirin-hadirot, selalu mengungsi kepada
Alloh SWT. Yang sudah mengungsi mari kita usaha mengungsi yang lebih
sempurna dan yang lebih meningkat. Kita masih kurang sekali mengungsi
kita kepada Tuhan, para hadirin-hadirot. Lebih-lebih yang belum
mengungsi. Sekalipun sudah mengungsi sudah berdepe-depe, tapi kurang
jauh. Jauuuh sekali kemampuan kita masih banyak untuk mengungsi yang
lebih kuat lagi, lebih dekat lagi, lebih ... meningkat lagi. Lebih-lebih
jika dilihat dari ke-Maha Rajaannya Alloh Ta’ala, Ke-Maha Agungnya
Alloh Ta'ala, ke-Maha... Maha ... Maha, dan dari arah lain kita keapesan
kita, kemelaratan kita, kebutuhan kita lebih-lebih, masih jauuuh para
hadirin-hadirot.
Mari para hadirin-hadirot kita perhatikan yang sungguh -sungguh.
Zaman banjir bandangnya Nabi Nuh ada suatu kejadian, yaitu seorang Ibu.
Ya pernah diutarakan dari pusat. Seorang Ibu dengan anaknya yang masih
kecil karena ada banjir bandang anaknya diajak lari menyelamatkan diri.
naik ke atas puncak bukit. Tapi sang banjir terus mengejar makin dalam
makin dalam,. Puncak bukit akhirnya tegenang..banjir makin dalam makin
dalam. Untuk menyelamatkan anaknya. anaknya digendong. Banjir terus naik
sampa ke punggung sang lbu. Anaknya lalu di sunggi. Banjir terus makin
tinggi air sampai pada leher sang Ibu, ...anaknya yang yang dijadikan
ancik-ancik. Di bawah telapak kakinya! untuk menyelamatkan dirinya
sendiri, para hadirin-hadirot. Tapi
Sekarang
kalah, bangun lagi. Jatuh-bangun, jatuh-bangun-dan seterusnya. Jangan
menyerah sekalipun bagaimana kepada nafsu. Harus terus maju pantang
mundur.
مَنْ لَا يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَرْفَعَ حَاجَةً عَنْ نَفْسِهِ ,فَكَيْفَ يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَكُوْنَ لِغَيْرِهِ رَافِعًا
Yang menguji Tuhan. Apakah mungkin isianya Tuhan bisa menghilangkannya.
Tentu tidak mungkin, disamping itu tidak ada orang yang dapat
mengatasi, sehingga bebas sama sekali dari apa yang menjadi kesulitan
atau ujiannya. Menolak hala'nya sendiri. Menyelamatkan diri saja tidak
dapat lebih-lebih mari menyelamatkan orang lain. Jauh mustahil, tidak
mungkin, maka satu-satunya jalan hanyalah Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi
SAW.
اَلَمْ يَأْنِ لِلذِّيْنَ آمَنُوْا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ {الحديد:١٦}
Apakah belum saatnya orang-orang yang beriman itu cepat-cepat lari
mengungsi dan menundukkan hatinya kepada Alloh?. Sudah jauh terlambat
sesungguhnya para hadirin-hadirot. Tapi sekalipun begitu, sekalipun
terlambat asal mau cepat-cepat lari dan bersungguh-sungguh bermujahadah,
sifat kemurahan Alloh tidak mengenal istilah terlambat. Asal
sungguh-sungguh mau kembali, pasti Alloh akan membuka dan menunjukkan
jalan-NYA yang diridloinya. Mari para hadirin-hadirot kita jangan
enak-enak bermalas-masalan, jangan menganggap enteng masalah ini.
وَحَاصِلُهُ أَنَ لِلْمَرْفُوْعِ إِلَيْهِ حَوَائِجُ لَمْ يَتَوَصَلْ إِلَيْهَا وَلَوْكَانَ مَلِكًا _وَلاَ شَكَ....
Jadi kesimpulanya orang juga sama-sama punya kepentingan menyelesaikan
dan mengatasi kepentingannya sendiri saja tidak bisa, lebih-lebih
mengatasi kesulitan orang lain. Seandainya bisa mengatasi satu persoalan
lain timbul lagi persoalan lain lagi, timbul lagi masalah lain lagi,
timbul lagi masalah lain, makin banyak, makin kaya makin banyak membuat
dirinya makin
kawannya, tahu apa-apa pada jarak jauh, atau...
yah! pokoknya macam-macam pengalaman atau keistimewaan-keistimewaan
yang diperolehnya. Harus terus maju dan meningkat Fafirruu Ilallohi wa
Rosulihi SAW. Jangan sampai mandeg kena pengaruh-pengaruh!. Dan
sesungguhnya keadaan-keadaan atau pengalaman-pengalaman itu sendiri
selalu memperingatkan :
إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرٌ
“Aku ini hanya ujian. Maka kamu jangan terpengaruh kepada-KU”!.
Kalau kamu terpengaruh kepada-KU, berarti kamu mengabdikan diri
kepada-KU. Berarti mengabdikan diri kepada nafsu! berarti kufur kepada
Tuhan. Faala Takfur!.
Para hadirin-hadirot, ini soal peningkatan
dan penyempurnaan, kita harus senantiasa meningkat dan menyempurnakan,
jangan sampai merasa puas begitu saja! harus terus, terus meningkat dan
menyempurnakan!. Bidang-bidang yang belum kita isi, atau sudah diisi
tapi belum sempurna, harus selekas mungkin kita isi dan kita
sempurnakan! Perlu para hadirin hadirot, kita mengoreksi, kita dan
keluarga, dan perjuangan, apakah semua sudah terisi atau belumdan kalau
sudah terisi apa sudah sempurna artinya sudah tidak ada negatifnyakah,
atau masih banyak kekurangannya?. Ini perlu sekali kita koreksi!. Dalam
rangka peningkatan dari penyempurnaan ini.
Para
hadirin-hadirot, antara lain mungkin mingguan kita tinggal besok Minggu.
Dan mari para hadirin-hadirot, pengajian yang tinggal dua minggu ini
jangan sampai tidak membuahkan manfaat yang sebanyak-banyaknya. Dan ini
soal peningkatan sangat penting sekali. Disamping soal penyempurnaan.
Dalam bidang LILLAH, dalam bidang BILLAH bidang YUKTI KULLA DZII HAQQIN
HAQQOH dan TAQDIMUL AHAM. Ini semua perlu peningkatan dan
penyempurnaan!. Begitu juga bidang penyiaran, bidang pembinaan. Pokoknya
segala bidang dalam
hubungan perjuangan Fafirruu
Ilallohi wa Rosuulihi SAW. Hubungan kita kepada Alloh SWT, yaitu LILLAH
BILLAH, dan hubungan kita dengan Rosuulillahi SAW LIRROSUL BIRROSUL.
Lebih-lebih ini dalam bulan Sya'ban, bulannya Rosuulillaahi SAW, perlu
meningkatkan Mujahadah-mujahadah, memperbanyak membaca sholawat!.
Ayat sholawat diturunkan dalam bulan Sya'ban. Yaitu ayat 56 Surat al-Ahzaab :
إِنَّ اللهَ وَمَلا َئِكَةِ يُصَلُوْنَ عَلَى النَّبِيّْ يَاأَيُّهَا الذَّيْنَ آمَنُوْ صَلُوْا عَلَيْهِ وَسَلِمُوْا تَسْلِيْمَا
Itulah
antara lain bulan sya'ban disebut bulannya Rosuulillaahi SAW. Ada lagi
disebut “bulan memelihara”. Bulan Rojab disebut bulan menanam, menanam
tauhid dan ubudiyah, dan sekarang “Bulan Ndangir”. “Mendangir” (Bahasa
jawa) = mencangkuli tanah disekeliling pokok tanaman supaya lebih subur.
Dalam bulan Rojab kita hubungan dengan Alloh SWT dengan Mi’roj, dan
bulan Sya'ban ini kita hubungan dengan Rosuululloh SAW (disamping kepada
Alloh SWT), untuk memperbaiki apakah “mi’roj” kita itu sudah tepat atau
belum. Begitu juga dalam pengetrapan hubungan dengan Alloh SWT, LILLAH
BILLAH di dalam hubungan kita dalam rumah tangga dan masyarakat, perlu
dipelihara, diperbaiki dan disempumakan. Lebih-lebih kita dalam berjuang
Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW bagi seluruh jami'il alamin. Atau
kita dalam berjuang menciptakan kesatuan dan persatuan dalam rangka
Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW. Menciptakan “ibaadur-Rohmaan”. Yaitu
:
وَعِبَادُ الرَّحْمَانِ الذِّيْنَ يَمْشُوْنَ فِي اْلأَرْضِ هَوْنًا وَاِذَا خَاطَبَهُمْ الجَاهِلُوْنَ قَالُوْا سَلاَمٌ. الفرقان٦٣
(Dan hamba-hamba yang baik dari Tuhan maha enyayang itu ialah
dirubah
oleh selainnya Alloh! Jangankan meruhah barang lain, merubah dirinya
sendiripun tidak dapat. Jangankan merubah, berubah sajapun tidak bisa.
Segalanya Alloh yang merubah, Yang menggerakkan. BILLAH.
اِذْهُوَ الْغَالِبُ الَّذِى لاَ يَغْلِبُهُ شَئٌ
Jika Alloh memiliki sifat QUDROT, otomatis lainnya tidak mempunyai
sifat qudrot. Adanya bisa atau mampu, itu karena dimampukan. Jelas yang
bisa menghilangkan segala kesulitan atau musibah adalah Tuhan. Kok
cari-cari lainnya Tuhan, itu jelas orang yang tidak normal. Mari kita
lihat diri kita masing-masing, sudah begitukah atau belum?. Kalau masih
menjagakan itu ini, masih ngresulo, itu ada peringatan seperti tertulis
di atas pengimaman masjid itu.
آنَا اللهُ لآإِلَهَا
الَّاأَنَا مَنْ يَشْكُرْ نَعْمَآئِى وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلآئِى وَلَمْ
يَرْضَ بِقَضَآئِى فَلْيَتَّخِذْ رَبَّا سِوَآئىِ{الحديث القدس}
AKU ALLOH, Tuhan, tidak ada Tuhan selain AKU, siapapun juga yang tidak
mau syukur, AKU beri nikmat malah berlarut-larut disalahgunakan untuk
melukai AKU, AKU beri ujian tidak mau bersabar, malah ngresulo mencaci
AKU, dia selalu maido, mengecam tidak rela tidak mau menerima atas
qodar-KU,...carilah Tuhan selain AKU. Pergi dari bumi-KU!. Mau keluar
negeri-itu luar negeri-KU. AKU yang punya! Mau ke bulan ?, Itu bulan-KU!
Mari para hadirin-hadirot kita koreksi keadaan kita. Ini soal yang
pokok, soal yang prinsip. Jika sampai kita tidak atau kurang mengambil
perhatian, tahu sendiri nanti akibatnya, bagaimana pedihnya. Sebentar
lagi Izroil datang oleh karena itu mari kita perangi nafsu kita yang
senantiasa mende-mende menangguh-nangguhkan dengan alasan begini begitu.
Nafsu memang begitu kelakuannya. Selalu berat-beratan, selalu
nanti-nanti besok-besok. Mari jangan sampai kita jemu-jemu.
hidup
sekalipun kalau diyakini seperti yang kita bahas ini tadi, juga
musyrik. Hatinya bagaimana, itu yang antara lain menentukan. Hati
kecilnya kemana arahnya. Berhenti kepada sebab itu sendiri sajakah, atau
langsung kepada Alloh SWT. Ini yang menentukan, maka disini
diperingatkan ole Muallif AI-Hikam ini, ...”LAA TARFA ‘ANILA GFOIRIHI
HAAJATAN”. Diperingatkan, jangan sekali-kali, dalam hati kecil
maksudnya, ini bidang, haqiqot harus dapat menempatkan segala sesutu
ditempatnya masing-masing YUKTI KULLA DZII HAQQIN HAQQAH. Mengisi segala
bidang masing-masing. Semua bidang harus kita isi. Bidang-bidang,
bidang syariat, bidang haqiqot lha disini maksunya bidang haqiqat jangan
sekali-sekali engkau minta hajatmu kepada selainnya Tuhan. Sebab yang
menciptakan itu Tuhan. Jangan sekali-kali engkau sambat kepada selain
Tuhan. Mengalami kecelakaan atau musibah misalnya, ini yang menurunkan
musibah ini adalah Tuhan. Karena itu engkau juga harus mohon kepada
Tuhan, Yah adanya musibah ini karena keburukan atau karena kesalahanku
dan sebagainya. Itu harus kita sadari dari sifat adilnya Tuhan. Dari
sifat wenangnya Tuhan, bebasnya Tuhan. dan dalam bidang syari'atnya
harus merasa karena keburukan dirinya, jangan sekali-sekali sambat
kepada lain.
Sekarang ini banyak ujian-ujian. Soal ekonomi
makin seret misalnya, kaum tani banyak sawahnya diserang hama wereng. Di
daerah Bekasi Jawa Barat kata seorang Pengamal Wahidiyah di sana, lebih
dari 90 % katanya sawah yang dimakan wereng, sehingga pada umumnya
tidak mampu membeli beras. Makan hanya seadanya. Begitu juga di daerah
lain-lain, Kerawang dan lain-lain. Disamping itu akhir-akhir banyak
daerah yang kekurangan air. Ini semua yang menurunkan Tuhan. Kok lalu
sambat-sambat kepada lainnya, atau lebih-lebih ngresulo, menyesali
keadaan, ini terkecam sekali. Berarti bunuh diri orang yang begitu itu.
“FAKAIFA YARFA'U GHOIRUHU MAAKAANA HUWA LAHU WAADLI'AN” apakah mungkin barang yang diciptakan oleh Alloh bisa
orang-orang
yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang
jahil menegur mereka (dengan kata-kata yang tidak sopan), mereka
mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan).
Para
hadirin-hadirot, mudah-mudahan pengajian pagi ini benar-benar diridloi
Alloh SWT, membuahkan manfaat yang sebanyak-banyaknya fid-diini
wad-dunia wal akhiroh!. Khususnya bagi hubungan kita kepada Alloh SWT
dan kepada Rosuulullahi SAW! disamping hubungan-hubungan yang timbul
diantara kita sama kita. Kiranya pengajian cukup sekian, dan waktu dan
tempat dipersilahkan kepada penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat.
SAMBUTAN PENYIAR SHOLAWAT WAHIDIYAH PUSAT
Di sampaikan oleh Bapak A. F. Badri.
Pokok- pokok isi sambutan antara lain melaporkan kegiatan-kegiatan
Pembinaan Jama’ah Wahidiyah diberbagai Daerah. Khususya Daerah Kabupaten
Kediri. Antara lain yang telah ditinjau Penyiar Pusat yaitu jamaah
Sidomulyo Kec. Pare, Jamaah Ngadi Kec. Mojo Kediri, Jamaah Kajar Kec.
Grogol Kediri, Jamaah Kleco Kec. Pesantren dan lain lain. Selanjutnya
jama’ah yang akan ditinjau antara lain Jama’ah Desa Sekaran Kec.
Plemahan, Jama’ah Desa Ngletih Kec. Pagu dan Jama’ah Sumber Kec. Kandat.
Selanjutnya isi sambutan Pusat membacakan Siaran Penyiar Sholawat
Wahidiyah Pusat No. 23/SW-XV/77 mengenai anjuran Mujahadah Serempak
Nisfu Sya'ban ditiap-tiap Jama’ah. Mujahadah Wahidiyah semalam penuh dan
tadarus Surat Yasin 3 kali pada ba'dal magribnya. Kemudian siaran
mengenai Asrama Wahidiyah Bulan Romadhon. Asrama diadakan di Pusat
Wahidiyah Kedunglo selama 20 hari, dimulai hari pertama malam puasa.
Acara pokok dalam Asrama Wahidiyah ini ialah peningkatan Perjuangan
kesadaran kepada Alloh wa Rosulihi SAW dengan Mujahadah-Mujahadah dan
Kuliah-kuliah
Wahidiyah. Disamping itu juga diadakan
Pengajian Kitab-kitab Bidang Syari'at antara lain : Fathul-Qorib,
Sullamut-Taufiq-'Uquudul-djaini, Durrotun-Nashihin, dan Tadarrus
AI-Qur’an dengan penjelasan tafsirnya yang penting oleh Hadrotul
Mukarrom Romo K.H. Abdul Madjid ma’ruf sendiri. Demikian pokok-pokok isi
sambuatan dari Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat yang disampaikan oleh
Bapak A.F. Badri.
KEMBALI AMANAT-AMANAT DARI ROMO YAHI
Beliau merestui dan mendorong supaya apa-apa yang telah disampaikan
oleh Penyiar Pusat, kita perhatikan demi peningkatan Perjuangan Fafirruu
Ilallohi wa Rosuulihi SAW. Baik mengenai Mujahadah-Mujahadah Nisfu
Sya'ban maupun mengenai Asrama Wahidiyah bulan Romadhon. Terutama bagi
para remaja-remaja putra dan putri penting sekali mengikuti Asrama
Wahidiyah ini disamping kaum Bapak dan kaum ibu.
Terutama lagi
bagi para kader Pejuang Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW penting
sekali mengikuti asrama ini, dimana disamping digembleng dan dibina
mental kesadaran juga diberikan pengajian kitab-kitab bidang syariat dan
ilmiah-ilmiah lain yang sangat diperlukan sebagai modal di dalam
menyiarkan Sholawat Wahidiyah dan Ajaran-ajaran Wahidiyah. Sudah
seharusnya kata beliau, kita menguasai disamping soal tauhid, soal
tasawwuf dan bidang akhlaq, kita menguasai ilmiah-ilmiah syariat.
Lebih-lebih bagi kader Pejuang Wahidiyah dan para Muballiqh-muballigh.
Perlu sekali memiliki ilmiah-ilmiah yang diperlukan. Baik ilmiah bidang
tauhid, bidang akhlaq dan bidang syariat. Malah bidang nahwu shorof
sekalipun mungkin diperlukan, sehingga seorang muballigh dalam membaca
atau mengupas dalil-dalil, lebih-lebih ayat-ayat Al-qur'an dan
Hadist-hadist Rasululloh SAW bisa tepat tidak membuat
kesalahan-kesalahan. Sebab kalau seorang muballigh membuat
kesalahan-kesalahan dalam membacakan dalil-dalil otomatis ini akan
mempengaruhi hasil usaha dakwahnya. Dalam Wahidiyah
begini begitu. Usaha ini usaha itu. Menjalankan begini dan begitu, dan sebagainya seperti umumnya orang.
Tapi
yang menjadi ciri khasnya. Hatinya yang pokok. sekalipun dia diberi
“Khoriqul ‘adah” kramat istilah umum, siapa yang kelihatan khoriquI
‘adah disebut “keramat”. Orang yang begitu, jika hatinya. tidak seperti
yang diutarakan tadi ya tetap terkecam. Malah, kalau perlu lebih berat.
Pokoknya, pemberian atau keadaan yang luar biasa khoriquI ‘adah, di luar
perhitungan, umpamanya dapat menempuh jarak ratusan atau ribuan
kilometer hanya dalam tempo sejangkah, atau mengetahui hati kawan atau
orang lain, tapi kok tidak mengecakkan ajaran ini ajaran yang baru kita
bahas ini, itu tetap terkecam dan otomatis itu merupakan “lstidroj”
penglulu. Pokoknya moril atau materiil, itu sama ketentuannya.
Dikaruniai keadaan biasa, kok tidak mengecakan ajaran ini, ajaran yang
baru kita bahas ini, itu menyalahgunakan dan merupakan beban baginya,
justru dia di karuniai soal itu, malah memberatkan orang yang di
karuniai satu macam nikmat misalnya kok tidak mensyukuri lagi itu dia
makin berat lagi pokoknya makin banyak nikmat yang di terimanya dia
bertanggung jawab di karuniai dua nikmat dan tidak mensyukurinya lagi
pokoknya makin banyak nikmat yang di terimanya, baik itu nikmat materi,
nikmat lahir atau nikmat moril atau nikmat batin jika tidak disyukuri,
makin berat makin berat. Nikmat materi misalnya, makin banyak harta
bendanya, jika tidak digunakan semestinya, berarti makin banyak
disalahgunakan. Begitu juga nikmat batini seperti ilmu, ilmiyah apa
saja, ilmiyah agama atau ilmiyah umum, jika tidak di syukuri di atas
tadi, ya tetap makin banyak, makin bertambah besar penyelewengan dan
penyalahgunaannya.
{لَاتَرَفَعنَ إِلَى غَيْرِهِ حَاجَةٌ هُوَ مُوْرَدُهَا عَلَيْكَ فَكَيْفَ يَرْفَعُ غَيْرَهُ مَا كَانَ هُوَ لَهُ وَاضِعَا}
Ada anu pengertian atau istilah “musyrik” minta-minta ke kubur. Minta
kepada orang yang sudah mati musyrik. Sesungguhnya tidak hanya minta
kepada orang mati saja yang musyrik. Biar minta kepada orang
yaitu
“AT THOLAB 'ALA WAJHIL I’TIMAAD”. Menjagakan, mengharapkan sungguh
menjagakan. Pokoknya lahir batin ya hanya mandeg menjagakan kepada
hal-hal tersebut. Tidak Menyadari kepada Alloh SWT.
أَمَا
الطَّلَبُ مِنْهُمْ مِنْ حَيْثُ كَوْنِهِمْ أَسْبَابَا وَوَسَآئِطَ مَعَ
اْلاعْتِمَادِ فِى نَيْلِ الْمَطْلُوْبِ عَلَى اللهِ وَرُؤْيَةِ أَنَهُ
الْمُعْطِى فَلَيْسَ مُنَافِيًا لِلْعُبُوْدِيَةِ
Adapun menjagakan kepada lain-lain tersebut hanya sebagai sebab,
وَجَعَلْنَا لِكُلِّ شَيْئٍ سَبَبًا{سورة الكهف ٨٥}
Alloh menciptakan segala sesuatu dengan menciptakan sebabnya, dan
menyakini bahwa Alloh SWT sekalipun ada sebab, tetapi tetap Alloh SWT.
Atau ketika memberi atau menerima pemberian. tidak menekatkan bahwa
dirinya yang memberi atau yang memberi. Melainkan merasa bahwa Alloh SWT
yang memberi. Mudahnya BILLAH jika demikian keadaannya, ini tidak
mengganggu kepada ubudiyah. Malah seharusnya begitu terjadinya. Dengan
ada sebab-sebabnya yang hubungan. Jadi mudahnya, ya sebab dan ya sebab
ya tawakal. Ini malah lebih baik dari pada hanya tawakal tidak memakai
sebab. Junjungan kita Rosuulillahi SAW sendiri juga tidak meninggalkan
sebab. Tapi tawakal senantiasa menjiwai.
Caranya mengetrapkan
yaitu tadi, ...mudahnya LILLAH BILLAH istilah Wahidiyah. Mari jika
diantara kita ada yang belum tepat mari usaha ditepatkan
setepat-tepatnya.
Disini, nanti Insya Allah dibahas, ada istilah “ORANG KHUSUS” dan ada lagi “ORANG UMUM”.
Yang dimaksud “ORANG KHUSUS” itu lahiriyahnya ya biasa, tidak mesti
harus nggetu tekun di dalam masjid saja. Melainkan ya kelihatan
mempengaruhi bidang penyiaran.
Para hadirin-hadirot, mari sekali lagi soal asrama dan lain-lain tadi
kita perhatikan sungguh-sungguh. Dan siaran-siaran dan anjuran dari
Pusat tadi mari kita perluas kita siarkan kepada para Pengamal Wahidiyah
di daerah-daerah yang tidak hadir di sini pagi ini. Malah, sebaliknya
kita perluas juga sekalipun kepada masyarakat yang belum mengamalkan
Wahidiyah. Mungkin sebabiyah itu Alloh Ta'ala membukakan hati mereka,
dan mereka tertarik mengikuti Asrama Wahidiyah misaInya. Ini mungkin.
Yah!. Mudah-mudahan.
Para hadirin-hadirot, mari pada kesempatan
ini, mari bersama-sama berdepe-depe kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW.
Disamping maksud yang sudah biasa, mari kita mohonkan apa yang kita
hadapi yaitu Asrama Bulan Romadhon yang akan datang, mudah-mudahan
benar-benar diridloi Alloh SWT wa Rosulihi SAW, memberikan manfaat yang
sebesar-besarnya! Mudah-mudahan bulan puasa nanti benar-benar membuahkan
manfaat yang sebesar-besarnya, bagi perjuangan Fafirru Illalohi wa
Rosulihi SAW! mudah-mudahan kita diberi dapat melaksanakan ibadah
khususnya berpuasa, dengan yang sesempuma-sempurnanya yang paling
diridloi Alloh wa Rasuulihi SAW. Menghasilkan manfaat yang
sebesar-besarya! fid-diini wad dunya wal akhiroh. Bagi kita sekeluarga
dan bagi umat dan masyarakat. Mari para hadirin-hadirot, dengan
bersungguh-sungguh kita merintih memohon kehadapan Alloh SWT, mohon
jangkungan syafaat Rasuululloh SAW, mohon do’a restu Ghoutsi Hadzaz
Zaman wa A’waanihi wa saairi Ahbaabillaahi Rodiyalohu Ta’ala ‘anhum.
AI Faatihah…!!!
( MUJAHADAH )
AL-HIKAM 1 Hal. 23
ِبسْمِ اللهِ الرَّحمْنَ ِالرَّحِيْمِ
طَلَبَكَ مِنْهُ اتِّهَامُ لَهُ
Dikatakan bahwa memohon kepada Tuhan, berdo'a, boleh dikatakan menuduh
atau tidak percaya kepada Alloh Ta’ala menuduh dan tidak pecaya
seolah-olah bahwa Alloh Ta'ala maha Rohman Rohim, Maha Memberi sekalipun
tanpa diminta. Padahal Allah SWT telah menanggung mencukupi rizkinya
segala. makhluk. Termasuk manusia. Dan disamping itu, berdo'a atau
memohon itu boleh dikata menuduh bahwa Alloh SWT tidak selalu mengetahui
keadaan orang yang berdoa atau memohon itu.
Kalau orang
betul-betul yakin bahwa Alloh SWT Maha Rohman Rohim, Maha Mengetahui,
pasti dia orang yang betul-betul yakin iman tadi tidak membutuhkan
memohon atau berdoa. jadi yang dikatakan di atas itu tadi, memohon atau
berdoa yang tidak didasari LILLAH disamping BILLAH. Memohon karena
terdesak kebutuhannya. Bukan karena dasar “diperintah” untuk memohon.
Memohon yang didasarkan LILLAH BILLAH, itu sudah seharus Antara lain
berdasarkan :
اُدْعُوْنِي اِسْتَجِبْ لَكُمْ المؤمنون :٢
Jadi berdoa bukan karena syak atau ragu-ragu kepada belas kasih sayang
Tuhan, melainkan berdoa menjalankan perintah. Perintah supaya memohon
juga berdoa bukan karena syak atau ragu-ragu bahwa Engkau
dan
sebagainya, apakah sudah sungguh-sungguh nyocoki dengan apa yang
diperingatkan oleh Muallif Hikam ini. Kita boleh saja lahirnya
menjagakan kepada orang lain atau kepada apa saja, tapi dalam hati kecil
kita harus, ... harus itu tadi, hanya kepada Alloh SWT.
الْكَامِلُ مَنْ يَكُوْنُ الْجَمْعُ فِى بَاطِنِهِ مَشْهُوْدًا وَالْفَرْقَ فِى ظَاهِرِهِ مَوْجُوْدًا
Orang yang Kaamil, yang sempurna, batinnya, hatinya, jiwanya senantiasa
“jam,u”, kumpul, senantiasa syuhud, nglesot, berdepe-depe di hadapan
Alloh SWT. LILLAH BILLAH istilah Wahidiyah. Sedangkan keadaan
lahiriyahnya, ya seperti pada lazimnya menurut tingkatan dan
kedudukannya di dalam masyarakat. Ya bekerja ya usaha ini itu dan
sebagainya. Tapi batinnya senantiasa LILLAH BILLAH LIRROSUL BIRROSUL
istilah Wahidiyah. Dan senantiasa berdepe-depe mengharap kepada Alloh
SWT.
Kita semua mampu untuk itu para hadirin-hadirot !... adalah
nikmat Alloh SWT yang harus disyukuri! Mensyukurinya, ialah menyadari
dan digunakan menurut apa mestinya. Mudah-mudahan para. Hadirin-hadirot
kita diridloi Alloh SWT, diberi hidayah dan taufiq di beri syafaat dan
tarbiyah oleh Rosuulillahi SAW, barokah karomah nadhroh Ghoutsi Hadzaz
Zaman wa A’waanihi wasaairi Abbaabillahi rodiyallohhu Ta’ala 'anhum.
Sehingga dapat melaksanakan apa yang diridloi Alloh SWT Khususnya
seperti apa yang diuraikan dalam pengajian pagi ini.
وَاعْلَمْ
أَنَّ الطَّلَبَ مِنَ الْخَلْقِ الْمُنَافِى لِلْعُبُوْدِيَةِ هُوَ
الطَّلَبُ مِنْهُمْ عَلَى وَجْهِ اْلإعْتِمَادِ عَلَيْهِمْ
وَاْلاِسْتِنَادِ إِلَيْهِمْ وَالْغَفْلَةِ فِى حَالِ الطَّلَبِ عَنِ اللهِ
تَعَالَى
Di sini diberi, penjelasan meminta atau menjagakan
atau mengharapkan dari siapa saja, orang lain atau benda lain atau
dirinya sendiri, kemampuannya, keahliannya, usahanya dan sebagainya.
Yang terkecam yang bertentangan dengan 'ubudiyah pengabdian diri kepada
Alloh Ta’ala,
dihitung banyaknya!. Tapi anehnya, hamba-Nya yang
diberi, makin banyak menerima pemberian dari Tuhannya, makin merajalela
menyakitkan melukai kepada Si-Pemberi. Sunggupun begitu Alloh Ta’ala
tidak mengambil ketegasan melainkan memberi maaf!. Itu Alloh SWT Itu
“KARIM”. Sekalipun yang diberi itu melukai begitu yang tidak bisa
digambarkan terlalunya, kalau dia mau minta maaf mohon ampun sekali
saja, biar betapapun terlatunya didalam melukai, masih saja berkenan
memberi ampun memberi maaf!. inilah “KARIM” WA IDZAA WA’ADA WAFA”. Jika
memberi janji dipenuhi. Malah lebih dari pada itu. “WA IDZAA AKHTO
ZAADA ‘ALA MUTAHAR ROJA”. Jika memberi, jauh lebih banyak dari apa yang
diharapkan oleh si penerima. Inilah sifat “KARIIM”, sifatnya zat yang
Maha Loman. “WALA YUBALI KAM AKHTOO WALA LIMAN AKHTO” dan tidak peduli,
berapa banyaknya yang diberikan dan siapa saja yang tidak pandang
orang. Sekalipun senantiasa disalahgunakan, tetap masih diberi. Terus
diberi senantiasa, dalam segala bidang!. “WA IDZAA JUFIA’AATABA WA
MASTAQHTO” Jika si-penerima pemberian tidak man tahu, tidak terima
kasih, malah mengecam, diperingatkan dan tidak diambil ketegasan
seketika!. “WALAA YUDLOYYTU MAN LAADZA BIHI” dan tidak menyia-nyiakan
tidak akan mengecewakan orang yang mengungsi orang yang membutuhkan
padanya. Malah pemberiannya itu jauh lebih banyak lebih baik. Baik...
dari apa yang diinginkan dan apa yang diperhitungkan oleh yang
membutuhkan itu. “WA YUGHNIHI AMIL WASAAILI WAS SYUFA’A” dan tidak
mensyaratkan, harus ada perantara harus ada syafaat!. Langsung, ada pada
Alloh SWT.
فَيَنْبَغِى اَنْ لَا تَتَحَطَاهُ أَمَالَ الْمُؤَمِلِيْنَ إِلَى غَيْرِهِ
Maka dari itu jangan sekali-kali kita menuju, jangan sekali-kali kita menjagakan selain Alloh SWT !.
Para hadirin-hadirot ini perlu adanya pengetrapan!. Bagaimana keadaan
sehari-hari kita. Sekalipun tidak menjagakan orang lain, kawan
yaa
Tuhan selalu lebih mengetahui apa-apa yang ada pada makhluk ciptaan-MU
termasuk diriku jadi berdoa harus semata-mata didasari LILLAH BILLAH.
Malah, berdoa yang semestinya, yaitu yang di dasari LILLAH BILLAH
dikatakan :
الدُّعَاءُ مَخُ الْعِبَادَةِ
(Berdoa itu kepala dari ibadah).
Kepala atau otak. Otak itu bagian tubuh manusia yang paling penting
fungsinya bagi mengatur kehidupan manusia. Manusia tanpa otak yang
sehat, tidak ada arti bagi suatu kehidupan di dunia ini. Malah dikatakan
tidak normal. jadi do'a adalah ibadah yang paling top nilainya.
Mengapa? sebab do’a disamping menghormat memuja pada Allah SWT, keadaan
memohon itu sudah berarti menghormat kepada yang dimohoni. Di samping
memohon, menghormat. Disamping menghormat zikir. Otomatis!. Orang
memohon, berarti sadar kepada yang di mohoni. Disamping menghormat dia
tadhallul, merasa hina dina, merasa ddif apes, merasa lemah. Keadaan
memohon itu sudah menunjukkan bahwa si yang memohon itu jelas lebih
lemah dari yang dimohoni.
Jadi “tholabuka lahu ittihaamun” tahu
itu memohon yang tidak di dasari LILLAH BILLAH melainan karena dasar
kebutuhan. Terdesak oIeh kebutuhan dirinya. Menuduh bahwa Alloh tidak
akan memberi kalau tidak dimohoni. Menuduh bahwa Alloh tidak mengetahui
keadaan mahluqnya, hamba-NYA. Kalau berdasar LILLAH BILLAH, itu sudah
seharusnya. “AD-DU’A MUKHKHUL 'IBADAH’AD-DU'A SILAAHUL MUKMININ” dan
lain-lain.
Tapi kita ya harus “yukti kulla zii haqqin haqqoh”
mengisi bidang-bidang yang harus kita isi! Di samping soal-soal lain,
terutama memohon yang hubungan dengan kesadaran kepada Alloh SWT, kepada
Rosulilah SAW. Atau hubungan dengan soal-soal apa saja. Pernah pada
suatu ketika Nabi Musa ‘Alaihissalam membutuhkan makanan untuk
ternaknya.
Akan memohon kepada Tuhan malu karena barang
sepele. Hanya sejenis rumput buat makanan ternaknya. Lha ini lalu di
sesali oleh Alloh SWT. Mengapa kok tidak mau memohon. Tapi ya itu tadi
harus di dasari LILLAH BILLAH. Dan dengan syarat tidak keterlaluan!.
Umpamanya sudah berlebih-lebihan dari pada kebutuhan. Kok masih memohon,
itu namanya keterlaluan!
وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلاَ تَسْرَفُوْا. الاعراف: ٣١
Makan dan minumlah, tapi jangan keterlaluan. Yah, boleh atau harus,
tapi jangan terlalu! Memohon soal materi misalnya, yah, silahkan tapi
jangan keterlaluan! dan harus di dasari LILLAH BILLAH dan TAQDIMUL AHAM
FAL AHAM, didahulukan yang lebih penting!. Kita berkeyakinan otomatis
yang lebih penting adalah FAFIRRU ILALLOH WA ROSULIHI SAW. Dan ini tidak
berarti dibuntu sama sekali bidang lain lain.
(وَطَلَبَكَ لَهُ)
بِأَنْ تُطْلَبُ قُرْبَكَ مِنْهُ وَزَاوَلُ الْحِجَابِ عَنْكَ حَتَى
تُشَاهِدُهُ بِعَيْنِ قَلْبِكَ ( غِيْبَةُ مِنْكَ عَنْهُ )
Memohonmu kepada Tuhan agar supaya sadar kepada Alloh SWT agar supaya di
hilangkan hijabnya, itu menunjukkan bahwa engkau belum sadar kepada
Tuhan. Kalau engkau sungguh-sungguh sadar kepada Tuhan senantiasa yaqin
senantiasa merasa bahwa Tuhan senantiasa hadir, senantiasa mengincar,
senantiasa memberi, senantiasa .... meliputi, pasti ... malu untuk
memohon. Allah senantiasa lebih tahu dari pada keadaan dirimu, otomatis
kamu tidak berani atau malu kapada Alloh memohon supaya diberi
kesadaran.
Tapi ini tadi semua yaitu tadi apa bila tidak
didasari LILLAH - BILLAH. Kalau didasari LILLAH - BILLAH insya Alloh
kita sudah jelas seperti di muka tadi.
Berpenghitungan dan
mengatur menurut syarat-syarat yang semestinya. Itu adalah separo dari
ma’isyah, separo dari perhitungan. Dalam syariatnya kesemuanya itu harus
kita laksanakan. Tapi dalam bidang haqiqot harus, ... harus hanya Alloh
SWT yang kita jagakan yang kita tuju. Sebab kesemuanya itu adalah
BILLAH Tuhan yang mencipta dan menitahkan!
{فَالْكَرِيْمُ لاَ تَتَخَطَاهُ اْلأَمَالُ}
Disamping itu, karena yang maha loman adalah hanya Alloh, sedangkan
lainnya, seandainya ada yang loman, itu karena mendapat tetesan dari
lautan kelomananya Tuhan. Istilah lain dilontankan oleh Alloh Ta'ala :
“FAL KARIIM LAA TATAKHOTHTHOOHUL AAMAAL”
Dzat yang Maha Loman, fikiran, perhitungan, angan-angan tidak bisa menggambarkan betapa itu!
فَالْهِمَّةُ الْعَالِيَّةُ تَأْنَفُ مِنْ رَفْعِ حَوَائِجِكَ إِلَى غَيْرِ كَرِيْمٍ وَلاَ كَرِيْمَ فِى الْحَقِيْقَةِ اِلاَّ اللهُ
Orang yang sehat Pikirannya, yang tinggi cita-citanya otomatis tidak
menjagakan kepada siapapun yang tidak punya sifat loman-pemberi.
Melainkan menggantungkan tujuan dam harapan hanya kepada Tuhan Yang Maha
Loman. Yang Maha Loman hanya Alloh SWT!.
اِذَ الْكَرِيْمُ هُوَ
الَّذِى إِذَاقَدَّرَ عَفَا وَاِذَا وَعَدَ وَفِى وَاِذَا أَعْطَى زَادَ
عَلَى مُنْتَهَى الرِّجَا وَلاَ يُبَالِى كَمْ أَعْطَى وَلَا لِمَنْ
أَعْطَى
Definisi “KARIM”, ta’rif “KARIM” yaitu “IDZII QODARO”
mampu menghukum tapi memberi maaf umpamanya, diejek atau dirugikan orang
lain. Dia mampu menghukum atau mengambil tindakan, tetapi dia memberi
maaf padahal umumnya orang, terutama yang masih dikuasai oleh nafsu,
ibarat dipukul sekali membalasnya berpuluh kali pukulan. Tapi Alloh SWT
senantiasa memberi, ... memberi, .... memberi. Memberi rizqi, memberi
nikmat, memberi fadlol, memberi tak dapat
AL-HIKAM 1 Hal. 33
ِبسْمِ اللهِ الرَّحمْنَ ِالرَّحِيْمِ
لاَ تَتَعَدِّى نِيَةُ هِمَتِكَ إِلَى غَيْرِهِ
بِأَنْ تَتَوَجَهَ إِلَى غَيْرِهِ لِتَحْصِيْلِ حَاجَتِكَ بَلْ أُطْلُبْ حَوَائِجَكَ مِنْهُ
Jangan sekali-kali niatmu, himmahmu atau maksudmu engkau tujukan kepada
selain TUHAN, menjagakan kepada selain TUHAN, artinya orang lain, atau
dirinya sendiri, usahannya, kekayaannya, sawahnya, pasarnya,
perusahannya, ilmunya, keahliannya dan sebagainya dan sebagainya, jangan
sekalli-kali engkau jadikan pegangan!. Sebab apa saja selain TUHAN itu
tidak bisa dibuat pegangan, tidak bisa dijagakan,. Sekalipun wujudnya
kelihatannya bisa, bisa menjagakan sawahnya, pasarnya, usahanya dan
lain-lain sebagainya itu, tetapi sesungguhnya kesemuanya itu tergantung
pada Alloh SWT. Jadi dalam segi hakikot kita tidak boleh menjagakan
selain Tuhan. Tidak boleh menuju selain Tuhan. Sebab, ya itu tadi, tidak
semestinya dan apa saja selain Tuhan itu sesungguhnya tergantung pada
Tuhan. Dibuat berhasil ya berhasil, dibuat hancur ya hancur, tidak ya
tidak.
Itu tadi dalam bidang haqiqot harus begitu perasaan kita
adapun dalam bidang syariat kita harus usaha, harus ikhtiar begini
begitu, dan harus ada perhitungen dan sebagainya dam sebagainya.
التَّدْبِيْرُ نِصْفُ الْمَعِيْشَةِ
وَطَلَبَكَ لِغَيْرِهِ لِقِلَةِ حَيَائِكَ مِنْهُ
Dan permohonan mu (soal apa saja) barang selainnya Tuhan, soal materi,
soal jabatan, soal kenaikan pangkat, soal mukasyafah dan lain-lain, itu
menunjukkan bahwa engkau tidak kenal malu kepada Tuhan. kamu memohon
soal-soal selain Tuhan, itu namanya kamu tidak kenal malu. kalau orang
punya perasaan malu, otomatis tidak mau memohon, lebih-lebih soal
materi. Lebih-lebih soal-soal yang hanya untuk kepuasan nafsunya.
Sedangkan soal akhirot sekalipun, sekalipun, soal khusnul khotimah
sekalipun, kalau sungguh-sungguh punya rasa malu, tidak berani. Tapi
yaitu tadi, ini apa bila tidak di dasari LILLAH BILLAH. Tapi kalau di
dasari LILLAH BILLAH dan Taqdimul Aham Fal Aham, yukti kulla Dzii haqqin
haqqoh, Yah ! Malah seharusnya !.
وَطَلَبَكَ مِنْ غَيْرِهِ لِوُجُو دِ بُعَدِكَ عَنْهُ
Dan
memohonmu kepada selain Tuhan, itu menunjukkan bahwa engkau jauh dari
Tuhan. Andai engkau merasa dengan Tuhan yang Maha Memberi, Maha
Mengetahui, Maha Kaya, Maha ... Serba Maha, pasti engkau tidak mau tidak
berani memohon kepada selain Tuhan !.
بِأَنْ تَوَ جَهَتْ إِلَي بَعْضِ النَّاسِ
Seperti misalnya engkau meminta atau mengarahkan harapan atau
menjagakan kepada sesama manusia. Minta bantuan atau pertolongan kepada
kawanya, atau menjagakan kawannya, atau membanggakan kemampuanya,
menjagakan pasarnya, menjagakan sawahnya, menjagakan perusahaanya dan
lain lain sebagainya, Kalau orang benar-benar dekat dengan Tuhan, tidak
berani. Tapi ya itu tadi, itu semua jika tidak di dasari LILLAH BILLAH.
Kalau di dasari LILLAH BILLAH ya, seperti di muka tadi. Pokoknya luar
dalam harus LILLAH BILLAH disamping yukti kulla dzii haqqin haqqoh dan
Taqdimul Aham Fal Aham. Dan tidak “isrof” keterlaluan otomatis kalau
keterlaluan lalu mengganggu hak masing-masing atau mengurangi taqdimul
aham. Atau ya, keadaan
“keterIaluan” itu sendiri sudah menyalahi.
إِذْ
لَوْ كُنْتَ قَرِيْبًا مِنْهُ لَكَانَ غَيْرِهِ بَعِيْدًا عَنْكَ وَلَوْ
كُنْتَ مُشَاهِدًا لِقُرْبِهِ مِنْكَ لأَكْتَفِِيَتْ بِهِ عَنْ سَائِرِ
خَلْقِهِ
Karena jika engkau dekat kepada Alloh otomatis jauh
dari selain Alloh atau mahluk. Kalau jauh dari Alloh otomatis dekat
kepada makhluqk pokoknya kalau tidak LILLAH BILLAH pasti LINNAFSII
BINNAFSI. Tidak bisa di tawar lagi.
Para hadirin-hadirot, kita
perlu adanya koreksi kepada pribadi kita masing-masing sudah tepat atau
belum mari kita koreksi. Mari kita tepatkan kalau belum tepat!.
فَاالطَّلَبُ
كُلُهُ مِنَ الْمُرْتَدِيْنَ مَعْلُوْلٌ سَوَآءٌ كَانَ مُتَعَلِقًا
بِالْحَقِّ إِلَّّا مَاكَانَ عَلَي وَجْهِ التَّعَبُدِ وَالتَّأَدُّبِ
وَاِتْبَا ع ِاْلأَمْرِ وَاظْهَارَ الفَاقَةِ
Pokoknya, segala
permohonan atau permintaan baik kepada Alloh atau kepada makhluk (bagi
si murid), semuanya terkecam, Terkecuali yang berdasarkan ubudiah,
LILLAH adab juga. LILLAH, menurut perintah juga LILLAH. Pokoknya
kecuali, yang berdasarkan LILLAH! dan LILLAH itupun masih harus disertai
yukti kulla zii haqqin haqqoh dan Taqdimul Aham Fal Aham!
اَمَا
الْعَارِفُوْنَ فَلاَ يَرَوْ نَ غَيْرَ اللهِ تَعَالىَ فَطَلَبُهُمْ لَيْسَ
مِنْ الْمَخْلُوْقِ فِي الْحَقِيْقَةِ وَإِنْ كَانَ مِنْهُ بِحَسَبِ
الظَّاهِرِ
Orang yang 'arifuun orang yang sadar kepada Alloh,
mereka tidak melihat selain Alloh. Oleh karena itu permohonannya,
permintaannya atau yang dijagakan sesungguhnya hanya kepada Alloh SWT.
Sekalipun lahimya minta pada kawannya, minta bantuan moril atau
materiil, tapi sesungguhnya kepada Alloh SWT arahnya. Lha!, para
hadirin-hadirot, sudah begitu atau belum? Mari kita koreksi! Kalau belum
seperti itu
kepada Alloh SWT, mudah-mudahan perjuangan kita ini para
hadirin-hadirot, diberi kemajuan yang sebanyak-banyaknya! Sehingga
dalam waktu yang singkat sekali, Jamiial'Alamiin Fafirruu Ilalloh wa
Rosuulihi SAW .
AL - FATIHAH …MUJAHADAH !.
Selanjutnya
para hadirin-hadirot maaf, saya baru menerima surat dari Bapak, Sukadi.
Sekalipun alamatnya kepada saya, tapi ada hubungannya dengan
saudara-saudara, dengan kita bersama.
Akan saya baca di sini.
“Catatan
Penerbit” Untuk menyingkat, harap dimaafkan isi surat tersebut
dicantumkan di sini yang pokok-pokok yang ada hubungannya dengan
Perjuangan Wahidiyah saja. Sekali lagi mohon maaf !
“Permohonan
Bapak setiap saya bersembahyan di Masjid Nahawi senantiasa saya ucapkan
dimuka maqom Rosululloh SAW. Dan terus mujahadah di maqom Rosululloh
SAW. Dan kami senantiasa mendapat petunjuk-petunjuk demi keterkabulnya
permohonan yang telah kami ucapkan. Karena terharunya saya senantiasa
mencucurkan air mata, seolah-olah saya berada di rumah sendiri
(Kedunglo).
Saya setiap hari selalu Mujahadah. Untuk itu saya
mohon do’a dari Bapak-bapak Ibu-ibu, Saudar-saudara Pengawal Wahidiyah
demi kelancaran permohonan, dan mudah-mudahan diterima oleh Alloh oleh
Tuhan Yang Maha Esa. Amiin! Sekian! Madinah, 24-10-1977.
Ya,
mudah-mudahan para hadirin-hadirot Bpk. Sukadi memperoleh Haji yang
mabrur. Dan diantara permintaan yang saya minta pada waktu
keberangkatannya yaitu agar supaya perjuangan Wahidiyah dihaturkan
kepada Rosululloh SAW secara langsung, secara khusus. Agar supaya
memohon dukungan dari Rosalillahi SAW. Untuk, yaitu diridloi oleh Alloh
SWT, untuk suksesnya Perjuangan Farirru Ilalloh wa Rosuulihi SAW.
Para hadirin-hadirot! Mari pada kesempatan ini bersama-sama
berdepe-depe di hadapan Alloh SWT wa Rosuulihi SAW! mari sama-sama
merintih kepada Alloh SWT! Mari sungguh-sungguh merasa senantiasa
menyalahgunakan. Senantiasa dholim, menjadi sumber segala hal yang
negatif, apa-apa yang dikecam oleh Alloh SWT Apa-apa yang merugikan umat
dan masyarakat! Mari para hadirin-hadirot, mari kita memohon
berarti
kita belum sadar kepada Alloh SWT, kalau belum sadar kepada Alloh SWT
berarti masih dijajah oleh imperialis nafsu. Nafsu yang ganas!, kalau
masih dikuasai olehnafsunya yang ganas berarti kita masih mengabdikan
diri kepada nafsu.
مَا مِنْ نَفْسِ تُبْدِيْهِ إِلاَّ وَلَهُ فِيْكَ قَدْرٌ يُمْضِيْهِ
Tidak
ada suatu nafas yang engkau keluar masukkan, kecuali pada tiap
keluarnya dan masuknya nafas itu ada sesuatu kodar yang harus
dilaksanakan. Ada soal yang dihadapi oleh engkau. Pada setiap nafas,
orang selalu menghadapi soal-soal. Dan pada setiap nafas itu harus
melaksanakan soal-soal yang harus dilaksanakan.
Mudahnya, orang
itu setiap detik atau setiap nafasnya pasti dalam keadaan, keadaan sehat
atau keadaan tidak sehat, keadaan mlarat atau keadaan kaya, keadaan
maksiat atau keadaan tho’at, keadaan sadar atau tidak sadar, keadaan
dijajah oleh imperialis nafsu atau keadaan bebas dari pada imperialis
nafsu. Keadaan abdulloh atau keadaan abdun-nafsi, itu setiap saat pasti
terjadi. Lha! Disini yang diharuskan adalah supaya orang senantiasa
usaha dhohiron wa baathinan pada setiap nafas atau setiap detik dari
hidupnya itu supaya senantiasa Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW.
Ketika orang sedang thoat, harus Billah disamping Lillah Billah. Atau
menyadari bahwa dia bisanya thoat itu karena mendapat pertolongan atau
mendapat fadlol dari Alloh SWT. Dan harus syukur. Syukurnya ya seperti
itu tadi, menyadari Billah. Tidak diakui sendiri. Ketika maksiat,
secepat mungkin harus bertaubat. Dan harus diakui pada dirinya sendiri
timbulnya maksiat itu.
وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيْئَةِ فَمِنْ نَفْسِكَ
(Dan apa-apa yang engkau derita dari keburukan adalah dari dirimu sendiri).
Jadi harus diakui karena saya. Dan secepat kilat bertaubat!. Malah, nuwun
sewu,
wonten ing tempat sanes mboten namung maksiat, ingat mengenai
pribadinya sendiri saja, segala maksiat harus diakui sekalipun yang
diperbuat orang lain. Ini lebih baik dalam keadaan nikmat, orang. harus
syukur. Syukur, seperti yang sudah kita maklumi, yaitu harus BILLAH !
Atau mengetahui si pemberi ! Dan menggunakan nikmat itu untuk apa yang
diridloi oleh si pemberi. Atau waktu mengalami “baliyaat” atau bilahi.
Bilahi soal fisiknya atau sekalipun soal batinnya sekali. Dalam hal ini
harus ridlo. Ridlo disamping usaha.
Para hadirin-hadirot, ini
kita sekalian sudah semestinya atau belum, mari kita koreksi diri kita
masing-masing! Dus!, orang itu dalam sehari semalam kalau tidak tepat
atau ya, kurang lebih 24.000 masuk dan 24.000 keluar nafasnya. Lha !,
ini harus kita laksanakan menurut keadaan-keadaan seperti di atas. Pada
hadirin-hadirot, mari keadaan kita, kita cocokkan dengan pengaiian ini,
sudah cocokkah atau belum, mari kita koreksi. Kalau sudah cocok ya,
alhamdulillah dan mari kita, teruskan, kita tingkatkan, kita
sempurnakan. Kalau belum cocok, mari sekarang juga kita cocokkan
disamping harus tobat. Dan begitu juga keadaan keluarga kita bagaimana,
tanggung jawab kita!. Masyarakat bagaimana, itu juga menjadi tanggung
jawab kita!.
لَيْسَ مِنَا مَنْ لمَ ْيَهْتُمْ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِيْنِ . الحديث
Sabda
Rosululloh SAW. Bukan golonganku orang yang tidak mau memperhatikan
nasib umat dan masyarakat. Kita bertanggungjawab kepada masyarakat.
Para hadirin-hadirot, ya maaf mudah-mudahan pengajian yang singkat ini
benar-benar diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, membuahkan manfaat yang
sebesar-besarnya dalam Fafirruu Ilalloh wa Rosuulihi SAW. dan saya
minta maaf yang sebesar-besarnya kepada hadirin hadirot, dan terutama
kepada beliau-beliau Penyiar Pusat. Dan kiranya pengajian kita cukup
sekian saja dan ini oleh beliau-beliau dari Pusat akan
yang
akan kita laksanakan itu benar-benat diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi
SWT, semoga benar-henar membuahkan kemajuan-kemajuan yang
sebanyak-banyaknya! Kemaslahatan barokah yang sebanyak-banyaknya!. Mari
para hadirin-hadirot kita sedapat mungkin membantu dalam bidang moril
maupun materiil demi, yaitu lancarnya Mujahadah Kubro yang akan datang.
Demi lebih diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, mudah-mudahan sebab
Mujahadah Kubro yang akan datang itu perjuangan kita benar-benar
diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Perjuangan Fafirruu Ilallohi wa
Rosuuhhi SAW. Dikaruniai peningkatan kemajuan yang sebanyak-banyaknya!.
Dan pada Mujahadah Wuquf nanti malam para hadirin-hadirot, mari kita
laksanakan dengan sungguh-sungguh!. Di samping lain-lainnya yaitu
Mujahadah Kubro yang akan datang itu, mari kesempatan dalam Mujahadah
Wuquf nanti kita suagguh-sungguh mohonkan kepada Alloh SWT! Para
hadirin-hadirot, maaf, seperti ajaran-ajaran yang sudah kita miliki,
yaitu ajaran Wahidiyah soal “hadiyah”. Seperti diminta oleh pusat tadi
yaitu permintaan dari para ahli waris beliau-beliau ibu-ibu yang haru
meninggalkan kita, yaitu minta hadiah Fatihah dan lain-lain sebagaimana,
mari yang kita hadiahkan adalah semua amal kita yang ada bukan hanya
Fatikahnya saja, atau Tahlil atau Mujahadahnya saja yang dihadiahkan,
tapi semua, seluruh amal-amal kita, yang kita terima dari orang-orang
yang mengirim hadiyah kepada kita. Kita sebagai umat Islam atau sebagai
Pengamal Wahidiyah ini kita hadiyahkan lagi dan pahalah menghadiahkan
ini lagi dan terus dan seterusnya. Tidak ada yang ketinggalan mari para
hadirin-hadirot ini kita laksanakan! Terutama kepada Junjungan kita
Kanjeng Nabi Besar Mohammad SAW. Wasaa rii Anbiya wal Mursalin wal
malaikatil muqorrobiin ‘alahimus-sholatu wassalam wa alihim wa
Ashaabihim dan seterusnya! Wa Ghousi Hadhas-Zaman wa A'waanihi dan
seterusnya, kepada nenek moyang kita semua dan seterusnya. Dan disamping
sebagai ummat Islam, ahli waris dari beliau-beliau ibu-ibu tadi minta
kepada kita, mari juga kita haturkan semua!.
kubur
ditanya diwartakan oleh ahli-ahli kubur terutama yang juga sama-sama
pengamal Wahidiyah. Bagaimanakah para pengamal Wahidiyah yang masih
tertinggal didunia lebib-lebih kaum ibunya, apakah masih aktif giat
dalam Mujahadah-mujahadah dan dalam perjuangan Fafirru Ilallohi wa
Rosuulihi SAW kah, atau malah glonjomi terbawa hanyut oleh nafsunya?.
Dan sebagainya dan sebagainya Mari para hadirin-hadirot peristiwa
kematian kedua ibu tersebut di atas dan umumnya setiap kita mendengar
berita tentang kematian mari kita memanfaatkan yang setepat-tepatnya.
Yaitu untuk peningkatan kesadaran kita kepada Alloh wa Rosuulihi SAW.
Cukup sekian, dan akhirnya mohon maaf segala kesalahan, khususaya
terhadap hadrotul Muharrom Romo Yai mohon do’a restu dan mohon maaf.
Selamat berjuang FAFIRRUU ILALLOH WA ROSULIHI SAW min yauminaa hadzaa
ila yaumil qiyamah !.
Wassalamu alaikum wr.wb.,
KEMBALI FATWA AMANAT DARI ROMO YAHI
Para hadirin-hadirot, mari kita perhatikan dengan sungguh-sungguh
apa-apa yang telah disampaikan dari Pusat tadi! Terutama soal akan
diadakannya Asrama Mujahadah Triwulan Kabupaten Kediri di Ngletih, mari
diantara kita yang dari Daerah Kediri terutama, berduyun-duyun mengikuti
Asrama tersebut kalau sungguh terpaksa tidak bisa mengikuti di Ngletih,
bukan karena alasaa buatan tapi sungguh-sungguh tidak bisa, mari kita
dukung dari kejauhan ikut prihatin, ikut mujahadah dari daerah
masing-masing! Kalau ada kesempatan, mari sam-sama berduyun-duyun
mengikuti di Ngleti!
Hubungan Mujahadah Kubro para
hadirin-hadirot, yang akan kita adakan yang tadi diterangkan, diumumkam,
mari mulai sekarang kita perhatikan! Kita prihatin! Kita sebanyak
mungkin memohon kepada Alloh SWT wa RosuulihiSAW Semoga Mujahadah Kubro
yang akan datang,
diadakan acara Penutupan Sementara
Pengajian. Berhubungan akan datangnya Bulan Romadhon mari acara yang
akan diadakan oleh Beliau-beliau dari Penyiar Pusat ini kita ikuti
dengan seksama, dan sekarang waktu dan tempat kami persilahkan pada
Beliau-beliau dari Pusat untuk mengadakan acara penutupan Pengajian
Sementara dan lain-lain.
ACARA PENUTUPAN SEMENTARA . PENGAJIAN KITAB AL-HIKAM
Protokol: Bpk. Moh. Ruhan Sanusi
َاسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَ كَاتُهُ
ِبسْمِ اللهِ الرَّحمْنَ ِالرَّحِيْمِ
اََلْحَمْدُ اللهِ الذِّي آتَنَا بِالْوَحِدِيَةِ بِفَضْلِ رَبَنَا
اََلْحَمْدُ اللهِ الصَّلاَّ ةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ وَالآ لِ اَيَا خَيْرَ اْلاَنَامِ
رَبِّ كَرِيْمٍ وَأَنْتَ ذُوْخُلُوْقٍ عَظِيْمٍ فَا شْفَعْ لَنَا عِنْدَ الْكَرِيْمْ
يَا أَيُّهَا الْغَوْثُ سَلا َمُ الله عَلَيْكَ رَبَّنَى بِإِذْنِ الله
وَانْظَرَ إِلَى سَيِّدِى بِنَظْرَةِ مُوْ صِلَةٍ لِلْحَضْرَةِ الْعَلِبّةْ
أَمَا بَعْدُ
Hadrotul Mukarrom Romo Yahi wal Mukarromah Ibu Nyahi wa Ahlal bait yang
kami dereki. Al Mukarromin wal Mukarromat para Bapak Alim Ulama, para
bapak para ibu penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat, Penyiar Sholawat
Wahidiyah Daerah Kabupaten, tingkat Kecamatan, para pimpinan jama’ah,
para sponsor-sponsor Wahidiyah, para pejuang Fafirruu Ilalloh wa
Rosuulihi SAW yang berbahagia yang kami mulyakan. Pertama-tama kami ikut
di belakang hadirin-hadirot semua memanjatkan
puja
dan puji syukur kehadirat Allah SWT wa Robby biqoulihi “Alhamdu
Lillaahi Robbil 'Alamiin” bahwa pada hari Minggu pagi ini kita
memperoleh taufiq dan hidayah-Nya berkenan dapat mengikuti Pengajian
Minggu Pagi di Pusat Wahidiyah Kedunglo ini. Kedua, saya juga ikut para
hadirin-hadirot menyanjungkan sholawat salam barokah kepangkuan
junjungan kita Rosuulillah SAW wa Jami’ill Anbia wal Mursalin wal
Malaaikatil Muqorrobin 'alaihimus sholaatu wassalam wa Alaihim wa
Ashaabihim ilaa. wat-Thabiin wa jami’il aqthob wa A'waanihim min
Awwalihim ilaa aakhirihim khusushon hadroti Ghoutsi hadzaz zaman wa
A’waanihi wa saairi Auliyaa Ahbaabillaahi rodiyallahu
Ta'ala 'anhum,
wa a'aadana 'alaina min barokaatihim wa syafa'aatihim wa karomaatihim
wa amaddanaa bi amdaadihim Amin. Amin. Yaa robbal alamin. Mudah-mudahan
para beliau tersebut senantiasa memberikan syafaat dan tarbiyah, barokah
dan karomahnya, dukungannya, do'a restunya kepada kita bersama,
sehingga di dalam pada kita mengikuti pengajian Kitab Hikam Minggu Pagi
yang terakhir dalam tahun ini benar-benar diridloi Alloh SWT wa
Rosuulluhi SAW. Dan semoga dikaruniai dapat mengecakkan dan mengetrapkan
apa-apa yang telah diberikan kepada kita dalam hubungan kesadaran
Fafirruu Ilalloh wa Rosuulihi SAW.
Para hadirin-hadirot,
hubungan pagi ini adalah pagi yang terakhir pengajian Kitab Al-Hikam
menjelang datangnya bulan Romadhon, maka sebagaimana tadi telah
didawuhkan hadrotul Mukarrom Romo Yahi bahwa pagi ini pengajian terakhir
untuk penutupan sementara, maka untuk itu kita bersama akan mengadakan
sekedar acara sebagai tasyakur dan sebagai hubungan dengan pengajian
kitab Al-Hikam. Dengan singkat, mari acara ini kita mulai dengan
..........
AI FAATIHAH! .......
Selanjutnya sambutan dari
wakil pada para Pengamal Wahidiyah khususnya yang mengikuti atau sering
mengikuti Pengajian Minggu Pagi. Disampaikan oleh Bapak K. Faman dari
Kalipare Malang.
mujahadah di Daerah-daerah jangan
sampai ketinggalan memohonkan semoga Mujahadah Kubro itu nanti
benar-benar diberi sukses diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, dan
membawa hasil kemajuan yang lebih pesat bagi perjuangan kita perjuangan
Fafirruu Ilalloh wa Rosuulihi SAW bagi umat dan masyarakat!.
Berita duka. Kawan seperjuangan kita, kesatu dari Gading Bululawang
Malang, Ibunda dari Bapak K.H. Ahmad, dan kedua istri dari beliau Bapak
Istibar, jadi Bu Istihar, ketua penyiar Sholawat Wahidiyah daerah
Kodya/Kabupaten Blitar. Kedua beliau-beliau terebut telah mendahului
kita sowan dibadapan Alloh SWT. Dari para keluarga mohon para
hadirin-hadirot, kepada kita semua hendaknya mencurahkan minta maaf atas
segala kesalahan hak-hak adami dari ibu yang telah mendahului kita
itu!. Soal-soal yang menyangkut hak-hak adami dimana perlu harap
berhubungan dengan para keluarga beliau-beliau yang bersangkutan
disamping itu mengharap kepada para hadirin-hadirot untungnya kita yang
masih bisa kita masih bisa berhadiah mengirim pahala-pahala bagi yang
sudah meninggal. Untungnya kita masih bisa berikhtiar buat sangu mati,
Para keluarga beliau-beliau yang baru wafat meninggalkan kita dan
umumnya bagi leluhur kita yang sudah kembali di alam kubur mudah-mudahan
beliau-beliau ibu-ibu yang telah mendahului kita itu alal Wahidiyah
yang senantiasa dituntun oleh beliau Ghoutsu Hadhaz-Zaman
Rodhiyallohu'anhu. Semoga ditempatkan di dalam “rodlatun min
riyaadlil-jannah” Amiin, yaa Robbal Alamiin! Mari para hadirin-hadirot
AL- FATIHAH !........
Para hadirin-hadirot. Seperti kita
maklumi bahwa orang yang baru meninggal dunia, sesampainya di dalam
kubur dikerumuni oleh ahli-ahli kubur menanyakan berita-berita keluarga
yang masih berada didunia. Persis seperti orang yang baru datang dari
tempat yang jauh. Begitu juga kemungkinan ibu-ibu yang baru wafat itu.
Sampainya di dalam
terakhir malam Jum’at
akan diadakan Asrama Mujahadah Didesa Ngletih. Kepada para
hadirin-hadirot khususnya yang dari Daerah Kodya Kabupaten Kediri dan
sekitamya dianjurkan berduyun-duyun mengikuti acara-acara Mujadadah
tersebut di atas yaitu sebagai peningkatan dan persiapan kita
sewaktu-waktu kita mengalami sakaratul maut seperti tadi banyak kita
mendengar betapa dahsyatnya. Adapun tanggalnya yaitu tgI 23, 24,25
Nopember 1977 ini.
Pengumuman yang kedua yaitu seperti yang
sudah diedarkan mengenai MUJAHADAH WUQUF, Malam Senin nanti malam. Mari
kita sama-sama melaksanakan, seperti yang telah diinstruksikan di dalam
surat-surat edaran. Mungkin kesempatan mengikuti Mujahadah,
melaksanakan Mujahadah Wuquf tinggal satu kali ini mungkin tahun depan
kita tidak bisa mengikuti mujahadah wuquf bersama-sama dengan para
Hujjaj. Seperti kita maklumi tujuan dari pada Hujjaj antara lain :
“walhaaku”
minal hilmi “ jiinu” minal jirni”. Yaitu semata-mata hanya menggendong
mikul nyunggi dosa-dosanya sowan menghadap di hadapan AllohTa’ala Maha
Haris Maha Memberi Ampun. Kita-kita yang belum atau tidak bisa
melaksanakan seperti para Hujjaj. Diberi kesempatan untuk bias sowan
dihadapan Alloh SWT melakukan Haji dengan batiniyah kita asal kita mau
membawa dosa-dosa kita ngedoki dan menyadari dan memohon tobat di
hadapan Alloh SWT kesempatan yang baik sekali yang hanya satu tahun
sekali. Karena itu mari sungguh-sungguh kita perhatikan!.
Selanjutnya pengumuman mengenai Mujahadah Kubro Wahidiyah di Pusat
Kedunglo sini. Menurut Keputusan Panitia dan dengan do'a restu dari
Hadlotul Mukarrom Romo Yai Insya Alloh akan dilaksanakan besok pada
Tanggal 29, 30, 31 Desember 1977 dan 1 Januari 1978. Jadi berada dalam
akhir tahun 1977 dan awal tahun 1978. Dan itu, sebelum ada surat
keputusan resmi, dianjurkan kita supaya sah mulai mengadakan
persiapan-persiapan dan memberikan bantuan-bantuannya baik moril maupun
materiil terutama di dalam melaksanakan
َاسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَ كَاتُهُ
ِبسْمِ اللهِ الرَّحمْنَ ِالرَّحِيْمِ
اََلْحَمْدُ اللهِ الذِّي آتَنَا بِالْوَحِدِيَةِ بِفَضْلِ رَبَنَا
يَا أَيُّهَا الْغَوْثُ سَلا َمُ الله عَلَيْكَ رَبَّنَى بِإِذْنِ الله
وَانْظَرَ إِلَى سَيِّدِى بِنَظْرَةِ مُوْ صِلَةٍ لِلْحَضْرَةِ الْعَلِبّةْ
يَارَبَّناَ اللَّهُمَّ صَلِّ سَلِمْ عَلَى مُحَمَّدٍ شَفِيْعِ اْلُأمَمِ
وَالآلِ وَاجْعَلِ اْلأَنْأَمِ مُسْرِعِيْنَ بِالْوَا حِدِيَةِ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ
بَارَبَّنَا إِغْفِرْ يَسِّرْ إِفْتَحْ وَاهْدِنَا قَرْبِ وَأَلِفْ بَيْنِنَا يَارَبَّنَا
أَمَا بَعْدُ
Hadrotul
Mukarrom Romo Yahi, , Al Mukarromah - Ibu Nyahi, Al Mukarromin wal
Mukarromat para Bapak/Ibu Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat, para
hadirin-hadirot yang saya mulyakan. Saya atas wakil para Pengamal
Wahidiyah di sini juga ikut memanjatkan puja-puji syukur kehadirat Ilahi
Biqoulihi Alhamdu Lilaahi Robbil 'Aalamin. juga ikut menyanjungkan
sholawat salam barokah ke pangkuan junjungan kita Rasuululloh SAW wa
jamfill Anbia wal Mursalin wal Malaikatil Muqorrobbin 'alalhimus
sholaatu wassalaam wa Alaihim wa Ashaabihim, seterusnya kepada
Mbaabillaahimin awwalihim ila aakhirihim
khusushon
khusshoh kepada beliau Ghoutsi Hadzaz Zaman rodiyallohu'anhum. Atas
nama para Pengamal Wahidiyah khususnya yang sering mengikuti pengajian
Minggu pagi di sini menyatakan tasyakur kehadirot Alloh SWT wa Rosuulihi
SAW. Syukur dan terima kasih kami sampaikan kepada Hadrotul Mukarrom
Romo Yahi yang senantiasa memberikan bimbingan kepada kami dalam bentuk
Tarbiyah lahir maupun batin. Sebelum kami menerima bimbingan dan
tarbiyah dari Romo Yahi kami dan kawan-kawan selalu tenggelam dalam
lautan syirik dan kufur. Namun demikian kami dan kawan-kawan selalu
menganggap remeh terhadap pengajian Mingguan ini, kurang menarut
perhatian yang sewajarnya, kami kurang menyerah bongkokan sebagaimana
seharusnya seorang murid kepada guru. Kami berkeyakinan jika tidak
mendapat restu dan kemurahan dari Romo Yahi, pasti di dalam kami
mengikuti pengajian ini bukan menambah dekat kami kepada Alloh SWT wa
Rosuulihi SAW. Malah makin jauh rasanya. Oleh karena itu sekali lagi
kami mohon restu Romo Yahi disamping mohon maaf atas
keteledoran-keteledoran kami dan kawan-kawan dalam mengikuti pengajian
dan tarbiyah dari Romo Yahi. Begitu juga kepada Bapak-bapak Penyiar
Sholawat Wahidiyah yang telah begitu banyak mencurahkan
perhatian-perhatian dalam mengatur jalannya Pengajian Minggu pagi ini,
kami dan kawan-kawan semua menyatakan mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Banyak sekali peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Bapak-bapak
Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat yang tidak kami penuhi, akibatnya
mengganggu jalannya ajaran-ajaran dan tarbiyah yang diberikan Hadrotul
Mukarrom Romo Yahi kepada kita semua. Sekali lagi kami mohon maaf yang
sebesar-besamya disamping mohon restu mudah-mudahan di masa-masa yang
akan datang kami dapat memperbaiki keadaan-keadaan kami yang selama ini
banyak menimbulkan gangguan-gangguan dan kerugian bagi jalannya
perjuangan Fafirruu llalloh wa Rosuulihi SAW.
Betapapun penyelewengan-penyelewengan kami dalam mengikuti
“satu
jam saja, satu menit, setengah menit. Tidak digubris oleh Izroil para
hadirin-hadirot! Dalam keadaan yang sangat gawat sekali ini para
hadirin-hadirot, andai kata kita mempunyai emas se-Jagad dan minta
diundur sehari saja dikabulkan, bungahnya tidak bisa digammbarkan para
hadirin-hadirot! tapi mana boleh jadi, para hadirin-hadirot !
Qodarnya Allob SWT tidak bisa dirobah merasakan bagaimana beratnya para
hadirin-hadirot!. Apakah kita harus menunggu keadaan begitu para
hadirin-hadirot ?.
Ya muda-mudahan para hadirin-hadirot, kita di
ampuni oleh SWT. Di karuniai hidayah dan taufiq yang sebanyak-banyaknya
diberi syafaat Tarbiayah barokah karomah nadroh oleh Rosulihi SAW, oleh
Ghousi Hadhaz Zamani wa A’waanihi asaairi Ahbaa Billahi radiyaallohu
Ta’ala ‘anhum.
Para hadirin-hadirot. Pengajian kiranya cukup
sekian saja. Dan sekali lagi mudah-mudahan benar-henar diridloi Alloh
SWT wa Rosuulihi SAW. Benar-benar bermafaat berbarokah bermaslahah, dan
membawa kemajuan yang sebesar-besarnya bagi kita bersama. Selanjutnya
waktu dan tempat dipersilahkan kepada beliau dari pusat.
SAMIBUTAN PENYIAR SHOLAWAT WAHIDIYAH PUSAT
Disampaikan oleh hapak KHJainal Fanani.
Assalaaamulalaikum, Wr. Wb.
(qutbah iftitah tidak dicantumkan disini untuk menyingkat)
Dari pusat pada kesempatan ini menyampaikan sekedar pengumuman. Yaitu
pertama mengenai peningkatan dalam Mujahadah Triwulan se-Kodya Kabupaten
Kediri yang membarengi dengan takhtimannya pengalaman 40 hari
Saudara-saudara kita dari Desa Ngleti Kediri. Besok pada hari malam Rabu
siang, malam Kamis, Kamis siang dan
Orang yang fanak, orang
yang hilang ananiyahnya, hanya Alloh “KAANA LLOHU WALA SYAIAMAI’AHUM”.
Hanya Alloh Pentitik “WA HUWAL-AAN ‘ALA MA ‘ALAIHI KAANA”. Dia sekarang
baru merasakan, bahwa sesungguhnya hanya Tuhan yang ada! Baru
merasakan!.
Orang yang belum fanak, belum hilang ananiyahnya,
belum merasakan. Paling-paling hanya ilmiyah! Yah, tapi minim harus
ilmiyah! Sekalipun belum merasakan. Kalau sudah merasakan baru menyadari
bahwa sesugguhnya yang ada hanya Tuhan. ibarat orang tidur sedang
bermimpi semua
النَّاسُ نِيَامٌ
Umat manusia itu semua tidur nyeyak pada umumnya!. Mimpi dan mengigau-nglindur!
فَإِذَا مَاتُوْا اَنْتَبَهُوْا
Nanti kalau sudah dicabut Izroil terkejut, ketika bermimpi seperti
sungguh-sungguh terjadi. Tapi setelah bangun, tidak ada apa-apa! ini
para hadirin-hadirot. Ya untung kalau hanya seperti mimpi saja.
Sesungguhnya keadaan kita ini jauh dari pada itu! Dikiranya tidak
apa-apa, dikiranya menguntungkan. Tapi nanti ketika dicabut rohnya oleh
izroil, tidak dapat dibayangkan beratnya para hadirin-hadirot !.
Seperti sering saya utarakan, atau juga oleh pusat, ketika orang
menghadapi lzroil, jenggelel, ndrodog, lumpuh, para hadirin-hadirot!.
baik orang tidak sakit, lebih-lebih kalau sakit, kok tahu-tahu jenggelek
Izroil, lumpuh sama sekali! Lemas dia merengek-rengek ngrepo-ngrepo
pada Izroil. Sudilah ditunda sehari saja ya Izroil, saya bertobat!
“Tidak ada hari”!
“Setengah hari saja”.
pengajian-pengajian
Minggu pagi dan Kuliah-kuliah Wahidiyah lainnya dan dalam menerima
tarbiyah-tarbiyah dari Romo Yahi, kami senantiasa berharap dan memohon
semoga kami senantiasa diperkenankan ikut-ikut dalam perjuangan
kesadaran Fafirruu Ilalloh wa Rosuulihi SAW ini, sehingga kami akan
dapat terus mengikuti Hadrotul Mukarrom Romo Yahi min yauminaa hazaa
ilaa yaumil akhiroh. Sekali lagi kami mohon do’a restu dari Hadrotul
Mukarrom Romo Yahi dan dari Bapak-bapak Penyiar Pusat, semoga di
masa-masa yang akan datang kami dapat merubah sikap dari pada yang
sudah-sudah yang mengganggu jalannya Perjuangan Fafirruu Ilalloh wa
Rosuulihi SAW. Amin!.
Sekian sambutan dari kami selaku wakil kawan-kawan semua mudah-mudahan diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW !.
Akhirul kalam wassalamu'alaikum warohmatullohi abarokaatuh!.
Selanjutnya
sambutan dan penyiar-penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat yang akan
disampaikan oleh AI Mukarrom Bapak K.H. Zainal Fanani.
َاسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَ كَاتُهُ
ِبسْمِ اللهِ الرَّحمْنَ ِالرَّحِيْمِ
اََلْحَمْدُ اللهِ الذِّي آتَنَا بِالْواَحِدِيَةِ بِفَضْلِ رَبِّنَا
بِخَيْرِ خَلْقِكَ شَفِيْعِ اْلأُمَمِ يَارَبَّنَا صَلِّ عَلَيْهِ سَلِّمْ
وَاْلآلِ غَرِفْنَا فِى بَحْرِ الْوَحْدَةِ فِى كُلِّ حَالٍ دَائِمًا وَسَاعَِة
يَارَبَّنَا اللَّهُمَّ صَلِّ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ شَفِيْعِ اْلأُمَمِ
وَاْلآلِ وَاجْعَلِ اْلأَ نَامَ مُسْرِعِيْنَ بِالْوَاحِدِيَةِ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ
بَارَبَّنَا إِغْفِرْ يَسِّرْ إِفْتَحْ وَاهْدِنَا قَرْبِ وَأَلِفْ بَيْنِنَا يَارَبَّنَا
يَاأَيُّهَاالْغَوْثُ سَلاَمُ اللهِ عَلَيْكَ رَبِّنِي بِإِذْنِ اللهِ
وَانْظُرْ إِلَى سَيِّدِى بِنَظْرَهْ مُوْصِلَةٍ لِلْحَضْرَةِ اَلْعَلِيَةِ
أَمَا بَعْدُ
Hadrotul
Mukarrom Romo Yahi, al Mukarroma wal Mukaromun Ibu Nyahi wa ahlal bait.
Para Bapak-bapak, Ibu-ibu hadirin-hadirot yang saya hormati. Ikut
bersama hadirin-hadirot memanjatkan puja-puji tasyakur kahadirat Illahi
wa Robbi atas segala rohmat hidayah dan fadlol-Nya, terutama fadlol yang
luar bisa yaitu yang merupakan nikmat kesadaran yang lewar Sholawat
Wahidlyah dan ajaran-ajarannya biqoullhi : Alhamdulillahi Robbil Alamin.
Juga ikut menghaturkan sanjungan sholawat dan salam serta barokah
semoga senantiasa terhunjuk kepangkuan junjungan kita Rosuulillahi SAW
yang selalu berjasa kepada kita biqouli:
جَزَى اللهُ عَنَّا سَيِّدِنَا مُحَمَّدًا بِمَا هُوَ أَهْلُهُ
Kepada
hadroti Ghoutsi Hadzaz Zaman Rodiyallohu Ta'ala 'anhu wa jami’iil
Ahbaabillaahi min masyaarikil ardii ilaa maghrooribiha kami haturkan
salam takzim yang sebaik-baiknya. Semoga para beliau-beliau tidak
jemu-jemunya memberi tarbiyah kita sehingga kita tidak mati di tengah
jalan, dan bisa sampai ke tempat tujuan yaitu “muushilatin lilhadrotil
'aliyyah. Amiin”!.
Kepada HadrotuI Mukarrom Romo Yahi, kami para
rekan-rekan yang ada di Pusat sungguh merasa bungkam seribu satu bahasa
untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada beliau, yang mana kita
bersama memaklumi bahwa beliau dengan susah payah menaburkan
Orang
yang dikaruniai “bashiroh” jenis nomer tiga, Yaitu “haqqul bashiroh”
atau “haqqul yaqiin” atau “nuurul haqqii”, dan ini yang paling sempurna
sendiri, buahnya yaitu difanak pada Alloh SWT. Hilang lenyap
ANANIYAH-nya. Ke-akuan-nya, egoisnya hilang sama sekali. Tidak mengaku!
Tidak ujub tidak takabbur! Riya’ dan sebagainya otomatis lenyap dari
dirinya. Tidak merasa “saya bisa saya kuasa” dan sebagainya.
FANAK ada tiga macam.
FANAK SIFAT : Saya tidak merasa mempunyai kemampuan atau kepandaian!.
ini semua Alloh yang punya yang menggerakkan, yang ... yang... yang...
semua Alloh! Saya tidak bisa berjuang begini begitu, ini Tuhan!. Saya
tidak ada. Ini Tuhan “WANAHIIKA” ditanyakan lagi, buahnya! Jangan
ditanya lagi Alloh SWT yang senantiasa diberikan orang seperti itu!.
Pokoknya tidak bisa diketahui kecuali hanya Tuhan yang Maha mengetahui
segala-galanya! Ya mudah-mudahan para hadirin-hadirot kita dikaruniai
Alloh SWT fadlol yang sebanyak-banyaknya! yang sempurna-sempurnanya!
kalau orang sudah seperti yang diterangkan di atas ini, dia memiliki
tingkatan atau martabah, MARTABATUL WAHIDIYAH namanya. Yaitu BILLAH.
Atau MARTABAH MOHAMMADIYAH. Orang yang seperti itu, seperti saya
kemukakan tadi, “DHILLUL ILLAHI. Bayangan Tuhan, atau orang seperti itu,
adalah “KHOLILFATULLOH” wakil Tuhan.
Para hadirin-hadirot,
tidak bisa dibayangkan, keadaan dia besok diakhirot! Dikagumi oleh
makhluq-makhluq lain! ya mudah-mudahan para hadirin-hadirot, pengajian
pagi ini benar-benar diridloi oleh Alloh SWT Rosuulihi SAW !
{كَانَ اللهُ وَلاَ شَئَ مَعَهُ وَهُوَ اْلآنَ عَلَى مَاعَلَيْهِ كَانَ }
Kecuali
hanya berhadap Tuhan, sowan di hadapan Tuhan, dia merasa jenak, merasa
tenang dan merasa mesra. Sebab hanya Tuhan yang memberi dan membawa
keuntungan dan kebahagiaan! Semuanya itu, selain Tuhan, merugikan!
otomatis!. Berkumpul atau bersama-sama dengan apa-apa yang diridloi
Alloh SWT otomatis sama dengan barada dihadapan Aloh SWT. Dia menjadi
tenang tentram asyik diwaktu berkumpul dengan apa-apa dan siapa-siapa
orang yang diridloi Alloh SWT.
اْلأَخِلآءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمتَّقِيْنَ {الزحرف ٦٧}
Orang-orang yang berkawan, bersaudara yang saling berhubungan, besok
pada yaumul qiyamah saling bermusuhan, para hadirin-hadirot!. Kecuali
mereka yang di dalam melakukan. Saling tuntut menuntut. berkawan
bersaudara itu berdasarkan taqwa, LILLAH BILLAH. LIRROSUL BIRROSUL
istilah Wahidiyah!. Kalau tidak berdasar atas taqwa, LILLAH BILLAH
LIRROSUL BIRROSUL otomatis besok saling bermusuhan satu sama lain!.
Pasti para hadirin-hadirot!. Baik itu hubungan antar keluarga sama
keluarga., Anak orang tua, orang tua-anak! atau kawan atau tetangga
pokoknya semua hubungan di dunia. “ILLAL MUTTAQIN” para
hadirin-hadirot!. Besok saling dorong mendorong ke neraka. Mana yang
kalah mana yang menang!. Atau keduanya salah, semuanya masuk
bersama-sama ke dalam neraka, para hadirin-hadirot!.
Mari para
hadirin-hadirot, kita menaruh perhatian yang sungguh-sungguh yang
sebanyak-banyaknya!. Kalau orang memiliki “ainul bashiroh” otomatis
senantiasa tawakkal, senantiasa ridlo. Diantara kita sudah begitu
ataukah belum, mari para hadirin-hadirot kita lihat!.
وَالَّذِى
يَنْكَشِفُ بِالثَّالِثِ الذَّاتُ الْمُقَدَسَةِ ,وَثْمَرَةُ ذَلِكَ
الْفَنَاءُ الْكَامِلُ الَّذِى هُوَ دِهْلِيْزُ الْبَقَآءِ فَيَفْنَى عَنْ
فَنَآئِهِ وَعَدَمِهِ اِسْتِهْلاَكاً فِى وُجُوْدِ سَيِّدِهِ ,وَنَاهِيْكَ
بِمَا يَحْصُلُ لَهُ حِيْنَئِذٍ مِنَ الْمَوَاهِبِ والاَسْرَارِ
الاِلَهِيَّةِ فَإِذًا تَرَقَّى عَنْ ذَلِكَ حَلَّ فِى مَقَامِ الْبَقَآءِ
benih-benih
yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Ialah benih tauhid, benih
kesadaran Illiahi wa Rosuulihi SAW. Manusia pada umumnya akan mengalami
penderitam yang sehebat-hebatnya apabila tidak mengenyam benih-benih itu
baik di dunia maupun di akhirat. Dan disamping penaburan benih dari
beliau tidak hanya ditaburkan begitu saja, melainkan ditaburkan
pupuk-pupuk yang digali dari berbagai sumber yang bermanfaat bagi
kesuburan tumbuhnya benih tauhid itu. Antara lain sebagai pupuk penyubur
benih “kalimatun thoyyibatun” ini adalah pengajian Kitab Al-Hikam. Tapi
sesungguhnya bukan hanya dari kitab Al-Hikam saja, melainkan juga
bermacam-macam sumber digalinya juga disajikan kepada kita semua dan
bagi umat dan masyarakat.
Malah disamping itu semua, beliau
dengan murah hati memberi wewenang mengizinkan kita untuk ikut serta
menyalurkan air jernih, menyalurkan benih-benih kesadaran yang sangat
penting itu kepada masyarakat. Sekalipun keadaan kita-kita semua ini
sama sekali tidak berarti bagi penyebaran benih-benih itu. Malah lebih
dari itu, khususnya pribadi saya dan umumnya kawan-kawan yang ada di
Pusat. Karena adanya tangan-tangan kotor yang ikut-ikut dalam penyaluran
air jernih dan penaburan bibit kesadaran tangan-tangan kotor dari kami
para Panitia di Pusat khususnya diri saya, sehingga masyarakat yang
sudah begitu haus membutuhkan benih kesadaran tadi karena air jernih
tadi menjadi kotor, masyarakat malah menjadi menolaknya. Namun demikian
tak henti-hentinya beliau Romo Yahi selalu memaafkan dan masih saja
memberi ijin memperkenankan kita ikut-ikut berkecimpung dalam lembaga
hidmah penyaluran benih kesadaran dan penyaluran benih kesadaran dan
penyaluran pupuk-pupuknya dengan lewat jembatan pengajian kitab Al-Hikam
tiap minggu pagi ini. Sampai di sini kami menjadi bungkam bagaimana dan
apa kalimah yang mampu untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada
beliau. Para hadirin-hadirot yang kami hormati, berulang kali beliau
bersabda bahwa benih-benih yang disebabkan masyarakat ini merupakan :
.......كَلِمَةٌ
طَيِبَهٌ كَشَجَرِهِ طَيِبِةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فىِ
السَّمَاءِ تُؤْتِى أُكُلَهَا كُلٌّ حِيْنٍ بِإِذْ نِ رَبِّهَا
{إبراهيم.٢٤ -٢٥ }
Tanaman LILLAH BILLAH LIRROSUL BIRROSUL
LILGHOUTS BILGHOUTS atau tanaman tauhid yang disebarkan oleh beliau yang
telah dipupuk dengan lengkapnya itu diibaratkan sebagaimana pohon yang
asal pokoknya berada di tanah, tapi ujung dahan dan cabang-cabangnya
menjulang tinggi di langit dan setiap masa pohon tauhid kesadaran itu
memberi bermacam-macam buah yang bermanfaat di masyarakat dengan izin
Tuhannya. Hal ini kalau kita menengok ajaran-ajaran dan susunan
aurod-aurod kita tepat sekali bahwa apa yang kita amalkan, apa yang kita
terapkan ini merupakan “Kalimatun Thoyyibatun”. Hal ini ternyata di
dalam “kalimah” itu disamping yang pokok ada buah-buah yang harus
dimiliki oleh masyarakat. Disamping itu kita dididik memohonkan untuk
negara, untuk masyarakat. juga disana ada suatu ranting berbunyi :
“ALLOHUMMA BAARIK FIMAA KHOLAQTA WAHADZIHIL BALDAH”.
Ada lagi cabang: “YAA ROBBANAGHFIR YASSIR...”.
Kesemuanya itu merupakan buah dari pada “pohon tauhid”, yang ditanam di dalam hati kita semua ini.
Temyata, sudah hampir 15 tahun tanaman “Fafirruu” tanaman LILLAH BILLAH
ini yang buahnya sangat dibutuhkan oleh masyarakat, namun nyatanya,
nyatanya sampai kini masih banyak sekali masyarakat yang menunggu-nunggu
kapan jatuhnya buah “Allohumma Baarik”, kapan jatuhnya buah “Yaa
Robbaghfir Yassir...”. Malah sebagian banyak masyarakat yang tidak sabar
lagi menanti saluran kami dari Penyiar Pusat ini, mereka banyak yang
sudah meninggal dunia belum mengenyam LILLAH BILLAH. Kesemuanya itu
sesungguhnya kami dari Pusat juga menyadari bahwa mereka itu kelak akan
usul kepada Alloh SWT, mana katanya ada “Kalimatun Thoyyibatun” yang
“Tukti Ukulaha Kulla
Banyak sekali kejadian-kejadian yang
mengejutkan, yang datangnya secara mendadak. Ini semua, sesungguhnya
kita selalu diperingatkan oleh Alloh SWT para hadirin-hadirot. Tapi lalu
bagaimana?. Kita terima dengan penuh perhatian ataukah kita masa bodoh
begitu saja, para hadirin-hadirot?. Karena hanya belas kasihan Alloh SWT
senantiasa memperingatkan kepada hamba-Nya para hadirin-hadirot. Lalu
diantara kita bagaimana tanggapan kita diwelasi disayang oleh Alloh
SWT?. Alloh SWT senantiasa memberi peringatan dengan bermacam-macam
keadaan! Baik keadaan menggelisahkan, keadaan mengejutkan, keadaan
megecewakan, keadaan-keadaan menggembirakan malah, dan keadaan-keadaan,
banyak para hadirin-hadirot !. Saking kasih sayangnya Alloh SWT! Tapi
pada umumnya para hadirin-hadirot, yang disayangi ini yang tidak merasa!
Malah acuh tak acuh, mempermainkan dan sombong.
Masih baik
pohon-pohonan! Pohon mangga atau pohon jambu misaInya, biar dilempari
batu malah membalas dengan buah mangga atau buah jambu. Kok lebih baik
pohon mangga atau pohon jambu pada umumnya para hadirin-hadirot!. Maaf,
ditolong mentung malah memukul pada umumnya para hadirin-hadirot! dalam
keadaan ini! AL Fatihah.
وَثَمْرَةُ ذَلِكَ أَنْ لَايَبْقَى
فىِنَظْرِكَ مَا تَسْقَنِدُ إِلَيْهِ وَ لاَ مَا تَسْتَأْنِسُ بِهِ
فَيَتِمُّ لَكَ التَّوَكُلُ وَالتَّفْوِيْضُ وَالرِّضَا وَاْلِاسْتِسْلاَمُ
Buahnya, apabila kita senantiasa begitu otomatis kita tidak terpengaruh
oleh segala sesuatu yang menguntungkan yang menyenangkan atau yang
merugikan sekalipun!. Karena yakin bahwa sekalipun itu menguntungkan
tapi hanya sementara! Malah, sekalipan wujudnya menguntungkan, tapi bisa
juga merugikan apabila kita salah gunakan! Dia senantiasa tidak jenak,
tidak bisa mesra diwaktu berhadapan atau jagongan dengan siapapun.
Karena kesemuanya itu hanya merugikan.
begitu saja, ini
semua kita masing-masing akan mengalami kelak dikemudian hari para
hadirin-hadirot. Ketika nyawa dicabut Izroil, merasakan Pandangan kita
ketika minum misaInya, apakah yang kita minum dulu itu sungguh-sungguh
sirup atau racun, nanti ketika Izroil datang mengalami para
hadirin-hadirot, keadaan yang sesungguhnya kalau racun, merasakan
beratnya sakit akibat keracunan para hadirin-hadirot tapi kalau benar
sirup juga akan merasakan lezatnya pada ketika Izroil mencabut roh kita
para hadirin-hadirot. Alangkah lezatnya ya mudah-mudahan para
hadirin-hadirot pandangan kita selama didunia ini sungguh-sungguh
nyocoki dengan keadaan sesungguhnya para hadirin-hadirot. Racun, kita
tahu bahwa itu racun, dan kalau strup kita juga tabu itu sirup Ya
mudah-mudahan tidak keliru pandangan kita ini. Kalau pandangan terlanjur
keliru, salah pasti nanti akan merasakan betapa beratnya kalau tepat
cocok, kita akan merasakan lezatnya Mudah-mudahan kita senantiasa
dilindungi oleh Alloh SWT Amiin!.
Jadi, kembali lagi, orang yang
memiliki “bashiroh” pandangan hati seperi nomer dua yaitu “ainul
bashiro”, otomatis memandang makhluq termasuk dirinya sendiri hanya
sebagai bayangan. Sama sekali tidak terpengaruh! Tidak selalu ngresulo
ketika mlarat atau menghadapi musibah atau ujian. Melainkan senantiasa
ridlo kepada Alloh SWT. Kaya tidak sombong, ini hanya bayangan! kalau
saya salah gunakan otomatis mencekik leher ini. Racun ini otomatis kalau
orang mempumyai pandangan begitu para hadirin-hadirot yang wujud dan
kekal hanya Alloh SWT. Adapun makhluq, “KULLU SYAIIN HAALIKUN ILLA
WAJHAHU”. Segala sesuatu pasti hancur kecuali hanya tuhan yang kekal
abadi tidak hancur dan tidak berubah. Dan selain itu, fakta dalam
pengalaman banyak terjadi. Kemarin masih sehat segar bugar gagah
perkasa, sekarang sudah menjadi layatan. Kemarin masih kaya masih
lincah, sekarang sudah berteriak-teriak minta tolong. Ini pengalaman,
para hadirin-hadirot coba itu lihat yang sebaya dengan Saudara. lebih
tua atau lebih muda di bawah saudara. Ini semua harus kita manfaatkan.
Hiinin bi-izni Robbiha”.
Oleh sebab itulah, kami wajib memohon maaf, satu kepada Alloh wa
Rosuulihi SAW, dan kepada Beliau Romo Yahi. Romo Yahi yang telah memberi
kepercayaan kepada kami para Panitia khususnya dan kita semua pada
umunmya untuk ikut-ikut menyalurkan “Kalimatun Thoyyibatun” tersebut
tetapi tidak konsekwen dan tidak tepat melaksanakan tugas-tugas
penyaluran atau penyiaran.
Andai kata beliau Romo Yahi telah
bermurah hati meneteskan maghfiroh pengampunannya, namun kami Panitia
masih harus meminta maaf kepada para pengamal Wahidiyah dan masyarakat
pada umunmya, karena menjadi keruhnya “air jernih” dari Romo Yahi tadi
setibanya pada para Pengamal Wahidiyah dan masyarakat akibat dilakukan
oleh “tangan-tangan kotor” kami-kami yang ada di Pusat. Kami harus
bertanggung jawab kepada dua arah. Ke atas dan ke bawah. Ke atas kepada
Alloh wa Rosuulihi SAW wa Ghoutsi Hadzaz Zaman dan kepada Romo Yahi, dan
ke bawah kepada para pengamal Wahidiyah dan masyarakat pada umumnya.
Maka sekali lagi terutama kepada Hadrotul Mukarrom Romo Yahi saya
sebagai wakil dari kawan-kawan yang ada di Panitia-panitia Pusat
perkenankanlah nglesot di bawah tapak kaki Romo Yahi menanti tetesnya
maghfiroh, dan memohon do’a restunya semoga penyelewengan-penyelewengan
kami yang telah merusak kemurnian “air jernih” dan “pupuknya” itu cukup
kami habisi sampai sekian saja tidak berlarut-larut lagi. Begitu juga
kepada para Pengamal Wahidiyah, para Bapak dan Ibu yang juga sebagai
mewakili dari daerah-daerah, sungguh kami menghaturkan mohon maaf yang
sebesar-besamya. Terbayang oleh saya, andai kata tidak mendapat ampunan
dari para hadirin-hadirot, kami para yang ada di Pusat paling-paling
hanya bisa melihat kalian dari tempat kejauhan. Melihat kalian
berbondong-bondong bersuka ria di belakang Hadrotul Mukarrom Romo Yahi,
dan kami hanya bisa memandang dengan air mata sayu pilu dan menyesal.
Tapi
penyesalan yang sudah tidak berguna. Terlambat.
Sungguh, sekali lagi kami kawan-kawan yang ada di Pusat mengemis
tetesan ampunan dari hadirin-hadirot dan khususnya dari Beliau Hadrotul
Mukarrom Romo Yahi.
Cukup sekian dan:
وَبِا للهِ
التَّوْفِقِ وَالْهِدَايَةِ ,وَمِنَ الرَّسُوْلِ صلى الله عليه وسلم
الشَّفَاعَةِ,وَمِِنَ الْغَوْثِ رَضِى اللهُ عَنْهُ التَّرْبِيَةِ
وَالنَّظْرَةِ
َاسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَ كَاتُهُ
Protokol : Atas nama hadirin-hadirot kepada beliau-beliau berdua kami sampaikan banyak-banyak terima kasih dan,
جَزَاكُمُ اللهِ خَيْرَاتِ وَسَعَادَاتِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ
Selanjutnya,
dan terakhir mari para hadirin-hadirot kita memohon fatwa amanat dan
doa restu dari Hadrotul Mukarrom Romo Yahi waktu dan tempat untuk beliau
kami haturkan!.
FATWA AMANAT ROMO YAHI
َاسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَ كَاتُهُ
ِبسْمِ اللهِ الرَّحمْنَ ِالرَّحِيْمِ
اَحْمَدُ للهُ الصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْكَ وَاْلآلِ اَيَا خَيْرُ اْلأَنَامِ
اَنْتَ رَؤُوْفُ وَنبِيُّ أُمِيّ اَنْتَ رَحِيْمٌ وَحَبِيْبٌ الْمُنْعِمِ
قَدْ كُنْتُ صَالاَّ وَمُضِلاًّ سَيِّدِى وَكُلُّ شَرٍّ وَفَسَادٍ مِنْ يَدِى
يَا سَيِّدِى يَا سَيِّدِى اَدْرَكْنِى يَاسَيِّدِى يَا سَيِّدِى وَرَبِّنِى
فَيُشْهِدُ اْلأَكْوَانَ عَدَمًا فَلاَيَعْبَأُ بِهَا وَلاَ يَلْتَفِتُ اِلَيْهَا اِذْ وُجُوْدُهَا عَارِيَةٌ
Dia
hanya Tuhan yang nampak dalam pandangan hatinya. Dirinya sendiri dan
makhluq yang lain-lain ini hanya wujud bayangan. Oleh karena itu dia
tidak ambil perduli tidak terpengaruh oleh makhluq yang wujud bayangan
itu. Tidak gentar, tidak takut, tidak kepencut, tidak terpengaruh
mengapa ditakut, mengapa pengaruhi. Sekalipun kelihatannya mengkilat,
itu hanya bayangan. Sekalipun kelihatan seram dan menakutkan,
sesungguhnya hanya bayangan Sekalipun kelihatan menggiurkan begini
begitu, apabila orang dikaruniai bashiroh yang kedua tadi, dia tidak
kepencut sama sekali tidak terpengaruh tidak takut, tidak kawatir, tidak
menjagakan tidak menjagakan sawahnya, pasarnya, gajihnya sendiri,
kepandaiannya, kemampuannya, keahliannya sama sekali tidak menjagakan.
Oleh karena itu semua adalah bayangan dan ini bayangan ini sesungguhnya
hanyalah bayangan. Sesungguhnya bayangan nyocoki dengan keadaan yang
sesungguhnya bayangan.
Oleh karena misalnya sawahnya sungguhlah
luas, subur, tapi terkena hama wereng sudah qiamat? Apa itu mau di
jagakan? Sekalipun menguntungkan, hanya bayangan, sekalipun merugikan,
mari kita koreksi masing-masing pandangan kita seperti itu atau tidak,
kalau tidak ini namanya tidak nyocoki dengan keadaan sesungguhnya, para
hadirin-hadirot keadaan sesungguhnya semuanya ini adalah bayangan para
hadirin-hadirot, bayangan!.
lbaratnya di muka kita ada gelas
yang sesungguhnya berisi racun. Tapi oleh karena didorong dan
terpengaruh oleh rasa haus dan terpengaruh oleh isi gelas yang kita duga
minuman Iezat yang menghilangkan rasa haus, lalu kita minum. Waktu
minum mungkin belum merasa itu sesungguhnya racun. Tapi setelah itu para
hadirin-hadirot, kita menjadi sekarat, karena minum racun kita semua
akan mangalami kelak di kemudian hari ketika didunia peranan kita itu
hanya bayangan yang nyocoki dengan keadaan sesungguhnya ataukah hanya
perasaan
terhadapTuhan, Tuhan adalah Penciptanya, para hadirin-hadirot jauh sekali!.
Ibaratnya lagi, saudara mempunyai senjata tajam atau senjata yang
paling ampuh sekalipun, tapi kalau tidak saudara pergunakan tidak ada
gunanya, tidak berarti sama sekali sekalipun ampuh sekali kalau tidak
digunakan tidak ada artinya senjata atom sekalipm kalau tidak ada
orangnya yang menggunakam, sama sekali tidak memberi manfaat atau
menjadikan bahaya. Sesungguhnya yang harus di takuti orangnya, para
hadirin-hadirot Sebab dia yang menentukan kalau tidak ada orangnya sama
sekali tidak ada gunanya baik guna yang menguntungkan atau
menghancurkan.
Yah. Itu tadi hanya gambaran. Gambaran itu Maya
sekedar untuk mendekatkan pengertian sehingga mudah diterima, mudah
dimengerti. Didalam Al-Qur'an sendiripun banyak gambaran-gambaran supaya
manusia mudah memahaminya.
Jadi, kembali kalau orang memiliki
Nur yang pertama tadi yaitu “syu’aa-ul bashiroh”, dia selalu dalam
keadaan “moroqobah”. Menerjang atau membangkang ketentuan Tuhan otomatis
tidak berani. Sekalipun tidak ada orang lain yang melihatnya. Sebab dia
senantiasa merasa diincar. Diincar dengan incaran yang tidak dapat
digambarkan tajam dan telitinya Ya mudah-mudahan kita dikaruniai seperti
itu para hadirin-hadirot. Kalau orang dikaruniai seperti itu, otomatis
dekat yang saya maksud dekat di sini, dikasihi disayangi diridloi oleh
Alloh SWT.
وَالَّذِى يَنْكَشِفُ بِالثَّانِى كُلِّ مَوْجُوْدٍ فِى وُجُوْدٍ الْحَقِّ تَعَالَى فَيُشْهِدُ اْلأَكْوَانَ عَدَمًا ..
Orang yang memiliki bashiroh yang kedua tadi, yaitu “ainul bashiroh”
atau “ainul-yaqiin” atau “nuurui-ilmi”, otomatis dia senantiasa merasa
bahwa yang wujud hanya Tuhan Semuanya ini selain Tuhan tidak ada.
وَاْلاَهْلَ وَاْلاَوْلَادَ وَاللَّذْ عَمِلاَ باِلْوَاحِدِيَةِ بِفَضْلِ ذِى الْعُلَي
يَا سَيِّدِى وَالْحَاضِرِيْنَ الْحَاضِرَاتِ يَا سَيِّدِى وَالْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْلِمَاتِ
يَا رَحْمَةً لِلْعَالِمِيْنَ وَالتّمَامِ وَالْخَيْرُ مِنْكَ وَالنَّجَاحُ وَالسَّلاَمِ
يَا رَبَّنَا يَا ذَا الْعُلْىَ يَا ذَا النَّوَالِ يَاذَا الْجَلاَلِ وَالْجَمَالِ وَالْكَمَالِ
اَنْتَ رَءُوْفٌ وَرَحِيْمٌ وَغَفُوْرٌ اَنَا طُلُوْمٌ وَجُهُوْلٌ وَكُفُوْرٌ
لَيْسَ لَنَا إِلَّاعَظِيْمٌ عَفُوِكَ وَمَا لَنَا إِلَّاعَظِيْمٌ فَضْلِكَ
فَاغْفِرْ لَنَا فَاعْفِرْ لَنَا وَرَضِّنَا وَرَضِّنَا يَا رَبَّنَا يَا رَبَّنَا
وَاْلاَهْلَ وَاْلاَوْلَادَ وَاللَّذْ عَمِلاَ باِلْوَاحِدِيَةِ بِفَضْلِ ذِى الْعُلَي
يَا سَيِّدِى وَالْحَاضِرِيْنَ الْحَاضِرَاتِ يَا سَيِّدِى وَالْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْلِمَاتِ
أَمَا بَعْدُ
Maaf, al mukarromiin para beliau-beliau dari pusat, beliau Protokol, al
Mukarromin wal Mukarromaat para bapak, para ibu serta para remaja, para
hadirin-hadirot yang kami mulyakan. Pertama-tama kami ikut serta
memanjatkan puja-puji kehadirot Ilahi wa Robby biqouli “Alhamdulillaahi
Robbil Alamiin” dimana pada saat ini kita dapat bersama-sama
melaksanakan acara penutupan sementara pengajian Mingguan. Ya,
mudah-mudahan acara yang kita adakan ini benar-benar diridloi Alloh wa
Rosuulihi SAW membuahkan manfaat dan kemajuan yang sebesar-besamya fid
diiniwad dunya wal akhiroh. Dan juga kami ikut menyanjungkan sholawat
salam barokah yang sebaik-baiknya kepangkuan beliau Rosuulillahi SAW wa
Saairil Anbia wal Mursaliin wal Malaaikatil Muqorrobiin'alaihimus
sholaatu wassalaam, wa Alihim wa
Ashaabihim, wa jamii’il Aqthob wa
Awaanihim min awwalihim ilaa yaumil Qiyaamah wa Ghoutsi Hadhaz Zamaani
wa A’waanihi wa saairi Auliya Alloh SWT rodiyallohu Ta'ala anhum wa
a'aada 'alaina min barokaatihim ! wa syafa'aatihim wa karomaatihim wa
amaddanaa biamdaadihim ! Amiin ! Amiin ! Yaa Robbal 'Alamiin Dan ketiga
kalinya saya sampaikan terima kasih keapada beliau-beliau dari pusat
dan kepada para hadirin-hadirot memberi kepercayaan pada diri saya ikut
mengisi acara ini. Ya, mudah mudahan beliau-beliau dan hadirin-hadirot
memberi kepercayaan saya ikut mengisi acara ini. Ya, mudah mudahan
beliau-beliau dan hadirin-hadirot memberi kepercayaan pada diri saya
ini. Mudah-mudahan dibalas oleh Alloh SWT. Yang sebesar-besarnya yang
sesempuma-sempumanya jazaakumullohu khoiroti wa sa’aadatid dunya wal
akhiroh. Wa ja’alakum minal lazina yasfau lahum wa yurobbiihim
Rosuulullohi SAW syafaa’atan wa tarbiyatan khosshotaini fid-diini
wad-dunya wal akhiroh khushushon ‘inda saka rotil maut, ‘inda sualit
qobri wa ‘indal ba’tsi wa’indal muruuru ‘alas-shirot’ wa’indal hisaab
yaumil ma’aad, wa khushushon khosshoh ‘indal-nadhoti liwaj hil karim
fid daril akhiroh ma’a Rosuulillaahi SAW ! Sehubungan dengan acara ini
kami dengan sungguh-sungguh dengan rendah hati kepada beliau-beliau
Pusat dan Protokol khususnya dan para hadirin-hadirot pada umunya mohon
diberi maaf yang sebesar-besamya disamping mohon do’a restu dari
hadirin-hadirot sehingga kami dapat melaksanakan acara ini diridloi
Alloh SWT wa Rosuulihi SAW membuahkan manfaat dan maslahat
sebesar-besamya fid diini wa dunya wal akhiroh!.
Para
hadirin-hadirot, sebagaimana telah kami maklumi, dan tadi dikatakan
bahwa kita berjuang untuk kesadaran kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW
diantaranya dengan mengadakan pengajian Mingguan pengajian Kitab
Al-Hikam disamping mengamalkan disamping mujahadah disamping menyiarkan
dhohiron wa baathinan, dengan pokoknya dengan seribu satu macam cara
kita tempuh demi untuk Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW buat kita
sekeluarga, kita dan ummat masyarakat, buat kita dan ummnat manusia pada
umumnya, bahkan buat kita dan jammial alamin.
sebagainya!.
مِنْ أَكْرَامَهُ فَقَدْ اَكْرَمَ اللهُ وَمَنْ عَظَمَهُ فَقَدْ عَظَمَ اللهُ مَنْ اَهَانَهُ فَقَدْ اَهَانَ الله
Barang siapa menghormat orang lain yang seleri itu sifat-sifatnya,
berarti menghormati Tuhan. Dan barang siapa memulyakannya, berarti
mangagungkan Alloh. Tapi sebaliknya.
Barang siapa yang menyakiti, melukai, menghina, mengejek kepadanya, berarti mengejek kepada Tuhan!
Awas nanti !.
وَبَيْنَ
الْمُصَنِفُ أَنَّ الَّذِى يَنْكَشِّفُ بِالنُّوْرِ اْلاَوَلِ قُرْبُ
اللهِ مِنْكَ وَثَمْرَاتُ ذَلِكَ وَنَتِيْجَتُهُ مُرَاقَبَتُهُ تَعاَلَى
وَاْلاِ سْتِحْيَاءُ مِنْهُ حَتَى لاَيَرَاكَ حَيْثُ نَهَاك َوَلاَ
يَفْتِدَكَ حَيْثُ اَمَرَاكَ
Selanjutnya Kyai Mushonnef
menerangkan Orang yang dikaruniai Nur yang pertama tadi, yang paling
redah sendiri Nur yang paling rendah, orang yang di karuniai itu merasa
dekat, lebih dekat kepada Alloh SWT, otomatis dia selalu “muroqobah”
selalu merasa saya ini senantiasa diincer oleh Tuhan tidak berani
berkutik sedikitpun, Karena merasa senantiasa diawali oleh tuhan ibarat
materi boleh dikatakan umpamanya saya beharap saudara dengan berdiri
atau duduk atau berbaring.sedangkan di kanan-kiri ada jurang yang sangat
curam di samping api yang berkobar kobar otomatis tidak berani bergerak
sedikitpun bahkan berkedip pun tidak berani. Bahkan bernafas pun sudah
“ngempet mbekan” kata bahasa Jawa Itu, para hadirin-hadirot, kalau
orang sungguh-sunguh “muroqobah”, merasa senantiasa di bawah pengawasan
Tuhan yang Maha Agung Maha Kuasa. Sesungguhnya bahkan jauh dari pada
gambaran itu karena sekalipun betapa hebatnya (gambaran saya tadi), itu
adalah hanya ciptaan Tuhan. Sedang
Yah, pada umumnya “lipat
ganda” itu melihat-lihat kuwalitasaya. Kalau kuwalitasnya
sungguh-sungguh baik, otomatis lipat gandanya paling balk. Dan
seterusnya. Paling diridloi. Kalau khusyuknya paling khusyuk, lebih
takzim, lebih rindu, lebih perhatian,... otomatis lehih banyak lipat
ganda yang diparolehnya. Mari para hadirin-hadirot, kita tingkatkan.
Disamping kuwantitas, atau jumlah banyaknya, kuwalitasnya terutama!
Mutunya! Mari kita tingkatkan yang setinggi-tingginya!.
قَالَ
بَعْضُهُمْ وَلاَ يَبْلُغُ الْعَبْدُ حَقِيْقَتَهُ التَّوَاضُعِ اِلاَّ
عِنْدَ لَمَعَانِ نُوْرِ الْمُشَهَادَةِ فِى قَلْبِهِ فَعِنْدَا ذَلِكَ
تَذُوْبُ النَّفْشَ وَتْنْطَبِعُ لَلْحَقْ وَلِلْخَلْقِ بِمَهْوِ
أَثَرَاهَا وَسُكُوْنِ وَهِجَهَا وَغُبَارِهَا
Badul 'Arifin,
setengah orang Arifin mengatakan. Pokoknya, orang tidak dapat tawadluk
yang sungguh-sungguh dan otomatis menjadi selalu takabbur “tawadluk
kebalikan dari takabbur” orang tidak bisa hilang takabburnya kecuali
apabila mendapat sinar atau sorotan “nur Musyahadah”. Syuhud pada Alloh
SWT !. Istilah umum yang ringan, “sadar” kepada Alloh SWT Apabila orang
mendapat sinar atau cahaya syuhud pada Alloh, pasti hancur nafsunya!
Ananiyahnya hancur. BILLAH senantiasa!. Senantiasa menyerah bongkokan
pada Tuhan senantiasa tawadluk, tidak sombong! Tidak sombong kepada
sesamanya hilang, lenyap, ekses atau negatifnya nafsu. Negatifnya nafsu
yang menyebabkan sombong, kikir, dan sebagainya. Lalu diantara kita
bagaimana, mari kita koreksi. Apakah sudah sungguh-sunggub syuhud, sadar
kepada Alloh kah, atau bagaimana, mari kita koreksi diri kita
masing-masing.
Kalau orang sungguh-sungguh sadar kepada Alloh
SWT, istilah Wahidiyah LILLAH BILLAH, otomatis menjadi
“DHILLUL-ILAHI”.Menjadi bayangan Tuhan. Akhlaknya selalu akhlak Tuhan.
Antara lain rohman-rohim. Artinya, akhlaknya selalu, merasa kaya. Kaya
tidak membutuhkan orang lain. Hanya butuh kepada Tuhan malah bilamana
perlu, “kun fayakuun”. Dia menjadi orang yang suka pemaaf, suka
menolong, dan
Para hadirin-hadirot, mari pengajian yang
sudah kita laksanakan baik yang kita berikan baik yang kita terima mari
kita manfaatkan yang sebesar-besamya, kita sempurnakan, kita tingkatkan
yang sebanyak-banyaknya dalam segala bidang. Dan umunmya mari para
hadirin-hadirot kemampuan dan keadaan yang ada pada kita, mari kita
curahkan semuanya untuk Fafirru Ilallohi wa Rosuulihi SAW !. Para
hadirin-hadirot seperti kita maklumi pengajian mingguan seperti ini
memang penting artinya bagi usaha kesadaran kepada Alloh SWT wa
Rosuulihi SAW. Perjuangan. Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW sudah
sama-sama kita sadari pentingnya. Mengapa tidak? Sebab antara lain kita
dapat senantiasa hubungan diantara kita dari daerah kepada pusat,
diantara kita dari pusat kepada daerah. Satu sama lain senantiasa dapat
mengadakan hubungan. Terutama hubungan yang secara konkrit, hubungan
yang secara langsung dalam bidang perjuangan Fafirruu Ilallohu wa
Rosuulihi SAW. Para hadirin-hadirot, nuwun sewu, seperti kita maklumi
bahwa diantara pupuk yang paling baik untuk kelancaran, untuk
kesempurnaan kesadaran kepada Alloh SWT wa Rosullhi SAW, antara lain
sering mengadakan pertemuan satu sama lain sekawan perjuangan. Ini sudah
sama-sama kita rasakan. Dan mari para hadirin-hadirot, nanti setelah
kita mulai lagi pengajian mingguan bulan syawal yang akan datang, mari
pengajian mingguan ini kita laksanakan terus dan kita tingkatkan!. Para
hadirin hadirot, disamping kepentingan-kepentingan yang semestinya, kita
harus dapat memanfaatkan untuk kepentingan lain sekalipun tidak secara
langsung untuk perjuangan Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW. Ini kita
dapat memanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan lain sekalipun
kepentingan-kepentingan lain itu tidak secara langsung hubungan dengan
perjuangan, tapi seharusnya kita manfaatkan agar supaya
kepentingan-kepentingan tersebut dapat juga bermanfaat bagi perjuangan
Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW.
Para hadirin-hadirot,
hubungan pengajian mingguan sudah kita laksanakan sekian banyak kali.
Kepada Al Mukarroomiin wal Mukarromaat
beliau-beliau
dari pusat, kepada para bapak para ibu terutama yang sekarang sedang
hadir di sini, saya sekeluarga sungguh mendapat keuntungan yang saya
tidak bisa menggambarkan banyaknya. Saya dan keluarga saya, baik moril
maupun materiil sungguh mendapat keuntungan yang besar sekali. Saya
sekeluarga bungkem seribu satu bahasa. Saya hanya dapat menghaturkan dua
patah kata permohonan buat hadirin-hadirot. Saya berkeyakinan satu dua
patah kata permohonan saya ini pasti diijabahi oleh Alloh SWT, berkat
mendapat do’a restu hadirin-hadirot. Ialah biqouli : JAZAA KUMULLOOHU
KHOIROOTI WA SAAADAATID DUNIA WAL AKHIROH. Mudah-mudahan para
hadirin-hadirot khususnya dan para saudara-saudara kawan-kawan kita yang
pada saat ini tidak bisa hadir disini, mudah-mudahan mendapat fadlolnya
Alloh SWT yang sebesar-besarnya fiddini wadunya wal akhiroh. Wa
ja’alakum minal-laziina yasyfa’u lahum wa yurobbiihim Rosuulullohi SAW
syafaatan wa tarbiyatan khosshotaini fid-dini wad dunya wal akhiroh.
Khusshushon 'indal sakarotil maut wa inda su’alil-qobri wa ‘Indal hisaab
yaumal ma'aad wa ‘Indal nazori liwajhillaahil Karim fii daaril akhiroh
ma’a Rosuulillaahi SAW. Ya, mudah-mudahan saya sekeluarga dan
saudara-saudara Sekeluarga mudah-mudahan besok pada yaumul qiyamaah
kumpul jadi satu dibawah naungan bendera Rosuululloh SAW ikut dibelakang
Rosuululloh SAW sowan menghadap kehadirot Alloh SWT !. Amiin !. Amiin
!. Yaa Robbal Alamiin !. Dan mudah-mudahan pada pengajian yang akan
datang besok Syawal, mudah-mudahan kita dikaruniai dapat mengadakan
pengajian mingguan yang lebih sempurna, lebih diridloi Alloh SWT lebih
banyak manfaatnya fiddiini waddunya wal Ahiroh!.
Para
hadirin-hadirot, terutama beliau-beliau dari pusat, saya sekeluarga
khususnya saya sendiri, saya senantiasa merugikan kepada
hadirin-hadirot. Saya sekeluarga merasa banyak sekali dosa kami
sekeluarga kepada hadirin-hadirot, pasti kami akan hancur lebur dunia
akhirat !. Sekalipun para hadirin-hadirot tidak merasa kami rugikan,
tapi
mulai sekarang kita tidak belajar,
tidak berjuang.untuk itu para hadirin-hadirot, kita sendiri yang rugi
besok, terutama kalau sudah dicabut Isroil para hadirin-hadirot. Mari
para hadirin-hadirot Asal kita mau usaha berjuang yang, sedapat-dapatnya
para hadirin-hadirot, kita yakin kelak akan menemui suatu kebahagiaan
abadi yang tidak dapat digambarkan betapa besaraya para hadirin-hadirot,
terutama sesudah berada di kubur, dialam akhirot.
الْقَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ ِريَاضِ الْجَنَّةِ أَوْحُفْرَةٌ مِنْ حُفْرَةِ النَّارِ
Alam kubur, atau alam barzkah bisa merupakan “taman” dari berbagai
taman surga, atau bisa juga merupakan bagian dari pada neraka.
Para hadirin-hadirot, ketika nyawa dicabut oleh Malaikat lzroil spontan
mengalami alam surga atau alam neraka, para hadirin-hadirot. Dan makin
lama makin berat, para hadirin-hadirot. Apakah menunggu itu, para
hadirin-hadirot?. mari para hadirin-hadirot .
وَالْحَاصِلْ اَنَّ
السَّالِكَ يَهْتِفُ عَلَى قَلْبِهِ أَنْوَارٌ إِلَهَيِّةٌ يُعَبَّرُ
عَنْهَا بِهَذِهِ الْعِبَارَاتِ وُيُتَرَتَبُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ
ثَمَرَاتٌ وَفَوَائِدُ.
Jadi kesimpulannya, orang yang
sungguh-sungguh mau mendekat kepada Tuhan, dengan mengamalkan atau
memperhatikan apa yang harus diamalkan, apa yang harus diperhatikan,
umpama dalam Wahidiyah ya senantiasa dapat mengadakan
mujahadah-mujahadah dalam segala bidangnya, dan senantiasa mengatur
hatinya, senantiasa yah separti sudah kita, maklumi, otomatis, yah
otomatis nanti Alloh akan memberikan buah yang jauh lebih besar dari
pada jerih payahnya hasilnya jauh lebih besar tidak dapat di
perhitungkan minim sepuluh kali lipat. Sepuluh kali... “ila ab’I minati
dli’fin”. Sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat!. salikang... “ilaa
maa laa yaglmuhu ilafloh”. sampai jumlah lipatan yang tidak bisa
diketahui kecuali oleh Tuhan banyaknya, dari baiknya, dari pokoknya
tidak bisa digambarkan.
misalnya, kalau si hamba mendekatnya
kepada Tuhanya dengan jalan kaki, Tuhan mendekati si hamba dengan
berlari kalau sihamba mendekatnya kepada Tuhan dengan kecepatan 100 itu
kalau diibaratkan dengan kendaraan , Tuhan mendekati si hamba dengan
kecepatan seribu minim pokoknya “bi’asyaroti amsaaiha” dengan sepuluh
kali lipat begitu para hadirin-hadirot kemurahan Tuhan kepada diantara
kita, bagaimana para hadirin-hadirot?. Menyadarikah kemurahan Tuhan itu !
Dan sampai dimana kesadaran kita para hadirin-hadirot.
Para
hadirin-hadirot, kita bisa ambil sebagai imbangan sebagai gambaran.
Seorang rakyat kecil yang ingin menghadap kepada pejabat tinggi
lebih-lebih presidennya, ini jauh lebih sulit para hadirin-hadirot.
Rakyat jelata yang yang ingin mendapat parhatian dari Kepala Desanya
saja, sudah dengan susah payah usahanya. Dan sunguhpun demikian,
hasilnya hanya sedikit sekali. Pada umumnya tidak sesuai dengan biayanya
atau jerih payahnya. Malah, mungkin jangan-jangan dicurigai para
hadirin-hadirot. Malah. para hadirin-hadirot, sekalipun Bapak Presiden
atau Bupati atau Camat mempunyai hak tarhadap rakyatnya, sekalipun
begitu para hadirin-hadirot, jika tidak dikodar oleh Tuhan, tidak akan
terlaksana para hadirin-hadirot. Tuhan tidak kesulitan menciptakan
sebab-sebab yang menjadi gagalnya suatu masalah, sekalipun sudah diatur
serapi-rapinya. Sekalipun ibaratnya tinggal muluk, tinggal “nyendok”,
kalau Tuhan tidak menghendaki, gampang “KUN FAYAKUUNU” Ini kekuasaan
Tuhan, para hadirin-hadirot!.
Tapi para hadirin-hadirot, kalau
didekat oleh Tuhan, tidak ada yang dapat manghalang-halangi para
hadirin-hadirot. Dan caranya seperti disebutkan Hadist Qudsi tadi kalau
sihamba mendekat sedangkah, tuhan maju mendekat sihamba tadi sepuluh
jangkah minim.
Para hadirin-hadirot, Mari belajar, Belajar, belajar
menjadi orang dewasa yang memiliki fikiran yang normal yang pandai
menanggapi segala sesuatu dengan semestinya. Mari para hadirin-hadirot,
kalau
kami merasa yakin merugikan. Karena itu para
hadirin-hadirot kami ndlosor dibawah tapak kaki hadirin-hadirot mohon
ampunan yang sebesar-besarnya. Dan kami sekeluarga mohon do’a restu, dan
mohon diperkenankan ikut bersama hadirin-hadirot sekalipun dari tempat
kejauhan mengikuti jejak Rosuullilahi SAW !. Sekali lagi perkenankanlah
kami hadirin-hadirot !.
Para hadirin-hadirot, ya maaf kita untuk
sementara menjelang bulan Romadlon ini menutup pengajian mingguan untuk
sementara waktu. Bukan berarti berhenti sama sekali, tapi kita untuk
sementara waktu merubah haluan merubah cara dan kita harus lebih giat
dalam cara-cara baru yang kita tempuh dalam bulan Romadlon nanti.
Terutama bidang kegiatan batiniyah kita, terutama dalam bidang hubungan
kita kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, kepada umat dan masyarakat, kita
harus lebih giat. Harus lebih giat berjuang dengan perjuangan batiniyah
terutama untuk kita sekeluarga, demi untuk kita sekeluarga dan umat dan
masyarakat, demi untuk kita dan umat manusia, demi untuk kebahagiaan
fid-diini wad-dunya wal akhiroh. Amin.
Para hadirin-hadirot,
tadi dalam pengajian diutarakan soal doa “tholabuka ... tholabuka”...
tadi. Dan tadi para hadirin-hadirot, dalam komentar saya utarakan bahwa
do’a adalah “mukhkhul ibaadah” otak dari pada ibadah. Do’a adalah
“Silaahul mukmin” senjata bagi orang-orang yang beriman. Para
hadirin-hadirot, disamping kita maklumi kalau tidak salah kami juga
pemah mengutarakan, pada suatu waktu, yaitu ketika Sayyidinaa Umar r.a.
memberangkatkan balatentaranya untuk menyerbu lawan. Beliau menggemblong
lasykar-lasykar yang akan berangkat kemedan perang dengan mengatakan
antara lain kurang lebih “keadaan kamu semua dibanding dengan keadaan
musuh jauh lebih rendah persenjataan, kemampuan dan banyaknya, semuanya
kamu sekalian memang dibawah kekuatan musuh. Tapi kamu semua memiliki
keistimewaan yang tidak dimiliki oleh musuh-musuh kalian. jika
keistimewaan yang kamu miliki ini sungguh-sungguh kamu pergunakan
semestinya,
betapapun kuatnya musuh, betapapun besarnya musuh, betapapun keahlian
dan taktiknya pihak musuh, tapi pasti dapat kamu hancur leburkan mereka
itu. Yaitu kemampuan berdo'a”.
Mari para hadirin-hadirot, dalam
bulan Romadlon ini nanti terutama, mari kita memeras kemampuan yang ada
pada kita untak tadlorru’ berdepe-depe kepada Alloh SWT wa Rosuulihi
SAW, untuk berjuang Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW !. Terutama lewat
jalan batiniyah, disamping kemampuan lahiriyah kita!. Seperti kita
maklumi, seperti yang diutarakan oleh Pusat tadi, ummat masyarakat,
ummat manusia semuanya haus sekali terhadap “air jernih” yang dikatakan
oleh Pusat tadi. “Air jernih” ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat
ummat manusia tapi sayang umat manusia yang membutuhkan sekali “air
jernih” itu yang apabila umat manusia tidak berhasil memperoleh “air
jernih” itu akan hancur lebur buat selama-lamanya. Para hadirin-hadirot
umat manusia pada seluruhnya membutuhkan sekali “air yang jernih”. Tapi
sayangnya mereka banyak yang salah alamat dalam mencarinya. “Air jernih”
itu tempatnya di timur, ibaratnya, mereka lari-lari ke barat, otomatis
makin lama makin jauh dari “air jernih” yang dicari-carinya itu.
Para hadirin-hadirot, kita semua sedikit atau banyak tahu dimana
tempatnya air jernih itu, tahu bagaimana caranya memperoleh “air jernih”
itu, sedikit banyak kita tahu semua itu. Mari para hadirin-hadirot,
umat manusia sebagian besar kalau tidak boleh saya katakan semuanya yang
haus sekali, yang membutuhkan “air jemih” yang menentukan sekali itu!.
Para hadirin-hadirot, kita semua sebagai manusia yang mempunyai
perikemanusiaan, mari umat manusia yang begitu butuh sekali itu kita
tolong, kita tunjukkan dan kita beri “air jernih” itu. Toh kita memberi
“air jernih” itu tidak berarti lalu kehilangan apa yang sudah kita
miliki, balikan dengan memberikan “air jernih” itu kepada umat dan
masyarakat justru malah bertambah-tambah banyaknya “air jernih” yang
kita-kita miliki, yang simpan para hadirin-hadirot. Mari para
hadirin-hadirot, bahkan para hadirin-hadirot kalau kita tidak mau
memberikan
lain-lain lebih-lebih sama sekali tidak menjadi acara tidak nampak oleh penglihatan mata hatinya.
Hanya tuhan menjadi acara seperti halnya orang “kami tenggengen”
terpesona yang sangat kuat sehingga tidak mengingat kepada yang
lain-lain. Termasuk dirinya sendiripun tidak ingat. Bahkan tidak terasa.
Terpaku oleh,.... hanya satu hal. Dalam hal ini hanya tuhan. Istighroq.
Tenggelam dalam ke-Esaan Tuhan.
Ketiga keyakinan di atas,
“ILMU YAQIN, AINUL YAQIN dan HAQQUL YAQIN, saya gambarkan lagi. Begini.
Kita di sini di serambi mesjid ini. Mengerti meyakini bahwa disebelah
timur itu ada sungai brantas. Di situ memang ada sungai brantas sungguh.
Lha ini namanya “Ilmu-yaqin” Lha kalau kita berada ditebingnya sungai
brantas itu, itu “ainul-yaqin” sedangkan “haqquI yaqin” sudah menjadi
air. Hanya air sungai Pen. Titik. Dirinya sendiri, gampengnya sungai,
sungainya dan lain-lain tidak masuk acara. Sekalipun sudah masuk ke
dalam sungai tapi belum menjadi air, ini namanya masih “alnul yaqin”.
Itu tadi gambaran.
Ya mudah-mudahan kita dikaruniai memiliki
haqqul yaqin yang sempurna watamaama ma’rifatika. Kita kewajiban usaha,
berjuang. Kalau kita sungguh-sungguh berjuang, 'WALLAZIINA JAADUHUU
FIINA LANADHIYANNAHUM SUBUULANA. Dan orang-orang yang sungguh-sungguh
bermujahadah berusaha berjuang di dalam jalan-ku, pasti AKU tunjukkan
jalan-Ku.
Malah, dalam hadits Qudsi disebutkan yang maksudnya.
JIka seorang hamba mendekat kepada tuhan satu meter misalnya, Tuhan
mendekati dia sepuluh meter paling sedikit. Jika sihamba maju
sepuluh-meter, tuhan maju mendekatinya seratus meter paling sedikit. Itu
kalau digambarkan materi atau dilbaratkan berhadap-hadapan. Begitalah
para hadirin-hadirot, kemurahan Tuhan. Digambarkan dengan kecepatan
kuat
lagi yaitu tingkat ketiga. Yaitu iman seperti yang diperjuangkan
didalam wahidiyah ini. Yaitu perasaan zauqon, memiliki rasa dalam hati
yang sunguh-sungguh. Setiap saat setiap detik bahkan dalam segala
keadaan. Ini yang paling kuat dari pada yang pertama dan yang kedua
tadi.
Ya mudah-mudahan para hadirin-hadirot, kita dikaruniai
memiliki tauhid yang terakhir ini tadi, yang membaja!. Tidak bisa
berubah sekalipun menghadapi suatu peristiwa yang dasyat sekali!.
Ujian-ujian atau tantangan atau godaan yang begaimanapun dahsyatnya,
dalam menhadapi sakarotil maut sekalipun, tidak akan berubah
keadaannya!. Dalam sakarotil maut, dimana iblis dengan segala kemampuan
yang ada padanya dikerahkan untuk menggelincirkan iman seseorang!.
Biarpun begitu,iman bentuk ketiga ini, iman dengan sungguh-sungguh
zauqiyah rasa dalam hati tidak akan mengalami perubaban sedikitpun!.
Mudah-mudahan kita dikaruniai seperti itu para hadirin-hadirot !.
(وَحَقُّ الْبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ وُجُوْدَهُ لاَعَدَمَكَ وُجُوْدَكَ)
“HAQQUL BASHIROR” = haknya bashiroh atau penglihatan hati yang baik
atau “NUURULRAQQI” atau “IIAQQULYAQIN” semua maksudnya sama.
“Bashiroh” = penglihatan hati.
“Bashor” = penglihatan mata lahir.
Kalau orang sungguh-sungguh memiliki “haqid bashiroh” atau
“nuurul-haqqi” atau “haqqul yaqiin”, dia merasa selama memiliki haqqul
bashiroh bahwa tuhan yang ada. Lain-lain tidak menjadi acara dalam
pandangan hatinya “LAA’ADAMAKA WALAA WUJUUDAKA” soal diterima ada atau
tidak ada tidak menjadi acara.
Hanya Tuhan yang wujud titik. Istighroq badannya serdiri atau makhluk
“air
jernih” kepada mereka, justru kita akan kehilangan atau berkurang “air
jernih” yang sudah kita miliki, yang sudah kita simpan para
hadirin-hadirot, Mari para hadirin-hadirot, ibarat pasien atau orang
yang sakit. Sakitnya sudah sangat gawat sekali. Sakit keras, obatnya
hanya satu macam. Dan kalau tidak secepat kilat minum obat yang hanya
satu itu para hadirin-hadirot, pasti dia si-sakit tadi mengalami bahaya
maut. Nyawanya ! tinggal satu dua detik saja. Pasti mati kalau tidak
cepat-cepat minum obat yang satu tadi, yang dapat menghidupkan kembali.
Saudara-saudara semua memiliki itu para hadirin-hadirot! dan pasti
kebahagiaan umat manusia hanya akan hidup dalam satu dua detik lagi saja
kalau tidak memperoleh obat mujarab dari para hadirin-hadirot. Kalau
terlanjur sampai menemui bahaya maut para hadirin-hadirot, siapa yang
bertanggung jawab itu para hadirin-hadirot ?, Pasti kita tidak bisa
lepas dari pertanggungan jawab para hadirin-hadirot. Kita mampu, sedikit
atau banyak, kalau tidak memberi obat yang sangat dibutuhkan mereka
itu..., dimaanaa letak peri kemanusiaan kita para hadirin-hadirot. Di
mana ?
Yah maaf , Itu binatang hewan mengerti peri kemanusiaan.
Tapi mengapa kita umat manusia bahkan kita sebagai umat Islam, umatnya
Rosuulihi SAW, kita sebagai bangsa Indonesia yang berpancasila, malah
kita sebagai Pengamal Wahidiyah Pejuang Fafirruu Ilalloh wa Rosuulihi
SAW, kok tidak mau tahu, tidak punya rasa peri kemanusiaan ini bagaimana
?. janggal sekali para hadirin-hadirot !
Oleh karena itu, mari
kita para hadirin-hadirot, terutama dalam bulan Romadhon ini, Mari !
sungguh-sungguh segala kemampuan yang ada pada kita, kita sudahkan, kita
kerahkan dengan sungguh-sungguh, terutama bathiniyah kita... untuk
Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW para hadirin-hadirot!
Para
hadirin-hadirot, di samping itu terutama remaja-remaja kita selain kita
sendiri kaum Bapak, kaum Ibu, mari kesempatan asrama pengkaderan dalam
bulan Romadlon yang diadakan di Pusat Wahidiyah ini, mari kita ikuti,
kita manfaatkan sebanyak-banyaknya! Sehingga
dengan
asrama yang kita laksanakan itu nanti mendapat kemajuan yang luar biasa
dalam perjuangan Fafirruu Ilalloh wa Rosuulihi SAW !.
Para
hadirin-hadirot, obyek perjuangan kita tidak sembarangan para
hadirin-hadirot. Tidak hanya untuk satu atau dua orang, tidak hanya
untuk satu dua kampung tidak hanya untuk satu dua daerah, tidak hanya
untuk satu dua negara, tapi untuk jamii'al alamiin para hadirin-hadirot.
Bukan sembarangan. Obyek perjuangan kita adalah jamii'al alamiin. Dan
sekarang sudah sampai di mana, sudah berapa persen para hadirin-hadirot !
Para hadirin-hadirot ! Sama sekali tidak dibenarkan kalau kita dalam.
perjuangan ini minder, takut-takut, ragu-ragu, kita diberi kemampuan
oleh Alloh SWT. Kemampuan batiniyah terutama yang mampu untuk mengatasi
dan mensukseskan perjuangan dengan sempurnanya asal kita sungguh-sungguh
konsekwen. Mari para hadirin-hadirot. Mari para hadirin-hadirot !.
Para hadirin-hadirot, sekali lagi saya sekeluarga mohon maaf yang
sebesar-besarnya kepada para hadirin-hadirot terutama beliau-beliau dari
pusat. Dan kami sekeluarga sungguh-sungguh mohon restu semoga kami
sekeluarga dapat ikut berjuang di belakang para hadirin-hadirot,
berjuang Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW. Dan semoga ikut seperti
para hadirin-hadirot mengaji dalam bulan Romadlon nanti dengan yang
sebaik-baiknya yang setepat-tepatnya yang diridloi Alloh SWT wa
Rosuulihi SAW membuahkan manfaat yang sebanyak-banyaknya. Para
hadirin-hadirot, mudah-mudahan Asrama yang akan kita adakan di pusat ini
dalam Romadlon nanti, mudah-mudahan benar-benar diridloi Alloh wa
Rosuulihi SAW dan membuahkan manfaat maslahah barokah dan
kemajuan-kemajuan yang sebanyak-banyaknya fid-diini wad-dunya
wal-akhiroh. Mudah-mudahan membuahkan hasil yaitu jamii'al alamfin
Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW. Mari saling maaf memaafkan, saling
do’a mendoakan para hadirin-hadirot. Terutama dalam bidang Fafirruu
Ilallohi wa Rosuulihi SAW. bahkan mari segala bidang apa saja. Moril dan
materiil, keluar maupun
Masih, sangat dibutuhkan!.
Para hadirin-hadirot, mari kita adakan koreksi pengalaman kita atau
zouqiyah, apakah sudah begitu ?. Artinya merasa, seperti yang kita bahas
itu tadi. Ataukah baru merupakan “iktikat” saja ? kalau baru iktikat
atau pengertian tauhid, ini gampang sekali lenyapnya. Jauh lebih gampang
dari pengalaman dalam rasa atau zauqiyah tersebut!. Terutama dalam
keadaan-keadaan yang kritis! terutama dalam menghadapi sakarotul maut!
ilmiyah atau tauhid seperti itu, teka-teki sekali.
Pernah saya
utarakan. Antara lain pada minggu yang lalu yaitu soal tauhid, atau
iman. Ini ada dua atau tiga macam . Antara lain dasarnya bukan dari ilmu
pengetahuan. Melainkan pereaya begitu saja, dari orang tuanya, atau
dari gurunya, atau dari situasi lingkungannya yang meyakini bahwa Tuhan
itu Satu dan sebagainya. Iman seperti ini adalah yang paling lemah
sendiri. Jika tidak senantiasa dipupuk dengan ubudiyah-ubudiyah, dengan
mujahadah-mujahadah, dalam keadaan-keadaan yang berbabaya terutama,
gampang sekali hilang lenyap. Terutama dalam menghadapi sakarotul maut,
mudah sekali lenyapnya iman yang hanya begitu itu.
Bentuk iman
atau tauhid yang kedua, lebih kuat dari yang pertama tadi. Yaitu iman
yang berdasarkan ilmiyah, yang didasarkan aqliyah. Yaitu seperti yang
dibicarakan antara lain dalam kitab Kifayatul-Awam dan lain-lain kitab
tauhid. Alloh SWT kok wujud, itu apa dalilnya, apa buktinya. Dalilnya
atau buktinya ya adanya makhluq ini. Atau lebih positif lagi, yaitu
“mungkinnya adanya makhluq”. Kalau hanya wujudnya makhluq ini, kalau
tidak wujud berarti Alloh tidak ada. Tapi dengan kata-kata “imkannya
wujudnya makhluq” ini, sekalipun makhluq ini tidak ada, tidak
diwujudkan, tapi “kemungkinan” adanya, ini yang menjadi atau dalil atau
bukti adanya Tuhan. lni yang dibahas dalam kitab kifayatul-Awam atau
kitab-kitab tauhid lainya. Iman golongan kedua ini sudah lebih kuat dari
yang pertama tadi. Tapi juga masih ada lagi tingkat iman yang lebih
berdiri,
tapi karena diberdirikan oleh ibunya. Anak kecil itu belum bisa berdiri
sendiri, Kalau andai kata dilepaskan oleh ibunya, tentu dia tidak
kelihatan berdiri. Namanya sianak kecil itu tidak bisa berdiri.
Kelihatanya berdiri karna diberdirikan. Begitu juga mahkluk ini
sesungguhnya tidak wujud tidak ada. Kelihatannya wujud, karena
diwujudkan. Umpama tidak diwujudkan, pasti tidak ada. Istilah lain
namanya “wujud majazi” = wujud bayangan. Wujud haqiqi hanya Tuhan. Kalau
orang memiliki “ainul bashiroh”, mata hatinya sehat, otomatis merasa
begitu.
Ini paling-paling harus menjadi merupakan I'tqod itu hanya ilmiah. Saya mengutip pendapatnya Iman ghozali.
اِذَ مُجَرَدُ اْلاِعْتِقَادِ أَىْ مُجَرَدُ الْتَوْحِيْدِ بِاْلاِ عْتِقَادِ........لاَيُوْرِثُ الْتَّوَكُلَ.
Tauhid yang hanya dengan iktikat saja, ini.. “Laa yuurisut- tawakkul”
tidak membuahkan tawakal pasrah bongkokan pada Tuhan. Oleh karena, “iz
al-I’tiqod al ilmu” iktiqod itu hanya merupakan ilmu. Ilmu tidak bisa
menghasilkan rasa menyerah bongkokan pada Tuhan. Yang dapat membuahkan
rasa menyerah bongkokan adalah “al a’maal” amal-amal ibadah. Mujahadah
yang dapat merubah sikap itu, sikap batin terutama, adalah amal atau
mujahadah istilah Wahidiyah. Ilmu atau pengertian ilmiah hanya boleh
dikatakan sebagai pengantar atau arah-arah saja. Dan dalam keadaaa yang
sangat terbatas sekali.
Perjuangan Wahidiyah bukan hanya
timbulnya iktiqod saja, tapi pengalaman yang diutamakan. Pengalaman atau
perasan hati terhadap kesadaran kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW.
Pengalaman atau perasaan “zauqon” ini yang diutamakan. Yang
diperjuangkan oleh Wahidiyah. Adapun soal ilmiah, ya alhamdu lillah
kita umumnya ummat Islam, sudah memiliki iktiqod atau ilmiah-ilmiah.
Kalau ditanya tentu begitu jawabnya. Tapi mengenai haliyah atau zauqon
ini yang perlu diusahakan diperjuangkan. Pada umumnya soal haliyah ini
kita masih sayang sekai.
ke dalam, mari kita jadikan menjadi
satu bidang yaitu bidang Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW, Dunia
akhirat kita, moril dan materiil kita, lahir dan batin kita, luar dan
dalam kita, mari kita jadikan satu bidang, bidang Fafirruu Ilallohi wa
Rosuulihi SAW !
Para hadirin-hadirot, mari dalam kesempatan ini
sama berdepe-depe tadhallul merintih memohon dihadapan Alloh SWT wa
Rosuulihi SAW !. mari para hadirin-hadirot, sama-sama memohon, memohon
ampun, mari bersama-sama memohon bagi umat dan masyarakat !.
Mari para hadirin-hadirot!. Nenek moyang kita atau leluhur-leluhur kita
atau saudara-saudara kita yang sudah ada di alam kubur, keluarga,
famili, dan orang-orang yang sudah ada di alam kubur mari kita mohonkan
para hadirin-hadirot. Mari para hadirin-hadirot kita bangsa Indonesia
kita mohonkan. Kita sebagai perjuangan Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi
SAW, harus mengisi bidang ini!. Mari para hadirin-hadirot kita mohonkan
terutama para Pejabat-pejabat kita bangsa Indonesia mulai dari Presiden
sampai pamong desa atau mulai dari pelosok sampai Presiden. Umunmya
seluruh umat dan bangsa Indonesia umumnya umat dan masyarakat jamii’al
alamiin terutama Pejabat dan pemerintah mereka-mereka, dimana nasib umat
dan bangsa ada di tangan mereka, para Pejabat Pemimpin Negara mereka.
Mari kita mohonkan mudah-mudahan diberi fadlol dari Alloh SWT yang
sebanyak-banyaknya. Mudah-mudahan diberi hidayah dan taufiq dari Alloh
SWT yang sebanyak-banyaknya. Diberi ampunan dari Alloh Ta’ala yang
sebanyak-banyaknya. Bagi kita bangsa Indonesia, pejabat-pejabat kita
mulai dari pusat sampai ke bawah mudah-mudahan diberi hidayah dan
taufiq, sehingga mereka-mereka dapat menghantarkan bangsa Indonesia
kepada cita-cita masyarakat adil dan makmur yang diridloi Alloh SWT,
baldatun thoyibatun wa robbun ghofuur juga seluruh rakyat, kita sebagai
rakyat, pokoknya jamial alamiin mari kita mari kita mohonkan disamping
kita sendiri sekeluarga! lebih-lebih mereka leluhur kita dan famili yang
ada dialam kubur, terutama yang ada dialam kubur, terutama yang sangat
membutuhkan sekali, membutuhkan sekali
ampunan !
mari para hadirin-hadirot dengan sungguh-sungguh mari kita gendong,
kita pikul, kita sunggi segala dosa-dosa kita dihadapan Alloh SWT wa
Rosulihi SAW. Mari ! jangan ada satu glintirpun diantara kita yang tidak
mau mengakui berdosa ! Jangan ada satupun dari kita semua ini yang
tidak merasa berdosa, tidak merasa menjadi sumber segala kedholiman di
muka bumi ini mari kita para hadirin-hadirot !..
AL FAATIHAH ...!
( MUJAHADAH )
menguasai
secara mutlak dalam segala bidang. Dan tidak terbatas. Segala makluk
diliputi oleh ilmu Tuhan. Tidak ada barang seatom pun betapa kecil dan
halusnya yang di luar pengetahuan Tuhan, yang di luar kekuasaan Tuhan
semuanya. Dan secara. Mendetail sekecil-kecilnya, tidak ada yang
keliwatan.
, وَعَيْنُ الْبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ عَدَمَكَ لِوُجُدِهِ
“AINUL BASHIIROH” = mata dari penglihatan hati Atau “NUURUL- ILMI”
ISTILAH LAIN. Cahayanya ilmu. Atau “AINUL YAQIIN” = kenyataan dari
kayakinan. Itu sama maknanya semua.
Orang yang memiliki “ainul
bashiiroh”, atau ilmunya hati bersinar, atau mempunyai “ainul yaqiin”
pasti dia merasa bahwa yang ada hanya Tuhan. Dirinya sendiri dan makhluq
lain-lain tidak ada. Yang ada hanya Alloh. Itu kalau orang
sungguh-sungguh mata hatinya melek dan sehat. Merasa yang ada hanya
Tuhan. Saya dan makhluq-makhluq lain sama sekali tidak ada. Karena yang
wujud haqiqi yang sungguh-sungguh wujud itu hanya Tuhan. Adapun makhluq,
adanya itu karena diwujudkan istilah diwujudkan atau diadakan, berarti
tidak wujud atau tidak ada sendiri. Berarti tidak ada dan tidak wujud.
Jelas yang wujud hanya Tuhan.Kalau yang mempunyai “ainul bashiiroh atau
nuurul ilmi atau ainul yaqiin”, otomatis begitu pandangan hatinya atau
perasaannya. Selama dia memiliki ainul yaqiin itu. Makhluq diadakan,
diwujudkan oleh Tuhan. Sedang Tuhan wujud dengan sendirinya. Tidak ada
yang mewujudkan Tuhan. Malah di samping Alloh wujud, DIA mewujudkan yang
lain-lain. Ini namanya “QOYYUUM”. Wujud dan mewujudkan. Atau berdiri
tegak dan menegakkan. Ini “qoyyum”. Disebut juga “ismul-a’kdhom”.
Hayyun-qoyyum !.
Sebagai gambaran sering saya menggambarkan.
Seorang anak kecil yang belum bisa berdiri sendiri sedang diberdirikan
oleh ibunya misalnya. Sekalipun sesungguhnya itu anak kecil kelihatannya
pengertian ilmiah saja.
Orang yang tidak merasa
seperti itu, ini berarti dia, hatinya gelap atau buta, kalau hatinya
tidak buta, otomatis pandangan hatiya sesuai dan nyocoki dengn keadaan
yang sesungguhnya. Dapatklah keadaan sesungguhnya. Yaitu tadi, Tuhan
lebih dekat kepada kita dari pada kita terhadap kita sendiri.
Istilah “dekat”. Dikasihi, ini berarti dekat. “Minal muqorrobiin”,
artinya orang-orang yang dikasihi Tuhan, yang didekati oleh Tuhan.
طُوْبىَ لِلْمُصْلِحِِِِيْنَ بَيْنَ النَّاسِ هُمْ الْمُقَرَّبُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ .الحديث
(Alangkah bahagianya mereka orang-orang yang mau memperbaiki ummat dan
masyarakat, mereka kelak adalah menjadi orang-orang yang didekat,
artinya orang-orang yang dikasihi oleh Alloh).
Jadi dalam arti
hadis ini yang dimaksud di dekat, dikasihi. Dekatnya Tuhan pada makhluq,
ini dekat dalam arti menciptakan. Semuanya tidak pandang bulu. Baik itu
yang terkecam atau yang tidak, ini semuanya dekat kepada Alloh, lebih
dekat ini yang dimaksud “dekat” dalam pengajian ini.
Kalau orang
kok merasa dekat dalam arti merasa dikasihi, lalu merasa orang
baik-baik, ini namanya takabbur ini. Oleh karena itu ada pepatah atau
kata-kata :
رُؤْيَةُ الْقُرْبِ بُعْدِ
(Merasa dekat
(dalam arti dikasihi atau disayangi dipercaya), itu sesungguhnya
“budaku”jauh). Lha di sini “dekat” berarti dikasihi, dan jauh berarti
tidak dirldloi, Alloh SWT. Dalam Pengajian ini yang dimaksud yaitu
seperti yang pertama tadi, Alloh lebih dekat kepada makhluqnya dari pada
makhluq itu sendiri kepada makhluq itu sendiri. Artinya lebih
AL HIKAM 1 HAL. 23
بسْمِ اللهِ الرَّحمْنَ ِالرَّحِيْمِ
لَاتَتَرَفُّبْ فُرُوْغُ الاغْيَارِ فَاِنَ ذَالِكَ يَقْطَعُكَ عَنِ وُجُوْدِ الْمُرَاقَبَةِ لَهُ فِيْمَا هُوَ مُقِيْمُكَ فِيْهِ
Assalaamu 'alaikum, Wr. Wb.
Pagi ini kita mulai kembali pengajian Al-Hikam. Tapi ya maaf dengan
singkat saja, sebab tadi malam dan bahkan mulai kemarin kita sudah
mengadakan acara-acara, tentunya sudah agak capak. Lagi pula ini sudah
agak siang. Para hadirin-hadirot, pengajian yang baru dibaca tadi, kita
maklumi bahwa maksudnya jangan sampai kita menangguhkan, berbuat yang
diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, yang memberi manfaat kepada umat
dan masyarakat. jangan sampai kita menangguhkan segala sesuatu yang
diridloi Alloh wa Rosuulihi SAW. Kita tangguhkan kepada suatu keadaan
kita. Keadaan mampu, keadaan normal, keadaan sehat dan lain-lain. Jangan
sampai kita menangguh-nangguhkan kepada keadaan tersebut. Jangan
sekali-kali kita menangguhkan nanti apabila sudah selesai, sudah
nganggur, sudah ... lanjut, sudah tua, sudah ... maaf, sudah
menyapih,...sudah begini dan begitu. Tap! harus sekarang juga terus, ...
Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW !. Seperti yang dimaklumi, tadi
malam saya katakan : segala sesuatu soal baik moril maupun materiil
secara langsung dan tidak langsung, segalanya ... sama sekali tidak
boleh disalahkangunakan untuk beralasan tidak ber-Fafirruu Ilallohi wa
Rosuulihi SAW!. Balikan segala sesuatu baik moril maupun materiil, soal
maksiat
sekalipun, berlarut-larut sekalipun, harus ... harus kita jadikan batu
loncatan untuk Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW!. Kita jadikan alat
yang ampuh untuk Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW. Kita jadikan...
“Kendaraan” yang ... secepat kilat untuk Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi
SAW !.
Para hadirin-hadirot, mari… sekarang juga Fafirruu
Ilailohi wa Rosuulihi SAW ! Dengan kemampuan yang ada pada kita.
Terutama dengan batiniyah kita, ... mari sekarang juga! Sudah cukup luas
sekali kemampuan yang diberikan kepada kita. Dan ini harus kita
laksanakan untuk Fifarruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW !
Para
hadirin-hadirot ! Insya Alloh komentar selanjutnya kita teruskan besok
minggu, mudah-mudahan. Dan mudah-mudahan pengajian yang pertama ini
sekalipun singkat, mudah-mudahan diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW.
Membuahkan manfaat yang sebesar-besarnya fiddini wa dunya wal akhiroh.
Amiin! Dan ini akan diadakan acara pembukaan. Lha… sudah dibuka kok baru
diadakan acara pembukaan ini bagaimana ?. Yah.. kalau perlu memang
seharusnya. Seperti misalnya LILLAH BILLAH. Seharusnya LILLAH BILLAH,
tapi yah didahulukan LILLAH. Begitu juga sekalipun sudah kita mulai
pengajian, baru kita mengadakan acara pembukaannya, karena keadaan
situasi menghendaki begitu yah… apa boleh buat. Dan sekali lagi
mudah-mudahan diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, dan bermanfaat
fiddiini wa dunya wal akhiroh !
Dan ini nanti pada akhir
pengajian tidak kita adakan Mujahadah-mujahadah seperti biasanya, sebab
begitu selesai pengajian langsung kita mengikuti Acara Pembukaan
Pengajian yang akan diadakan oleh beliau-beliau dari Penyiar Pusat. Maka
akhirnya cukup sekian, dan waktu dan tempat kami persilahkan kepada
beliau-beliau dari pusat.
Tuhan, mustahil
kalau yang dimaksud “dekat” itu dekat materi. Sebab Tuhan tidak dan
bukan materi bukan seperti benda. Jadi yang dimaksud “dekat” di atas,
ialah Tuhan senantiasa tahu dan lebih tahu dari pada kita terhadap kita
sendiri. Tuhan lebih menguasai kepada kita. Ini berarti lebih dekat dari
pada kita. Tuhan lebih “menghendaki” “WANAATASYAAUUNA ILLA AN
YASYAA-ALLOH”. Kamu sekalian tidak dapat berkehendak, kecuali kalau
dikehendakkan oleh Alloh. Dibuat punya kehendak atau dalam istilah
syari’at sering kita dengar, biar orang melonjak setinggi langit, tapi
kalau tidak dikehendaki oleh Alloh, tidak akan sukses lni berarti lebih
dekat. Atau dalam dunia aqiqot, justru kehendaknya orang itu digerakkan
oleh Alloh. Berarti lebih dekat.
Adapun dekat zatnya,....
Ini tidak bisa diperhandingkan. Sebab makhluk itu hanya “bayangan”
Adanya makhluq hanya bayangan. Sedanglcan KHOLIQ pasti ada, wujud. Apa
mungkin bisa diperbandingkan ?.
Jadi sekali lagi yang dimaksud
“dekat” bukan berarti dekatnya dua jenis barang yang berdekatan satu
sama lain. Tapi ya itu tadi, Alloh lebih dekat kepada manusia dari pada
manusia itu sendiri. Sekalipun manusia itu biberi kehendak, kemampuan
dan sebagainya, akan tetapi jika kehendak itu berlawanan dengan kehendak
Tuhan, pasti kehendak Tuhan yang menang yang menentukan. Itu pengertian
syari’at. Dalam bidang haqiqot, justru kehendak manusia itu adanya
karena dikehendaki oleh Alloh. Diciptakan Tuhan bahwa dia mempunyai
kehendak. Begitu juga soal lain-lain. Ilmu, pengetahuan kemampuan dan
sebagainya. Kalau orang mempunyai fikiran yang sehat, memIliki
“syu’aa-ul bashiiroh” atau “ilmul yaqiin” atau “nuurul’aqli” pasti
merasa seperti di dalam kita Mujahadah berdepe-depe di itu merasa bahwa
Alloh lebih dekat dari pada dirinya sendiri. Dirasa dalam hati, bukan
sekedar
AL – HIKAM 1 hal 33
ِبسْمِ اللهِ الرَّحمْنَ ِالرَّحِيْمِ
(
شُعَاعُ الْبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ قُرْبَهُ مِنْكَ , وَعَيْنُ
الْبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ عَدَمَكَ لِوُجُدِهِ , وَحَقُّ الْبَصِيْرَةِ
يُشْهِدُكَ وُجُوْدَهُ لاَعَدَمَكَ وُجُوْدَكَ )
SYU’ AAUL-
BASHIROTl’’ = Penglihatan hati istilah lain “Nurul Aqli” atau
“ILMUYAQIIN” satu makna. Kalam orang yang mempunyai ilmul-yaqiin, atau
nuurul aqli, akal yang sehat, atau “sorotan hati”, pasti orang yang
berilmul yaqiin itu memiliki keyakinan yang tidak mamang lagi, tidak
ayak lagi, pasti dia merasa bahwa Alloh dekat. Sebab dia senantiasa
merasa dihidupkan, diberi nikmat-nikmat lahir maupun batin. Tidak
mungkin atau mustahil Tuhan jauh dari dirinya. Sebah Tuhan senantiasa
memberi. Memberi hidup, memberi perasaan, memberi pendengaran,
penglihatan dan sebagainya otomatis dekat. Dekat, dalam arti... lebih
dekat seperti difirmankan dalam AI-Our'an :
وَنَحْنُ أَقربُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ(ق: ١٦)
(... dan KAMI lebib dekat kepadanya dari pada urat nadi…).
Artinya, Sebelum orang melihat misaInya, Tuhan sudah lebih dahulu Maha
Mengetahui. Dan justru tahunya, melihatnya manusia itu justru ditahukan,
dimelihatkan oleh Tuhan. Jadi dekat itu ada bagi istilah moril atau
materiil. Si fulan dekat kepada Pak Lurah, atau pemerintah, atau
presiden. Ini tidak herarti dekat fisik atau materinya. Hubungan dengan
AL-HIKAM 1 Hal. 2
Wasaalaamu.'alaikum, wr.wb.
CATATAN:
Bersamaan dengan acara pembukaan pengajian kitab Al-hikam. ini pada
malam minggunya telah dilangsungkankan acara KHITANAN UMUM terhadap 8
orang anak-anak. Diantara mereka adalah putra ananda Agus Syafi' Wahidi
Sunaryo. Selesai upacara Walimatul Khitanan pada kira-kira jam 10.30
malam diteruskan acara Halal Bihalal Wahidiyah. Hadir dalam, acara ini
lebih kurang 2000 orang Pengamal Wahidiyah dari berbagai plosok daerah,
pria, wanita, remaja dan kanak-kanak. Alhamdu Lillah semua acara
berjalan lancar dan selesai pada jam 3 pagi. Diteruskan Mujahadah sampai
subuh.
Pagi hari minggu tanggal 9 Oktober 1977 sebelum
Pengajian Kitab Al-Hikam, diadakan Upacara peletakan Batu pertama
pembangunan sebuah gedung dalam komplek Pondok Kedunglo yang merupakan
lanjutan dari pada rencana pembangunan tempat-tempat Mujahadah/pondok
Kedunglo Kediri. Peletakkan batu pertama dilakukan oleh Hadrotul
Mukarrom Romo Yahi dibantu oleh bapak-bapak Penyiar Sholawat Wahidiyah
Pusat.diadakan secara sederhana tetapi cukup khidmat. Para hadirin
sambil menyaksikan berdiri disekeliling lokasi bangunan sambil
tasyaffu'an kepada Rosuulillahi SAW.
ACARA PEMBUKAAN PENGAJIAN
Pengatur acara (protokol) dilakukan oleh Bapak A.F. Badri.
Berhubung waktu sudah siang, maka setelah pembukaan dengan bacaan Ummul
Kitab langsung sambutan dari Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat merangkap
wakli atas nama para Pengamal Wahidiyah. Kemudian dan terakhir Fatwa
dan amanat dari Hadrotul Mukarrom Romo K.H Abdoel Madjid Ma’roef.
SAMBUTAN PENYIAR SHOLAWAT WAHIDIYAH PUSAT
Assalaamu'alaikum, Wr. Wb.
BISMILLAA HIRROHMAANIRROHIM.
ALHAMDU LILLAAHIL LAZII ATAANAA
BILWAAHMMATI BIFADLI ROBBINAA,
YAA SAYYIDIS-SHOLAATU WASSALAAMU -
'ALAIKA YAA ROUUFU YAA ROHIIMU,
WAL ALI QOD USRIATIL HAWAAIJU
BIKAL - HUDAR - RIDLOL - FUTUUHUL FAROJU,
ANTAL - MUSYAFFA'US - SYAFII “USYFA' LANAA
INDAL KARIMI ABADAN WA ROBBINA,
YAA AYYUHAL - GHOUTSU SALAAMULLOOHI
'ALAIKA ROBBINII BI - IZNILAAHI,
WANZUR ILAYYA SAYYIDII BINAZROTI
MUUSHILATIN LILHADROTIL’ALIYYATI, AMMAA BA’DU
Hadratul Mukarrom Romo Yahi, al Mukarromah Ibu Nyah! wal ahial bait,
para bapak, Ibu-ibu Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat, Kabupaten,
Kecamatan-kecamatan dan Pimpinan-pimpinan jamaah, para hadirin-hadirot
yang berbahagia yang saya mulyakan, para remaja muda-mudi yang saya
cintai. Saya ikut memanjatkan puja-puji syukur kehadirot Ilahi Robbii
biqouli : “Alhamdu Lillaahi Robbil Alamiin”. Bahwa pada pagi ini Alhamdu
Lillaahi kita dikaruniai dapat mengikuti acara-acara di Pusat
Wahidiyah. Tadi malam kita bersama-sama mengikuti acara-acara khitanan
dan acara Halal Bihalal dan sekarang acara Pembukaan
baathinan, dan
selain dari Jamaah-jamaah Daerah Kabupaten Kediri, mari yang tertinggal
yang tidak bisa mengikuti Asrama di Ngletih, mari sama-sama mendukung
dari Jamaah masing-masing. Ikut memohonkan semoga Mujahadah Triwulan
Kabupaten Kediri itu nanti benar-henar diridloi Allob SWT, membuahkan
kemajuan-kemajuan yang banyak, kebaikan-kebaikan dan barokah-barokah
yang banyak!.
Para hadirin-hadirot, dalam kesempatan ini mari
sama-sama berdepe-depe sama-sama merintih dihadapan Alloh SWT wa
Rosulihi SAW. Mari sama-sama mohon ampun, mari sama-sama bertobat para
hadirin-hadirot.
AL FAATIHAH !.
( MUJAHADAH )
nyumrambahi kepada kita sekeluarga, kepada tetangga-tetangga kita dan kepada umat dan masyarakat Amiin Yaa robbal alamiin.
Oleh karena itu, atas nama Bapak-bapak yang ada di Pusat Wahidiyah ikut
menganjurkan kepada Daerah-daerah Kabupaten yang kebetulan hadir di
sini hendakaya Mujahadah Tingkat Kabupaten tiga bulan sekali Itu
dihidupkan. Merupakan suatu kesempatan untuk membina para pengawal
se-Kabupaten. Selanjutnya tingkat Kecamatan hendaknya mengadakan
Mujahadah se-Kecamatan tiap satu bulan sekali. Mari kita yang diberi
kepercayaan amanat sebagai memanitiai jamaah-jamaah Wahidiyah di
Desa-desa memanitiai se-Kecamatan dan se-Kabupaten, malah memanitiai
Pusat sekalipun.
Mari kita curahkan perhatian kita kepada
lancarnya pembinaan mujahadah-mujahadah didaerah-daerah. Seperti yang
sudah pernah diumumkan bahwa.didalam suatu desa, sekalipun ada hanya dua
tiga orang pengamalnya Wahidiyah, mari seminggu sekali kita langsungkan
adanya Mujahadah Usbuiyah berjamaah Mujahadah Usbuiyah satu kampung
untuk meningkatkan didalam kita depe-depe dihadapan Alloh SWT wa
Rosuulihi SAW wa Ghousi Hadhaz Zaman rodiyallohu ‘anhu.
Demikian
para hadirin-hadirot maka menghaturkan segala kesalahan mohon maaf yang
sehesar-besarnya. Wa Billahit Taufiq wal Hidaayah, wami-Rosuuli SAW
asy-Syafaa'ah waminal Ghousi Hadhaz-Zaman at-Tarbiyah wan-Nadhroh wal
Barookah.
Wassalamu Ialaikum, wa lalaikunna warohmatullohi wabarokaatuh!.
KEMBALI FATWA AMANAT DARI ROMO YAHI
Para hadirin-hadirot, mari apa-apa yang telah disampaikan Pusat tadi
kita perhatikan, dengan sungguh-sungguh. Soal maju didalam kita
berjuang, didalam Ada Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW. Terutama bagi
kita yang dari Daerah Kediri yang akan mengadakan Mujahadah Triwulan
seperti diuraikan tadi, mari kita siap-siap dhohiron wa
Pengajian
Kitab Al-Hikam. Sekali lagi saya mengikuti hadirin-hadirot, ALHAMDU
LILAAHI ROBBIL ALAMIIN. Kedua, sanjungan sholawat salam barokah semoga
senantiasa terhunjuk kepangkuan junjungan kita Rosuulillahi SAW jamii-il
Anbia wal Mursalin wal Malaaikatil Muqorrobiin'alaihimus sholatu
wassalaam, wa Aalihim wa Ashaabihim wat Taabi ‘iin,m wa hadroti Ghoutsi
Hadhaz zamaani wa A’waanihi wa saairi Auliyaa Ahbaabillaahi rodiyallahu
Ta'ala'anhum wa 'alainaa min barokaatihim wa syafa'aatihim wa
karoomaatihim, wa amadanaa biamdadihim Amlin. Amiin Amiin. Yaa Robbal
Alamiin!. Sekali lagi mudah-mudahan para beliau-beliau tersebut diatas
berkenan memberikan sayafaat tarbiyah barokah karomah doa restu dan
jangkauan, nadzroh dan bimbingannya sehingga didalam kita mengikuti
pembukaan pengajuan Al-Hikam dan kuliah-kuliah Wahidiyah ini benar-benar
diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, sehingga membuahkan manfaat
maslahah dan barokah yang sebanyak-banyaknya terutama dalam pembinaan
perjuangan Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW.
Para
hadirin-hadirot, seperti sama-sama kita maklumi bersama, bahwa didalam
bulan Romadlon yang lalu kita istirahat tidak mengadakan pengajian
Al-Hikam. Selama bulan Romadhon dan sampai sekarang ini terutama pada
hari-hari Minggu seolah-olah kita terputus tidak memperoleh
ilmiah-ilmiah dan pengalaman- pengalaman batiniyah dalam peningkatan
kesadaran Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW, namun sekalipun dalam satu
segi kita terputus, dalam bidang lain kita diberi kesempatan yaitu
amal-amal ubudiyah dalam bulan Romadhon, malah disini di Pusat Wahidiyah
diadakan Asmara Penataran atau peningkatan bidang perjuangan Fafirruu
Ilallohi wa Rosuulihi SAW. Kita memperoleh banyak sekaii saluran-saluran
peningkatan. Saluran lewat kita. mengikuti asrama, saluran lewat kita
menjalankan ibadah puasa, saluran lewat tadarus, saluran lewat
sembahyang taraweh, mengikuti meneruskan di saluran lewat
mujahadah-mujahadah kita didaerah masing-masing. Alhamdu lillah sekarang
kita dikarunimaiiadha di dalam kita nyesep (menghisap) diberikan oleh
Beliau Hadrotul Mukarrom
Romo Yahi kepada kita, bersama.
Para hadirin-hadirot, seperti kita maklumi bersama bahwa Pengajian
Minggu Pagi di Pusat Wahidiyah ini, Pengajian Kitab Al-Hikam dan
Kuliah-kuliah Wahidiyah, sekalipun diantara kita sudah sering sekali
mengikuti pengajian kitab Al-Hikam disini atau ditempat lain, akan
tetapi Al-Hikam minggu pagi Kedunglo, ada ciri-ciri khas ada
keistimewaan-keistimewaan yang tidak kita jumpai pada
pengalaman-pengalaman lainnya. Antara lain disamping kita diberi
ilmiah-ilmiah diberi tuntunan-tuntunan yang mengarah kepada terwujudnya
ketenangan batin kita, yang mengarah kepada kesadaran Faffirruu Ilallohi
wa Rosuulihi SAW, yang membuahkan ahwaliyah-lahiriyah kita, yaitu
perbuatan-perbuatan atau akhlaq yang baik, juga tidak sedikit diantara
kita yang memperoleh pengalaman-pengalaman batiniyah, dikaruniai
rahasia-rahasia atau asror mutiara yang jarang atau tidak kita jumpai
pada pengajian-pengajian lain. Banyak sekali disamping ilmiah-ilmiah,
pengalaman-pengalaman dhauqiyah baik yang mengenai dan terutama
kesadaran, kesadaran kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, maupun
pengalaman-pengalaman batin lainnya yang mencakup soal-soal asror
duniawi dan ukhrowi. Banyak sekali yang kita peroleh pada kesempatan
Minggu pagi di Kedunglo ini.
Alhamdu Lillah mendapat do’a restu
dari hadirin-hadirot dan khushushon dari Hadrotul Mukamm Romo Yahi bahwa
dari pihak penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat yaitu dari Badan Penyiaran
Seksi Penerbitan, Alhamdu Lillah telah dapat menerbitkan hasil-hasil
pengajian Minggu pagi dalam bentuk diktat keciI yang disebut MINGGUAN
WAHIDIYAH. Diharapkan dapat terbit tiap minggu, sehingga dapat diambil
manfaatnya secara lebih luas oleh masyarakat didaerah-daerah yang tidak
bisa mengikuti minggu pagi di Kedunglo. Dimanfaatkan secara bersama-sama
oleh jamaah-jamaah Wahidiyah pada saat Mujahadah Usbuiyah misalnya.
Kepada Bapak-bapak, Ibu-ibu dan para remaja terutama yang
seorang
Ibu, seorang remaja putra dan seorang remaja putri. Paling sedikit 4,
dan sebanyak-banyakaya 8. Itu utusan dari jamaah supaya mengikuti
Mujahadah dua hari tiga malam, dalam rangka peningkatan Triwulanan
kabupaten. Begitu juga para Panitia Penyiar Kecamatan, terutama para
Ketua-ketua Penyiar Kecamatan dan semua Panitia Daerah Kabupaten,
diseruk.an untuk ikut hadir mengikuti asrama itu nanti. Adapun resepsei
penutupannya Insya Allah jatuh pada hari Kamis malam Jum'at tanggal 24
Nopember 1977. Kawan-kawan dari Panitia akan memohon rawuhnya Hadrotul
mukarrom Romo Yahi untuk memberikan fatwa dan amanat.
Mengenai
biaya-biaya selama dua tiga malam, Panitia sengaja mempraktekkan dan
memberikan kesempatan kepada kita semua khususnya sebagai utusan-utusan
jama’ah, yaitu untuk mengetrapkan dawuh “WAJAAHIDUU BI AMWAALIKUM WA
ANFUSIKUM” Kita harus berjuang harta dan tenaga kita sehingga dalam
mujahadah dua hari tiga malam nanti biayanya secara berdikari usaha
sendiri sendiri, panitia hanya menyediakan atau mengusahakan
warung-warung sekitar Asrama .
Dari Panitia, Penyiar Sholawat
Wahidiyah Tingkat Kecamatan diharap memberikan sumbangan, untuk
keperluan kepanitiaan, tiap-tiap Kecamatan seribu rupia. Demikian para
hadirin-hadirot antara lain isi pengumuman dari Penyiar Sholawat
Wahidiyah Daerah Kodya kabupaten Kediri. Kita yakin babwa jika kita ada
perhatian yang sungguh-sungguh soal Mujahadah tersebut, kita membuang
waktu dua hari tiga malam untuk bermujahadah Asrama Mujahadah di
Kabupaten, kita yakin tidak akan merugikan bidang-bidang lain. Malah
tadi kita mendengar sendiri langsung bahwa jika kita sungguh-sungguh
meningkatkan kesadaran kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW,
kegiatan-kegiatan dan kemampuan-kemampuan yang ada pada kita, kita
kerahkan untuk itu, kita yakin Alloh SWT akan memberikan kelonggaran dan
kejembaran soal-soal materiil yang kita butuhkan. Barokah yang meluas
meningkatkan,
melaksanakan hasil-hasil asrama. Yaitu meningkatkan perjuangan
kesadaran Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW meningkatkan daya juang
kita, meningkatkan daya kesadaran kita.
Para hadirin-hadirot,
sesudahnya ini, antara lain dari Penyiar Sholawat Wahidiyah Daerah Kodya
dan Kabupaten Kediri, pada kesempatan ini ikut menyampaikan, disamping
mohon do’a restu hadirin-hadirot khususnya kepada hadrotul Mukarrom Romo
Yahi, juga mengajak kepada kita semua terutama yang dari Daerah
Kabupaten Kediri. Yaitu akan melaksanakan Mujahadah Triwulan. Seperti
kita, maklumi bahwa tiap-tiap Daerah Kabupaten dianjurkan supaya
senantiasa dihidupkan yaitu Mujahadah-mujahadah Tiga Bulan sekali yang
dlikuti oleh seluruh Pengamal Wahidiyah dari Daerah Kabupaten yang
bersangkutan.
Seperti kita diberi pengarahan bahwa begitu juga
mujahadah-aujahadah tingkat Daerah Kabupaten adalah merupakan suatu
sarana suatu kesempatan untuk meningkat kesadaran kita dan keluarga
masing-masing dan juga meningkatkan daya juang kita bagi umat dan
masyarakat.
Maka dari itu terutama saudara-saudara yang Daerah
Kabupaten Kediri disamping daerah sekitar Kediri Juga bisa mengikuti,
di umumkan, ya maaf, disini mohon maaf kepada Panitia Kabupaten tidak
saya baca pengumumannya dengan lengkap segera keseluruhan, melainkan
hanya saya sampaikan maksudaya saja, untuk menyingkat. Yaitu bahwa
Kabupaten Kedirl akan mengadakan Mujahadah Triwulan selama tiga hari
tiga malam. Yaitu mulai hari Selasa malam Rebo, Rabu siang Rabu malam
Kamis, kamis siang, dan terakhir malam Jum’at sebagai penutup. Tgl.
22,23,24 November 1977. Tempatnya Didesa Ngetih Kec. Wates Kediri.
Kemudian syarat-syarat yang harus dipenuhi terutama dari Jamaah-jamaah
Wahidiyah.se-Kabupaten Kediri, supaya tiap jamaah mengirimkan utusanya 4
peserta. Terdiri seorang Bapak,
berdekatan
tempatnya dengan Kedunglo, Penyiar Sholawat Wahidiyah pusat ikut
menganjurkan agar menyempatkan diri manfaatkan waktu minggu paginya
mengikuti pengaiian di Pusat Wahidiyah ini. Mari perhatian kita terhadap
minggu pagi di Pusat Wahidiyah ini kita tingkatkan. Otomatis apabila
gairah, semangat dan hikmah kita, perhatian kita mengikuti minggu pagi
ini bertambah-tambah, kita yakin ilmiyah-ilmiyah atau
pengalaman-pengalaman yang akan dilimpalikan Alloh SWT kepada kita
melalui minggu pagi ini juga akan bertambah. Kita yakin, makin banyak
bimbingan-bimbingan yang diberikan kepada kita dalam perjuangan Fafirruu
I1allohi wa Rosuulihi SAW.
Para hadirin-hadirot, tapi
sebaliknya kalau perhatian kita terhadap minggu pagi di Pusat Wahidiyah
ini, yang merupakan sumber pertama kita menerima secara langsung
dawuh-dawuh dan ajaran-ajaran dari beliau mengenai ajaran-ajaran
Wahidiyah, ini kalau kita kurang perhatian lebih-lebih sampai acuh tak
acuh, ... sungguh kita akan mengalami kerugian. Seperti tadi malam
diperingatkan oleh Hadrotul Mukarram Romo Yahi bahwa kita kelihatan
makin bosan, makin lama makin kelihatan gejala-gejala waleh terhadap
Kuliah-kuliah Wahidiyah. Para hadirin-hadirot, kalau hal ini kita
biarkan berlarut-larut, kalau kita merasa bahwa diri kita sudah bebas
dari imprialis nafsu, sudah bisa LILLAH BILLAH, LIRROSUL BIRROSUL dan
sebagainya, ini sesungguhnya ... kita kejangkitan nafsu yang sangat
berbahaya sekali para hadirin-hadirot racun atau bakteri yang kalau kita
kurang perhatian, kita akan dihancurkan dimusnahkan dan kita tidak
merasa!. Malah mungkin akan meletuskan suatu sikap yang suu-ul adab
kepada Perjuangan Wahidiyah. Tadi malam kita diperingatkan oleh Hadratul
Mukarrom Romo Yahi bahwa siapa yang maaf kontras terhadap
mujahadah-mujahadah Wahidiyah berarti kontras dan melukai junjungan kita
Rosulillah SAW.
Sekali lagi para hadirin-hadirot, mari kita
tingkatkan perhatian kita yang sungguh-sungguh terhadap mengikuti
pengajian minggu pagi pusat
di Pusat
Wahidiyah ini. Terutama bagi mereka yang berdekatan. Bagi mereka yang
berjauhan tempatnya dapat mengikuti dari rumah masing-masing dengan
mengadakan mujahadah-mujahadah menyamai waktunya dengan acara-acara di
Kedunglo yaitu kira-kira antara pukul 9-12 siang hari minggu.
Sekian sambutan kami, dan kami mohon maaf hal-hal yang negatif terutama
hubungan didalam saya menyampaikan sambutan mewakili penyiar pusat ini.
WA
BILLAAHIT TAUFIQ WAL HIDAAYAH, WAMINAR ROSUULI SAW ASY – SYAFA’AH, WAL
MINAL GHOUTSI HADHAZ - ZAMANI - RODI - YALLOHU 'ANHU AT - TARBIYAH
WANNADHROM.
Wassalaamu'alaikum, Wr. Wb.
FATWA DAN AMANATHADROTUL MUKARROM ROMO YAHI
Assalaamwalaikum, wr. Wb.
BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIM.
ALHAMDU LILLAAHIL - LADMI KARROMANAA, BILMUSTHOFA
MOHAMMADIN HABII BIINA.
YAA SAYYIDIS - SHOLAATU WASSALAAMU, 'ALAIKA YAA ROUUFU
YAA ROHIMU.
WAL ALI QOD USRI’ATIL HAWAAIJU, BIKAL - HUDAR - RIDLOL –
FUTLUHUL - FAROJU.
ANTAL - MUSYAFFA`USY – SYAFII ‘SYFA' LANAA, INDAL KAARIM
MUSRI’AN WA ROBBINAA.
YAA ROBBANALLOHUMMA SHOLI SALLIMI, 'ALA MOHAMMADIN
SYAFI’IL UMAMI.
WAL ALI WAJ'ALI ANAAMA MUSRI’IIN, BILWAAHIDIYYATI
Mari
para hadirin-hadirot, maju yang sebanyak-banyaknya dan maaf, pengajian
pagi ini kiranya cukup sekian salanjutnya waktu dan tempat di serahkan
oleh beliau kepada Pusat
SAMBUTAN DARI PENYIAR SHOLAWAT WAHIDIYAH PUSAT
Disampaikan oleh : Bapak Moh. Ruhan Sanusi.
Assalaamu alaikum, wr. wb. (Khotbah iftitah tidak disebutkan disini untuk menyingkat).
Dari bapak-bapak yang ada di pusat perkenankanlah dalam kesepatan yang
diberikan pada sehabis pengajin pagi ini, wenyampaikan sepatah dua kata
dihadapan hadirin-hadirot mengikuti. Hadirin-hadirot bersyukur atas
kesempatan yang senantiasa diberikan kepada kita bahwa dalam mengikuti
pangajian-pengajian minggu pagi ini.
Para hadirin-hadirot
seperti tadi didawuhkan disamping pengajian yang sama-sama kita rasakan
dan kita dapat menggunakan untuk koreksi, keadaan kita masing-masing,
disamping diberi kita diberi lagi satu kesempatan dorongan. Untuk maju
dan meningkat. Ya alhamdulillah, seperti tadi didawuhkanbahwa dalam
masa-masa akhir ini beberapa Panitia Penyiar Sholawat Wahidiyah, Daerah
Kabupaten telah mengadakan up grading peningkatan, pembinaan dan
Penyiaran Wahidiyah, yang baru-baru ini Kabupaten Jombang, Malang,
Tulungagung, Kediri sendiri, Ngawi. Adapun lain-lainnya Insya Alloh akan
menyusul diwaktu mendatang.
Para hadirin-hadirot, Ya
alhamdulillah mendapat do'a restu hadirin-hadirot, khususnya dari
Hadrotul Mukarrom Romo Yahi, Asrama-asrama yang dilaksanakan di
tiap-tiap Kabupaten tersebut alhamdulillah berjalan dengan lancar. Dan
sekali lagi, mudah-mudahan sesudah adanya asrama itu, terutama para
peserta asrama. Baik kaum bapak, kaum ibu, kaum tua dan remaja,
mudah-mudahan sama-sama dapat
tambah-tambah
banyaknya, dan terutama nilainya Kualitetnya. Khusyuknya
Lillahnya-Billahnya. Pokoknya mari sama-sama mengusahakan kemajuan yang
sebanyak-banyaknya
Umat dan masyarakat keadaannya sama-sama
kita maklumi. Sebagian besar wasyarakat masih banyak yang dikuasai
imperialis nafsu. Sebagian besar umat dan masyarakat tidak sadar kepada
Alloh SWT. Mereka senantiasa nikmatullah Alloh Ta'ala tapi mereka tidak
merasa diberi. Diberi hidup, diberi makan, minum, bekerja, bernafas,
berflkir, ... tidak merasa bahwa mereka itu diberi oleh Alloh SWT Ini
sebagian besar diberi kekuatan tidak merasa diberi kekuatan oleh Alloh
SWT. Malah, disalahgunakan untuk melakukan perbuatan yang dan diancam
oleh Alloh SWT yang memberi kekuatan itu. Sebagian besar begitu para
hadirin-hadirot. Kita bersama kalau hanya ungkang-ungkang dengkul tidak
memperdulikan soal itu para hadirin-hadirot, pasti dituntut oleh Alloh
SWT. Dikumpulkan di dalam “naarul jahannam” bersama masyarakat yang
menyalahgunakan, malah mungkin sekali malah lebih berat dari pada
masyarakat ltu sendiri para hadirin-hadirot. Itu kalau kita tidak segera
“cancut tali wondo” menyelamatkan umat dan wasyarakat dari imperialis
nafsu yang ganas sekali para hadirin-hadirot. Mari para hadirin-hadirot.
Mengadakan kemajuan yang sebanyak-banyaknya dan kita maju dalam ini
para hadirin-hadirot, tidak akan megganggu bidang yang lain, bidang
rumah tangga, ekonomi dan lain-lain. Insya Allah malah kita maju di
dalam berjuang Fafiruu Ilalloh wa Rosuulihi SAW. Insya Alloh ekonomi
kita diberi barokah. Para hadirin-hadirot !.
وَمَنْ يَتَقِ اللهُ يَجْعَلَ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبْ (الطلاق : ٢-٣ )
Siapa yang sungguh-sungguh takwa pada Alloh SWT pasti dikeluarkan dia
dari jalan buntu, dari kesulitan-kesulitan, dan diberi yang
sehanyak-banyaknya, dari jurusan yang tidak diduga-duga. Itu para
hadirin-hadirot, sumpahnya Alloh SWT kepada kita para manusia.
LIROBBIL 'ALAMIIN.
YAA ROBBANAGHFIR YASSIR - IFTAH WAHDINAA, QORRIB WA ALLIF BAINANAA YAA ROBBANAA AMMAA BA’DU.
Al-Mukarromin para Bapak dari Pusat Penyiar Sholawat Wahidiyah/Panitia,
protokol, para Bapak para Ibu hadirin-hadirot yang saya mulyakan.
Pertama-tama saya ikut memanjatkan puja-puji tasyakkur kehadirot Illahi
wa Robbi biqouli “Alhamdu Lillaahi Robbil Alamin”. Yang mana khususnya
pada siang ini kita dapat mengadakan acara pembukaan pengajian mingguan,
dapat memulai kembali pengajian mingguan. Mudah-mudahan acara-acara
yang kita laksanakan ini benar-benar diridloi Alloh, wa Rosulilaahi SAW,
membawa manfaat yang sebesar-besarnya fid diini wad dunya wal akhiroh !
Amiln !. juga kami ikut menyanjungkan sanjungan Sholawat salam barokah
kepangkuan Rosulillahi SAW wa sairil Anbia wal Mursallin wal Malaikatil
Muqorrobinn “alaihimus-sholaatu wassalam wa Alihim wa Ashaabihim wat
Taabiim wa jamii'il Aqthob wa Awaanihim wa Ghoutsi Hadhasz-zaman wa
A'waanihi wa saari Auliyaa abbaabillahi rodiyalloho Ta'ala'anhum, wa
a'aada 'alaina min barookaatihim wa syafaa `aatihim wa karroomaatihihim
wa amaddanaa biamdaadihim ! Amiin !, Amiin!, Amiin!.
Kepada
beliau-beliau dari pusat dan protokol, umunmya para hadirin-hadirot yang
telah memberikan kepercayaan kepada saya mengisi acara ini, saya hanya
mampu menyampaikan satu atau dua patah kata permohonan bagi para
hadirin-hadirot sentuanya, permohonan kehadirot Alloh SWT biqouli "JAZAA
KUMULLOHU KHOIROOTI WA SA’AADATID DUNYA WAL AKHIROH.
Hubungan
kepercayaan yang hadirin-hadirot percayakan kepada saya ini juga,
mengenai pengisian acara yang serba tidak semestinya, saya selalu
memohon maaf yang sebesar-besarnya ! Dan disamping itu saya mohon do’a
restu mudah-mudahan didalam saya mengisi acara ini benar-benar di ridloi
oleh Alloh SWT wa Rosuulihi SAW !
Para
hadirin-hadirot! Pengajian minggu yang kita mulai sekarang ini, adalah
pengajian ilmiah-ilmiah dari agama yang diwejangkan oleh Rosuulillaahi
SAW. Bahkan adalah ilmiah-ilmiah yang paling penting sekali diantara
ilmiah-ilmiah yang diberikan oleh junjungan kita Rosuulillahi SAW kepada
kita. Sebab, ilmiah-ilmiah yang kita bicarakan yang kita bahas dalam
Pengajian Minggu pagi ini, bahkan kita usahakan untuk pengetrapannya
ini, adalah yaitu ILMU TAUHID. ILMU KETUHANAN. ILMU KEYAKINAN. Ilmu
cara-cara hubungan kita pada Alloh Tuhan Kita Ilmu-ilmu yang menumbuhkan
atau menambah keyakinan kita bahwa Alloh SWT adalah Tuhan kita. Tuhan
kita yang Maha Sempurna. Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan yang Maha Mulia.
Tuhan Yang Maha Mengetahui!, Tuhan Yang Maha kaya!. Tuhan Yang Maha
Pemurah!. Tuhan Yang Maha Agung! Adalah ilmu-ilmu yang mendudukan kita
manusia-manusia yang senantiasa berlarut-larut, sebagai disebut dalam
firman Tuhan.:
إِنَ الانْسَانَ لّظُلُوْمٌ كَفَّارٌ .ابراهيم : ٣٤
(Sesungguhnya manusia itu sangat dholim dan sangat kufur berlarut-larut).
Manusia ! Manusia, sebagian besar adalah keterlaluan dholimnya dan tidak mau, tahu kepada siapa yang memberi!.
Alhamdu Lillah para hadirin-hadirot, kita dapat mengadakan pengajian
mingguan yang menghasilkan buah-buah yang tidak dapat kita gambarkan.
Dus! ilmu, yang kita jadikan acara tiap minggu adalah seperti kita
maklumi, adalah ilmu yang sangat penting sekali. Semua insan harus
memiliki ilmu ini. Semua insan, semua hamba Alloh harus memiliki ilmu
ini!. Barang siapa diantara kita hamba Alloh tidak memiliki ilmu ini
alangkah celakanya dunia akhirot, para hadirin-hadirot. Alangkah
parahnya para hadirin-hadirot. Ya mudah-mudahan kita sekeluarga, umat
dan masyarakat selekas mungkin dapat memiliki ilmiah-ilmiah yang kita
nafsunya, yang senantiasa dikuasai imperialis nafsunya.
Dus, orang punya ilmu yang masih dikuasi nafsu, otomatis tidak
konsekwen kepada ilmunya yang baik masalah ditinggalkan, yang jelek
malah dilanggar diterjang. Atau kalau pada suatu tempo berbuat kebaikan,
tapi justru malah buat kedok saja, Atau ada latar belakangnya. Karena
ingin dihormat orang lain. Takut tidak terhormat kalau tidak berbuat
menjalankan kebaikan. Begitu juga meningalkan barang jelek atau
merugikan karena takut. Pokoknya selalu ada latar belakangnya. Yaitu
keuntungan pribadi atau nafu!.
Sekalipun buta huruf tapi dia
tidak dikuasai oleh nafsu, otomatis segala perbuatannya senantiasa
diridloi Alloh SWT. Otomatis senantiasa membawa manfaat bagi orang lain.
Sekalipun ujudnya itu tidak ada hubungan, tidak memanfaati kepada umat
dan masyarakat atau kepada lainnya. Sebaliknya, apabila orang dikuasai
oleh imperialis nafsu, sekalipun alimnya sundul langit, tapi justru
ilmunya itu disalahgunakan untuk keuntungan pribadi atau nafsunya! sama
sekali tidak membuahkan manfaat bagi umat dan masyarakat!.
Itu
tidak berarti kita harus menjadi orang bodoh orang buta huruf, jangan
menjadl orang alim orang pandai, tidak begitu! yang penting jangan
sampai kita menyalahgunakan ilmu kita. Disalahgunakan hanya untuk
kepentingan pribadi kita harus konsekwen. Konsekwen terhadap llmu yang
kita miliki!.
Para hadirin-hadirot, ya mudah-mudahan pengajian
pagi ini sekali lagi diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, membawa
kemajuan yang sebesar-besarnya bagi kemajuan perjuangan Fafirruu
ilallohi wa Rosuulihi SAW.
Baru-baru ini Kabupaten Kediri dan
Kabupaten-kabupaten lain, Jombang dan lain-lain baru mengadakan asrama.
Mari sesudah kita mengadakan asrama atau up grading atau
mujahadah-mujahadah itu mari maju yang sebanyak-banyaknya
Mujahadah-mujahadah mari kita
sudah diketahui oleh
mereka. Tahu itu baik, ini buruk, tapi justru sebagian besar umat
manusia malah menjalankan yang buruk, menjalankan perbuatan-perbuatan
yang merugikan orang lain, menjalankan soal-soal yang dikecam oleh Alloh
SWT Ini pada umumnya. Diantara kita para hadirin-hadirot, bagaimana ?.
Apakah ya idem seperti itukah, atau bagaimana. Dan di samping itu, kita
semua harus bertanggung jawab para hadirin-hadirot. Bertanggung jawab!.
Pada minggu yang lalu, atau dua minggu yang latu kalau saya tidak salah
pernah saya utarakan ada peringatan batiniyah dari salah seorang kawan
pengamal wahidiyah sendiri. Yaitu, maksudnya sayang…….!. Kalau Pengamal
Wahidiyah terutama di dalam bermujahadahnya kurang bersungguh-sungguh,
hanya sambil lalu saja !.
Seandainya sungguh-sungguh mereka di
dalam mujahadah-mujahadahnya, sudah dulu-dulu diberi pertolongan yang
gilang-gemilang oleh Alloh SWT. Sayangnya di dalam mereka berjuang
kurang bersungguh-sungguh. Ini peringatan dari .....dari ghoib para
hadirin-hadirot. Lha ini apakah cocok dengan fakta dan kenyataan kita,
ini terserah kepada kita masing-masing.
Di dalam kita Mujahadah
berdepe-depe pada Alloh SWT wa Rosulihi SAW sudah sungguh-sungguh atau
belum para hadirin-hadirot. Kita lillah billah, lirrosul birrosul,
didalam kita berjuang apakah sudah sungguh-sungguh atau sambil lalu para
hadirin-hadirot ! Mari kita koreksi !...
Sayangnya, para
Pengamal Wahidiyah di dalam mereka berjuang, didalam mereka berdepe-depe
di hadapan Alloh SWT wa Rosuulihi SAW hanya maaf, hanya “tulak sumpah”
Masih kurang sekali Ya mudah mudahan pengajian pagi ini benar-benar
dirdloi Alloh SWT, membawa kemajuan besar yang sebanyak-banyaknya!.
فَأَيٌّ عِلْمٍ لِعَالَمٍ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ
Apakah boleh dikatakan “ilmu-ilmunya” orang alim, yang ridlo kepada
jadikan
acara dalam pengajian mingguan ini, ilmiah dengan pengetrapannya sekali
dalam, waktu yang tidak lama lagi ! Amiin!. Amiin yaa Robbal Alamiin!.
Para hadirin-hadirot, banyak sekali ilmu dibicarakan dalam agama. Baik
di Al-qur'an maupun dalam Hadist terutama, dan dari beliau-beliau para
ahli dan para hadirin-hadirot, kita yakin bahwa ilmu-itmu yang
dianjurkan yang diperintahkan yang dimuat dalam, Al-qur’an atau Hadist
dalam agama kita ini, tidak lain dan tidak bukan adalah ilmu yang
bermanfaat. Ilmu yang dapat mendekatkan kita kepada Alloh SWT wa
Rosuulihi SAW. Inti yang memperbaiki didalam kita hubungan diantara kita
manusia sama manusia, para hadirin-hadirot. Namun demikian, sekalipun
ilmu-ilmu agama yang fungsinya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan wa
Rosuulihi SAW, akan tetapi dapat saja disalahgunakan para
hadirin-hadirot. Sekalipun semua ilmu-ilmu yang disebut-sebut dalam
agama ini fungsinya untuk mendekatkan untuk menghantarkan kepada Tuhan
wa Rosuulihi SAW, akan tetapi dapat saja disalahgunakan para
hadirin-hadirot. Disalahgunakan untuk makin menjauhkan diri dari pada
Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Soal itu tinggal kita para hadirin-hadirot.
Dan kita mampu menggunakan ilmu-ilmu tersebut sebagaimana mestinya, tapi
juga kita mampu gunakan ilmu-ilmu tersebut sebagaimana mestinya, tapi
juga kita mampu menyalahgunakan ilmu-ilmu tersebut untuk kepentingan
imprialis nafsu masing-masing, para hadirin-hadirot. Terserah kita pilih
yang mana.
فَمَنْ .آءَفَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ ,شَآءَ فَلْيَكْفُرْ. الكهف : ٢٩
(Maka barang siapa mau percayalah, dan barang siapa yang mau terserah mau kufur Terserah) .
Tapi para hadirin-hadirot, jika kita ini merasa sebagai insan diberi
karunia akal fikiran yang sehat yang diciptakan sebagai makhluq yang
paling mulia ... otomatis kita pasti memilih ilmu ini kita gunakan yang
semestinya. Ialah kita gunakan untuk mendekat yang sedekat sekuat
mungkin, usaha kemanfaatan-kemanfaatan, manfaat-manfaat sebanyak mungkin
kepada kita bersama para hadirin-hadirot ya mudah-mudahan
kita
diridloi oleh Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Mudah-mudahan diberi ilmu yang
sungguh-sunggah bermanfaat. Ilmu yang sungguh-sungguh dapat
mengantarkan kita kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Dengan memperoleh
ridlo-Nya yang sebanyak-banyaknya! Mudah-mudahan kita diberi ilmu yang
mendorong kita berbuat, berbuat yang manfaat kepada kita ummat manusia
jami’al alimin.
Para hadirinhadirot, tadi saya katakan bahwa
ilmu itu begini, semuanya mendekatkan kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW.
Lantas sekarang di lain dari pada ilmu itu, seperti ilmu pertanian,
ilmu perdagangan, ilmu perindustrian dan lain-lain. Ini secara langsung
tidak ada hubungan, tapi bisa saja para hadirin-hadirot disamping untuk
menjauhkan diri dari Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, bisa saja ataupun
sekalian ilmu-ilmu itu secara langsung tidak ada hubungan dengan Alloh
SWT wa Rosuulihi SAW, sekalipun dalam hubungan perdagangan, pertanian,
tapi bisa saja dan seharusnya kita gunakan, kita manfaatkan untuk
Fafirruu Ilallohi wa. Rosuulihi SAW.
Para hadirin-hadirot, mari
para hadirin-hadirot, pengajian mingguan yang sudah kita maklumi, kita
yakini malah sudah kita rasakan, dan tadi disebut-sebut dari penyiar
pusat, dalam bulan syawal, atau dalam bulan permulaan pengajian ini mari
kita mulai dengan keyakinan dan perhatian yang seteguh-teguhnya, dengan
semangat yang berkobar-kobar, dengan setepat mungkin. Para
hadirin-hadirot, kita yakin betapa kemurahannya rohmah-rohimnya
ghofar-ghoffurnya Alloh SWT. Kita yakin pasti diberi maaf yang
sebesar-besarnya selekas mungkin. Kita husnudhon diantara kita sama
kita, khusnudzon yakin bahwa diantara kita sama kita, saling memberikan
maaf yang sebesar-besarnya, memberikan ampunan yang sebesar-besarnya
sehingga kita yakin bahwa kita pada saat ini “KA YAUMI WALADATNAA
UMMAHAATUNAA” (bersih seperti ketika dilahirkan oleh ibu-ibu kita). Baru
lahir yang betul-betul bersih dari dosa, baik itu dosa yang hubungan
kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, baik itu dosa diantara kita sama
kita, yaitu dosa-dosa kepada jamii’al
terutama
mereka-mereka yang masih ada harapan. Harapan untuk sembuh dari
kebejatan akhlaqnya. Insya Allah dalam bidang penyiaran ini asal
sungguh-suagguh Insya Allah tertolong. Asal kita sungguh-sungguh didalam
kita menolong mereka yang sangat parah itu.
Jadi kembali lagi, “
WA LAANTASHAB JAAHILAN LA YARDLO 'AN NAFSIHI KHOIRUN MIN AN TASHAB
‘AALIMAN YARDLO 'AN NAFSIHI’'. Berkawan dengan orang bodoh, yang buta
huruf yang tidak dikuasai nafsunya malah dapat menguasai mengarahkan
nafsunya, itu lebih baik dari pada berkawan dengan orang alim orang
pandai tetapi masih dikuasai oleh nafsunya, yang senantiasa nuruti
nafsunya. Yang senantiasa LINNAFSI BINNAFSI yang senantiasa berbuat
perbuatan yang dikecam oleh Alloh SWT, perbuatan yang merugikan pada
umat dan masyarkat sekalipun alim, tapi ilmunya itu berbahasa, tidak
manfaat !.
كُلُّ عَالِمٍ لاَ يَنْفَعُ بِعِلْمِهِ هُوَ وَإِبْلِيْسٌ سَوَآءٌ
Semua orang alim, orang yang tahu, tapi tidak memanfaatkan ilmunya,
tidak memanfaatkan apa yang dia ketahui, itu sama dengan iblis. Diantara
kita para hadirin-hadirot, sudah tahu LILLAH BILLAH itu apa. Sampai di
manakah konsekwensinya kita para hadirin-hadirot terhadap apa yang kita
ketahui itu mari para hadirin-hadirot, kita koreksi. Kita tahu ilmu
LILLAH BILLAH LIROSUUL BIRROSUL, tahu LINNAFSI BINNAFSI.apa sudah
konsekwen!. Semua orang alim orang yang berilmu yang tidak konsekwen
dengan ilmunya, itu sama dengan iblis bahkan lebih sesat dan lebih
menyesatkan dari pada iblis!.
Para hadirin-hadirot, ini sungguh
soal yang ... menguntungkan apabila kita sungguh-sungguh, dan merugikan
atau menghancurkan apabila kita tledor, glonjom ...!.
Para
hadirin-hadirot, umumnya dari kita, dari masyarakat, dari kita bangsa
Indonesia, balikan dari sebagian besar umat manusia sedunia, pada
umumnya banyak sekali soal-soal yang pokok yang prinsip yang
Atau
secara umum, pada umumnya orang yang tidak ada perhatian kepada nafsu,
tidak senantiasa curiga kepada nafsu, otomatis lebih banyak dirugikan
oleh nafsunya. Dia tidak merasa! Maka mushonnef memperingatkan
{وَلَأَنْ تَصْحَبَ جَاهِلاً لاَ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ خَيْرً لَكَ مِنْ أَنْ تَصْحَبَ عَاِلمًا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ}
Dan sekiranya engkau berkawan dengan orang bodoh, buta huruf tapi anti
terhadap nafsunya, itu lebih dari pada berkawan dengan orang yang alim
orang cerdik orang pandai tapi masih dijajah oleh imperialis nafsunya.
Oleh karena, berkawan itu nular atau mempengaruhi, anak yang berkawan
dengan anak lain yang nakal, dia ketularan menjadi anak nakal. Berkawan
dengan orang yang bejad akhlaqnya, sedikit banyak ketularan. Berkawan
dengan orang yang senaiatiasa dikuasai oleh nafsu, LINNAFSI BINNAFSI,
ketularan ! oleh karena itu di sini diperingatkan jangan sampai berkawan
dengan orang yang akhlaqnya bejad, orang yang tidak senantiasa LILLAH
BILLAH !. Tetapi berkawanlah dengan orang yang baik akhlaqnya yang anti
pada nafsunya.
Itu dalam bidang peningkatan kesadaran kecuali
dalam bidang penyiaran, bidang penyiaran malah harus mempergauli
orang-orang yang bejad untuk di tolong di selamatkan dari kebejatanya!.
Bidang berkawan harus dari orang-orang yang akhlaq-akhalqnya lebib baik
!. Jadi dalam bidang penyiaran justru kita harus banyak mempergauli
orang-orang bejad untuk ditolong di selamatkan dari kebejatanya!. Bidang
berkawan harus dari orang-orang yang akhlaq-akhalqnya lebib baik !.
Jadi dalam bidang penyiaran justru kita harus banyak mempergauli
orang-orang yang rusak-rusak. Ibarat orang sakit yang parah harus
didahulukan selak keburu mati otomatis jika ada kemungkinan dan
alamiin.
Para hadiri-hadirot, keyakinan kita ini dan kita yakin akan keyakinan
kita ini pasti mencocoki dengan keadaan sesungguhnya. Dan mudah-mudahan
dalam bidang permohonan mudah-mudahan sungguh-sungguh mencocoki dengan
keadaan sesungguhnya dengan keadaan kita.
Mari para
hadirin-hadirot yang dalam keadaan sebersih mari yang paling bersih itu,
mari kita mulai perjuangkan, diantaranya pengajian mingguan dan
perjuangan Fafirruu Ilalloh wa Rosuulihi SAW pada umunya, mari sekuat
mungkin dengan seikhlas mungkin kita usahakan sesukses mungkin dan
sebagainya! Para hadirin-hadirot, nuwun sewu, saya termasuk diantara
yang ikut-ikut sekalipun hanya elok-elok bawang!. Nuwun sewu, saya
termasuk diantara kita yang mengikuti pengajian mingguan para
hadirin-hadirot. Sekalipun tadi saya katakan begitu, sekalipun
bagaimana, tapi satu bidang, otomatis, sebab saya juga ikut dalam
pengajian yang hadirin-hadirot laksanakan. Bahkan saya ada tugas yang
dipikulkan kepada saya, yaitu mengutarakan apa-apa yang saya utarakan
pada setiap minggu. Para hadirin-hadirot, justru itu para
hadirin-hadirot, saya mohon maaf yang sebesar-besanya. Para
hadirin-hadirot, sering terutama saya sendiri, dalam perjuangan
Wahidiyah ini tidak ada istilah “Guru dan Murid”. Sebab dalam istilah
“Guru”, seorang guru mempuyai banyak syarat yang harus dimiliki. jika
tidak memiliki syarat-syarat itu, istilah guru itu otomatis tidak bisa
dimiliki. Begitu juga murid. Disitu ada syarat-syarat, yang jika tidak
memiliki syarat-syarat itu otomatis tidak tepat menjadi murid. Para
hadirin-hadirot saya sendiri terutama, yah sekalipun bagaimana dalam
bidang ini saya jauh dari mampu. Karena itu saya mohon mari sama-sama
gotong-royong. “WA TAA AAWANUU ALAL BARRI WAT TAQWA”. Kita sama-sama
gotong-royong. Pokoknya mari bersama-sama berlomba-lomba bersama-sama
sowan dihadapan Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Siapa saja dari kita yang
kurang tepat, dengan bijaksana dengan lahiriyah dan batiniyah terutama,
kita dapat. Jadi kita apabila ada yang
tidak
tepat, sekuat mungkin atau semampu mungkin supaya kita menyadari
kelemahan-kelemahan yang kita perbuat ini para hadirin-hadirot !, Para
hadirin-hadirot tapi di samping itu ada segi lain yang harus kita isi.
Antara lain para hadirin-hadirot, jangankan soal itu, malah segala
sesuatu harus dipandang sebagai guru kita, yang mengantarkan kita kepada
Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Harus begitu dalam rangka guru kita. Kita
isi bidang itu. Segala sesuatu pasti mengantarkan kita kepada Alloh SWT
wa Rosuulihi SAW kalau kita mau diantarkan. Kita diberi petunjuk oleh
segala sesuatu. Itu Firman Tuhan. Itu Rosululloh SAW. Mari sowan pada
Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Begitu para hadirin-hadirot. Apalagi sesama
kita, makhluk yang lebih sempuma dari makhluk-makhluk lain. Lebih
sempuma dalam arti mangantarkan kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Dari
itu, seharusnya semua itu harus kita jadikan sebagai guru. Kita merasa
sebagai murid diantara kita sama kita. justru itu kita harus mentakzim
menghormat kepada guru kita. Terutama guru yang mengantarkan kepada
Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Terutama diantara kita sama kita. Dalam hati
sanubari harus kita terapkan!. Tapi para hadirin-hadirot, dalam bidang
lahiriyah kita harus dapat mengisi yan setepat-tepatnya sehingga bidang
lahiriyah ini .......ini diridloi Alloh SWT wa RosuuIihi SAW. Dan
sehigga tidak merugikan bidang batiniyah. Kita harus mengisi segala
bidang. Sekalipun ada “TAQDI MUL AHAM” mendahulukan yang lebih aham.
Tapi kita harus mengisi segaIa bidang. Ya maaf, sekalipun kita harus
mengikuti segala bidang, tapi harus mengutamakan yang lebih penting.
Yang lebih penting adalah Fafirruu Ilalloh wa Rosuulihi SAW !
Para hadirin-hadirot, di samping itu mari menengok, menengok kebelakang
para hadirin-hadirot. Menengok keluar para hadirin-hadirot. Bagaimana
keluarga yang kita tinggalkan di runiah masing-masing para
hadirin-hadirot?. Bagaimana pemilik kita, kenalan kita, masyarakat yang
kita tinggalkan!. Coba mari kita lihat para hadirin-hadirot!. Mari para
hadirin-hadirot!. Sampaikah para hadirin-hadirot?. Para
hadirin-hadirot!. Mari para hadirin-hadirot!. Ya mudah-mudahan acara
pagi ini benar-benar diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Membuahkan
manfaat dan membawa
Soal lahiriyah maupun batiniyah kok
tidak kita pergunakan untuk pengabdian diri, untuk LILLAH, pasti
dikemudian hari diminta pertanggung jawaban !. satu persatu, tidak ada
yang keliwatan !.
Lha ini kita masing-masing bagaimana para
hadirin-hadirot, mari kita koreksi !. pokoknya segala perbuatan kita
jika kita tidak sadari LILLAH BILLAH otomatis kita dijajah oleh
imperialis nafsu !. menjadi budaknya nafsu !. hamba nafsu jadinya !.
bukan hamba ALLOH SWT !. bagaimana para hadirin-hadirot ?.
Apabila orang tidak puas atau anti terhadap nafsu, selalu mengarahkan
dan menggunakan nafsunya untuk mengabdikan diri kepada ALLOH SWT. Untuk
pelaksanaan LILLAH, otomatis segala sesuatunya selalu mendapat ridlo
dari ALLOH SWT !. dia senantiasa menguntungkan kepada lainnya.
Senantiasa memberi manfaat kepada lain. Jika orang senantiasa anti pada
nafsu atau istilah yang popular senantiasa LILLAH BILLAH, segala
keadaannya senantiasa diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Sebaliknya
orang yang senantiasa LINNAFSI BINNAFSI, otomatis senantiasa dikecam
oleh Alloh SWT !. dan senantiasa merugikan kepada lainnya. Kelihatannya
menguntungkan kepada masyarakat, tapi sesungguhnya merugikan. Yang benar
sekali kelihatannya menguntungkan itu hanya buat kedok saja !.
lebih-lebih yang lahiriyahnya kelihatannya merugikan dan batiniyahnya
merugikan, itu jauh lebih besar merugikan !. itu tadi orang yang selalu
LINAFSI BINNAFSI
وَلَمَا كَانَ الرِّضَا عَنْ النَّفْسٍ شَأْنُ
مَنْ يَتَعَاطَى الْعُلُوْمَ الظَّاهِرِيَةِ الَّتِى لَا تَدْلٌّ عَلَى
عُيُوْبِ النَّفْسِ نَهَى الْمُصْنِفُ عَنْ صُحْبَتِهِمْ وَمُخَالَطَتِهِمْ
Ini pada umumnya orang-orang yang berkecimpung dalam
ilmiyah lahiriyah secara umum “keistimewaan”. Keistimewaan secara umum
disini disebutkan yaitu orang-orang yang berkecimpung dalam hanya
ilmiyah lahiriyah yang tidak hubungan dengan bagaimana ganasnya nafsu,
itu umumnya orang yang terlihat atau dijajah imperialis nafsu !..
dibuat
oleh Alloh SWT itu adalah justru untuk ... untuk supaya dimanfaatkan
oleh hamba-NYA! Dimanfaatkan, dijadikan kendaraan yang harus dinaiki
untuk ... untuk sowan menghadap kehadirat Alloh SWT ! untuk FAFIRRUU
ILALLOH WA ROSULIHI SAW ! Ini maksudnya Alloh Ta'ala mencipta nafsu di
dalam kita semua. Tapi jika “kendaraan” atau nafsu itu tadi tidak kita
gunakan sebagai kendaraan untuk sowan menghadap kehadirot Alloh SWT,
berarti menyalahgunakan ! Seperti halnya diantara kita umpamanya
dipinjami atau diberi sesuatu oleh orang lain lebih-lebih orang tua
kita, kok tidak laksanakan seperti yang dikehendaki oleh yang memberi
atau meminjami itu, ini berarti kita menyalahgunakan. Berarti kita
menyelewengkan dan korupsi terhadap apa-apa yang telah kita terima.
Begitu juga Alloh SWT memberi nafsu kepada kita, supaya kita pergunakan
untuk sowan menghadap kepada-NYA yang memberi nafsu itu ! sebab kalau
kita tidak punya nafsu, nafsu makan, misalnya, sekalipun terasa lapar
tidak makan. Ini berarti membinasakan pada fisik jasmani kita sendiri.
Kedua, lalu kita tidak bisa sowan sadar dan mengabdikan diri kepada-NYA
melalui nafsu makan itu. Artinya kita makan demi untuk pelaksanaan dari
LILLAH BILLAH. Kalau kita tidak. makan, otomatis kita tidak bisa LILLAH
BILLAH dalam bidang itu. Lha itu maksudnya, nafsu makan supaya kita
manfaatkan untuk sowan kepada Alloh SWT. Atau untuk LILLAH, kalau tidak
makan, kita tidak bisa melaksanakan LILLAH pengabdian diri melalui
saluran makan tadi.
Tapi begitu juga kalau kita makan tidak
diperuntukkan LILLAH, tidak kita arahkan untuk pengabdian diri, hanya
nuruti ajakan nafsu, itu berarti kita tidak LILLAH, dan berarti kita
menyalahgunakan !. otomatis kita harus bertanggung jawab kepada yang
memberi. Makan, tidak kita arahkan untuk LILLAH pengendalian diri,
lebih-lebih kalau berlebih-lebihan disamping tidak LILLAH tadi, kita mau
atau tidak mau pasti akan bertanggung jawab dihadapan ALLOH SWT. “Dulu
didunia saya beri nikmat makan,… kamu salah gunakan”. Dan seterusnya !.
itu baru soal makan. Begitu juga soal lain-lain, apa saja pokoknya yang
ada pada kita
kemajuan yang sebesar-besarnya. Amiin. Amiin. Amiin
Para hadirin-hadirot. Ya maaf saya juga ikut mengikuti sambutan dari
Pusat tadi. Mari, terutama saudara-saudara yang dekat, kalau ada
kesempatan mari memerlukan menghadiri pengajian mingguan ini, selain
sudah kita maklumi betapa pentingnya seperti tadi diutarakan. Kita sudah
memiliki, sudah mengecekkan apa yang diisikan dalam minggu pagi ini.
Para hadirin-hadirot, sekalipun sudah kita miliki, kita cakkan, tapi
sekalipun begitu para hadirin-hadirot otomatis ini banyak sekali
mendekatkan diri kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Sekalipun kita sudah
memiliki sudah menguasai, tapi kalau tidak, kalau mengikuti pengajian
mingguan terutama karena tidak ada takdimul aham fal aham, ini otomatis
ada kerugian yang tidak sedikit para hadirin-hadirot, oleh karena itu
para hadirin-hadirot terutama saudara-saudara yang dekat mari kita
perlukan melebihi dari yang sudah-sudah. Mari saudara-saudara keluarga
kita yang tidak atau yang belum mengikuti ini, dengan bijaksana kita
ajak, kita mohonkan semua itu mudah-mudahan barduyun-duyun Fafiruu
Ilalloh wa Rosuulihi SAW. Para hadirin-hadirot, terutama beliau-beliau
dari pusat, kiranya sekian saja saya mengisi acara. Dan, nuwun sewu,
hubungan acara ini khususnya, dan hubungan mingguan baik yang
sudah-sudah maupun yang akan datang saya mohon do’a restu yang
sebanyak-banyaknya. Di samping yaitu para hadin-hadirot, saya banyak
sekali mendapat keuntungan. Saya sekeluarga besar sekali mendapat
keuntungan sekalipun kemi hanya, “elok-elok bawang”. Hubungan ini para
hadirin-hadrot.
Saya hanya dapat menyampaikan : "JAZZA KUMULLOHU KHOIROOT WA SA’ADATID DUNYA WAL AKHIROH”. Amii.
Dan
para hadirin-hadirot, mari saling mengucapkan “selamat”. Selamat
berjuang Fafiruu Ilalloh wa Rosuulihi SAW. Lahir kita kembali ketempat
dan rumah kita masing-masing, tapi batiniyah kita fafirruu Ilalloh wa
Rosuulihi SAW. Lahiriyahnya kita menuju tempat istirahat, ketempat
masing-masing, tapi batiniyah kita menuju, menuju
yaitu
kemedan pertempuran “JIHAADUN NAFSI". Batiniyah kita harus membebaskan
diri dari nafsu yang sangat berat! Membebaskan keluarga, membebaskan
ummat dan masyarakat dari imprialis nafsu yang sangat ganas itu para
hadirin-hadirot. Para hadirin-hadirot, ya mudah-mudahan kita semua
senantiasa mendapat ridlo dari Allah SWT Rosuulihi SAW, barokah dan
tarbiyahnya Ghutsi Hadhaz-Zamami wa A'waanihi wa saairi abbaabillahi
Rodhiallohu Ta'ala ' anhum yang Robal Alamiin !. Mudah-mudahan
perjuangan kita Fafiruu Ilalloh wa Rosuulihi SAW, tidak lama lagi diberi
kemajuan yang luar biasa para hadirin-hadirot. Mudah-mudahan jamii’al
alamin berlomba-lomba berduyun-duyun Faffiruu Ilalloh wa Rosuulihi SAW.
Sekian dan terima kasih!.
Wassalaamu’alaikum, Wr. Wb!.
dan
lezat, tapi pada detik kemudian baru terasa rasa racun tadi. Sehingga
berakibat membinasakan!. Begitu juga keinginan nafsu. Sekalipun enak dan
kepenak, enak dan kepenak itu hanya dalam waktu yang sangat singkat
sekali! Kemudian pada detik-detik berikutnya haru terasa suatu racum
yang sangat berbahaya dan sangat membawa kerugian yang besar sekali !
Tak dapat dibayangkan betapa pedihnya ketika merasakan akibat dari pada
minum racun “keinginan nafsu” tadi !
“WA ASLU KULLI THOO’ATIN
'WA YAQODHOTIN WA IFFATIN ADAMUR RIDLO MINKA ‘ANHA”. Asalnya atau
sumber segala tho'at atau perbuatan-perbuatan yang diridloi Alloh SWT,
perbuatan-perbuatan yang megntungkan pada umat dan masyarakat, ini
sumbernya ialah “tidak nurut kepada nafsu”. Benci kepada nafsu. Nafsu
keinginannya menyalahgunakan. Korupsi dan sebagainya dan sebagainya !
Andai kata bangsa Indonesia sudah hebas dari imperialis nafsu, terutama
mereka-mereka yang berkompeten, …. otomatis seperti pepatah “Suwe mijet
wohing ranti” : lebih lama memijat buah ranti. Artinya masyarakat adil
makmur yang dicita-citakan bangsa Indonesia akan dapat terwujud lebih
cepat dari pada memijat buah ranti. Akan tetapi oleh karena bangsa
Indonesia sebagian besar. Terutama mereka-meraka yang berkompeten masih
dijajah oleh imperialis nafsu yang ganas, menjadi keadaannya seperti
yang kita alami sekarang ini. Dekadensi moral, penyelewengan, korupsi
dan penyalahgunaan makin menjadi-jadi tumbuh di berbagai banyak bidang.
Maka dari itu perlu sekali adanya koreksi yang terus menerus kepada
imperialis nafsu !. Kalau kita tidak selalu curiga dan waspada,
senantiasa mengarahkan, otomatis kita terjebak oleh nafsu !. Kita
terjerumus oleh bujukan nafsu !. Ini tidak berarti kita harus
meninggalkan atau menentang sama sekali kepada nafsu, tapi...
“Mengarahkan”. Mengarahkan dan menertibkan nafsu-nafsu itu, sehingga
tidak berlarut-larut, sehingga tidak berlebih-lebihan ! sekali lagi
mengarahkan !. Mengarahkan. Nafsu
syahwat nafsunya
yang hubungan dengan makan-minum, sex, dan sebagainya soal materi sumber
dari segalanya itu semua adalah ridlo atau puas atau cinta kepada nafsu
! Tekuk lutut dikuasai nafsu ! LINNAFSI BINNAFSI kebalikan dari pada
itu
{أُصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقْظَةٍ وَعِفَةٍ عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا }
Sumbernya
segala tho'at, tho'at melaksanakan perintah Alloh SWT dengan ikhlas dan
menjauhi larangan-larangan dari Alloh Ta’ala, dan sadar kepada-NYA, dan
menjauhkan diri dari nafsu atau segala yang bersangkutan dengan nafsu.
Baik langsung maupun tidak langsung, itu semua dapatnya dilaksanakan,
sumbernya adalah tidak puasa kepada nafsu ! Anti pada nafsu ! Barang
siapa anti pada sesuatu otomatis memandang pada sesuatu itu selalu
jelek. Dan oleh karenanya sama sekali tidak terpengaruh ! tidak merasa
puas terhadap apa yang dia anti. Itu nafsu.
Setengah dari pada
kesenangan nafsu ialah, “aras-arasen”, malas, jemu dan sebagainya.
Diajak Mujahadah terasa berat, ini jelas kena pengaruh nafsu. Kena
belenggunya nafsu. Banyak lagi kesenangan-kesenangan nafsu. Antara lain
lagi, ingin selalu enak dan kepenak!. tidak mau kangelan. Pokoknya
kesenangan nafsu itu seperti di surga itu. Serba ada. Serba “kun
fayakun”. Serba mengkilat, serba menggiurkan, serba memencutkan.
Pokoknya seperti di sorga itulah yang menjadi keringinan nafsu. Mana
bisa hadirin-hadirot, didunia kok ingin disurga. Itu tidak mungkin,
dunia kok mau dijadikan surga. Itu namanya menyalahgunakan ! kalau
menyalahgunakan itu nanti surganya adalah “Jahanam”.
Dus, orang
kok nutut pada nafsunya, sekalipun kelihatannya enak dan kepenak,
menguntungkan dan membahagiakan, tapi nanti akibatnya. ...,jauh lebih
sengsara dan lebih hina seperti halnya racun yang dibungkus madu atau
minuman lezat tapi sesunggubnya racun ! Ya betul, pada waktu makan atau
minum yang hanya singkat sekali itu seolah-olah enak
AL HIKAM I Hal. 24
ِبسْمِ اللهِ الرَّحمْنَ ِالرَّحِيْمِ
لاَتَسْتَغْرِبْ وُقُوْعَ الاَكْدَارِ مَا دُمْتَ فىِ هَذِهِ الدَّارِ
Diperingatkan oleh Mushonnef, jangan sampai menganggap ganjil atau
janggal terhadap adanya kekeruhan selagi kita masih berada di dunia yang
fanak ini. jadi selama kita masih ada di dunia ini pasti menemui
kekeruhan-kekeruhan sedikit atau banyak, kekeruhan soal moril atau soal
materiil, secara langsung atau tidak langsung.
فَإِنَّهَا ماَ اَبْرَزَتْ إِلاَماَهُوَ مُسْتَحِقٌ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا
Sebab, ya memang kekeruhan itu merupakan pembawaan dari dunia. Hidup di
dunia ya kekeruhan itu. Orang hidup di dunia kok tidak mau mengalami
keruh, itu tidak mungkin terjadi!. Setengah dari pada hikmahnya dunia
dibuat begitu keruh oleh Alloh SWT nanti diterangkan.
وَمِنْ
كَلاَمِ جَعْفَرِ الصِّادِقِ رَضِى اللهُ عَنْهُ :مَنْ طَلَبَ مَا لَمْ
يُخْلَقْ اَتْعَبَ نَفْسَهُ وَلَمْ يُرْزَقْ قِيْلَ لَهُ وَمَا ذَاكَ
:قَالَ الرَّاحَةُ فِى الدُّنْيَا
Dawuhnya Sayyidinaa Ja'far
Shodiq beliau juga dhurriyyah Sayyidinaa Ali “barang siapa mencari
barang yang tidak diciptakan, tidak dibuat oleh Alloh SWT, itu hanya
menyusahkan membuat dirinya capai dan tidak akan berhasil “Syekh Jafar
Shodiq ditanya apa itu barang yang tidak diciptakan Alloh ?. jawabnya :
“Ar-rohah fid-dunya”. Ingin enak dan kepenak di dunia.
Jadi
orang hidup di dunia, kok! hanya ingin enak dan kepenak saja, itu tidak
mungkin. Mustahil dan usaha barang yang mustahil, tuwas (Cuma)
buang-buang waktu dan tenaga percuma, tanpa guna tanpa hasil!
فَيَنْغَىِِ
لِلْمُرِيْدِ الصَّادِقِ اَنْ يَلْتَفِتَ لِذَالِكَ وَيَجِدُ فِى
السَّيْرِ حَتَى تَطْلُعَ عَلَيْهِ شَمْسُ العَرِفَةِ فَيَنْمَحِى عَنْهُ
وُجُوْدُ الاَغْيَارِ وَتَزُوْلُ عَنْهُ اْلاَكْدَارُ بِمُشَاهَدَةِ
العَزِيْزِ الْغَفَّارِ
Kalau begitu, seharusnya kita tidak
boleh hanya memperhatikan ingin enak dan kepenak saja di dunia, tapi
harus terus jalan! jalan terus melalui kekeruhan-kekeruhan hidup,
melalui liku-liku suka dan duka, melalui bermacam-macam rintangan dan
kesulitan, jalan terus maju FAFIRUU ILALLOH WA ROSUULIHI SAW ! Kalau
kita sudah dapat sowan kehadapan Alloh SWT wa Rosuulihi SAW....
“fayunmakaa ‘anhu wujuudul aghyaari”. Apabila kita sudah berada
dihadrotulloh, disana akan lenyap kebutekan-kebutekan, akan menjadi
hilang kekeruhan-kekeruhan, berganti dengan suasana ceriang-cemerlang
dengan memperoleh sinar cahaya “matahari ma’rifah kesadaran”. Adanya
kita senantiasa dalam suasana syuuhud, sowan dihadapan Alloh SWT, Alloh
Maha Luhur Maha Ghofar Maha Pengampun dosa-dosa. Apabila kita sudah
senantiasa berada di hadapan Alloh SWT, hilanglah semua
kekeruhan-kekeruhan dan kesulitan-kesulitan dalam hidup didunia ini.
Mengapa tidak?. Karena dia orang yang senantiasa dihadapan Alloh SWT itu
senantiasa merasa puas, senantiasa ridlo kepada Alloh SWT. Dia sebagai
hamba, dan Alloh adalah Tuhannya. Segala sesuatu yang dibuat oleh
Tuhannya terhadap hamba-Nya, jika dia orang adalah hamba yang
sungguh-sungguh, otomatis senantiasa puas, senantiasa gembira diperbuat
apa saja. Bahkan dirugikan sekalipun. Justru yang memperbuat itu
Tuhannya yang rohman-rohim, dia senantiasa ridlo dan puas.
Tapi
kalau orang belum bisa sowan dihadapan Alloh SWT, sekalipun disisinya
serba ada serba otomatis serba, serba berlimpah-limpah, serba...
serba.., serba tapi justru
mengajak kepada kejelekan, kerugian dam kenegatifan".
Sekalipun wujudnya baik, tapi sesungguhnya hanya buat kedok saja. Buat
kedok terhadap barang yang tidak baik yang tersembunyi dibelakang
perkara baik yang menjadi kedok itu.
Kalau orang dikuasai oleh
nafsu, sekalipun dia wujudnya beribadah, ... itu hanya buat topeng saja !
ada maksad-waksud lain yang tersembunyi. Ingin supaya dihormat, atan
tidak dikecam, supaya dipuji, .... Otomatis ada rasa begitu dibalik dia
beribadah.
Para hadirin-hadirot, mari kita koreksi Nabi Yusuf
‘alaihis salam, beliau seorang Nabi yang maksum, dijaga oleh Alloh walau
dari maksiat. Sungguhpun begitu, beliau tidak segan-segan, tidak
bosan-bosan mencurigai nafsunya yang senantiasa mengajak, kepada
keburukan. Lalu kita masing-masing bagaimana apakah kita senantiasa
waspada kepada nafsu kita masing-masingkah atau bagaimana Seharusnya
selalu waspada ! Selalu kontrol ! waspada setiap saat, setiap gerak dan
laku yang kita perbuat ! Kalau kita tidak waspada, otomatis pada saat
tidak waspada itupun kita dikuasai oleh nafsu !. Pada saat-saat kita
tidak mencurigai mau, otomatis disaat yang begitu itu, dia tertipu oleh
nafsu.
Atau, istilah Wahidiyah, apakah kita sudah senantiasa
LILLAH BILLAH kalau kita tidak LILLAH BILLAH berarti dia tidak curiga
kepada nafsu. Dan kalau tidak curiga otomatis diterkam dikuasai oleh
nafsu, dan kita tidak merasa !. Menjadi hamba nafsu ! Linnafsi-binnafsi !
Otomatis.
Itu tadi perlunya adanya koreksi dan perlu sekali
adanya perbaikan !. Kalau kita lemah dan tidak ada semangat untuk itu
berarti kita dijajah oleh imperialisme nafsu pada saat kita tidak LILLAH
BILLAH, otomatis kita linafsi-binnafsi !.
Dus kembali lagi,
“ASLU KULLI MAKSIYATIN WA GHOFLATIN WA SYAHWATIN AR-RIDLO 'ANIN-NAFSI”.
Sumber segala maksiat dan lupa kepada Alloh SWT, tidak sadar kepada
Alloh SWT, ... dan ... menuruti
yang sadar kepada Alloh
Ta’ala, wa “arbaabil-quluub” orang orang yang hatinya bersih bercahaya.
Alasannya disini disebutkan : sebab, jika orang menyerah kepada nafsu,
atau cinta kepada nafsu, otomatis menyebabkan tertutupnya negatifnya
nafsu. Otomatis, lalu memandang nafsu atau segala yang bersangkutan
dengan nafsu itu baik semua. Ini otomatis, orang kalau cinta tidak
kelihatan olehnya keburukan-keburukan dari yang dicintai. Segala
sesuatunya menurut perkiraannya baik semua. Sekalipun buruk, tapi karena
dia cinta pandangannya tetap baik.
وَعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلَيْلَةٍ , كَمَا أَنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِى الْمَسَاوِى
Kalau orang senang atau ridlo, sekalipun yang disenangi atau diridloi
itu salah atau tidak baik tetap di anggap baik. Keburukan-keburukan
tertutup oleh adanya rasa seneng atau ridlo itu tadi. Sebaliknya jika
orang tidak seneng, tidak menyukai sesuatu, anti atau geting, sekalipun
soal benar atau baik, ya tetap dianggap salah atau tidak baik,
lebib-lebih yang sungguh buruk.
Maka orang yang selalu nuruti
keinginan nafsunya, dia tidak melihat adanya keburukan-keburukan dan
kekurangan-kekurangan pada dirinya sendiri. Yang diketahui hanya
kebaikan dan kebenaran yang ada pada dirinya. Malah yang sesungguhnya
burukpun dipandangannya baik dan benar.
Sebaliknya kalau orang
tidak terpengaruh oleh nafsunya tidak di jajah oleh nafsunya, artinya
tidak senantiasa menuruti hawa nafsunya, dengan sendirinya senantiasa
curiga kepada nafsunya. Seperti kata Nabi Yusuf 'alaihissalam :
وَمَا اُبْرِّئُ نَفْسِى اِنَّ النَّفْسَ َلأَمَارَةٌ بِاسُوْءٍ {يوسف}
"Saya tidak memberi kebebasan kepada nafsuku saya tidak segan-segan
selalu mencurigai kepada nafsuku. Oleh karena nafsu itu selalu
makin
banyak serba-serbi, ini itunya, justru makin banyak mendatangkan
kekeruhan-kekeruhan! justru makin keruh! Mengapa tidak?. Karena orang
makin banyak hartanya, makin banyak dunianya, makin pusinglah dia
memikirkan agar hartanya terus bertambah-tambah lagi, agar hartanya aman
dan selamat dari gangguan-gangguan, agar usahanya makin lancar. Dia
memikirkan bagaimana agar pegawai-pegawai dan para pembantunya tidak
menyalah gunakan tidak menyeleweng. Dia di samping itu semua otomatis
senantiasa menginginkan keadaan yang lebih tinggi lagi Ngongso-ongso.
Ingin memiliki apa-apa yang lebih atas dari apa yang sudah dimiliki
sekarang, itu pasti. Meributkan pikirannya! Pokoknya makin banyak
dunianya makin repot. Lahiriyah maupun batiniyah! Banyak lamunan-lamunan
yang justru membikin makin repot makin keruhnya dirinya sendiri!.
Tapi para hadirin-hadirot kalau orang sudah senantiasa sowan
dihadrotulloh senantiasa sadar kepada Alloh wa Rosuulihi SAW otomatis
segala kekeruhan-kekeruhan itu hilang dengan izin Alloh. Otomatis kalau
dia diberi oleh Alloh SWT.... dia merasa puas sekali. Puas, bukan karena
memperoleh peparing pemberian Alloh itu, tapi puas karena dia diberi
oleh Tuhannya yang senantiasa dia rindukan.Tuhannya yang senantiasa
kasih sayang kepada hamba-Nya. Kalau dia melakukan sesuatu perbuatan
atau mengalami keadaan-keadaan yang dia tidak inginkan, kalau dia dicoba
menghadapi keadaan-keadaan yang tidak dia inginkan ... dia tetap,
gembira sebab yang mencoba yang menguji adalah Tuhannya. Tuhannya yang
selalu dia cintai. Otomatis senantiasa... senantiasa ayem tentrem. Tidak
ada sama sekali yang ditakuti dan yang dikawatirkan. Sebab dia selalu
menyadar dan gembira bahwa semuanya di tangan Tuhan.
Para hadirin-hadirot, kita masing-masing di mana tempat kita ini. Mari kita koreksi!
وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنَا....ال عمران : ٩٧
(Barang
siapa yang mau masuk ke maqom Ibrohim, “maqom Ibrohim” yang
sesungguhnya bukan maqom yang ada didekat Ka’bah itu, tetapi yang
sesungguhnya adalah dihadirot nahi wa robbi. Yah, tempat yang di dekat
Ka’bah itu adalah suatu gambaran atau suatu tanda. Tapi maqom yang
sesungguhnya adalah maqom khillah “maqom kekasih”. Barang siapa yang mau
ikut masuk di maqom kekasih, kekasih Tuhan,..”kaana aanlinan” dia.
pasti aman).
Pasti aman. Mengapa tidak? karena, dia dikasih
disayang oleh Alloh SWT. Dan segala sesuatu dari Alloh SWT. Baik itu
aman atau tidak aman adalah ditangan Alloh SWT.
Para
hadirin-hadirot! Kita akhir-akhir ini, terutama soal ekonomi, soal ini
soal itu, makin banyak yang membutkan batiniyah maupun lahiriyah. Para
hadirin-hadirot, ya begini inilah dunia!. Dunia! Kalau kita tidak ingin
kalang kabut, kita harus cepet-cepat FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULULLOOH
SAW ! Sowan dihadapan Alloh SWT. Sekalipun oleh orang lain lahiriyah
kita dipandang jungkir balik, saking repotnya, tapi kalau kita mau sowan
senantiasa kehadirat Alloh SWT, pasti kita akan ayem tentrem aman,
dunia dan akhirot. Ya mudah-mudahan para hadirin-hadirot dibidang doa
kita diridloi Alloh SWT. Amiin!.
Para hadirin-hadirot! Orang di
dunia yang masih senantiasa terpengaruh oleh keruhnya dunia, yang sudah
begitu sambat-sambat dan sudah tidak mampu menahan deritanya, tapi kalau
dia tidak mau cepat-cepat mengungsi ketempat yang aman, yaitu
“hadrotulloh” para hadirin-hadirot, lebih-lebih kalau sudah didatangi
Malaikat Izroil, jauh lebih keruh, para hadirin-hadirot. Oleh karena itu
mari kita cepat-cepat sowan dihadapan Alloh SWT, kita mengikuti masuk
ke dalam “maqomnya Nabi Ibrohim” yaitu “maqom kekasih Alloh wa
rosuulullooh saw”.
.
AL - HIKAM Hal 31
ِبسْمِ اللهِ الرَّحمْنَ ِالرَّحِيْمِ
{أُصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ}
Asal atau sumbernya segala maksiat, tidak mau menjalankan perintah dari
Alloh SWT dan tidak mau menjauhi apa-apa yang dilarang Alloh, ... “WA
GHOFLATIN WA SAHWATIN” .., dan sumbernya lupa kepada Alloh, tidak sadar
kepada Alloh Ta’ala, dan sumber segala syahwat nafsaniyah, keinginan
nafsu, yaitu “ridlo kepada nafsu”. Tunduk kepada nafsu.
Nafsu,
seperti sering kita bahas kita dengar kita maklumi, yaitu “NAFSU
AMMAAROH”, keinginan yang mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang
dikecam oleh Alloh SWT, dan merugikan kepada masyarakat. Ada lagi “NAFSU
BAHIMIYAH” nafsu rojokoyo. Perhatiannya hanya makan, minum, dan sex
dan. lagi “NAFSU SYATHONIYAH” nafsu syetan, yaitu nafsu yang kesukaannya
selalu ingin menggelincirkan atau merugikan orang lain. Kemudian “NAFSU
SABU’IYAH” nafsu yang keinginannya menerkam, menjatuhkan menjungkirkan
orang lain. Menghancurkan orang lain atau menerkam orang lain. Kemudian
lagi “NAFSU RUBUBIYAH” atau “ANANIYAH” Nafsu ke-Tuhanan, Nafsu ke-akuan
atau egoistis. Keinginannya hanya ingin supaya dihormat, diatas orang
lain, ... dan sebagainya. Itu tadi semua nafsu-nafsu yang terkecam, dan
sumbernya segala maksiat, tidak sadar kepada Alloh Ta`ala, tidak taat
setia kepada Alloh Ta'ala, adalah. tunduk bertekuk lutut kepada
nafsunya. Selalu nuruti keinginan-keinginan dari pada nafsu-nafsu
tersebut diatas.
Itu tadi menurut pendirian secara ijmak dari para Arifin, orang-orang
lain daerah. Adapun lain daerah yang sekarang tidak ada asramanya, mari kita terus berjuang farirruu Ilallohi wa Rosuulilhi SAW.
Kita semua diparingi mampu. Baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pokoknya kemampuan kita mari kita kerahkan sebanyak-banyaknya untuk
yang semestinya ! Adapun diluar kemampuan, “LAA YUKALLIFU ALLOHU ILLA
WUS’AHAA”. Alloh tidak menyuruh melainkan menurut kemampuan. Terutama
kemampuan batiniyah, luas sekali kemampuan kita para hadirin-hadirot!.
Mari para hadirin-hadirot, Kabupaten-kabupaten yang mengadakan asrama
itu kita mohonkan dari kejauhan dengan sungguh -sungguh !. Mudah-mudahan
kesemuanya itu diberi kemajuan yang sebanyak-banyaknya !. tadi
diutarakan, yaitu hubungan perjuangan, pemeliharaan dan pembinaan
masalah yang penting sekali. Mari kita sadari, banyak soal-soal yang
merugikan juga soal-soal itu sendiri. Suatu bangsa misalnya, bisa hancur
ya karena bangsa itu sendiri. Suatu golongan hancurnya juga dari
golongan itu sendiri para hadirin hadirot ! Mari, ... perjuangan
Fafirruu Ilallohi wa Rosulihi SAW ini bagaimana nasibnya para hadirin
hadirot ?. Mari kita koreksi sebagai pengamal Wahidiyah apakah hanya
lahirnya saja, sedang batinnya adalah “pengkhianat” Wahidiyah, para
hadirin-hadirot mari kita koreksi, apakah kita sungguh-sungguh pejuang
Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW ! ataukah sesungguhnya pengkhianat
yang merugikan sekali pada perjuangan para hadirin-hadirot !...
Mari pada kesempatan ini sungguh-sungguh kita berdepe-depe merintih kepada Alloh wa Rosuulihi SAW !....
AL FAATIHAH………..!.
AL FAATIHAH………..!.
AL FAATIHAH………..!.
( MUJAHADAH ! )
{مَاتَوَقِّفَ مَطْلُبُ اَنْتَ طَالِبُهُ بِرَبِكَ وَلاَتَيَّسَرَ مَطْلُبُ اَنْتَ طَالِبُهُ بِنَفْسِكَ }
(Tidak
akan menemui jalan buntu, tidak akan menemui hambatan lebih-lebih
kagagalan seseorang yang memperjuangkan apa yang dia perjuangkan, selama
dia didalam memperjuangkan atau mengusahakan senantiasa FAFIRUU ILALLOH
WA ROSUULIHI SAW. Senantiasa berdepe-depe senantiasa memohon kepada
Alloh SWT. Sebaliknya 'WALAA TAYA SARO MATLABUN ANTA THOOLI-BUHU
BINAFSIKA" dan tidak akan lancar, senantiasa menemui jalan buntu atau
kegagalan apabila di dalam usaha atau berjuang apa yang diperjuangkan
itu hanya mengandalkan kemampuan dan kekuatannya sendiri tanpa
menyerahkan dan memohon pertolongan kepada Tuhannya.
Orang yang
memperjuangkan mengusahakan apa saja yang diperjuangkan, selama dia
senantiasa “tawakal” senantiasa menyerah bongkokan kepada Alloh SWT,
pasti akan lancar usahanya dan tidak akan menemui jalan buntu!.
Sekalipun misalnya dalam segi lahiriyah kelihatan dianya buntu tidak
berhasil, tapi justru itu para hadirin-hadirot, justru itulah yang
paling menguntungkan bagi dia. Sekalipun dalam lahiriyahnya buntu, rugi,
kandas ditengah jalan, tapi justru inilah yang paling menguntungkan
bagi dirinya indallohi dan fit yaumil qiyaamah terutama! tapi
sebaliknya, berjuang atau usaha apa saja kok hanya mengandalkan
membanggakan kemampuannya, tidak akan menemui jalan yang lancar,
senantiasa buntu senantiasa kandas ditengah jalan. sekalipun kesehatan
pada lahirnya lancar dan berhasil apa yang di usahakan yang ia
perjuangkan, sukses, tapi justru sukses dan lancamya ini menjerumuskan
membahayakan pada dirinya!. terutama diyaumil qiyaamah nanti!
Para hadirin-hadirot, nuwun sewu, soal itu jelas sudah dan tegas! Dan kita mampu memilih satu diantara dua ini! itu mampu!
Tinggal
kita pilih yang mana!. Dan kita tahu, milih yang ini buahnya begini,
milih yang itu begitu. Itu kita tahu. Sekarang silahkan kita
masing-masing!. Mari kita hadirin-hadirot!. Tapi para hadirin-hadirot
terutama kita sebagai ummat manusia yang berakal, pasti inilah yang
menguntungkan yang menyelamatkan membahagiakan dunia dan akhirot!
Otomatis! Mari para hadirin¬-hadirot, kita usaha sekuat mungkin! Kita
tidak bisa dan tidak mau tidak bisa terhindar dari salah satu kedua soal
tersebut. Kalau tidak ditempat yang selamat dan bahagia pasti ditempat
satunya lagi, yaitu sengsara dan celaka dunia akhirot! Kita tidak bisa
menyelamatkan diri dari kedua-duanya!. Kita pasti harus menempuh salah
satu dari dua hal tersebut. Mari para hadirin-hadirot, barang yang sudah
pasti yang tidak bisa kita tolak harus kita laksanakan! Kita pilih yang
paling menguntungkan pada diri kita sendiri yang paling bermanfaat yang
paling diridloi Allah SWT wa Rosuulihi SAW. Mudah-mudahan kita
senantiasa dijangkung oleh Allah SWT wa Rosuulihi SAW. Para
hadirin-hadirot!
فَمَنْ اَنْزَلَ حَوَآئِجَهُ بِاللهِ
وَالتَجَأَ اِلَيْهِ وَتَوَكِلَّ فِى أَمْرِهِ كُلِّهِ عَلَيْهِ كَفَاهُ
كُلِّ مُؤْنَةٍ وَقَرِبَ عَلَيْهِ كُلَّ بَعِيْدٍ وَيَسَّرَلَهُ كُلِّ
عَسِيْرٍ
(Maka barang siapa mendasarkan bermacam-macam hajatnya
BILLAH kepada Allah dan senantiasa berdepe-depe mengharap rohmat
karunia-Nya dan dengan tawakal menyerah bongkokan kepada Allah SWT
segala persoalannya, pastilah Allah mendatangkan ketenangan dan
ketentraman, mendekatkan apa-apa yang jauh dan memudahkan apa-apa yang
sukar).
Ini sedikit kupasan dari “matan” tadi. Barang siapa
dalam berjuang atau usaha baik pejuangan secara umum atau perorangan,
dia di samping menggunakan kemampuan lahiriyahnya, di samping
menggunakan perhitungan lahiriyahnya dia senantiasa menyerah bongkokan
kepada Allah SWT. Senantiasa memohon merintih kepada Allah SWT.
Senantiasa berdepe-depe kepada Allah SWT, pasti otomatis dijangkung oleh
Allah SWT, sehingga di dalam usaha atau berjuang tadi mengalami lancar
sedikit
tenaga pikiran dan biaya yang kita diperlukan untuk pembinaan-pembinaan
tersebut !. Tapi kalau tidak kita perhatikan, kemungkinan besar kita
akan mengalami kegagalan dan kenegatifan !. Malah, kemungkinan sekali
balikan pasti, bangunan LILLAH BILLAH dan lain-lain yang telah diberikan
kepada kita itu jika tidak dipelihara dan dibina, akhirnya akan
mangkrok menjadi “besi tua” istilah bangunan dari besi akan menjadi
“sangar” dan “anker” ibarat bangunan gedung yang tidak dihuni dan tidak
dipelihara.
Sering kita menerima dawuh-dawuh dari hadrotul
Mukarrom Romo Yahi, jangankan kita tidak harus membangun, sedangkan Nabi
Yusuf 'alaihis salam tidak henti-hentinya membangun dengan pernyataanya
:
{ وَمَا اُبْرِّئُ نَفْسِى اِنَّ النَّفْسَ َلأَمَارَةٌ بِاسُوْءٍ }
Soal pembinaan sangat diperhatikan oleh Badan Pembina Wahidiyyah Pusat.
Jangan-jangan para pengamal Wahidiyyah setelah didalam kewahidiyahan
merasa bebas dari pada nafsu ! Ini jangan sampai !. Semoga segala
kegiatan Asrama Wahidiyah tersebut dan mujahadah-mujahadah di
daerah-daerah selalu diterima di jangkung oleh beliau Ghousi Hadhaz
Zaman Ra memperoleh Syafa'at Tarbiyah Rosuulullohi SAW, dipanggil oleh
Alloh SWT dengan panggilan mardiyata.
Sekian, dan………..Selamat berjuang FAFIRRUU ILALLOOH WA ROSULIHI SAW
Wassalaamu 'alaikum, Wr, Wb.
KEMBALI FATWA/AMANAT ROMO YAHI
Mari para hadirin-hadirot kita perhatikan apa-apa yang telah
disampaikan oleh Pusat. Terutama mengenal soal Mujahadah-mujahadah. Dari
kabupaten Kediri yang kalau tidak salah nanti tempatnya disini, mari
kita manfaatkan yang sungguh-sungguh kesempatan yang baik ini. Begitu
juga saudara-saudara dari luar daerah yang tadi diutarakan seperti
Jombang, di Malang, dan mungkin dilain-
Wahidiyah yang berdekatan
dengan pusat sini. Hubungan ini dianjurkan kepada saudara-saudara yang
berminat terutama saudara-saudara se-Pengamal Wahidiyah daerah Kodya dan
Kabupaten Kediri mengikuti Asrama Pembinaan dan Peningkatan tersebut !.
Terutama bagi para Pimpinan Jaman dan Panitia-panitia Penyiar dan
Sponsor-sponsor Wahidiyyah!.
Bagi para hadirin-hadirot yang
bukan dari Daerah Kediri juga dimohon bantuannya moril atau materiil,
terutama dimohon do'a restunya bagi suksesnya Asrama Wahidiyyah Daerah
Kabupaten/Kodya Kediri tersebut, dan umumnya semua Asrama-asrama
Wahidiyah yang diadakan di daerah-daerah, semoga benar-henar diridloi
Alloh wa Rosuulihi SAW dan membuahkan manfaat yang sebesar-besarnya
fid-dini wad-dunya wal akhiroh, terutama bagi perjuangan Farirruu
Ilallohi wa Rosuulihi SAW ! Sehingga dalam waktu yang tidak lama lagi
ummat dan masyarakat termasuk dalam panggilan : “YAA
AYYATUHAN-NAFSUL-MUTHMAINNAH IRJI’III ILAROBBIKI RODLIYATAN
MARDLIYYAH”... Amiin !!!
Untuk Daerah Jombang Insya Alloh akan
dimulai besok malam. Sedang sekarang yang sedang berlangsung Asrama
Peningkatan dan Peningkatan yaitu Daerah Kabupaten dan Kota Madya Malang
bertempat di Desa Sading Kec. Bululawang Malang. Juga mohon do’a restu
dan dukungan dari hadirin-hadirot, khususnya mohon do’a restu dari
hadrotul Mukarrom Romo Yahi ! dan mudah-mudahan adanya Asrama-asrama
Wahidiyyah tersebut termasuk di antara kegiatan kita dalam melaksanakan
dawuh-dawuh yang kita dengar yaitu “TAKHOLLI”. Sehingga dengan sebab
asrama itu dapat membongkar soal-soal negatif yang ada di dalam hati
kita, dan membangun hal-hal yang diridloi Alloh wa Rosulihi SAW !.
Amiin!.
Para hadirin-hadirot !. Ya, sekalipun didalam
membangun itu sudah suatu kerepotan, namun dalam pembinaan juga
termasuk hal yang harus kita perhatikan !. dan kita juga harus berani
rekoso dan kangelan. Tidak
dan gampang, sukses,
bermanfaat. Sekalipun pada suatu ketika menemui macet atau buntu, tapi
justru ini yang paling manfaat bagi dia! Terutama buat besok pada yaumil
qiyaamah!. Tapi sebaliknya para hadirin-hadirot, orang yang nomor dua,
yaitu orang yang hanya mengandalkan perhitungannya, mengandalkan
kernampuannya, fikirannya dan keahliannya, itu sama sekali kosong sama
sekali. Ya cuma Hubungan dia dengan Allah SWT yang sesungguhnya dia
senantiasa membutuhkan sekali dari Allah SWT. Tapi oleh dia diputusi
sendiri!. Otomatis yang nomor dua ini seialu mengalami buntu dan gagal
total. Sekalipun pada suatu ketika atau senantiasa sukses dan lancar,
tapi suksesnya itu sesungguhnya mengakibatkan kerugian besar bagi
dirinya, terutama pada yaumil qiyaamah para hadirin-hadirot!. Kita
tinggal pilih yang mana terserah!. Tapi otomatis akal yang sehat yang
normal tentulah memilih yang kesatu tadi, yaitu jalan yang menyelamatkan
dan membahagiakan dirinya dunia dan akhirot. Tapi para hadirin-hadirot
kalau kita selalu ngglonjom jauh dari apa yang semestinya, kita sendiri
yang mengalami kerugian para hadirin-hadirot. Disamping keluarga dan
orang lain yang tidak tahu menahu persoalannya ikut juga merasakan pahit
getirnya, kita sendiri terutama yang merasakan para hadirin-hadirot!
..Oleh karena itu mari para hadirin-hadirot, sesudah kita mengoreksi
kepada diri kita masing-masing dalam, segala bidang, mari mana-mana yang
belum tepat mari kita usahakan tepat. Mana-mana yang sudah tepat mari
kita pelihara kita jaga, dan kita usahakan kesempurnaannya dan
peningkatannya. Kita hidup didunia hanya sekali ini dan hanya sekejap
saja kalau dibanding dengan hidup di akhirot nanti. Kalau sudah
terlanjur pindah kealam akhirot, kalau sudah didatangi “izroil”, kita
tidak bisa kembali lagi para hadirin-hadirot!.
Kalau kita
meleset, ya terus meleset terus!, kalau waktu itu kita sampai kejegur
dan sampai ketungko datangnya Izroil ... maka kita akan terus terjerumus
para hadirin-hadirot.
Oleh karena itu mari para hadirin-hadirot kita menaruh perhatian
yang
sungguh-sungguh. Malaikat Izroil datangnya tidak ada pemberitahuan
sebelumnya. Segar bugar tahu-tahu mati, banyak. Lebih-lebih ketika sakit
masih kanak-kanak masih banyak juga yang mati. Lebih-lebih yang sudah
tua. Mari para hadirin-hadirot, kalau sudah terlanjur loncat dari dunia
tidak bisa kembali lagi. Coba, apakah saudara pernah mendengar dijaman
ini, di barat atau di timur, di Rusia atau di Amerika atau di mana saja,
orang yang mati bisa hidup lagi para hadirin-hadirot. Mulai Nabi Adam
‘alaihissalam sampai besok hari kiamat tidak ada orang mati hidup
kembali. Kecuali sementara itu ketika zaman Nabi Isa ‘alaihissalam
menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal. Untung sekali dia orang
itu sebab ketika matinya dia mati dalam keadaan kafir tidak sadar
kepada Alloh SWT. Untung mendapat kesempatan dihidupkan kembali oleh
Nabi Isa ‘alaihissalam kemudian ia bertaubat. Tapi inipun tidak lama
para hadirin-hadirot, beberapa hari kemudian dia mati lagi. Tapi untung
sudah dalam keadaan diampuni dosa-dosanya oleh Alloh SWT. Tapi para
hadirin-hadirot sejagad ini, ya hanya satu itu, yang bisa hidup sesudah
mati lantaran dihidupkan oleh Nabi Isa ‘alaihissalam. Setelah dia mati
yang pertama itu para hadirin-hadirot dia mengalami betapa beratnya
disiksa di alam kubur para hadirin-hadirot. Untung sekali dia dihidupkan
oleh Nabi Isa ‘alaihissalam, dan kemudian segala kemampuannya digunakan
dengan sungguh-sungguh untuk Fafiruu Ilalloh wa Rosuulihi SAW.
Hanya satu itu para hadirin-hadirot!, kalau kita tidak sungguh-sungguh
karena ragu-ragu, karena kita tidak konsekwen dengan keyakinan kita,
percaya tapi tidak konsekwen itu berarti ragu-ragu. Nanti kalau sudah
pindah ke alam akhirot, kita tidak bisa kembali lagi ke dunia para
hadirin-hadirot. Oleh karena itu mari para hadirin-hadirot. Ya
mudah-mudahan pengajian pagi hari ini benar-benar diridloi oleh Alloh
SWT wa Rosuulihi SAW, membuahkan kemajuan yang sepesat-pesatnya yang
sesempurna-sempurnanya untuk fafirruu ilallohi wa rosuulihi saw. amiin.
Dan selanjutnya soal waktu dan tempat dipersilahkan kepada beliau dari Pusat.
tidak bisa diundur lagi sekalipun setengah detik, para hadirin-hadirot !..
Mari para hadirin-hadirot !. Ya mudah-mudahan pengajian pagi ini
benar-benar mendapat fadlol dari Alloh SWT yang sebanyak-banykanya !
Dari, Rosuulillahi SAW yang sebanyak-banyaknya, dari Ghousi
Hadhaz-Zamani Ra yang sebanyak-banyaknya, dari ... seluruh Kekasih Alloh
ta’ala yang sebanyak-banyaknya ! Amiin ! Amiin ! Amiin ! Yaa Robbal
Alammin !
Ya maaf, mohon maaf yang sebanyak-banyak ! Dan kiranya
cukup sekian dulu pengajian Minggu pagi ini, selanjutnya soal waktu dan
tempat dipersilahkan kepada beliau dari pusat !.
SAMBUTAN DARI PENYIAR SHOLAWAT WAHIDIYAH PUSAT
Di sampaikan. oleh Bapak K. H. Zainal Fanani.
Hadrotul Mukarrom Romo Yahi, al mukarromiin wal mukarromaat para bapak,
para ibu yang kami hormati, para kanak-kanakku, para remaja yang kami
sayangi !. Pada kesempatan ini saya atas nama kawan-kawan yang ada di
Pusat Wahidiyah perkenankanlah mengutarakan soal-soal yang ada
hubungannya dengan perjuangan kita Wahidiyyah. Yaitu mengenai bidang
pembinaan yang dewasa ini sedang dilaksanakan dengan giat di
daerah-daerah khususnya di daerah-daerah Kabupaten. Antara lain daerah
Tulungagung sudah melaksanakan Asrama Peningkatan dan Pembinaan. begitu
juga di daerah Malang sedang berlangsung Asrama Tingkat Kabupaten,
Asrama Daerah Kabupaten Kediri akan dimulai nanti malam dan lamanya 6
hari dimana yang 4 hari bertempat di-Pusat Wahidiyah Kedunglo, disini
yaitu pengisian bidang ilmiah-ilmiah di samping meningkatkan
Mujahadah dan juga Pelajaran Praktek Memberi Kuliah Wahidiyah dan
sebagai imam Mujahadah di berbagai Jamaah
“WAMAN BAKHOLAHUKAANA AAMINAN” !. Amiin !
Jadi kalau kita sungguh-sungguh ingin hidup yang semestinya, kita harus
.... yang seperti itu tadi !. istilah lain kita harus senantiasa
menghancurkan, mengusir, membongkar ... soal negatif yang tidak
semestinya itu tadi ! Kita isi soal-soal yang semestinya, yang
menguntungkan !. senantiasa “TAKHOLLI”, ... yaitu mengosongkan,
menggempur yang negatif dan senantiasa membangun !. Bangunan-bangunan
yang negatif harus kita gempur !. Selanjutnya kita harus senantiasa
membangunan bangunan-bangunan yang diridloi Alloh wa Rosuulihi SAW
Bangunan-bangunan yang diridloi Alloh SWT kita suburkan, kita
sempurnakan, kita up grade istilah sekarang !. Yaitu bangunan “ikhlas”,
bangunan “ridlo”, bangunan “tawakkal”, bangunan -bangunan yang diridloi
Alloh SWT !.
Bangunan-bangunan yang merugikan harus kita
buldoser, kita hancurkan !. Bangunan “Linnafsi binnafsi” serta takabbur,
ujub riya' dan sebagainya harus kita hancur leburkan!.
Para
hadirin-hadirot, kalau kita memang sungguh-sungguh ada kemauan, otomatis
senantiasa usaha !. Senantiasa menggali, senantiasa berinisiatif !.
Mari para hadirin-hadirot kita koreksi Dan mari kemampuan yang ada pada
kita ini kita laksanakan Para hadirin-hadirot, sekalipun sudah maklum,
dan saya sendiri mengobrolkan disamping uraian-uraian dari Pusat, mari
para hadirin-hadirot, kesempatan yang kita milili ini kita gunakan untuk
itu para hadirin-hadirot !
Para hadirin-hadirot!. Sesugguhnya
kemampuan yang kita miliki ini adalah justru untuk itu mari
hadirin-hadirot !. Kalau tidak untuk itu, namanya kaki dibuat kepala
kepala di buat kaki. Kaki mestinya di bawah kita balik diatas. Kepala
seharusnya diatas, kok kita taruh, di bawah jadi kaki para
hadirin-hadirot!. Kita akan, tahu benar-benar, nanti kalu sudah mati,
para hadirin-hadirot !. Kalau kita memang ragu-ragu, silakan teruskan
ragu-ragu, tapi nanti awas ! Kalau sudah datang saatnya,
SAMBUTAN DARI PENYIAR SHOLAWAT WAHIDIYAH PUSAT
Disampaikan oieh bapak. kh. zainal fanani.
Pokok-pokok isi sambutan sebagai berikut :
Para hadirin-hadirot yang saya hormati, pada kesempatan ini dari
kawan-kawan yang ada di Pusat Wahidiyah sehubungan dengan pengajian dan
suasana kita dalam akhir tahun mari pejuangan kita, mujahadah kita, kita
laksanakan dengan yang lebih berhati-hati! Kita tingkatkan dalam segala
bidangnya!, baik penyiaran dan peningkatan. Sehingga dapat sesuai
dengan apa yang dikehendaki dalam pengajian tadi kalau di awal tahun
kita tepat dan terus meningkat dengan baik, maka di akhir tahun akan
menemui sukses. Ya mudah-mudahan dengan adanya pengajian pagi ini
mudah-mudahan diparingi meningkat segalagalanya. Amiin.
Soal
kedua yaitu ada berita dari saudara kita pengamal Sholawat Wahidiyah
yang bemama Ibu AMBAR dari Cepoko Nganjuk !. Memberi khabar kepada para
hadirin-hadirot khususnya Hadrotul Mukarrom Romo Yahi, bahwa Ibu Ambar
mendahului kita, mendahului dipanggil oleh Alloh. Dari itu mohon do’a
restu khususnya kepada Hadrotul Mukarrom Romo Yahi, mudah-mudahan
saudara kita tersebut diampuni segala dosa-dosanya oleh Alloh SWT.
Mudah-mudahan diakui sebagai ummatnya Rosuululloh SAW, mudah-mudahan
senantiasa ditarbiyah dan mendapat nazroh dari beliau Ghoutsi Hadzaz
Zaman.
Yang ketiga kalinya, beliau Bapak Sukadi, saudara tua
kita sebagai Pengamal Wahidiyah juga mohon do’a restu kepada
hadirin-hadirot khususnya kepada Hadrotul Mukarrom Romo Yahi, beliau
akan melaksanakan Ihram Haji ke tanah suci yang berangkatnya besok hari
Selasa lusa ini. Disamping mohon do’a restu ya ngaturi mengundang kepada
hadirin-hadirot untuk dapat ikut menghormat keberangkatan beliau Bapak
Sukadi dari rumahnya. Mudah-mudahan didalam beliau melaksanakan ibadah
haji ini benar-benar merupakan haji yang mabrur
yang
diridloi oleh Alloh SWT. Disamping itu kita yakin bahwa beliau Bapak
Sukadi sudah menduduki di “Maqom Ibrahim” yang hakiki, yaitu “khillah”
maqom kekasihnya Alloh SWT Mudah-mudahan kembalinya Bapak Sukadi dari
Mekah al Mukaroomah melaksanakan ibadah haji itu mudah-mudahan membawa
barokah, membawa manfaat buat beliau sekeluarga, buat kita semua dan
khususnya bagi perjuangan kita Perjuangan Wahidiyah untuk lebih menambah
lancar dan suksesnya sehingga diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW.
Untuk kedua berita tersebut di atas mohon bantuan bacaan Fatihah dari
hadirin-hadirot AI Faatihah, Bismillahir Rohmaanir Rohiim ......
Mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas perhatian hadirin-hadirot
terutama atas nama keluarga dari Ibu Ambar dan keluarga Bapak Sukadi
sekalian sendiri. Sekali lagi terima kasih atas bantuan Fatihah dari
para hadirin-hadirot. Dari para beliau yang bersangkutan menyampaikan
"Jazaa Kunwllohu Khoiroti Wa Wadata Wid-Dunya Wal Akhmom, Amin !.
Cukup sekian
Wassalamu'alaikum. Wr. Wb
KEMBALI AMANAT DARI ROMO YAHI
Nuwun sewu para hadirin-hadirot, mari apa-apa yang telah disampaikan
dari Pusat tadi kita perhatikan benar-benar!. Para hadirin-hadirot kita
mendengar tadi bahwa Ibu Ambar dari Cepoko Nganjuk telah meninggal dunia
yang fanak pindah ke alam baqok. Ya mudah-mudah oleh Alloh SWT diterima
dengan:
يَااَيَتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَةُ .ارْجِعىِ إِِلَى
رَبِّكَ رَاضِيَةَ .فَادْخُلِى فِى عِبَادِى وَادْخُلِى جَنَّتِى {الفجر.
٢٨-٣٠}
(Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang
Seorang
rakyat yang dekat dengan pamong, lebih-lebih kepada Kepala Desanya,
rakyat lainnya yang bermaksud berbuat jahat kepadanya tidak berani !.
Lebih-lebih makin dekat dengan pejabat yang lebih atas lagi, makin
ditakuti dan disegani oleh lainnya !. Orang lain tidak berani
sembarangan. Lebih-lebih dekat kepada Alloh SWT,... lebih-lebih para
hadirin-hadirot !.
Begitulah nabi Ibrohim ‘alahis salam. “MAQOM IBROHIM”. Beliau, disebutkan
وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا
Barang siapa masuk kedalamnya pasti aman. Mengapa tidak para
hadirin-hadirot !. Sebab orang yang masuk kesitu otomatis menjadi
Kekasih Alloh SWT yang Maha Kasih Sayang, Maha Kuasa !. Maha Menjaga,
para hadirin-hadirot !. Lha Nabi Ibrohim ‘alaihis salam kok dimasukkan
api tersiksa begitu ?. Ini lain bidang lain hal para hadirin-hadirot !.
Para hadirin-hadirot !. Mengenai soal yang merugikan. Tidak selalu hal
yang enak itu menguntungkan. Tapi banyak soal yang enak dan kepenak
malah merugikan, ... banyak, para hadirin-hadirot !.. Sebaliknya soal
yang tidak mengenakkan itu kok mesti merugikan, belum tentu para
hadirin-hadirot!. Banyak soal-soal yang tidak enak tapi menguntuhkan !.
Seorang petani, mencangkul, rekoso, payah, tapi menguntungkan baginya !.
Seorang yang bekerja berat, tapi menguntungkan pada mereka !. Malah
disamping itu mereka puas !. Puas menjalankan apa yang nampaknya
sengsara dan berat itu !. Kanjeng Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dimasukkan
api yang mulat-mulat,itu menguntungkan sekali kepada beliau para
hadirin-hadirot !.Dan toh ketika beliau dimasukkan kedalam api itu sama
sekali tidak merasa panas sedikitpun !. terasa dingin nikmat
hadirin-hadirat ! tidak terasa panas sedikitpun !. Terasa disyurga para
hadirin-hadirot makin dekat sekali kepada Alloh SWT !. Ya mudah-mudahan
para hadirin-hadirot di samping syafaat dari Rosululloh SAW , kita
mendapatkan barokahnya dari Nabi Ibrohim ‘alaihis salam yang
bunuh,
apabila tidak bisa kita arahkan ! kalau tidak manfaatkan ! Harus kita
kikis habis !. Tapi kalau tidak mampu untuk mengarahkan untuk
memanfaatkan harus kita manfaatkan kita arahkan untuk mengabdikan diri
kepada Alloh SWT !.
Sedangkan sifat-sifat nafsu yang diridloi
Alloh SWT harus kita pupuk kita suburkan terus dan harus terus
ditingkatkan, ditingkatkan mutunya, ditingkatkan kebaikannya !. Itu bisa
dilaksanakan oleh mereka yang sudah bebas dari nafsunya !
Alloh SWT,... senantiasa mengundang memanggil-manggil. “Wahai hamba-KU,... wahai hamba-KU !."
Para hadirin-hadirot, jika seandainya orang tahu, mengerti kepada
firman-Nya Alloh SWT yang tanpa huruf dan suara dan tanpa susunan,
hamba-Nya yang dipanggil yang ditimbali, jika sekiranya tahu, ... mati
seketika para hadirin-hadirot !. Saking nikmatnya, saking lezatnya,
saking terharunya, para hadirin-hadirot !. Mengapa tidak para
hadirin-hadirot !. Kita diundang oleh Kepala Desa misalnya. Undangan
yang tidak merugikan, yang tidak menakutkan ini bangga kita. Seorang
rakyat desa dipanggil, ditimbali oleh Kepala Desanya, Oleh Pak Lurahnya,
diajak jagongan, ini bangga para hadirin-hadirot. Ini baru kepala desa
yang memanggil !. sudah begitu kemaremannya lebih-lebih makin atas.
Lebih-lebih para hadirin-hadirot. Alloh SWT yang Maha Luhur para
hadirin-hadirot !. Maha Sempurna !. Maha Pemurah dan Pemberi selalu,
para hadirin-hadirot. Lebih-lebih para hadirin-hadirot, dipanggil oleh
Tuhan yang, hidup kita ini tergantung hanya kepada-NYA, para
hadirin-hadirot !. Betapa para hadirin-hadirot !. Mari para
hadirin-hadirot. Sekalipun kita jauh dari pada itu, mari para
hadirin-hadirot, kita sadari !. Kalau tidak, kita sudah keterlaluan para
hadirin-hadirot !.
Kalau orang sudah bebas dari imperialis
nafsu, “WA TAKUUNU MIN HADROTIHI QORIBAN”. Dekat, dekat dari Alloh SWT.
Kalau orang dekat dari Alloh SWT jangan ditanyakan lagi kebahagiaan dan
keuntungannya.
puas serta diridloi-NYA. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-KU, dan masuklah ke dalam surga-KU).
Keluarganya yang masih ada di dunia mudah-mudahan senantiasa diridloi
Alloh SWT, senantiasa mendapat jangkungan dari Alloh SWT wa Rosuulihi
SAW.
Para hadirin-hadirot juga dikatakan dari Pusat bahwa bapak
Sukadi atau bapak Harjodinomo sekalian akan pergi melaksanakan ibadah
haji ke Mekah. Mari para hadirin-hadirot sedapat-dapatnya beliau kita
dukung dengan batiniyah terutama, mudah-mudahan bapak Harjodinomo Sukadi
sekeluarga atau sekalian yang akan berangkat besok lusa mudah-mudahan
senantiasa dikaruniai selamat lahir batin oleh Allah SWT, diridloi lahir
batin oleh Alloh SWT tidak ada halangan suatu apa, mudah-mudahan
dikaruniai haji yang “mabrur”, haji yang diterima dan diridloi Alloh wa
Rosuulihi SAW, haii yang membuahkan manfaat yang besar fid-diini
wad-dunya wal akhiroh. Semoga selamat mulai berangkat dari rumahnya
sampai kembali kerumahnya, mudah-mudahan makin diridloi Alloh SWT, makin
diampuni Alloh Ta’ala.
Para hadirin-hadirot nuwun sewu Bapak
Harjodinomo, bapak Sukadi, saya dan kawan-kawan mohon restu terutama
nanti pada saat ditanah suci saya dan semua kawan-kawan harap dimohonkan
kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, mudah-mudahan terutama
Perjuang-perjuangan Fafirruu Ilallohi wa Rosuullhi SAW ini lebih
didukung lebih diridloi Alloh SWT, mudah-mudahan mendapat kemajuan yang
sepesat-pesatnya! Harap saudara mohonkan di hadapan Alloh SWT wa
Rosuulihi SAW, demi lebih pesatnya perjuangan Fafirruu Ilallohi wa
Rosuulihi SAW !. Amiin ! Maaf Bapak Harjodinomo, disamping itu kami yang
tinggal ini semua ditanah air kita, dalam perjuangan ini, kami mohon
maaf yang sebesar-besarnya!. Sebab mungkin, kalau kami tidak mohon maaf
pada kesempatan ini, mungkin sudah tidak mendapat kesempatan lagi,
mungkin. Mungkin pada waktu Bapak Harjodinomo kembali dari tanah suci
saya hanya tinggal nama saja. Ini mungkin. Oleh karena itu kami
yang
tinggal disini semua mohon sebesar-besaranya maaf! Ya, mari kita semua
saling maaf-memaafkan, saling halal-bihalal saling do'a mendo’akan satu
sama lain. Sekali pun Bapak Harjodinomo sekalian pergi ketanah suci,
tempat yang jauh sekali, mari senantiasa sowan kehadirat-hadirot Alloh
SWT wa Rosuulihi SAW!.
Para hadirin-hadirot! Mari sekarang juga
kita sowan dihadapan Alloh SWT wa Rosuulihi Saw. Mari kita sama-sama
bertobat mohon ampun!. Mari kita memohon demi untuk kita, untuk keluarga
kita, untuk umnat dan masyarakat, bahkan untuk jami’al alamiin!.
AL FAATIHAH ....................!
AL FAATIHAH ……………..!
AL FAATIHAH ……………...!
ALLOHUMMA YAA WAAMDU YAA AHAD . ........................
(Mujahadah Wahidiyah)
kenikmatan
dan kebahagiaan yang sungguh-sungguh yang tidak dialami oleh orang lain
yang tidak merasakan “rodlina ...” seperti di atas.Sekalipun keadaan
lahiriyah Ala terutama soal ekonomi misalnya, senantiasa kelihatan
berat, selalu buntu jalan usahanya, tetapi sesungguhnya dia berada di
dalam syurga dunia. Bahagia! “JANNATUN MUAJJALAH”. itu kalau orang
sungguh-sungguh mengecakkan “RODLUNAA BILLAAHI ROBBAN WA BIL ISLAAMI
DINAN”… Puas sepuas-puasnya Islam sebagai agama kita. Menyerah bongkokan
kepada Alloh SWT ! Dengan arti sepuas-puasnya, melaksanakan apa saja
yang dikehendaki Alloh SWT. Puas sepuas-puasnya menjauhi apa saja yang
dilarang oleh Alloh SWT !. Seandainya disuruh bunuh diri sekalipun, dia
tetap merasa puas sepuas-puasnya, gembira seriang-riangnya !. Karena ini
diperintah oleh Alloh SWT, Tuhan kita yang rohman-rohim.
“WA BI MOHAMMADIN NABYYAN”
Puas sepuas-puasnya Kanjeng Nabi Mohammad Rosuululloh SAW sebagai Nabi
kita. Nabi yang penghabisan. “SAYYIDDUL ANBIYAK WAL MURSALIN”. Puas
sepuas-puasnya kita dijadikan ummatnya Rosullulloh SAW !.
Begitu
seharusnya para hadirin-hadirot !. Jangan sampai hanya kita baca di
bibir saja !. Di samping kita baca, kita harus fahami benar-benar, kita
rasakan benar, para hadirin-hadirot. Sudahkah kita merasakannya para
hadirin-hadirot ?. Mari para hadirin-hadirot kita usaha sekuat mungkin
!.
“UKHURUJ MIN AUSHOOFI BASYARIYYATIKA” ......
Jika
engkau ingin menjadi hamba Alloh yang sejati yang senantiasa
diperkenankan sowan menghadap dihadapan Alloh SWT, ingin di ridloi oleh
Alloh SWT, ingin dikumpulkan para Kekasih Alloh SWT, ingin diselamatkan
dari godaan iblis dan nafsu yang selalu menjerumuskan kita, maka kita
harus berjuang sekuat mungkin untuk mengikis habis sifat-sifat nafsu
yang senantiasa merugikan itu !. Kita kikis habis ! kita
dikoreksi
dan kemudian bertobat mohon ampun kepada Alloh SWT. Dan jika perlu juga
minta maaf kepada yang bersangkutan !. Sebab mungkin, merugikan orang
lain tapi tidak merasa babwa merugikan. Mungkin !. yah pokoknya segala
sesuatu yang terkecam yang merugikan, baik merugikan dirinya sendiri
maupun dan lebih-lebih merugikan orang lain moril maupun materiil, harus
kita buang jauh-jauh, harus kita hindari jauh-jauh jika kita ingin
selamat dan bahagia, ingin senantiasa dapat mendengarkan atau bahkan
menuruti “NIDAAUI HAQQI” panggilan Tuhan Alloh SWT. Kalau ingin bahagia
abadi dunia akhirot, kita harus cancut tali wondo. Bertekad dan berjuang
menghancur luluhkan sifat-sifat nafsu yang terkecam.
Nafsu itu
sesungguhnya jiwa atau roh jiwa itu mempunyai keadaannya
sendiri-sendiri. Keadaannya yang buruk, dinamakan “NAFSU AMMAROH”. Nafsu
yang selalu mengajak menyeret kepada keburukan. Mengajak kepada
perbuatan-perhuatan yang terkecam dan merugikan. Ada lagi “NAFSU
SYAITHONIAH”. Yang baik di sebut “NAFSUL MUTMAINNAH”. Nafsu yang tenang
tentram. “NAFSUL MARDIYYAH” nafsu yang diridloi. Yang diridloi Alloh
SWT. Nafsu yang senantiasa ridlo kepada Alloh SWT. Dia senantiasa
menyadari bahwa dirinya sebagai hamba, dan Alloh SWT sebagai Tuhannya.
Seperti itu yang banyak diajarkan pada kanak-kanak .
رَضِيْنَا بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِيْنَا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا
“RODLIINA BILLAHI ROBBAN”… saya rela saya rodlo saya puas
sepuas-puasnya kepada Alloh sebagai Tuhan kita saya puas sekali
mempunyai Tuhan Alloh SWT. Saya puas sekali menjadi hambanya Tuhan Alloh
SWT yang Maha Rohman-Rohim ... ini tidak hanya diucapkan atau
diangan-angan, tapi harus dirasakan dengan sungguh-sungguh !. Jika orang
mau merasakan dengan sungguh-sungguh, pasti dia ... dia menemukan
syurga, bahagia dunia dan akhiratnya. Tidak usah menunggu nanti di
akhirot di dunia pun dia sudah mengenyam
AL- HIKAM I HAL. 25
ِبسْمِ اللهِ الرَّحمْنَ ِالرَّحِيْمِ
{مِنْ عَلاَمَاتِ النَّجَحِ فِى النِّهَايَةِ الرُّجُوْعُى اللهِ فِى الْبِدَايَاتِ }
(Setengah
dari pada tanda-tandanya akan bahagia akan sukses pada akhirnya, yaitu
senantiasa kembali kepada Alloh dalam permulaannya).
Ini
merupakan kelanjutan dari dawuh Mushonnef dalam Pengajian Minggu yang
lalu, "MAA TAWAQQOFA MATHLABUN ANTA THOOLIBUM BIROBBIKA".
Apa
saja yang kita usahakan kita perjuangkan dengan senantiasa tawakkal
memohon pertolongan kepada Alloh SWT, tidak akan bongkokan kepada Alloh
SWT, tidak akan menemui jalan buntu, tidak akan menemui hambatan, pasti
berhasil dengan suksesnya yang diridloi Alloh wa Rosuulihi SAW.
"MIN 'ALAAMAATIN -NAJA FIN-NIHAAYAAT-AR-RUJU’ILALLOHI FIL BIDAAYAAT".
Tandanya suatu usaha perjuangan akan berhasil dengan sukses, yaitu pada
permulaan melangkah dalam usaha itu senantiasa pasrah bongkokan kepada
Alloh SWT, senantiasa memohon pertolongan kepada Alloh Ta’ala. Tidak
membanggakan atau mengandalkan kepada amal ibadahnya, kepada usahanya,
kepada amal ibadahnya, kepada usahanya, kepada teori atau ilmunya,
kepada perhitungannya ... dan sebagainya dan sebagainya!. Ini berlaku
secara umum dalam segala bidang. Baik bidang wusul sadar kepada Alloh
Ta'ala terutama, maupun bidang-bidang lain yang dibutuhkan buat
kepentingan hidup soal moril maupun materiil, soal dunia, maupun soal
akhirat!.
“AR-RUJUU’ILALLOH” - Istilah Wahidiyah senantiasa
LILLAH BILLAH, LIRROSUL BIRROSUL dan senantiasa berdepe-depe memohon
pertolongan kepada Alloh SWT. Sama sekali tidak membanggakan amal
ibadahnya, tidak membanggakan usaha dan perjuangannya, tidak
membanggakan teori dan perhitungan-perhitungan!. Barang siapa senantiasa
begitu dalam permulaan otomatis akan memperoleh hasil dengan suksesnya.
Sebaliknya barang siapa membanggakan amaInya membanggakan usahanya akan
mengalami kerugian tapi tidak merasa.
Para hadirin-hadirot,
mari kita melihat diri kita masing-masing, sudah tepatkah dalam
amal-amal atau usaha atau perjuangan kita?. Terutama dalam perjuangan
Wahidiyah dalam perjuangan Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW ini. Mari
para hadirin-hadirot kita berusaha memperbaiki mana-mana yang belum
tepat dan mari kita tingkatkan kita sempurnakan apa-apa yang sudah
tepat.
مَنْ اَشْرَقَتْ بِدَايَتُهُ اَشْرَقَتْ نِهَايَتُهُ
(Barang siapa pada permulaannya cemerlang akan cemerlang pula pada akhimya).
Cemerlang atau bersinar dengan giat menjalankan amal-amal ibadah yang
dengan sungguh-sungguh ikhlas dengan penuh tawakkal pasrah bongkokan
kepada Alloh Ta'ala. Istilah Wahidiyah melaksanakan amal-amal ibadah
atau usaha atau kegiatan-kegiatan dengan dijiwai LILLAH BILLAH LIRROSUL
BIRROSUL. Amal-amal ibadah atau usaha atau perjuangan yang dapat
mendekatkan diri kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Barang siapa yang
pada permulaannya bersinar dengan amal-amal seperti itu, akhirnya akan
memperoleh sukses yang bersinar yang gilang-gemilang. Yaitu wusul atau
sadar kepada Alloh SWT berhasil, sowan di hadirat Alloh SWT... dengan
mendapat ridlo-NYA. Ya mudah-mudahan para hadirin-hadirot kita
dikaruniai menjadi orang yang sungguh-sungguh sadar kepada Alloh SWT wa
Rosuulihi SAW, sadar, dan menyadarkan
keistimewaan ini berarti
ujub. Dan otomatis mengaku. Tidak menyadari bahwa Alloh lah yang
memberi. Takabbur ialah merasa lebih besar lebih baik lebih dari pada
lainnya. Lebih berjasa, lebih kaya, lebih pandai, lebih terhormat dari
lainnya. Ini, takabbur. “Aku mujahadah sedang kawanku tidak mujahadah”.
Merasa begini, ini namanya takabbur ini ! Saya melakukan kebaikan ini;
tapi kawan saya itu tidak. Ini takabbur dobel. Ya ujub ya takabbur !
Pernahkah kita para hadirin-hadirot, merasa seperti itu ?. Mari kita
koreksi ! Kalau iya, mari kita bertaubat ! Mari membulatkan tekad, tidak
akan mengulangi lagi ila yaumul qiyaamah ! Mudah-mudahan kita mendapat
jangkungan Alloh wa. Rosuulihi SAW yang sebanyak-banyaknya !.
Takabbur atau ujub atau riya’, itu membatalkan amal ! Amal yang
dicampuri ujub atau takabbur atau riya’. Tidak diterima Alloh SWT.
Bahkan disamping tidak diterima, amal yang didasari ujub dan riyak
lebih-lebih takabbur tadi, besok pada yaumul qiyaamah amal itu akan
dirupakan siksa untuk menyiksa orang yang beramal bersangkutan. Kita
pernah atau tidak ujub takabbur atau riya’ . Takabbur atau ujub atau
riya’ ada yang terang-terangan, ada yang samar-samar atau sindiran. Ada
yang dengan bicara lisan, ada yang dengan bicara keadaan dan bicara
isyarat, semuanya itu tetap takabbur. Sekali takabbur tetap takabbur
sekalipun dengan gaya dan cara bagaimanapun juga, tetap takabbur ! Lha
ini perlu adanya senantiasa koreksi.
Disamping BILLAH dan
LILLAH didalam wahidiyah ada dua arah dari atas dan dari bawah di
samping mengutaman dari atas yaitu BILLAH , juga tidak mengurangi yang
dari bawah LILLAH termasuk dari bawah yaitu senantiasa meniti-niti
kemungkinan timbulnya ujub riya’ takabur selalu di koreksi pernah atau
tidaknya kita ngarasani atau adu-adu atau mengumpat atau merugikan
lebih-lebih merugikan orang lain, menusuk atau merluakai perasaan orang
lain ini semua harus selalu
hambanya memaksa
seluruh makhluqnya. Jika Dia menghendaki ... di cipta, dan jika Dia
menghendaki ... dihancurkan sama sekali. Tidak yang dapat
menghalang-halangi.
اِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنْ
Jika Alloh Ta’ala menghendaki sesuatu, cukup mengatakan “KUN” beradalah … “FAYAKUUNU” … maka TERWUJUDLAH sesuatu ini.
Mari hadirin-hadirot kita tidak hanya terapung-apung saja. Tapi mari
usaha sampai mendasar di…lautan “WAHDAH” lautan “TAUHID” KE-ESAAN TUHAN !
jangan sampai kita istilahnya orang membakar kereta …. “magel” tidak
masak mentahpun tidak.
اُخْرُجْ مِنْ أَوْصَافِ بَشِرِيّتِِكَ عَنْ
كُلِ وَصْفٍ مُنَاقِضٍ لِعُيُوْدِيَّتِكَ لِتَكُوْنَ لِنِدَآءِ الْحَقٍّ
مُجِيْبًاوَمِنْ حَضْرَتِهِ قَرِيْبًا
Jika engkau ingin bahagia
dunia akhirot terutama, jika engkau ingin inenjadi hamba Alloh yang
sejati, tidak menyembah kepada imprialis nafsu, kepada berhala iblis,
bebaskanlah dirimu, keluarlah dari nafsumu yang terkecam ! baik
lahiriyah maupun batiniyah. Kalau disebut “nafsu” dengan sendirinya
mengenai batiniyah. Sedangkan lahirnya hanya merupakan akibat atau efek
dari nafsu. Di sini disebutkan lahiriyah, tetapi sesungguhnya itu
akibatnya. Mengumpat, membicarakan orang lain, ngrasani, membunuh,
merugikan dan lain sebagainya. Akibat atau efek nafsu yang batin, merasa
besar, takabur, ujub dan lain-lain sebagainya. Takabur merasa besar,
dan membanggakan diri, sombong dan congkak lebih-lebih. Definisi
dari.... ujub, adalah ;
الْعُجْبُ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ لَهُ فَضْلاً {أوكما قال}
Ujub,
ialah merasa mempunyai kelebihan atau kebaikan atau keistimewaan. Orang
yang tidak dirinya jelek, berarti merasa mempunyai
umat dan masyarakat Amin!.
مَااسْتُوِدعَ فِى غَيْبِ السَّرَآئِرِ الظَوَاهِرِ
Barang yang disimpan di dalam hati dapat jelas dilihat dari
lahiriyahnya. Dapat jelas dilihat dari lahiriyahnya, dari glagatnya
kalau orang mentalnya baik, otomatis mempengaruhi kepada sikap dan
tindakan lahimya. Kalau mentalnya buruk, otomatispun perbuatannya juga
begitu. Pada umumnya begitu, dan ini logis bisa dimaklumi. Seperti dawuh
Rosuululloh SAW :
إِنَ فِى الْجَسَدِ لَمُضْغَةً اِذَا صَلَحَتْ
صَلَحَ اَلجَسَدُ كُلُهُ ,وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَيِّدُ
كُلُّهُ,اَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ .الحديث
(Sesungguhnya ada
segumpal di dalam tubuh yang apabila segumpal daging itu baik, menjadi
baik pulalah seluruh tubuh, dan apabila jelek menjadi jeleklah seluruh
tubuh. Ketahuilah dan ingat-ingatlah yaitu HATI).
Kalau hati baik, otomatis semua terpengaruh baik. Kalau buruk ya buruk.
Di dalam bidang pergaulan atau berkawan di dalam memilih kawan dapat
diketahui dari lahirnya. Kalau pada lahirnya kelihatan ada tanda-tanda
negatif otomatis mentalnya tidak baik. Kalau lahirnya ada tanda-tanda
baik, batinnya atau mentalnya juga baik. Ini sudah umum banyak kita
ketahui.
Tapi ada yang terbalik, lahirnya buruk tapi
sesungguhnya batinnya baik. Ini mungkin saja ada, sebab ada apa-apanya.
Ada maksud-maksud tertentu dari yang bersangkutan. Mungkin juga ada
lahirnya baik tapi sesungguhnya batinnya tidak baik. Ini mungkin karena
ada apa-apanya, ada maksud-maksud tertentu. Ada latar belakang. Dan
biasanya keadaan seperti ini tidak lama. Tidak seperti yang pertama
tadi. Yang dalamnya baik tapi tetapi lahirnya tidak baik, ini ada latar
belakangnya. Latar belakang
yang menguntungkan. Contohnya Nabi
Hidzir ‘Alaihimussalam ketika hubungan dengan Nabi Musa ‘Alaihimussalam.
Nabi Hidzir ketika itu pemah memperlihatkan lahirnya seperti kejam dan
tidak kenal peri kemanusiaan, membunuh anak tanpa dosa, melobangi perahu
tanpa dosa dan perahu itu haknya orang yang miskin. Lha! ini karena ada
latar belakangnya, latar belakang yang lebih menguntungkan. Tapi jarang
sekali yang bisa seperti itu, dan terbatas sekali.
Tapi bagi
yang lahirnya baik dan dalamnya buruk otomatis ada latar belakangnya.
Latar belakangnya yang menguntungkan dia. Yaitu seperti
penipuan-penipuan.
شَتَانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ
Jauh
sekali perbedaan antara orang yang membuat Alloh, dibuat untuk
inenunjukkan pada lainnya atau makhluk dan orang yang membuat makhluk,
dibuat untuk menunjukkan Alloh Kholiq. Orang yang memandang Alloh
sebagai petunjuk, menunjukkan pada makhluk.
هُمُ الْمُرَادُوْنَ الْمَجْذُوْبُوْنَ اِلَيْهِ
Mereka adalah orang-orang yang dikehendaki yang ditarik oleh Alloh SWT yang dipanggil oleh Alloh SWT.
هُمْ مِنَ اَهْلِ الشُّهُودِ
Mereka adalah orang-orang dari ahli Syuhud atau sadar kepada Alloh SWT
“Ahli Syuhud” = ahli memandang kepada Alloh, ahli sadar kepada Alloh
“IMMABTIDAAN WAIMMA BAKDASSULUUK”, baik pada saat-saat permulaan sesudah
suluk, sesudah riyadloh-riyadloh atau mujahadah-mujahadah.
“MAHUMUL’AARIFUUN” dan mereka adalah orang-orang yang ‘Arifuun, orang
yang sadar kepada Alloh. Mereka para murooduun atau ‘Arifuun, atau
majdhuubuun tidak
itu berarti Alloh SWT terhalang atau
kaling-kalingan oleh tabir itu. Padahal Alloh SWT Maha Mengetahui. Tidak
hanya orang yang sowan menghadap kepada Alloh SWT. Yang diketahui. Tapi
... yaitu seperti sudah kita maklumi, Alloh SWT Maha Mengetahui kepada
segala makhluk-NYA. Bahkan jauh lebih jelas, lebih terang dari pada
pengetahuan si makhluk itu terhadap diri sendir !
Malah,
sesungguhnya makhluk itu sendiri tidak akan tahu dirinya kalau tidak
diberi tahu oleh Alloh SWT. Tahunya makhluk BILLAH. Inilah yang perlu
disadari oleh hati atau jiwa tiap manusai disamping LILLAH.
لِأَنَ الْحِجَابَ إِنَّمَا يَتَّخِذُهُ الْعُظَآءُ فَهُوَ يُنْبِئُ عَنِ الرِفْعَةِ وَيُشْعِرُ بِالْعَظَمَةِ
Oleh karena, SWT “hijab” itu disamping sebagai penjaga atau keamanan,
juga memperlihatkan kebesaran dari Penjabat atau Raja yang dijaga itu.
{ وَاَوْ كَانَ لَهُ سَاتِرُ لَكَانَ لِوُجُوْدِهِ حَاصِرُ}
Dan kalau Alloh SWT ada hijabnya berarti Alloh SWT terbatas.
{وَكُلٌّ حَاصِرلِشَىْءٍ فَهُوَ لَهُ قاَهِرٌ }
Dan
jika Alloh SWT ada yang membatasi, otomatis berarti dipaksa oleh yang
membatasi itu. Dus mudahnya Alloh SWT tidak terhalang. Yang terhalang
atau terhijab adalah manusianya. Alloh SWT Maha Mengetahui. Yang buta
adalah hamba-NYA. Sebab selalu menyembah kepada nafsunya. Senantiasa
nuruti nafsunya. Senantiasa mencari-carikan buat nafsunya
Mari
para hadirin-hadirot kita koreksi diri kita masing-masing !. Kita
senantiasa mencari-carikan buat nafsu atau karep kitakah, atau
mengabdikan diri kepada Alloh SWT ?. Mari kita koreksi sendiri-sendiri
!.
Alloh SWT sama sekali tidak dapat dipaksa, tetapi Alloh SWT... “WAHUWA QOOHIRU FAUQO “IBAADIHI”. Alloh memaksa seluruh
Dalan Ajaran Wahidiyah ada Istilah “LILLAH BILLAH” kalau orang sudah
sungguh-sungguh mengecakkan merasakan BILLAH otomatis berarti sudah
bebas dari imperialis nafsunya. Dia sungguh-sungguh tidak mempunyai
kehendak. Ya sekalipun punya kehendak tapi tidak punya kehendak. Kalau
orang sudah BILLAH, otomatis kalau sudah menyerah, otomatis. Ya terasa
lapar, yang asalnya digerakkan oleh situasi badan jasmaninya yang lapar,
lalu berkehendak makan, tapi dalam pada itu dia didasari LILLAH dan
BILLAH. Jadi berkehendak makan itu BILLAH. Jadi boleh dikatakan dia
tidak punya kehendak makan. Dus BILLAH, sekalipun seseorang berbuat
begini begitu, melakukan ini itu, tapi dia merasa ya itu tadi, BILLAH,
berarti dia sudah bebas dari pengaruh nafsu. Sebab ya itu, BILLAH.
Yang mudah-mudahan kita dikaruniai dapat melaksanakan LILLAH BILLAH LIRROSUL'BIRROSUL yang sesempurna-sempurnanya. Amiin.
{إِذْلَوْ حَجَبَهُ شَىْءٌ لَسَتَرَهُ مَا حَجَبُهُ }
Ini alasan dari keterangan sebelumnya tadi. Alloh SWT terhijab oleh
sesuatu, yang terhijab manusianya. Terhijab oleh nafsunya. Sebab kalau
Alloh SWT dapat dihalang-halangi di tabir otomatis tertutup. Hijab itu
sesungguhnya boleh diartikan sebagai “penjaganya”. Seorang Bupati
misalnya ada polisinya ada penjaganya. Tapi pada zaman sahabat, tidak
ada penjaga-penjaga. Waktu Sayyidina Umar misalnya, rakyat bebas bertemu
dengan beliau. Begitu juga yang lainnya, tapi pada zaman akhir-akhir
ini, karena situasi raja-raja Islam membuat “hijab” atau penjaga. Karena
waktu itu mulai timbul pembunuhan-pembunuhan dan sebagainya, pokoknya
gangguan keamanan makin menjadi-jadi, Ialu diadakan “hijab” atau penjaga
atau polisi.
Kalau Alloh SWT kaling-kalingan ada “hijab” nya, ada penjaganya,
memandang
sesuatu selain dan hanya kepada Alloh. Dan mereka membuat Alloh sebagai
petunjuk yang menunjukkan kepada makhluk. Itulah yang dimaksud “MAN
YASTTADILLU BIHI”.
Ada lagi yaitu “MAN YASTADILLU ALAIHI”.
Mereka memandang atau mengamat-amati makhluk untuk menunjukkan kepada
KHOLIQ Mereka itu adalah “MURIIDUUN” orang-orang yang menghendaki wusul
atau sadar kepada Alloh, dan mereka masih dalam menempuh jalan kearah
tujuan wusul itu (SAALIKUUNA).
فَأَهْلُ اللهِ تَعَالىَ عَلَى قِسْمَيْنِ مُرَادِيْنَ وَمُِِردِيْنَ
“AHLULLOH”
atau orang yang baik-baik dibagi menjadi dua bagian. “MUROODIIN” dan
“MURIIDIIN”. “Muroodiin” adalah orang yang berkehendak berkeinginan.
Atau dengan istilah lain “Muroodiin” adalah Majdhuubin = ahlus-syuhud,
yaitu orang-orang yang sadar kepada Alloh karena dimajdzub atau ditarik,
dan “Saalikuun” yaitu orang-orang yang masih dalam perjalanan menuju
sadar kepada Alloh Ta’ala.
Oran-orang yang menghendaki sadar
kepada Alloh SWT atau “Muriidin” atau “Salikiin” dalam perjalanan
atau.perjuangan mereka menuju kesadaran kepada Alloh Ta'ala masih
tertutup hatinya belum mengetahui kepada Alloh SWT. Yang diketahui hanya
makhluk. Mereka masih mengandalkan mujahadahnya, masih menjagakan
perjuangannya. Mereka selalu takut, kuatir atau mengharap kepada selain
Kholiq, sebab mereka memang belum tahu kepada Kholiq Penciptanya. Andai
kata mereka sudah tahu, sadar kepada Kholiqnya, tentu mereka tidak
menjagakan atau membanggakan usahanya, tidak menjagakan.... amal-amal
perjuangannya, dan mereka tidak takut, tidak kuatir, tidak getar selain
hanya... Alloh yang ditakuti dan yang diharap. Itulah mereka “Muriduun”
orang yang masih berjuang masih mujahadah masih dalam usaha di dalam
perjalanan sadar kepada Alloh. Mereka masih dikuasai masih dijajah oleh
imperialis nafsunya. Tapi mereka sedang usaha membebaskan diri dari
imperialis nafsunya itu dengan minta
pertolongan kepada makhluk yaitu berupa mujahadah-mujahadah dan usaha-usaha lain untuk menghantarkan kepada Alloh.
Adapun “Murooduun” orang yang dikehendaki atau orang yang ditarik atau yang disebut “Majdhuubuun” di sini dikatakan:
وَ
مُرَادِيْنَ وَهُمْ اَلْمَجْذُوْبُوْنَ وَاجْهُهُمْ الْحَقِّ تعالى
بَوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَتَعْرِفَ اِلَيْهِمْ فَعَرَفُوْهُ وَانْحَجَبَتْ
عَنْهُمُ الاَغْيَارِ فَهُمْ يَسْتَدِلُوْنَ بِهِ عَلَيْهَا فِِى حَالِ
تَدْلِّيْهِمْ إِنْ جُذِ بُوْا اِبْتِدَاءً أَوْبَعْدَ سُلُوْكِهِمْ اِنْ
كَانُوْا مِنْ اَهْلِهِ
Alloh SWT memandang kepada mereka itu
“biwajhihil-kariim” dengan wajah-NYA yang Mulia, dan Alloh menampakkan
diri kepada mereka sehingga mereka mengenal-Nya. Mereka mata hatinya
tertutup memandang kepada makhluk, senantiasa mengarah kepada Alloh.
Mereka membuat Alloh untuk menunjukkan adanya makhluk. jadi berlawanan
dengan “Muriiduun” tadi yang membuat makhluk untuk membuktikan adanya
Alloh. Mereka “Murooduun” dalam “Yukti Kulla dhii haqqin haqqoh” membuat
Alloh sebagai petunjuk bagi mereka untuk menunjukkan kepada makhluk.
Ada istilah “tadalli” dan “taroqqi” “tadalli” artinya “turun” dan
“taroqqi” artinya “naik”. Mereka “Murooduun” atau “Majdhuubuun” atau
“Aarifuun” ketika “turun”. turun dari hadrotul Illahi Yang Maha Tinggi
ke bawah, di tengah-tengah makhluk, mereka membuat Alloh sebagai
petunjuk untuk menunjukkan kepada makhluk. Mereka tahu kepada makhluk
karena Alloh SWT. Sedangkan yang pertama tadi, yaitu yang belum sadar,
mereka tahu kepada Alloh karena makhluk jadi kebalikan Adanya makhluk
ini menunjukkan pasti ada Penciptanya. Tidak mungkin ada makhluk, tidak
mungkin ada makhluk tidak ada Kholiqnya. jadi makhluk dibuat untuk
menunjukkan Kholiq-Nya. Makhluk dibuat... dalil dibuat bukti yang
menunjukkan Kholiq-Nya. Yang menunjukkan adanya Alloh... Penciptanya.
Ini namanya belum sadar kepada Alloh Maha Pencipta segala. Sedangkan
yang kedua tadi, “Murooduun” atau orang yang sudah
Lha ini hagi
yang belum merasakan “asinnya garam”, harus kita paksa diri kita, kita
paksa untuk percaya adanya rasa asin. Sekalipun kita belum merasakannya
ini dalam istilah dalam Quilan disebut “iman”. Percaya itu kalau makin
tebal, boleh dikatakan sama dengan keyakinan dan tahu. Umpamanya ada
orang diberi tahu tentang bahayanya aliran strum listrik. Sekalipun dia
belum pernah merasakan tapi dia sungguh-sungguh yakin bahaya strum
listrik itu. Kalau seandainya dia dipaksa memegang kabel yang beraliran
listrik itu, dia tetap tidak mau. Sebab dia sungguh-sungguh yakin
tentang berita itu. Sekalipun dia sendiri belum pernah merasakannya.
Begitu juga seharusnya kita dalam soal kesadaran kepada Allah wa
Rosuulihi SAW. dan kita mampu untuk itu. Kita harus senantiasa arungi
usaha ke arah itu ! Lha itu seperti firman Allah SWT dalam Al-Qur'an
اللهُ يَجْتَبِى إِلَيْهِ مَنْ يَشَآءُ وَيَهْدِى إِلَيْهِ مَنْ يَنِيْبُ {الثورى. ١٣
Allah
SWT menarik atau memilih orang-orang yang DIA kehendaki, tanpa ada
inisiatif atau usaha atau perjuangan dari orang yang bersangkutan. Dan
disamping itu, ... “WA YAHDI ILAIHI MAN YUNIBU. Dan Allah SWT memberi
petunjuk kepada orang-orang yang sungguh-sungguh ada kemauan kembali
kepada-NYA. “WALLADZINA JAAHADU FIINA LANAHDIYANNAHUM SUBULANAA”.
Ya mudah-mudahan kita termasuk kesemuanya, Ya dipilih dan ditarik oleh
Allah SWT yang ada kemauan. dobel. Diberi kamauan dan dikehendaki oleh
Allah SWT. Sesungguhnya kesemuanya itu dikehendaki Allah SWT. Artinya
“dikehendaki” tanpa perjuangan atau dengan perjuangan yang ringan tapi
hasilnya memuaskan ! begitu juga tidak akan dikehendaki kalau tidak mau
berjuang mati-matian ! mudah-mudahan apa yang kita mohon dalam sholawat
yang kedua,… “ WA TAMAAMA RIDWANIKA” diberikan kepada kita dengan
sesempurna-sempurnanya.
masing. Inilah makanya
terhalang atau kaling-kalingan. Yang kelihatan hanya “komandonya nafsu”.
Komandonya kehendak, ingin begini diturut, ingin begitu, ...
dikerjakan. Jangan kesitu, atau kemarilah, ... semua serba nuruti nafsu
atau kehendak nafsu. Takut, ya nafsunya takut. Ingin atau berkehendak
atau karep, ya nafsunya ingin, berkehendak atau karep.
Kalau
orang sudah tidak nuruti nafsunya, baru tahu kepada Allah SWT. Baru tahu
pada keadaan yang sesungguhnya Baru tahu keadaan yang sesungguhnya !.
Baru tahu bahwa pengalaman-pengalaman yang dialami sebelumnya, hanyalah
seperti impian belaka ! Mimpi ! ketika orang bermimpi, seolab-olah
seperti sungguh-sungguh begini begitu, mimpi apa saja, lebih-lebih yang
jelas, makin berkeyakinan bahwa mimpinya itu sunggu-sungguh terjadi,
naik mobil misalnya. Ketika mimpi rasanya ya sungguh-sungguh naik mobil.
Tapi kalau dia sudah bangun, baru tahu, baru tahu bahwa sesungguhnya
ini tadi hanya impian.
Begitu juga soal kesadaran. Bahkan soal
ini jauh lebih jelas ! kalau orang yang sudah bebas dari imperialis
nafsu, ... baru tahu kepada keadaan yang sesungguhnya. Keadaan yang
sesungguhnya...hanyalah Alloh SWT yang wujud, yang ada. Selain selainnya
semuanya itu. hanyalah bayangan. Imitasi, atau majas! Baru tahu.
Seperti orang mimpi tadi. Lebih-lebih nanti kalau anda mati, makin
jelas, makin jelas, sekalipun di dunia ini sudah tahu orang yang sudah
hebas dari imperialis nafsunya, lebih-lebih nanti ketika di akhirat,
makin lebih jelas lagi.
Hubungan ini, segala sesuatu sudah ada
gatuknya sendiri-sendiri. Yang tepat yaitu apabila ditempatkan pada yang
semestinya, menurut stelannya.
Orang yang diberi tahu “rasa
asin” dari garam, ya hanya percaya begitu saja. Tapi dia tidak
mencicipi, tidak merasakan rasa asin dari garam itu. Dia tidak merasakan
apa yang dia yakini baru kalau dia ngemut garam, ... baru tahu
bagaimana asin itu. Baru tahu apa yang dia yakini.
sadar
kepada Alloh mengatakan, adanya jagad seisinya makhluk semuanya ini
sebab Alloh. Alloh Pencipta, otomatis ada pencipta-NYA. Yaitu makhluk
semuanya!
Para hadirin-hadirot, bagaimana keadaan hati kita ini,
termasuk yang pertamakah atau yang kedua, terserah hati kita
masing-masing. Yang pertama masih dijajah oleh imperialis nafsu, tapi ya
ada baiknya sebab mau usaha menuju sadar kepada Alloh SWT, usaha
membebaskan diri dari imperilis nafsu. Yang kedua tadi sudah bebas dari
imperialis nafsu... Sudah “ABDULLAHI” haqqon Betul-betul hamba Alloh.
Yang pertama masih “Abdun nafsi” hamba nafsu. Sekalipun lahirnya
kelihatan “Abdulloh” tapi hakikotnya sesungguhnya batinnya masih “abdun
nafsi”. Terserah diantara kita ini masuk yang mana, kita harus ada
perhatian!
Dus! ada orang yang (tapi jarang) menjadi sadar tanpa
berjuang tanpa usaha tanpa mujahadah-mujahadah. Tahu-tahu dia dijadikan
budi tarik oleh Alloh SWT. “AHKDHOMUN NAASI JADHBAN AL ANBIYA' yang
paling besar mendapat jadhbu tarikan adalah para anbiak dan Mursaluun
‘alaihimus sholaatu wassalam Tapi itu jarang sekali Umumnya ya dengan
berjuang dengan usaha dengan mujahadah-mujahadah. Sesungguhnya berjuang
atau usaha atau mujahadah itupun ditarik oleh Alloh SWT. Ditarik dengan
jalan perjuangan, usaha atau mujahadah. Ya sama dengan soal lahiriyah.
Orang kaya misalnya. Pada umunmya dari hasil berjuang usaha, bekerja
dengan gigihnya. Tapi ya mungkin ada tapi jarang sekali tahu-tahu
menjadi orang yang kaya mendadak. Entah bagaimana jalannya. Mungkin
mendapat warisan dan lain-lain. begitu juga soal kesadaran.
وَلِذَا قِيْلَ نِِهَايَةُ السَّالِكِ بِدَايَةُ الْمَجْذُوْبِ
Maka
dikatakan “titik” penghabisan dari “Salikin” merupakan titik permulaan
bagi “Majdhuubiin”. Saalik yang sudah sampai ke tingkat bebas dari
imprialis nafsunya merupakan titik, permulaan dia dijadhbu ditarik. Atau
dibalik.
نِِهَايَةُ الْمَجْذُوْبِ بِدَايَةُ السَّالِكِ
Artinya:
Orang
yang majdhub ditarik tidak melalui jalan usaha akhirnya juga akan
berjuang usaha dan mujahadah-mujahadah dan lain-lain. Yaitu dalam rangka
“Yukti Kulladhii haqqin haqqoh”. Dia usaha dan berjuang tapi hatinya
senantiasa kepada Alloh.
وَوَرَدَ اَعْظَمُ النَّاسِ جَذَابًا اْلاَنْبِيَاءِ
Yang paling besar ditariknya adalah para anbiya' wal mursalin otomatis makin tinggi kedudukannya, makin besar menariknya.
وَذَالِكَ
أَنَّ الْمُسْتَدِلُ بِهِ عَرَفَ الْحَقِّ فَأَثْبَتَ الاَمْرَ مِنْ
وُجُوْدِ اَصْلِهِ ,وَاْلاِ سْتِدْلاَلُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الْوُصُوْلِ
اِلَيْهِ وَاِلاَّفَمَتَى حَتَّى يَسْتَدِِلُّ عَلَيْهِ وَمَتَى بَعُدَ
حَتَّى تَكُوْنَ الآثَارُ هِىَ الَّتِى تُوْصِلُ اِلَيْهِ
Tapi
dikatakan ada dua macam, orang yang menuju kesadaran kepada Alloh. Yang
pertama membuat makhluk sebagai dalil kepada Alloh dan yang kedua
menjadikan Alloh sebagai petunjuk untuk menunjukkan makhluk. Maklum yang
pertama tadi belum sadar kepada Alloh SWT sehingga makhluk dianggap
mampu menunjukkan kepada KHOLIQ Ya, maklum mereka ini masih buta
terhadap Alloh SWT. yang kedua tadi, yaitu orang yang membuat KHOLIQ
sebagai petunjuk terhadap, makhluk. Dan ini yang benar yang tepat. Alloh
itu asli sumber dari segala. yang majdhub. Golongan yang kedua ini
dapat menempatkan. segala sesuatu di tempatnya. Oleh karena Alloh itu
sumber asal atau Pencipta atau wujud pertama, maka mereka itu dapat
menempatkan Alloh pada kedudukan yang sebenarnya, di tempat yang pertama
pula. sebagai petunjuk yang menunjukkan segala sesuatu. Orang yang
enak.
Dam tidak ada soal yang lebib tepat dari pada yang semestinya. Kaki
misalnya, gunanya untuk berjalan. Tidak ada yang lebih tepat dari pada
untuk berjalan.begitu juga mata. Mata untuk melihat, tidak ada yang
lebih tepat, bahkan tidak bisa, dari pada untuk melihat. Tidak bisa
digunakan untuk yang lainnya. Tidak tepat ya tidak boleh mestinya.
Lha hati yang asli yaitu untuk pelaksanaan "WA MAA KHOLAQTUL JINNA WAL
INSA ILLA LIYAKBUDUUNNI ! Adapun anggota lahiriyah, atau badan
lahiriyah, boleh dikatakan pembantu pelaksanaan dari kerja hati itu
tadi.
Jadi hati atau jiwa, menurut aslinya diciptakan adalah
demi untuk itu. Untuk hubungan kepada Allah SWT, jadi kalau begitu tidak
yang tepat bagi hati selain hanya untuk hubungan kepada Allah SWT saja
!. Kalau kita pakai istilah “lebih tepat” tentunya lain-lainnya
sekalipun di bawahnya sedikit ada tempatnya. Tapi kita sebutkan bahwa
“diciptakan demi hanya untuk itu”. Yang tepat yang hanya ini. Kalau
tidak untuk itu. Tidak tepat lagi namanya, Ya mungkin ada yang jauh,
agak jauh dan seterusnya, Makin dekat, makin mendekati kepada yang
semestinya.
Dus, “hijab” atau aling-aling “tabir”, yang dihijabi
yang dialing-alingi adalah hambanya sehingga tidak tahu, tidak sadar
kepada Allah SWT. Sedangkan Allah SWT sama sekali tidak kaling-kalingan !
Allah SWT:
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيْطُوْ نَ بِشَىءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ
Allah
Maha Meliputi, Allah SWT Maha Mengetahui... dan seterusnya. Jadi jelas
tidak ada istilah “hijab” atau aling-aling yang dapat mengaling-alingi.
Hamba “’terhijab”, yang dimaksudkan yaitu tadi, terhalang oleh nafsunya
sendiri. Dia masih selalu dihujah oleh imperialis nafsunya. Masih
senantiasa menuruti nafsunya. Segala gerak dan lakunya baik itu yang
berhubungan kepada Allah SWT wa Rosuulihi SAW maupun yang berhubungan
dengan sesama manusia sesama makhluk. Senantiasa menuruti nafsu. Atau
paling-paling dipengaruhi oleh nafsunya masing-
.فَادْخُلِى فِى عِبَادِى وَادْخُلِى جَنَّتِى
( ... dan silahkan memasuki kelompok dari hamba-hamba-KU dan silahkan masuk ke dalam surga-KU).
Kalau
orang sudah bersih dari nafsunya, sudah bebas dari imperialis nafsunya,
otomatis dia mendapat panggilan dari Allah SWT seperti di atas. Wahai
nafsu yang tumakninah, yang tenang, yang bebas dari imperialis nafsu,
mari silahkan menghadap di hadapan Tuhan-Mu dengan sepuas-puasnya dan
diridloi oleh Allah SWT.
Maka silahkan bergabung bersama dengan hamba-hamba-KU dan silahkan masuk ke dalam surga-KU (sesuka hatimu).
Jadi kalau orang sudah bersih dari imperialis nafsu, dengan sendirinya
senantiasa sowan menghadap di hadapan Allah SWT Tuhannya dengan
sepuas-puasnya dan diridloi oleh Alloh SWT. Dan itulah surga yang ...
yang tidak dapat digambarkan kenikmatan dan keindahannya, kecuali oleh
orang yang bersangkutan sendiri. Lain orang yang belum sowan di hadapan
Allah SWT atau belum bebas dari imperialis nafsu lebih-lebih, sama
sekali tidak merasakannya. Mudah-mudahan para hadirin hadirot, kita
dikaruniai taufiq atau fadlol dari Allah SWT wa Rosuulihi SAW, kita
dapat bebas sebebas-bebasnya dari imperialis nafsu atau bersih
sebersih-bersihnya dari imperialis nafsu, sehingga dapat senantiasa
sowan menghadap di hadapan Tuhan kita Allah SWT, dapat sadar kepada
Allah SWT, dapat syuhud kepada Allah SWT. Manusia !, Jiwa manusia memang
seharusaya untuk syuhud kepada Allah SWT
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسِ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنَ
Ibarat
mata, mata untuk melihat, telinga untuk mendengarkan, kaki untuk
berjalan dan sebagainya. Benda atau barang atau soal yang tidak
semestinya, itu otomatis tidak normal. Kalau tidak semestinya, tidak
membuat
Alloh sebagai petunjuk mereka tahu sesungguhnya. Barang yang
sesungguhnya yaitu soal yang paling pokok adalah Alloh yang punya.
“FA ASBATAL AMRO MIN WUJUbDI ASLIHI”
(Makhluk dianggap, ada karena dari asalnya dari Alloh SWT).
Segala sifat itu ada dasarnya. Ada bekas-bekasnya. Kholiq pasti ada
makhluknya, sifat kasih sayang misalnya, pasti ada yang dikasih sayangi.
Tapi ada .... SIFAT ADILNYA TUHAN. Adilnya Tuhan otomatis ada obyeknya.
Yaitu yang diadili.
مَنْ يَضْلِلِ اللهُ فَلاَ هاَدِيَ لَهُ .الاعراف : ١٨٦
(Barang siapa yang disesatkan Alloh, maka tidak ada yang mampu menunjukkannya).
Alloh menghancurkan, menyesatkan ini adalah dari KEADILAN TUHAN.
Istilah “ADIL” bermacam-macam. Adil bermakna “menyama ratakan”, ada.
Tapi ada juga “tidak menyama ratakan” itu justru adil. Misalnya ada kaum
pria ada kaum wanita kedua-duanya disuruh mencangkul di sawah. Ini kan
tidak adil namanya. jadi ada istilah “menyama ratakan” itu adil, tapi
justru tidak menyama ratakan, itu yang adil. Alloh SWT menghancurkan,
menyesatkan seluruhnya ini adil. Adil itu kebalikan dari “dhulmu”.
“Adhulmu wad’u syaiin fii ghoid mahallihi”. Meletakkan sesuatu bukan
pada tempatnya. Itu dzolim Kalau, “adil” kebalikan dari. “dholim”,
berarti “adil” itu menempatkan sesuatu pada tempatnya... Alloh
menyesatkan sebahagian hamba-NYA, ini adil karena kepunyaan-NYA. Mau apa
saja berhak. Sekalipun memasukkan neraka semua hamba-NYA, berhak.
Memasukkan surga semua juga berhak. Yang baik dimasukkan neraka berhak,
yang jelek dimasukkan surga juga berhak karena semua-semua itu adalah
milik-NYA. Tapi kalau kita manusia tidak bisa berbuat seperti itu.
Karena. pemilikan kita atas apa yang ada pada kita manusia itu milik
majazi, bayangan. Tidak memiliki secara mutlak sebagaimana
Alloh
SWT memiliki makhluk. Terbatas, kalau begitu di dalam menggunakan
apa-apa yang terbatas pada manusia terbatas pula. Sekalipun harta benda
miliknya sendiri kalau dihancurkan tanpa ada manfaat itu terkecam Tapi
Alloh SWT sekalipun tidak ada manfaatnya bahkan membahayakan, karena
Alloh mutlak memilikinya, itu tetap adil.
Maka yang paling
ditakuti oleh orang-orang yang sadar kepada Alloh Ta’ala adalah ...
SIFAT ADILNYA ALLOH. Sifat “JALANNYA ALLOH TA’ALA.
Neraka, itu
hanya akibat. Akibat dari ADILNYA ALLOH TA’ALA. Atsamya atau bekasnya
SIFAT QOHARNYA ALLOH TA’ALA, Sifat “JALALNYA ALLOH TA’ALA” Yang paling
pokok adalah sifat QOHARNYA atau SIFAT JALALNYA atau SIFAT ADILNYA ALLOH
TA’ALA. Bagi orang yang sadar, yang ditakuti bukan bekasnya tapi
“pokoknya” Yaitu JALALNYA ALLOH TA’ALA. Yang pokok jauh lebih pedas dari
pada bekas atau atsamya neraka jahaman atau neraka yang bagaimanapun
dahsyatnya, itu hanya suatu atsar atau bekas atau efek dari pada Alloh
SWT. Otomatis jauh lebih kuat yang pokok itu dari pada atsamya. Inilah
yang dinamakan “NAARUL BI'AAD”. Neraka dijauhi oleh Alloh SWT! Itu!
Itulah yang paling ditakuti oleh orang-orang yang sadar. Sekalipun
sekarang sadar, mungkin pada detik-detik berikutnya sama sekali tidak
punya kesadaran tidak punya iman kepada Alloh SWT. Kalau Alloh
berkehendak berbuat, tidak dapat diganggu gugat. “LAA YUS-ALU ’AMMA
YAF’AL”. Tapi mereka makhluk pasti dimintai pertanggung jawaban “WAHUM
YUS-ALUUN”. Segala perbuatannya pasti dimintai pertanggung jawaban!. Mau
tidak mau.
“WAL ISTIDLAH ‘ALAIHI MIN ‘ADAMIL WUSUUL ILAIHI”
Orang
yang membuat makhluk, dibuat sebagai dalil atau petunjuk atau pengantar
kepada Alloh SWT itu karena ia belum wusul belum sadar kepada Alloh
SWT. Karena belum tahu pada Alloh SWT. Maka lalu membuat lainnya Alloh
sepelti amal-amal ibadah, mujahadah-
AL - HIKAM 1 Hal 29.
بسْمِ اللهِ الرَّحمْنَ ِالرَّحِيْمِ
{الْحَقُّ لَيْسَ بِمَحْجُوْبُ وَإِنَّمَا الْمَحْجُوْبِ أَنْتَ عَنِ النَّظْرِ إِلَيْهِ}
Alloh
SWT tidak ada yang menutupi atau ngaling-ngalingi. Tidak tertutup oleh
barang lain ... “WA INNAMAL MAHJUBU ANTA ‘ANIN-NADHORI ILAIHI”. Yang
terhijab itu adalah orangnya sendiri. Kaling-kalingan atau terhijab
tidak tahu, tidak sadar kepada Alloh SWT. Orang yang tidak sadar kepada
Alloh SWT boleh dikatakan orang yang kaling-kalingan atau terhijab, yang
menghalangi menjadi hijabnya adalah nafsu
فَإِنْ أَرَدْتَ
الوُصُوْلَ إِلَيْهِ وَالدُّخُوْلَ فىِ حَضْرَتِةِ فَابْحَثْ عَنْ عُيُوْبِ
نَفْسِكَ وَعَالِجْهَا تَصِلُ إِلَيْهِ وَتُشَاهِدُهُ بِبَصِيْرَتِكَ
Kalau
orang ingin ma'rifat ingin sadar ingin syuhud kepada Alloh SWT supaya
membuang nafsunya. Sifat-sifat nafsu yang buruk harus dihilangkan kalau
sudah tabu. Kalau belum tabu harus senantiasa usaha menyelidiki. Dicari,
dipetani terus. Nanti kalau sampun bersih otomatis dapat sowan
kehadirat Alloh SWT dengan sowan yang semestinya. Kalau sudah, bersih
dengan sendirinya selalu mendengar firman Alloh SWT :
يَااَيَتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَةُ .ارْجِعىِ إِِلَى رَبِّكَ رَاضِيَةَ مَرْضِيَةِ .
(Wahai nafsu yang sudah bersih, sudah lunak, silahkan kemhali kepada Tuhanmu dengan puas, relah dan mendapat ridlo ...)
supaya
minta keterangan kepada Pusat. Hubungan dengan penyiaran. Mari di dalam
kita menyiarkan kita tinjau kembali dan kita tingkatkan
kebijaksanaan-kebijaksanaan disamping meningkatkan kemampuan lahiriyah
dan batiniyah kita, mujahadah kita terutama. Alhamdulillah
mujahadah-mujahadah kita baik yang berjama'ah terutama, maupun yang
perorangan di tempat masing-masing tidak sia-sia. Besar sekali
faedahnya, mari terus kita tingkatkan. Umumnya adanya
persoalan-persoalan itu disebabkan oleh kita Wahidiyah sendiri yang
kurang tepat. Ya memang mungkin itu disamping negatif dari luar sendiri.
Mari pada kesempatan ini sama-sama berdepe-depe kepada Alloh SWT untuk
segala bidang. Diantara bidang penyiaran dan lain-lain. Untuk Fafirruu
Ilallohi wa Rosuulihi SAW.
AI - FAATIHAH ... !
(MUJAHADAH)
mujahadah
dan lain-lain usaha untuk supaya tahu pada Alloh Ta'ala. Ya sudah ada
baiknya karena mau usaha dan berjuang kearah itu.
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ عَرَفَ رَبَهُ
Barang
siapa tahu dirinya, tahu Tuhan-Nya. Ini namanya badannya sendiri dibuat
penghantar kepada Tuhan-Nya. Karena belum sadar. Tapi orang yang sudah
sadar mengatakan :
Barang siapa yang tahu dirinya,
akan Tuhannya otomatis dia tahu akan dirinya. Tahu kedudukan dirinya.
jadi yang belum sadar punya pedoman “MAN NAFSAHU 'AROFA ROBBAHU ‘AROFA
NAFSAHU”. Dari atas kebawah. Yang pertama tadi “TAROQQI” dan. kedua
“TADALLI” menurut istilah lain.
Tapi yaitu kedua-duanya baik
semua ditinjau dari satu segi sekalipun yang satu tadi belum sadar, tapi
dia mau usaha dan mau berjuang. Yang paling celaka yaitu tidak sadar
dan tidak mau berjuang atau nggelonjo. Diantara kita di mana letaknya,
itu terserah kita masing-masing!. Tapi kita harus sekuat mungkin minim
berjuang untuk menjadi orang yang sadar dan dapat menyadarkan orang
lain! Ya mudah-mudahan para hadirin-hadirot!.
Para
hadirin-hadirot, ya mudah-mudahan pengajian pagi ini benar-benar
diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, membuahkan manfaat yang
sebanyak-banyaknya fid-dinni wad-dunya wal akhiroh!. Amiin!.
Dus! ada orang yang sadar “KAAMILUN”, tapi tidak ada kemampuan untuk
menyadarkan orang lain. Dia mampu sowan audensi kehadirat Alloh Ta'ala.
Tapi tidak mampu mengajak kawan-kawannya atau orang lain.
Ada lagi “AL KAAMILUUNA WAL MUKAMMILUUN” atau “AL WAASILUUNA WAL
MUUSHILUUN”. Mereka sadar kepada Alloh SWT dan dapat menyadarkan orang
lain. mereka sudah wushul kepada Alloh Ta’ala. dan dapat mengantarkan
orang lain wusul. Atau mewusulkan orang lain kepada Alloh SWT.
Hakikatnya ya Alloh SWT yang mewusulkan. Tapi sesungguhnya kita semua
diberi kemampuan untuk mewusulkan itu. Soal akhirnya kaya atau miskin,
Itu soal yang masih ghoib, tapi kita mampu bekerja dan usaha istilah
ekonomi. Mampu dan ada modalnya, ada tenaganya pokoknya ada
syarat-syarat yang diperlukan. Adapun nanti bisa jadi atau tidak, itu
wallohu alam. Tapi kita harus yakin :
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَهُمْ سُبُلَنَا. العكبوت : ٦٩
Barang siapa yang sungguh-sungguh, pasti Alloh Ta'ala menunjukkan jalannya. Atau :
اُدْعُونِى اِسْتَجِبْ لَكُمْ .المؤمن:٦
(Bermohonlah kepada-KU, pasti AKU ijabahi).
Mohon dengan bahasa lisan dan bahasa keadaan. Keadaan giat berjuang dan memenuhi syarat.
Sedikit lagi. Dalam kitab-kitab aqoid seperti Kifayatul Awaam dan
lain-lain, di sana ada istilah dalil!. Dalil! yang dimaksud di sana dan
di sini yang baru kita bahas tadi adalah berlainan. Dalil yang dimaksud
dalam kitab-kitab tersebut ada yang secara ‘aqli secara akal, secara
logika secara mathiqiyah. Apa dalilnya atau buktinya bahwa Tuhan itu
ada. Dalilnya yaitu adanya makhluk. Artinya mungkinnya Mungkinnya ada
makhluk. Bukan hanya glegernya ada makhluk. Sekalipun makhluk tidak ada,
tapi mungkin makhluk terjadi, dijadikan. Lha ini menjadi dalilnya Alloh
SWT. Bahwa Alloh SWT itu ada, Tuhan Maha Pencipta. jadi bukan glegernya
jagad ini, tapi kemungkinannya glegernya jagad ini. Kemungkinan
wujudnya
kesenangan nafsu. Itu semua bisa disalah gunakan.
Dan otomatis kalau belum istiqomah batiniyah terhadap Allah SWT,
otomatis disalah gunakan.
Secara umum. Segala nikmat baik yang
luar biasa mampun yang biasa, kalau tidak sadar kepada Allah SWT,
otomatis disalagunakan. Dan otomatis menjadi penglulu-istidroj !
Penglulu alat jebakan. Makin banyak nikmat yang diterimanya otomatis
makin banyak menyalahgunakan !. Baik itu nikmat biasa atau nikmat yang
luar biasa. Baik yang dapat diperhitungkan seperti karena usaha atau
permohonannya maupun yang di luar perhitungan tak terduga-duga. Itu
semua kalau tidak LILLAH BILLAH otomatis Linnafsi binnafsi. Kalau
linafsi binnafsi, bukan nikmat lagi, tapi suatu jebakan, atau penglulu.
Mari kita koreksi nikmat hidup kita ini, sanggup nikmatkah atau jebakan,
mari terserah kita masing-masing.
Para hadirin hadirot, sekali
lagi mudah-mudahan pengajian ini diberi manfaat yang,
sebanyak-banyaknya. Dan kiranya pengajian cukup sekian, selanjutnya
waktu dan tempat dipersilahkan kepada beliau dari Pusat.
SAMBUTAN-PENYIAR SHOLAWAT WAHIDIYAH PUSAT
Disampaikan oleh Bapak A.F. Badri.
Pokok-pokok isi sambutan antara lain adalah mengenai persoalan
penyiaran khususnya di daerah Samarinda di mana seseorang penyiar
ditahan oleh yang pihak yang berwajib, karena mungkin bijaksana.
Selanjutnya sambutan berisi pembacaan pengumuman ! Siaran Pusat mengenai
mujahadah wuquf dalam musim haji 1397 H.
KEMBALI AMANAT ROMO YAHI
Mari para hadirin hadirot dawuh-dawuh atau instruksi dari pusat kita
perhatikan ! Mujahadah-mujahadah yang baru dibacakan tadi mari kita
perhatikan kita laksanakan ! Saudara-saudara yang ada persoalan
lebih-lebih
tamu nglayoni kematian. Ini Mujahadah boleh ditinggal menemani tamu
tadi. Tapi kalau tamunya. tamu anggon, sudah biasa, lebih-lebih biasanya
hanya mengajak ngobrol saja, ini kalau dilayani ya tidak kober
Mujahadah ! Ini mungkin saja malah mungkin kedatangan tamu. itu tidak
membahas soal perjuangan atau soal Mujahadah, kalau perlu, ya tidak usah
dilayani ! Sekali tempo harus begitu, kalau perlu !
Dus mudahnya, kita harus mengisi segala bidang “yukti kulla dzii haqqin haqqoh” dan “taqdimul aham fal aham”.
“Istiqomah”, ajeg, ini yang dimaksudkan terutama, ajeg batin !
Sedangkan ajeg atau istiqomah lahiriyah ya baik. Tapi kalau perlu ya ada
tidak baiknya malahan. Umpamanya tiap jam sekian meski begini misaInya.
Padahal pada jam itu ada yang aham, lha ini Ialu menyalahi. Umpamanya,
menghormat tamu itu wajib misaInya. Sedangkan Mujahadah pada waktu itu
tidak wajib misaInya. Lha ini namanya tidak bisa taqdimul aham fal aham.
Yah, pokoknya terserah. Insya Allah dapat dilaksanakan taqdimul aham
fal aham dan istiqomah , kalau bisa ya istiqomah dhiron wa batina !.
kalau lahirnya dalam masjid, hatinya ya harus di dalam masjid, tapi
kalau soal lahir kalau kalau terus menerus di dalam masjid, lah rumah
tangganya kan bubar nanti. Ya harus kesawah, kepasar, tapi batinya harus
tetap didalam masjid terus !. Dus istiqomah, terutama hatinya yang
istikqomah senanntiasa LILLAH BILLAH !. Adapun lahirnya ya harus mengisi
bidang dan taqdimul aham.
"WALAA TAKUN THOOLIBAL KAROOMAH".
Jangan
mencari keramat !. sebab, keramat itu kesukaan “Nafsu”!. “Kramat” di
dalam ilmu Tasafuf seperti di dalam kitab Al-Hikam ini, yang dimaksud
adalah “Kemuliaan” Ada lagi “karom” artinya “loman”. Disini yang
dimaksudkan adalah orang yang karuniai “Khoriqul 'adah” nulayani
kebiasaan. Misalnya tahu hati kawannya, tahu persoalan yang akan datang,
tahu perkara-perkara yang ghoib dan lain-lain. Atau tahu-tahu punya
rizki yang di luar perhitungan, misalnya. Itu semua
jagad
ini (kalau seandainya jagad ini tidak ada), kemungkinannya itu menjadi
dalil bahwa Alloh itu ada. Seorang penjahit sekalipun tidak ada hasil
jahitannya, tapi dia ada kemampuan menjahit. jadi mungkinnya jagad ini
diwujudkaix menjadi tanda atau yang menunjukkan bahwa Alloh SWT itu ada.
Adapun “dalil” yang dimaksudkan dalam. pengajian ini, misalnya sekarang
melihat tembok, temboknya yang kellhatan lebih dahulu, bukan Tuhannya.
Ini yang dimaksud dalam pengajian ini Tahu, tembok... baru sadar kepada
Tuhan. Itu yang dimaksudkan membuat dalil makhluk untuk menunjukkan
kepada Aloh SWT. Tidak sadar kepada Alloh lebih dahulu. Lalu kita
termasuk yang mana, mari ambil perhatian yang sebanyak-banyaknya para
hadirin-hadirot. Tapi ya mungkin dalam tahap permulaan tahu tembok, ya
tembok dahulu yang lebih merangsang dalam hatinya. Tapi kemudian sadar
BILLAH. Dalam tahap pertama dalam latihan ya begitu, insya Allah
lama-lama menjadi manakah menjadi terampil begitu melihat makhluk terus
langsung BILLAH.
Para hadirin-hadirot, mudah-mudahan pengajian
pagi hari ini benar-benar diridloi oleh Alloh SWT, dan mudah-mudahan
“WALLOHU ALAKULLI SYAIIN QODIIR” bifadhlillahi wa rohmatih, wa
bisya'faati rosulillahi saw wa tarbiyatih, mudah-mudahan kita semua
dijadikan “minal waasiliina al muushiliin wa minal washilaati al
muushilaat, wa minal kaamiliin al mukammiliin wa minal kaamilaat al
mukammilaat”. mudah-mudahan dijadikan oleh Alloh SWT menjadi orang yang
sadar dan menyadarkan orang lain.
Mudah-mudahan dijadikan
manusia yang sempurna dan dapat menyempurnakan orang lain. Mudah-mudahan
Disamping usaha. Para hadirin-hadirot, kiranya pengajian cukup sekian.
Dan sekarang waktu dan tempat dipersilahkan kepada Pusat.
SAMBUTAN DARI PENYIAR SHOLAWAT WAHIDIYAH PUSAT
Disampaikan oleh Bapak Moh. Ruhan Sanusi
Hubungan dengan pengajian ini beliau mengemukakan pendapat bahwa
sesungguhnya kita sebagai pengamal Wahidiyah, kita diperkenankan
ikut-ikut dalam perjuangan Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW ini adalah
juga di “jadhbu” ditarik dikehendaki oleh Alloh SWT, tidak karena
syafa'at dari Rosuulilahi SAW, kalau tidak karena “Tarbiyah dan Nadhroh”
dari Ghoutsi Hadzaz Zaman Rodiyallohu ‘anhu, pokoknya kalau tidak
karena dikehendaki oleh yang menghendaki, ... Alloh SWT wa Rosuulihi SAW
wa Ghoutsi Hadzaz Zaman r.a. tidak mungkin kita dapat ikut-ikut dalam
perjuangan Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW. Lebih-lebih diantara kita
yang menjadi Panitia Penyiar Wahidiyah atau sponsor Wahidiyah dimanapun
kita berada otomatis mendapat “tarikan” yang lebih besar, lebilt kuat.
Oleh karena itu kita diperingatkan untuk senantiasa meningkatkan syukur
kita. Syukur dan terima kasih kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW wa
Ghoutsi Hadzaz Zaman r.a. terima kasih kepada perjuangan Wahidiyah itu
sendiri Terutama nuwun sewu kepada Hadrotul Mukarrom Romo Yahi yang
telah memberi, membimbing mendidik kita dalam Wahidiyah ini. Yang telah
dan senantiasa membimbing dan mendidik kita secara batiniyah dan
lahiriyah, senantiasa memberi kita mutiara-mutiara ilmiah dan mutu
Manikamnya Dhauqiyah. Beliau memberi dan membimbing kita kearah menjadi
manusia Kaamil dan Mukammil tanpa mengharap sesuatu balas jasa
sedikitpun dari kita! Malah justru segala pemberian dan bimbingan itu
... untuk kita. Amanat-amanat dan fatwa-fatwa beliau supaya kita terus
meningkat terus meningkat dalam segala bidang, adalah justru untuk
keselamatan dan, kebahagiaan kita semua! Tinggal kita masing-masing mau
menyadari dan tahu diri atau tidak. Menyadari dengan sepenuh
konsekwensi!. Tahu diri bahwa kita ini menerima soal-soal yang sangat
kita butuhkan bagi kebahagiaan dunia akhirat.
Oleh karena itu mari kita tingkatkan konsekwensi dan rasa tanggung
...
kecuali di bawah asuhan seseorang Guru Mursyid yang Kaamil yang memberi
nasehat-nasehat. Itu pada umumnya. Lha dalam Wahidiyah insya Allah asal
Mujahadah-Mujahadah dipergiat, disamping terus melatih hati, insya
Allah akan ada kemajuan. Ya mudah-mudahan Para hadirin hadirot, kita
semua dikaruniai fadlol oleh Allah SWT, syafa'at tarbiyah dam barokah
karomah dari Rosululloh SAW. Ghoutsi Hadzaz Zaman wa A’waanihi wa saairi
Ahbaabillahi rodiyatullohu Ta’ala’anhum yang sebanyak-banyaknya !. Amin
!.
Dus yang harus diperhatikan, yaitu orang harus usaha
menghilangkan akhlaknya hati yang bejat itu. Takabur, riya’ ujub dan
lain-lain, akhlak-akhlak yang buruk yang berhubungan dengan Allah SWT
maupun nyang berhubungan dengan sesama manusia dan makhluk, juga yang
berhubungan dengan dirinya sendiri, ini yang harus, ini yang harus
dicari dan diteliti ! kalau sudah ketemu harus dihapuskan harus dibuang,
sedapat mungkin. Dan kalau memiliki akhlak yang baik, harus dipupuk.
Dalam istilah LILLAH BILLAH, kalau tidak LILLAH BILLAH, harus dicari
sebab atau sumbernya dan terus diganti LILLAH BILLAH ! sebab, otomatis
kalau tidak LILLLAH BILLAH-LINAFSI BINAFSI dan kalau tidak LINNAFSI
BINAFSI – LILLAH BILLAH.
Sekarang yang menjadi persoalan adalah
saya ini sudah LILLAH BILLAH sungguh-sungguhkan atau baru imitasi
Harus selalu ada koreksi. Otomatis kalau LILLAH BILLAH imitasi, masih
banyak ujub riya' takabburnya. Perlu sekali selalu dikoreksi
كُنْ طَالِبَ اِلاِ سْتِقَامَةِ وَلاَ تَكُنْ طَالِبَ الْكَرَامَةِ
Carilah
usahakanlah istiqomah, istiqomah batiniyah terutama hatinya selalu
istiqomah LILLAH BILLAH ! Adapun lahiriyah sebisa-bisanya ya supaya
istiqomah ! Kecuali “taqdimul aham fal aham” Umpamanya ini sedang
Mujahadah kok ada kepentingan yang aham umpamanya, lha ini Mujahadah-nya
boleh ditangguhkan “Kulo nuwun” misaInya ada tamu,
dirinya.
Tahu dan menyadari bahwa dirinya senantiasa ujub, senantiasa riya’,
senantiasa takabur senantiasa LINNAFSI BINNAFSI... Senantiasa pamrih,
yang harus selalu dicari !. Diselidiki ! kalau sudah ketemu harus
di,...dihapus ! Yah dalam ucapan kelihatannya mudah, tapi kalau tidak
ada perhatian dalam prakteknya, ... yah pokoknya harus ada perhatian
yang sebanyak-banyaknya.
Dus otomatis orang kalau tidak LILLAH
BILLAH selalu ... selalu negatif !. Cukul nafsunya ! Senantiasa riya'.
Sekalipun tidak melakulcan perbuatan atau beramal. Malah terkadang tidak
merasa bahwa akhlaknya bejat. Tentu saja bejatnya akhlak itu
bertingkat-tingkat. Ada yang parah ada yang tidak otomatis. Lha, ini
harus selalu dikoreksi. Buruknya, negatifnya apa, harus selalu dicari
Kalau tidak tahu harus disadari bahwa dirinya, mata hatinya buta. Harus
diusahakan penyembuhannya. Sehingga sembuh dari penyakit buta, sehingga
dapat mengetahui negatif atau keburukannya ! Ingin dihormat, ingin
dimulyakan dan lain-lain. Ini semua harus diselidiki, diusahakan
mengetahui dan menyadarinya, kalau sudah ketemu harus digempur
disembuhkan dari penyakit-penyakit hati seperti itu.
Tapi,
kalau soal ghoib, tahu sebelum terjadi “weruh sakdurungi winarah”, tahu
hatinya orang lain, tahuhal-hal yang akan datang, ini tidak menjadi
keharusan. Malah bisa mcrugikan, dan disalahgunakan. Kalau memang
diparingi tahu, harus di manfaatkan, tetapi awas dapat disalahgunakan.
Yaitu kalau tidak tepat “kalau tidak dimanfaatkan pasti
disalahgunakan” ! Disalahgunakan untuk-takabbur, untuk lain-lain
keuntungan nafsu, malah kemungkinan besar atau otomatis merugikan kepada
orang lain.
Soal tersebut di atas, yaitu menggali menyelidiki sifat-sifat yang buruk tidak bisa
إِلاَ عَلَى يَدِ شَيْخٍ كَامَلٍ نَاصِحٍ
jawab
kita sebagai pengamal wahidiyah, sebagai yang disebut sebagai pejuang
kesadaran Fairruu Ilallohi wa Rosulihi SAW ! Mujahadah-mujahadah kita
diberi amanat supaya meningkat! Baik mujahadah sendiri-sendiri secara
perorangan maupun mujahadah-mujahadah berjamaah. Mujahadah dan usbu'iyah
di kampung-kampung sekalipun dikampung itu hanya masih ada tiga glintir
pengamal wahidiyah, harus kita bina dan kita tingkatkan. Begitu juga
mujahadah-mujahadah Syahriyah dari seluruh pengamal se-Kecamatan,
Mujahadah Triwulan bagi seluruh pengamal se-Kodya/Kabupaten. Dan
terutama Mujahadah Kubro di Pusat Wahidiyah tiap bulan Muharrom dan
bulan Rojab.
Selanjutnya Beliau memperingatkan Sifat “ADILNYA
ALLOH SWT” yang baru diutarakan dalam pengajian ini. Kita sekarang masih
aktif dalam perjuangan wahidiyah, aktif dalam segala kemampuan yang ada
pada kita lahir batin moril dan materiil dan tenaga. Tapi mungkin di
lain waktu menjadi penghambat dan penghianat Perjuangan Wahidiyah Malah,
mungkin sekarang kelihatan lahirnya aktif dalam kegiatan-kegiatan
Wahidiyah dalam Mujahadah-mujahadah dan lain-lain, tetapi sesungguhnya
sudah diputus “tali penarik jadhbu” kita tidak merasa. Kita sudah
terlempar jauh di “Naarul.Bi’aad” kita tidak merasa. Inilah yang harus
kita takuti, kita sebagai Pengamal Wahidiyah lebih-lebih yang duduk
dalam kepanitiaan Wahidiyah. Kita takut kepada sifat ADILNYA ALLOH SWT.
Takut pada WEWENANG KEKUASAAN BELIAU GHOUTSI HADZAZ ZAMAN R.A. Beliau
wenang menarik menghubungkan dan wenang pula memutus hubungan dan
meninggalkan. Beliau diberi kekuasaan “JALLAB” dan “SALLAB”. Mengangkat
dan menurunkan, malah melenyapkan kesadaran dan iman seseorang!. Dan
yang bersangkutan tidak merasa. Masalah merasa sebaliknya. Baru besok di
akhirat, baru besok ketika bertemu dengan Malaikat Izroil.
……..terkejut.
Tapi kita yakin sesuai dengan ajaran yang
diberikan kepada kita, asal kita tidak keterlaluan nggelonjom dan
serabrono, asal kita tidak berbuat
dan bersikap
yang “SUUL ADAB” kita yakin beliau Ghoutsi Hadzaz Zaman r.a.
bertakholluq biakhlaaqillahi wa akhlaqi Rosuulillaahi SAW.
Demikian antara lain sambutan dari Penyiar Shalawat Wahidiyah Pusat.
KEMBALI FATWA AMANAT ROMO YAHI
Mari para hadirin-hadirot apa-apa yang telah disampaikan oleh Pusat
tadi kita perhatikan! Mari kita tingkatkan perhatian kita. Mari di dalam
kita berjuang kita tingkatkan!. Kita usahakan yang lebih
sungguh-sunggah didalam kita berdepe-depe dihadapan Alloh SWT wa
Rosuulihi SAW. Didalam kita berjuang agar supaya Jami'aal alamin Fafirru
Ilallohi wa Rosuulihi SAW kita tingkatkan dengan sungguh-sungguh!.
Kemampuan kita mari kita tambah yang sebanyak-banyaknya!. Lahiriyah
maupun batiniyah! Baik secara perorangan atau Mujahadah-mujahadah
berjamaah! Mari para hadirin-hadirot, selagi masih ada. kesempatan yang
luas sekali! mumpung masih ada kesempatan yang baik sekali!. Kalau sudah
terlanjur tidak ada kesempatan para hadirin-hadirot, kita tidak bisa
berkutik.
Mari para hadirin-hadirot pada kesempatan ini
sungguh-sungguh di dalam kita nelongso di dalam kita merintih
berdepe-depe dihadapan Alloh SWT wa Rosuulihi SAW. Demi untuk kita
bersama!. Demi untuk kita sekeluarga, untuk kita sebangsa, ini untuk
kita jami'al alamin.
Mari para hadirin-hadirot, mumpung masih
ada kesempatan dan kemampuan! Mari para hadirin-hadirot, sungguh-sungguh
di dalam berdepe-depe, di dalam kita merintih, di dalam kita nelongso
kepada Alloh SWT.
AL FAATMAH ………………..!
AL FAATIHAH ……………….!
AL FAATIHAH ……………….!
( MUJAHADAH )
memandang
Tuhan dengan seratus persen, otomatis makhluk tidak ada. Sebaliknya
kalau memandang makhluk otomatis Tuhan tidak ada tidak kelihatan oleh
mata hatinya orang yang tidak sadar. kalau hanya Allah SWT tok.,
otomatis lainnya tidak ada. Memandang hanya Allah SWT tok, itu di sini
dikatakan HAQQUL-YAQIN. Haqqul-yaqin. Lha kita sudah HaqquI -yaqin atau
belum, itu terserah kita masing-masing !.
“WA RUKYATU MAA
SIWALLOH KHOUDUN WALA’IBUN”. Memandang atau terpengaruh oleh makhluk,
oleh benda termasuk badannya sendiri. Ini dinamakan “khoudun wa Ia'ibun”
hanya dolanan, main-main, hanya omong kosong. Dan ini setengah dari
pada sifat yang terkecam !. Orang yang tidak sadar otomatis senantiasa
begitu, senantiasa... terkecam. Pokoknya hanya Allah SWT saja yang tidak
terkecam. Atau segala sesuatu yang bersangkutan dengan Allah SWT,
umpamanya yaitu tadi, didasari LILLAH BILLAH otomatis segala sesuatu
yang bersangkutan sekalipun soal wahidiyah, kalau didasari LILLAH BILLAH
otomatis menjadi soal Tauhid Sebaliknya sekalipun soal abudiyyah
lebih-lebih soal duniawiyah halau tidak didasari LILLAH BILLAH atau
pengabdian diri dan taubat, otomatis akan membawa akibat merugikan !
Sekalipun soal-Amal kalau dihubungkan dengan pengabdian diri kepada
Allah SWT. Dan didasari tauhid, lebih-lehih soal akhirat, ya otomatis
diridloi Allah. SWT. Soal ini Para hadirin- hadirot, pertu adanya
peningkatan dan penyempurnaan yang sebaik-baiknya !. Dalam segala
bidang. Bidang pemeliharaan, barang peningkatan dan bidang kita di dalam
penyiaran, lahiriyah dan batiniyah.
{تَشَوْفُكَ اِلَى مَا بَطَنَ فِيْكَ مِنَ الْعُيُوْبِ خَيْرً مِنْ تَشَوّْفِكَ اِلَى مَا حُجِبَ عَنْكَ مِنَ الْعُيُوْبِ}
Di
sini diperingatkan, keinginanmu, brontomu kepada mengetahui soal-soal
negatif yang ada di dalam dirimu, itu lebih baik dari pada keinginanmu
untuk mengetahui barang-barang yang ghoib. “Weruh sakdurunge winarah”
tahu apa yang akan terjadi. Ini masih lebih baik lagi yaitu usaha
mengetahui keburukan-keburukan yang ada di dalam
bahaya
akhirat !. Melainkan hanya kepada Tuhan saja !. Ini tidak berarti kita
tidak boleh, berkeinginan atau takut bahaya !, melainkan keinginan kita
pada nikmat atau takut kita pada bahaya itu harus kita dasari LILLAH !.
Jadi sesungguhnya bukan ingin kepada suatu benda itu, tapi ingin kita
itu karena LILLAH, diperintah supaya ingin. Begitu juga takut akan
bahaya atau siksa. Takutnya itu karena diperintah takut. Boleh dikatakan
andai kata tidak diperintah ingin atau diperintah takut, tentu tidak
ingin dan tidak takut.
Jadi sekali lagi, di dalam apa saja
mereka orang-orang yang sadar lakukan, senantiasa didasari LILLAH
Didasari diperintah”. Mari kita masing-masing koreksi diri kita. Apakah
kita sudah dapat mengecakkan dengan sesungguhnya LILLAH dan BILLAH itu ?
Mari kita senantiasa ambil perhatian !.
Para hadirin hadirot,
yah! kita sering mengatakan atau ngedoki mengakui berlarut-larut, ini ya
sudah baru, tapi yang lebih baik harus ... tunjuk hidung. Ya sudah baik
kita mengakui berlarut-larut menJadi sumber kedzoliman, sumber dari
segala dosa dan sebagainya. Tapi, kalau tidak tunjuk hidung secara
mendetail, ini masih gampang kabur, kita harus ... apa, ... apa, ...
apa.... apa,..'. apa kesalahan saya, apa dosa saya, ... harus kita
usahakan mendetail. Sehingga kita tahu betul-betul bahwa keadaan kita
ini betul-betul negatif !. jadi jangan hanya secara global atau
bongkokan, wah saya selalu berlarut-larut, banyak dosa begini begitu,
dosa saya besar semua, kalau masih hanya begini pengakuan, harus di
tingkatkan ! sehingga betul-betul njlimet.
فَإِفْرَادُ
التَّوْحِيْدِ بَعْدَ فَنَآء ِالاَغْيَارِ هُوَ حَقُ الْيَقِيْنِ
وَرُؤْيَةُ مَا سِوَى اللهُ حَوْضٌ وَلَعِبٌ وَذالِكَ مِنْ صِفَاتِ
الْمَحْجُوْ بِيْنَ
Meng-Esakan Tuhan, men-Tauhidkan... Allah
SWT disamping yaitu memfanakkan, menghapus makhluk atau ....Sesungguhnya
otomatis kalau meng-Esakan Tuhan otomatis benar-benar makhluk. Kalau
AL - HIKAM HAL 27
ِبسْمِ اللهِ الرَّحمْنَ ِالرَّحِيْمِ
لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ الْوَصِلُوْنَ اِلَيْهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ السَّائِرُوْنَ اِلَيْهِ
Ini diambil dari Qur'an (Surat At-Tholaq ayat 7 lengkapnya seperti di bawah ini).
لِيُنْفِقْ
ذُوْ سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رَزَقُهُ لِيُنْفِقْ
مِمَا آتَاهُ اللهُ ,لاَيُكَلِّفَ اللهُ نَفْسًا اِلَّامَا آتَاهَا
سَيَجْعَلَ اللهُ بَعْدَعُسْرٍ يُسْرًا .الطلاق:٧
(Orang yang
mampu hendaknya mem9beri nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang
disempitkan rizkinya hendaklah memberikan nafkah dari harta yang
diberikan Allah kepadanya, Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang
melainkan sepadan dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Allah akan
memberikan kelapangan sesudah kesukaran".
Jadi maksudnya, kalau
dikaruniai rizki yang jembar supaya didalam menafkahkan kepada keluarga
dan amal-amal kebaikan lain-lain supaya juga lebih banyak, seimbang
dengan banyak kaya rizki yang diperolehnya. Dus kemampuan, banyak ya
banyak, sedikit ya sedikit.
Disini Mushonnef atau mengartikan dengan istilah yang pertama "AL WAASILUUNA ILAIHI dan yang kedua “AS-SAAIRUUNA
ILAIHI”.
Maksudnya orang mempunyai banyak, kejembaran dan keleluasaan dan
keringanan mengeluarkan infaq dari apa yang telah diperolehnya adalah
orang yang sudah wushul-sadar kepada Allah SWT. Orang yang mempunyai
kemampuan banyak soal batiniyah adalah orang yang wusul kepada Allah
Ta'ala.
أَىْاِشَارَةُ اِلَى حَالِ الْوَاصِلِيْنِ اِلَيْهِ
:فَإِنَّهُمْ لِمَا خَرَجُوْا مِنْ سِجْنِ رُؤْيَةِ الاَغْيَارِ اِلى
قَضَاءِ التَّوْحِيْدِ وَكَمَالِ اْلاِسْتِبْصَارِ اِتْسَعَتْ مَسَافَةُ
نَظْرِهِمْ وَاُفِيْضَ عَلَيْهِمْ عُلُوْمٌ وَاَسْرَارِ الْهِيَةٌ
فَصَارُوْا يَمُدُّوْنَ الْغَيْرَ وَيَتَصَرَفُوْنَ فِى عَوَالِمِهِمْ
الْبَطِنَةِ كَيْفَ شَاءُوْا
Orang-orang yang wusul sadar
kepada Allah SWT oleh karena mereka sudah bebas dari imperialis
nafsunya, bebas dari imperialis makhluk, bebas karena mereka sudah
terjun dalam lautan Tauhid, dan sudah melek, otomatis menjadi luas
pandangannya. Pandangannya luas, bebas, tidak terpengaruh. Mereka terus
mendapat sorotan bermacam-macam ilmu dan berbagai rahasia Tuhan. Maka
mereka dapat menolong orang lain untuk membebaskan diri dari imperialis
nafsu, untuk menjadi orang yang sadar kepada Allah SWT. Dan mereka mampu
menguasai alam batin mereka sendiri, dan alam batin orang lain.
Alam
batin yaitu sifat-sifatnya hati atau nafsu. Itu alam batin. Alam batin
itu ada yang kasar ada yang halus. Umpamanya “ingin makan” itu juga alam
batin. Keinginan itu tumbuh dari jiwa sesudah terpengaruh oleh keadaan
fisik situasi luar. Jadi ingin, ingin ini, ingin itu, dinamakan “alam
batin”. Ingin dihormati atau rasa dendam dan lain sebagainya. Orang
sadar kepada Allah SWT menguasai alam batinya yang negatif, diarahkan
yang dapat di ridloi oleh Allah SWT ,sehingga alam batin yang merugikan
menjadi menguntungkan dan mereka dapat mengusai alam batin orang lain.
Artinya dapat mengarah alam batin.
“maa siwalloh”,
apa-apa selain Allah SWT. Dikuasai oleh Mujahadahnya. Terpengaruh,
sehingga menjagakan mengandalkan Mujahadahnya. Orang begini kalau tidak
bisa Mujahadah lalu putus asa. Kalau tidak bisa melakukan menjadi putus
asa, tapi kalau bisa melakukan lalu menjagakan ini otomatis. Tapi orang
yang sadar kepada Allah SWT pada ketika dia bisa mempeng dia tidak
menjagakan kemempengannya. Dan ketika tidak bisa melakukan amal-amal itu
atau Mujahadah dia tidak putus asa. Tetap menghadang fadlolnya Allah
SWT. Mereka memiliki dan dapat menguasai “NUR” atau cahaya. Artinya
tidak terpengarub oleb Mujahadahnya, oleh riyadlohnya, oleh ibadahnya,
oleh ... perjuagannya, oleh jasanya. Sama sekali mereka tidak
terpengaruh oleh soal-soal tersebut. melainkan hanya terpengaruh oleh
Allah SWT. Yang dapat miliki dan menguasai mereka hanya Alloh SWT.
“LIANNAHUM LILLAH LAA LISYAI’IN DUUNAHU”. Karena mereka hanya
semata-mata LILLAH Lain tidak.
“QUL LILLAH…” ini asalnya
“QULLILLAHU….” Kalam mereka bertanya begini begitu, “qulillahu”,
katakanlah “Allah” “MAN KHOLAQOSSAMAAWAATI atau MAN ROBBUSSAMAAWAATI WAL
ARDLO umpamanya, “QULILLAHU selanjutnya dawuh “TSUMMA. DRARRUM FII
KHOUDLIRIM YAL UBUUNA” ini makna tafsir .yang dimaksud “mereka” yaitu
orang-orang musyirik kalau orang-orang musyrik itu Tanya begini begitu,
biarkanlah mereka mabuk di dalam alam materi kebendaan
tapi yang dimaksud di sini ,
{قُلِ اللهُ} أَىْ تَوَجَّهُ اِلَيْهِ وَلاَ تَمِلْ اِلَى اَنْوَارِ وَلاَغَيْرَهَا
Artinya
: “Tawajjuhlah, madeplah hanya kepada Allah SWT melulu, dan jangan
condong, jangan terpengaruh oleh Nur atau lainnya”. Jangan takut kepada
nur, jangan takut terhadap gelap, jangan ingin nikmat dunia, lebih-lebih
nikmat akhirat !. Jangan takut bahaya dunia lebih-lebih atau
Dus mudahnya, jangan sampai bosan-bosan senantiasa mengadakan koreksi
pada gerak dan rasa hati. Dikoreksi BILLAH dan tidaknya terutama. Begitu
juga LILLAH harus juga dikoreksi !. Jangan sampai menggampangkan sudah
anu sudah anu harus terus kita perhatikan. Harus terus senantiasa kita
saring, sekalipun sudah jernih umpamanya. “Alhamdulillah sekarang sudah
jernih” misalnya. Ini harus terus disaring, apakah sudab sungguh sungguh
jernih muluskah atau alhamdulillahnya itu imitasikah. “Apakah
alhamdulillah” yang sungguh-sungguh BILLAH. Ini juga masib teka teki.
Sedangkan Nabi Yusuf Alaihis salam, seorang nabi yang ma'sum yang
dijaga oleh Allah SWT, tapi senantiasa mawas diri (dengan kata-kata di
dalam al-qur'an surat Yusuf ayat 53).
وَمَا اُبْرِّئُ نَفْسِى اِنَّ النَّفْسَ َلأَمَارَةٌ بِاسُوْءٍ .يوسف: ٥٣
‘'Saya tidak jemu-jemu mengoreksi nafsu, karena nafsu selalu mengajak kepada hal-hal yang negatif”.
Itu sedang Nabi begitu. Lebih-lebih selain nabi sekalipun bagaimana
tetap bukan nabi dan justru itu jauh dari pada nabi. Mestinya kalau nabi
pernyataannya begitu, seharusnya kita jauh lebih dari pernyataan Nabi
Yusuf Alaihis salam itu ! terserah kita masing-masing bagaimana !
Ya mudah-mudahan para hadirin hadirot kita memperoleh fadlonya Allah
SWT yang sebanyak-banyaknya. Tarbiyah Rosulillahi SAW. Dan Ghouts Hadzaz
Zaman wa saairi ahbaabillaahi rodliyallohu ta’ala anhum ! yang
sebanyak-sebanyaknya ! Amiin !.
{ وَهَؤُلاَءِ اْلاَنْوَارِ لَهُمْ ِلأَنَّهُمْ للهِ لَا لِشَئ ٍدُوْنَهُ,قُلْ الله ِثُمَّ ذَرْهُمْ فىِخَوَضِِهِمْ يَلْعَبُوْنَ }
Yang pertama tadi, karena belum sadar otomatis masib dikuasai oleh
orang
lain yang negatif menjadi positif, menjadi bebas dari imperialis nafsu
dan mereka orang sadar kepada Allah SWT. Mudahnya, dapat mengarahkan
orang lain menjadi orang-orang sadar kepada Allah SWT. Alam batin
negatif dari orang lain misaInya akhlaq yang bejat, dapat dirubah
menjadi alam batin yang positif, sehingga orang tersebut menjadi orang
yang baik yang berakhlaquI karimah dan sadar kepada Allah SWT.
Jadi
oleh karena mereka mempunyai kemampuan yang luas, juga sewajarnya
kemampuan yang luas. itu harus digunakan yang semestinya. Sebab
kemampuan itu adalah nikmat dari Allah SWT. Apabila nikmat tidak
digunakan semestinya berarti tidak mensyukuri nikmat. Dan siapa yang
tidak mensyukuri nikmat otomatis terkecam dan harus bertanggung jawab.
Sayydinaa
Ali pernah ditanya “Adakah keistimewaan-keistimewaan yang diberikan
Rosululloh SAW kepada Tuan yang khusus ?”. Jawabnya : di dalam Qur'an
atau Hadits hanya beberapa masalah saja. Tapi yang tidak putus-putus
yaitu : ”TANAZZUUL, BATINI”, kitabulloh AI-batin. Dus ilmu yang dhohiri
itu. terbatas sekali kata Sayyidinaa Ali karomallohu wajhahu.
Prinsip-prinsipnya atau pokok-pokoknya ada di Qur’an atau Hadits. Tapi
yang diterima Sayyidinaa Ali yang terutama, yaitu “FUYUUDLUN
ROBBANIYAH”. Yaitu pancaran-pancaran Ilahi yang senantiasa memancar
kepada beliau, karena beliau memang senantiasa mengusahakan soal itu
senantiasa menaruh perhatian dengan sekuat kuatnya. Sehingga
dikaruniai kemampuan yang banyak.
Para hadirin hadirot,
pancaran Ilahi atau fadlol Ilahi terus senantiasa memancar kepada umat
manusia kepada kita. Adanya kita tidak menerima atau tidak merasa
menerima itu adalah karena kita buntu sendiri. Kita buntu dengan nafsu
kita sendiri. Pancaran Ilahi atau fadlol Ilahi fadlolnya Allah SWT
senantiasa memancar kepada kita kepada umat manusia. Tiap detik kalau
manusia mau membuka sendiri pintunya lebar-lebar, otomatis senantiasa
menerimanya yang sebanyak-
banyaknya. Tapi kalau
“pintu” manusia ditutup, otomatis pancaran itu tidak bisa masuk, sebab
ditutup. Seperti halnya matahari. Sinar matahari terus memancar
memadangi. Kalau kita berada di tempat panasan. Tapi kalau kita berteduh
atau ngiyup, otomatis tidak bisa mendapat pancaran sinar matahari atau
rembulan atau lainnya. Begitu juga fadloInya Allah SWT senantiasa
memancar kepada manusia. Adapun manusia kok tidak menerima fadlol, itu
karena manusia itu sendiri. Kita semua juga senantiasa kepancaran
fadlolnya Allah SWT setiap detik. Dan malah dari segala tempat, segala
segi segala jurusan segala bidang. Dari kanan dari kiri dari depan dari
belakang dari samping dari atas dari bawah dari dalam jauh lebih terang
pancarannya. Tapi sekalipun begitu kalau pintu hati kita ini kita tutup,
otomatis tidak bisa masuk itu pancaran. Sekalipun pancaran itu sudah di
dalam. Lha ini kita masing-masing yang mengerti apakah kita tutup atau
kita buka itu terserah kita masing-masing Para hadirin hadirot. Mestinya
kalau kita buka, maka kita mendapat pancara-pancaran. Kalau kita
mendapat pancaran-pancaran otomatis kita selalu sadar kepada Allah SWT
terutama. Senantiasa bukannya dikuasai oleh imperialisme nafsu, tapi
malah dapat menguasai imperialis nafsu. Bukannya kita dapat terpengaruh
oleh luar, tapi malah dapat mempengaruhi pada luar. Bukannya kita
terpengaruh oleh orang luar misaInya, melainkan orang lain itu dapat
kita pengaruhi, kita arahkan. Lha ini tinggal terserah kepada kita
masing-masing. Dan kita mampu untuk itu. Jangankan kita sekarang,
misaInya dikuasai oleh imperialis kita sendiri, tapi kita mampu untuk
membalik untuk menguasai imperialis nafsu. Sekarang dikuasai nafsu, tapi
kita ada kemampuan untuk menguasai nafsu. Sekalipun kita selalu
terpengaruh oleh luar, keadaan luar, tapi kita mampu usaha, sehingga
kita malah dapat mempengaruhi atau mengarahkan keadaaan luar. Lha ini
tinggal kita mau atau tidak Para hadirin, hadirot !
“WAMAN QUDIRO ‘ALAIHI RIZQUHU AS-SAAIRUUNA ILAIHI”
Yang
dimaksud dalam Al-Qur’an “Waman ‘alaihi rizquhu falyunfiq mimmaaa
ataahullohu …”, asalnya soal harta benda, soal rumah tangga
dari
Allah SWT sebab lantaran Mujahadahnya, ini berarti mereka itu masih
dikuasai oleh “Mujahadah”. Masih menjagakan Mujahadahnya artinya. Kalau
saya tidak mempeng Mujahadah, tidak bisa hasil begini begitu. Lha yang
begini ini yang namanya masih menjagakan Mujahadahnya. Tapi bagi mereka
yang sudah wusul kepada Allah SWT mereka tidak menjaga kan atau
mengandalkan Mujahadah mereka. Ini tidak berarti bahwa orang yang sudah
wusul kepada Allah SWT itu tidak perlu Mujahadah, bukan begitu. Mereka
ber-Mujahadah semata-mata LILLAH dan merasa BILLAH. Jadi tidak
menjagakan Mujahadahnya atau ibadah-ibadahnya. Sedangkan golongan
pertama tadi, yaitu mereka yang belum sadar, senantiasa menjagakan
ibadahnya. “Kalau aku tidak mempeng... celaka”. “Kalau aku mau mempeng,
menjadi bahagia”. Lha begini ini yang namanya menjagakan ibadah. Lain
haInya dengan mereka yang sudah sadar. Sekalipun mereka kelihatan
mempeng Mujahadah atau awal amal ibadah lain, mereka tidak mempunyai
perasaan seperti itu. Semata-mata mereka hanya mengabdikan diri kepada
Tuhan. Dan menjagakan hanya kepada Tuhan. Yakin dan khusnudzon bahwa
Tuhan pasti … ‘FAL AWALUUNA LIL-ANWAAR. Lha ini diantara kita bagaimana,
terserah kita masing -masing. Tapi sekalipun sudah sadar, seyogyanya
harus kita akui bahwa kita ini belum sadar. Atau saya ini jauh dari pada
sadar. Harus begitu, kalau orang merasa sadar, berarti belum sadar.
Sebab orang merasa sadar, ini otomatis diakui. Tidak BILLAH. Kalau
mengaku BILLAH ini belum sadar namanya. BILLAH tapi diakui. Jadi harus
selalu ada saringan, harus selalu instropeksi. Mawas diri ! Saya ini
sudah BILLAH senantiasa itu, justru merasa BILLAH ini tidak BILLAH
senantiasa. Jadi jangan sampai segan-segan menaruh perhatian untuk
senantiasa mengoreksi “Aku sudah LILLAH misalnya, “Aku sudah BILLAH,
kalau ini ada rasa di dalam hati, dan terkadang “rasa” itu tidak terasa.
tidak dapat diraba terkadang, kalau seperti itu namanya belum
sungguh-sungguh BILLAH.
dilatih. Lupa
kembali lagi, lupa kembali dan seterusnya, disamping Mujahadah. Siapa
yang mau begitu, ya Mujahadah ya melatih hatinya, insya Allah berhasil.
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَهُمْ سُبُلَنَا. العكبوت : ٦٩
“Dan orang-orang banyak yang mau sungguh-sungguh menuju kepadaKU, pasti AKU tunjukkan jalan-KU”.
Siapa yang sungguh-sungguh di dalam usaha, pasti ditolong ditunjukkan oleh.Allah SWT.
Tapi
“WAL WAASILUUNA LAHUM AN WAARUL MUWAAJAHAH”. Orang yang sudah sadar
kepada Allah SWT itu menguasai “Cahaya muwaajahah" memiliki “nur
muwaajahah”. Atau sadar kepada Allah SWT. Atau syuhud kepada Allah SWT.
Atau ma’rifat kepada Allah SWT. Dus golongan yang pertama tadi sebabnya
wusul dengan Mujahadah atau tawajjuh menghadap yaitu dengan memperbanyak
Mujahadah, memperbanyak amal-amal ubudiyah lainnya. Tapi bagi mereka
golongan “waasiluun” sudah sadar kepada Allah SWT memiliki Nur Cahaya
Muwajahah. Atau sudah Muwajahah.
“Anwaarut-tawajjuh” dan
“anwarul-muwajahah” menurut mereka yang belajar tata bahasa arab
dinamakan “min idloofatil bayaaniyah”. Yang dimaksud Nur" ya tawajjuh
atau Muwajahah itu. Insya Allah ini win baabil-majaz. Tawajjul kok
disebut “nur”, ini kata-kata Majazi. Artinya sebabnya mereka memperoleb
hidayah ialah memperbanyak “tawajjuh”. Mujahadah, Mujahadah lahiriyah
dan batiniyah. Adapun mereka yang sudah. waasil, sudah sadar kepada
Allah SWT, itu sudah, sudah muwajjahah.
{فَالاَوَّلُوْنَ لِلْاَنْوَارِ وَهَؤُلاَءِ اْلاَنْوَارِ لَهُمْ}
Oleh karena golongan yang pertama tadi sebabnya memperoleh ridlo
terutama
jadi yang di mukhotobi, yang di dawuhi ini otomatis kepada rumah
tangga. Pada waktu kejemberan ya jangan terlalu ngirit, tapi dalam
keadaan sempit,…. Ya seadanya tapi yang di maksud disini sebagai
isyarat, yang di maksud “Orang sempit” ialah mereka yang masih
dipengaruhi oleh lahiriyah oleh imperialisme nafsunya terutama.
Sekalipun masih dikuasai oleh imperialisme nafsunya. Tapi kalau masih
ada kemampuan harus di samping usaha supaya bebas dari imperialisme
nafsunya juga supaya saudara lain yang harus di tolong supaya sedapatnya
mungkin di tolong sekalipun terbatas otomatis orang yang masih di
kuasai oleh imperialisme nafsunya terbatas dan pandanganya paling-paling
hanya berdasarkan perhitungan itu pada umunya tepat tapi jauh kalau di
banding dengan alam ghoibiyah alam fuyuudlotiyah.
اِهْتَدَى الرَّاحِلُوْنَ اِلَيْهِ بِاَنْوَارِ التَّوَاجُّهِ وَ الْوَاصِلُوْنَ لَهُمْ اَنْوَارُ الْمُوَاجَهَةِ
Mereka
orang yang sedang berjuang untak sadar kepda Allah SWT harus memiliki
yaitu “lampu tawajjuh”. Dimar tawwajuh atau cahaya tawajjuh, atau
Mujahadah Orang yang sedang berjuang untuk sadar kepada Alloh SWT harus
berusaha dengan tawajjuh. Memperbanyak mungkin soal Mujahadah, soal-soal
yang memperdekat hubungan kepada Allah SWT. Sebab ingin sadar kepada
Allah SWT kok tidak usaha, ... itu mana mungkin ibaratnya seorang
petani tidak mau nggaru, mluku, mengejakan sawahnya pokoknya kok
mengharapkan panen, itu tidak mungkin jadi atau orang ingin kaya tidak
mau bekerja dan memenuhi syarat-syarat atau cara-caranya menjadi kaya,
itu tidak mungkin terjadi. Begitu juga orang ingin sadar kepada Allah
SWT harus juga usaha, yang di sini disebut dengan “ANWARUUT-TAWAJJUH.
Mujahadah pokoknya istilah Wahidiyah. Memperbanyak Mujahadah dan
berdepe-depe kehadirat Allah SWT dan hatinya selalu disetir. lbarat anak
yang belajar naik sepeda, hati-hati jatuh bangun, jatuh bangun lagi dan
seterusnya selalu usaha begitu. Kalau tidak mau begitu ya tidak jadi
bisa naik sepeda. Begitu juga menuju kesadaran. Hatinya harus senantiasa
terus